Showing posts with label masjid. Show all posts
Showing posts with label masjid. Show all posts

10 Masjid Tertua di Indonesia

Pada umumnya masyarakat Indonesia memeluk agama Islam, dengan jumlah mayoritas islam yang tinggi tidak heran jumlah masjid yang ada di Indonesia sangat banyak.

Ketika agama islam mulai masuk ke Indonesia beberapa masjid mulai didirikan untuk tempat ibadah. Meskipun di Indonesia sangat banyak sekali masjid, namun ada beberapa masjid yang berumur sangat tua yang ada di Indonesia ini. Berikut 10 masjid tertua di Indonesia.

1. Masjid Saka Tunggal (1288)


Masjid tertua di Indonesia yaitu Masjid Saka Tunggal. Seperti yang tertulis pada Saka Guru (Tiang Utama) masjid ini, Masjid Saka Tunggal dibangun pada tahun 1288 masehi. Setiap tanggal 27 Rajab di masjid ini diadakan pergantian Jaro dan pembersihan makam Kyai Mustolih.

2. Masjid Wapauwe (1414)


Masjid ini dibangun pada tahun 1414 masehi dan menjadi masjid tertua di Maluku. Dinding masjid ini terbuat dari pelapah sagu yang kering dan pada bagian atap terbuat dari daun rumbia. Menurut cerita rakyat yang beredar, masjid ini pernah berpindah tempat secara gaib.

3. Masjid Ampel (1421)


Masjid Ampel terletak di kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya, Jawa Timur. Sunan Ampel adalah pendiri masjid yang dibangun pada tahun 1421. Di dekat masjid ini terdapat kompleks pemakaman Sunan Ampel.

4. Masjid Agung Demak (1474)


Salah satu masjid tertua di Indonesia ini dipercaya sebagai tempat berkumpulnya para ulama atau walisongo yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Pendiri masjid ini diperkirakan didirikan oleh Raden Patah, raja pertama dari Kesultanan Demak sekitar abad ke-15.

5. Masjid Sultan Suriansyah (1526)


Masjid Sultan Suriansyah merupakan salah satu masjid tertua di Kalimantan Selatan sekaligus di Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 1526 oleh Raja Banjar pertama yang memeluk agama islam, Sultan Suriansyah. Arsitektur masjid ini memiliki bentuk arsitektur tradisional Banjar, dengan konstruksi panggung dan beratap tumpang.

6. Masjid Menara Kudus (1549)


Pada tahun 1549 masehi, Sunan Kudus membangun sebuah masjid yang kemudian diberi nama Masjid Menara Kudus atau dikenal juga dengan sebutan Masjid Al Aqsa dan Masjid Al Manar. Terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, masjid ini dibangun dengan menggunakan batu Baitul Maqdis dari Palestina. Selain itu, Masjid Menara Kudus merupakan perpaduan antara budaya Islam dan budaya Hindu.

7. Masjid Agung Banten (1552)


Masjid Agung Banten terletak di Provinsi Banten merupakan masjid tertua di Indonesia yang penuh dengan nilai sejarah. Selain umurnya yang tua, masjid ini memiliki sebuah menara yang sangat mirip dengan bentuk sebuah bangunan mercusuar. Masjid ini dibangun oleh sultan pertama Kesultanan Banten, Sultan Maulana Hasanudin pada tahun 1552.

8. Masjid Mantingan (1559)


Masjid tertua di Indonesia yang selanjutnya adalah Masjid Mantingan, sebuah masjid kuno yang terletak di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Masjid Mantingan dibangun pada tahun 1481 Saka atau 1559. Masjid ini konon didirikan pada masa Kesultanan Demak.

9. Masjid Katangka (1603)


Masjid Katangka juga dikenal dengan sebutan Masjid Al-Hilal merupakan masjid tertua berikutnya yang berada di Indonesia. Nama masjid itu sendiri diambil karena bahan dasar pembuatan masjid tersebut diyakini terbuat dari pohon Katangka. Menurut sebuah prasasti masjid ini dibangun sejak tahun 1603 masehi.

10. Masjid Tua Palopo (1604)


Terletak di kota Palopo, Sulawesi Selatan, Masjid Tua Palopo merupakan peninggalan Kerajaan Luwu. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia karena didirikan pada tahun 1604 masehi. Pendiri masjid ini adalah seorang Raja Luwu yang bernama Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe.


Sumber  : http://wowmenariknya.blogspot.com/2013/12/10-masjid-tertua-di-indonesia.html

MASJID AGUNG DEMAK


Pulau Jawa memiliki banyak sekali keunikan dalam berbagai hal. Itu bisa dilihat dari keannekaragaman budaya yang ada. Salah satunya adalah tempat wisata satu ini yang termasuk tempat wisata religi yang sangat erat hubungannya dengan penyebar agama islam di pulau Jawa, yaitu Wali Songo. Ya, Masjid Agung Demak yang tepatnya berada di Desa Kauman, Kabupaten Demak, Jawa Tengah ini konon merupakan tempat berkumpulnya Wali Songo yaitu ulama – ulama yang menyebarkan agama islam di pulau Jawa.

Menurut Sejarah pendiri Masjid Agung Demak diperkirakan merupakan raja pertama Kesultanan Demak. Ia adalah Raden Fatah yang mendirikan Masjid Agung Demak pada sekitar abad ke-15. Raden Fatah bersama dengan Wali Songo mendirikan Masjid Agung Demak  dengan menggambarkan seekor hewan bulus ( kura kura ) yang memiliki makna tersendiri. Jika gambar bulus tersebut diartikan, maka gambar tersebut memiliki makna bahwa kepala bulus mengartikan angka satu ( 1 ) , kakinya yang berjumlah empat mengartikan angka empat ( 4 ) , badannya yang lebar dan bulat mengartikan angka nol ( 0 ), sedangkan ekor bulus mengartikan angka satu ( 1 ). Dari makna gambar bulus tersebut, diperkirakan Masjid Agung Demak didirikan pada tahun 1401 saka.  Sangat unik bukan?

masjid agung demak menyimpan banyak nilai sejarah

Dari segi arsitektur sendiri, Masjid Agung Demak memiliki banyak keunikan. Atap Masjid Agung Demak yang memiliki 3 ( tiga ) undakan juga memiliki makna tersendiri. Makna dari atap berbentuk limas itu yaitu Iman , Islam , dan Ihsan. Untuk tiang penyangga Masjid Agung Demak tergolong sangat banyak yaitu berjumlah 128 buah. Namun terdapat 4 ( empat ) tiang utama yang menurut sejarah merupakan buatan dari ( 4 ) empat wali dari Wali Songo. Empat tiang utama tersebut juga dikenal dengan nama saka guru. Salah satu dari tiang utama atau saka guru tersebut juga sangat menarik karena terbuat dari serpihan – serpihan kayu. Meski sudah mengalami pemugaran, akan tetapi keaslian dari Masjid Agung Demak ini masih dipertahankan.

Selain menikmati keindahan dan keunikan Masjid Agung Demak, kita juga bisa berkunjung ke museum yang terletak masih dalam kompleks Masjid Agung Demak. Museum ini menyimpan banyak diantaranya hal yang berhubungan sejarah Masjid Agung Demak , kentongan kuno , dan tulisan tangan asli Sunan Bonang mengenai tafsir Al – Qur’an yang masih tersimpan rapid an terawatt dengan baik.

Masih di sekitar areal Masjid Agung Demak juga terdapat komplek makam – makam para sultan Demak dan abdi – abdinya. Beberapa makan tersebut diantaranya makan Raden Fatah ( Sultan Demak I ) , makam Pangeran Singo Yudo, makan Syekh Maulana Maghribi dan makam Pangeran Benowo.

MASJID AL-MUNAWAROH - LANDMARK KOTA TERNATE


Masjid Raya Al-Munawaroh Kota Ternante, propinsi Maluku Utara. Merupakan masjid yang dibangun oleh Pemerintah kota Ternate di bibir pantai kota itu. Masjid yang begitu menawan dipandang dari laut, dengan dua  menaranya yang memang dibangun di laut, memberikan pemandangan yang begitu indah. Masjid Raya Al-Munawaroh kini menjadi landmark kota ternate. Bila dipandang dari arah laut masjid ini begitu menawan dengan gunung Gamalama di latar belakang.


Lokasi Masjid Raya Al-Munawaroh Ternate

Masjid Raya Al-Munawaroh terletak di tepi laut kawasan pantai Sewiring Gamalama Kota ternate, Provinsi Maluku Utara. Pantai Sewiring merupakan pusat berkumpulnya warga kota. Dari pantai ini bisa melihat kemegahan Pulau Maitara dan Tidore yang diabadikan dalam lembaran uang kertas seribu rupiah.



Sejarah Pembangunan Masjid Raya Al-Munawaroh

Mulai dibangun pertengahan tahun 2003 dengan dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) hampir senilai 48 miliar rupiah. Mulai dipakai pertama kali tanggal 6 Agustus 2010 dengan Sholat jum’at berjamaah sekaligus takbir akbar menyambut bulan suci ramadhan 1431H, meskipun belum keseluruhan pembangunan masjid selesai di kerjakan.  Walikota Ternate, Syamsir Andili Turut hadir dalama acara tersebut bersama ribuan ummat Islam Kota Ternate dan sekitarnya.

Pembangunan Masjid Al-Munawaroh ini sempat mengalami keterlambatan yang mengakibatkan Pemerintah Kota Ternate memberikan teguran kepada pelaksana pembangunan dan mewajibkan mereka membayar ganti rugi sebesar lima ratus juta rupiah sebagai rekomendasi dari hasil audit BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) tahun 2007.


Arsitektur Masjid Raya Al-Munawaroh

Masjid dibangun di atas lahan seluas 6 Hektar, dengan luas masjid nya sendiri mencapai 9512 meter persegi, dirancang untuk menampung 15.000 jamaah sekaligus. Hal yang wajar mengingat kota Ternate memang bervisi sebagai kota Madani dengan penduduk 650 ribu jiwa lebih dan 95% penduduknya beragama Islam. Pembangunan masjid ini memakan waktu selama tujuh tahun dari tahun 2003 hingga tahun 2010.  




Masjid Raya Al-Munawaroh dilengkapi dengan 4 menara setinggi 44 meter, dua dari menara tersebut memang dibangun di laut. Sesuai dengan Permendagri Nomor 45 Tahun 2007, Masjid Al-Munawwar termasuk kategori bangunan monumental dengan spesifikasi khusus. Dimana beberapa bahan bangunan masjid seperti keramik dan lampu didatangkan langsung dari Negara Turki.

Cukup menarik karena studi perencanaan struktur beton bertulang dan pondasi tiang pancang pembangunan Masjid Raya Ternate ini dijadikan skripsi oleh dua orang Mahasiswa program sarjana Teknik, Universitas Muhamadiyah Malang tahun 2006 yang lalu.

Sumber : http://bujangmasjid.blogspot.com/


BEDUK, KUBAH, AL-QUR'AN DAN KALENDER HIJRIAH TERBESAR DI DUNIA ADA DI INDONESIA


Indonesia adalah negara dengan jumlah penganut agama Islam terbesar di dunia dengan jumlah pemeluk sekitar 216 juta jiwa, dimana Islam adalah agama mayoritas yang dipeluk oleh sekitar 85,2% penduduk Indonesia. Dalam menjalankan ibadah umat Islam di Indonesia menggunakan sarana-sarana ibadah untuk membantu jalannya ibadah. Berikut ini Beduk, Al-Qur'an, Kubah Masjid, dan Kalender Hijriah terbesar di dunia :

Beduk terbesar di dunia


Beduk raksasa yang diberi nama Kyai Bagelen disebut-sebut sebagai beduk terbesar di dunia. Beduk itu memiliki ukuran panjang 2,92 meter dan diameter rata-rata 1,94 meter. Beduk itu dibuat dari dari kayu jati bercabang lima yang usianya sudah ratusan tahun yang dibuat pada masa pemerintahan Adipati Cakranegara I pada tahun 1762 Jawa atau 1834 Masehi. Beduk raksasa ini disimpan di serambi Masjid Agung Purworejo dan hanya ditabuh pada hari-hari besar Islam, seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, dan setiap salat Jumat.

Al-Qur’an terbesar di dunia 


Di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Shriyyah Nurul Iman Parung Bogor Jawa barat ada sebuah kitab suci AlQuran yang berukuran sangat besar. Al-Qur’an yang konon terbesar di dunia ini berukuran panjang mencapai 2 meter dan lebarnya 2,80 meter. Selain besar keunikan lainnya dari AlQuran ini yaitu bukan terbuat dari kertas tapi terbuat dari pelepah pohon pisang. Yang lebih luar biasa lagi Al-Qur’an di Ponpes Al-Shriyyah ini ternyata dibuat dengan tulisan tangan.

Kubah mesjid terbesar di dunia


Tangerang sekarang memiliki sebuah mesjid yang mengagumkan. Nama mesjid itu adalah Masjid Raya Al-Azhom. Mesjid ini dikenal dengan kubahnya yang berukuran besar. Masjid Raya Al-Azhom memiliki satu buah kubah induk dan tiga buah kubah kecil. Luas kubah masjid ini adalah 4.250 meter persegi (m2) dengan diameter seluas 63,26 meter (m). Tinggi kubah induk dari lantai dasar mencapai 36,715 meter. Banyak pihak mengklaim mesjid ini sebagai masjid dengan kubah terbesar di dunia. Lokasi mesjid ini terletak di Kota Tangerang, Provinsi Banten. Lokasinya, tak jauh dari Bandara Soekarno-Hatta.

Kalender Hijriah terbesar di dunia


Umat Islam di seluruh dunia menggunakan kalender Hijriyah, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam menentukan hari besar. Indonesia boleh berbangga karena Indonesia memiliki Kalender Islam atau Kalender Hijriah terbesar di dunia yang terdapat di Masjid Walima Emas di Desa Bubohu, Gorontalo. Kalender hijriah tersebut sebagai pelengkap menjadikan desa Bubohu sebagai Desa Wisata Religius.

Semua sarana ibadah tersebut merupakan kebanggaan tersendiri bagi umat Islam di Indonesia.

sumber : http://indonesiatop.blogspot.com/

MASJID BAITURRAHMAN DARI ACEH


Menelusuri sejarah Masjid yang berada di jantung kota Banda Aceh ini, Laksana melihat perjalanan bumi Serambi Mekah. Mulai masa kesultanan, Penjajahan Belanda dan masa bersama Indonesia lengkap dengan pemberontakannya. DOM, Tsunami, dan Perjanjian Damai, Rumah Allah ini menyaksikan semuanya.

Masjid Raya Baiturrahman adalah simbol Aceh. Masjid ini menjadi saksi bisu keganasan badai Tsunami, 26 Desember 2004, yang menewaskan ratusan ribu warga Aceh. Jika Anda ke Banda Aceh, pastikan menyaksikan kemegahan Masjid Raya Baiturrahman di samping arsitekturnya yang indah, juga letaknya persis di jantung kota.



Karena itu, terasa belum lengkap jika berkunjung ke kota paling ujung Pulau Sumatra itu bila belum menyaksikan keindahan masjid yang merupakan termasuk salah satu masjid terindah di Asia Tenggara.

Sebagai masjid kebanggaan rakyat Aceh sejak dahulu sampai sekarang, Masjid Raya Baiturrahman menyimpan sejarah yang sangat panjang dan menarik. Masjid ini dahulunya merupakan masjid Kesultanan Aceh. Ada yang menyebutkan nama Masjid Raya Baiturrahman ini berasal dari nama masjid raya yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada 1612 M. Riwayat lain menyebutkan bahwa masjid ini sudah dibangun jauh sebelumnya. Sultan Iskandar Muda hanya melakukan perbaikan.

Corak Persia, Model India



Secara umum, arsitektur Masjid Raya Baiturrahman bercorak eklektik, yaitu suatu rancangan yang dihasilkan dari gabungan berbagai unsur dan model terbaik dari berbagai negara sehingga bangunan masjid menjadi begitu megah dan indah. Untuk menambah kemegahan dan keindahan, masjid ini diposisikan di tengah lapangan yang luas dan terbuka sehingga semua bagian masjid bisa terlihat dengan jelas dari kejauhan.

Bagian pertama masjid adalah gerbang yang posisinya menempel dengan unit utama. Setelah gerbang, terdapat serambi yang berbentuk persegi panjang. Bagian depan, kiri, dan kanan serambi dikelilingi oleh tangga yang membentuk huruf U. Pada ujung tangga depan, terdapat tiga bukaan (jendela tanpa pintu) yang dibentuk oleh empat tiang langsing silindris model arsitektur Moorish yang banyak terdapat di masjid-masjid Afrika Utara dan Spanyol. Dan, antara tiang satu dengan lainnya dihubungkan dengan pintu gerbang patah model Persia.



Karena ada empat tiang, itu berarti terdapat tiga pintu gerbang. Pada bagian atas dan sisi pintu gerbang, terdapat hiasan relief lengkung-legkung, seperti corak Arabesk (motif daun, cabang, dan pohon). Di atas ketiga pintu gerbang ini, terdapat semacam tympanum yang berbentuk jenjang seperti penampang sebuah tangga. Corak ini merupakan model khas rumah klasik Belanda.

Pada setiap jenjang, dihias dengan miniatur sebuah gardu atau cungkup yang dihiasi kubah bawang pada bagian puncaknya. Corak ini menunjukkan adanya pengaruh India. Jadi, dari bagian luar saja, sudah begitu jelas nuansa ekletik bangunan masjid ini. Sisi kiri dan kanan serambi mempunyai dua tiang yang dihubungkan oleh sebuah pintu gerang, dekorasinya sama dengan serambi bagian depan.

Setelah melewati serambi, kemudian masuk ke ruang utama masjid yang digunakan untuk shalat. Namun, sebelum masuk ke ruang utama ini, terdapat lagi gerbang dan tiang yang sama dengan bagian depan. Gerbang tersebut tanpa pintu, seperti kebanyakan masjid kuno di India.



Bagian tengah ruang shalat berbentuk bujur sangkar yang diatapi oleh kubah utama yang indah dan megah bercorak bawang. Pucuknya dihiasi cunduk, seperti masjid-masjid kuno di India. Penyangga kubah berdenah segi delapan. Pada masing-masing sisinya, terdapat sepasang jendela yang dipergunakan sebagai sirkulasi udara.

Pada bagian bawah, terdapat tritisan berdenah segi delapan. Pada bagian kiri dan kanan ruang shalat utama ini, terdapat unit sayap kembar sehingga bangunan ini menjadi simetris. Atap masjid berbentuk limasan berlapis dua. Pada jendela yang terdapat di masjid ini, tampak sekali pengaruh Moorish, terutama dari hiasan yang bercorak intricate.

Tak hanya itu, keberadaan kolam air yang berada di depan masjid makin menambah indah Masjid Baiturrahman. Sebab, posisinya yang berada di tengah-tengah jalan antara kiri dan kanan dengan luas sekitar lima hingga tujuh meter tersebut turut menambah keindahan dan kemegahan masjid warga Banda Aceh itu.

Dirancang Arsitek Belanda-Italia



Pembangunan mesjid ini dirancang arsitek Belanda keturunan Italia, De Brun. Bahan bangunan masjid sebagian didatangkan dari Penang – Malaysia, batu marmer dari Negeri Belanda, batu pualam untuk tangga dan lantai dari Cina, besi untuk jendela dari Belgia, kayu dari Birma.

Pembangunan kembali masjid dengan satu kubah, selesai dua tahun kemudian. Pada masa residen Y. Jongejans berkuasa di Aceh masjid ini kembali diperluas. Kemudian setelah itu, masyarakat Aceh semakin besar, untuk mengupahi dan meredakan kemarahan rakyat Aceh maka masjid diperluas lagi kiri kanannya pada tiga tahun kemudian. Ditambahlah dua kubah lagi di atasnya sehingga menjadi tiga kubah. Belanda kemudian meninggalkan Aceh. Bumi Nanggroe beralih pada Indonesia.

Pada 1957, Setelah Indonesia merdeka, masjid ini kembali berubah. Dua kubah baru dibuat di bagian belakang. Dibangun pula dua menara dengan jumlah tiang mencapai 280 buah. Karena perluasan ini, sejumlah toko di pasar Aceh yang berada di sekeliling mesjid tergusur. Pada kurun 1992-1995, masjid kembali dipugar dan diperluas hingga memiliki tujuh buah kubah dan lima menara. Setelah dipugar, masjid itu mampu menampung 10.000 hingga 13.000 jemaah. Halaman masjid juga diperluas hingga menjadi 3,3 hektar.

Mengikuti Perjalanan Sejarah Aceh

Panas terik kota Banda Aceh serasa langsung enyah begitu kaki menginjak halaman masjid Baiturrahman. Udara dalam masjid berkubah lima ini sejuk. Lima pintu dan jendela yang lebar, kubah tinggi serta ruang dalam masjid yang luas membuat udara bergerak bebas. Januari lalu, rumah ibadah ini baru saja tuntas berbenah dari kerusakan akibat tsunami.

Sisa-sisa bencana itu tak terlihat lagi. Tapi sejarah mencatat, sekali lagi Baiturrahman melewati satu babak sejarah masyarakat Aceh. Masjid ini merupakan simbol Aceh. Perjalanan masjid ini juga merekam sejarah Aceh. Karena itu tak lengkap rasanya bila berkunjung ke Aceh, tanpa menengok masjid berkubah lima ini dan sedikit mengenal sejarahnya.

Masjid ini sudah berada di tengah kota Banda Aceh sejak zaman kesultanan. Ada dua versi hikayat pendiriannya. Ada yang menyebut Sultan Alauddin Johan Mahmud Syah membangun masjid ini pada abad ke 13. Namun versi lain menyatakan Baiturahman didirikan pada abad 17, pada masa kejayaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Tak ada yang bisa memastikan mana yang benar. Tapi nama Baiturahman, menurut catatan sejarah, diberikan oleh Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu masjid ini menjadi salah satu pusat pengembangan ajaran Islam wilayah kerajaan Aceh. Perubahan fisik Masjid mengikuti Sejarah Bumi Serambi Mekah. Bangunan sekarang bukan lagi bangunan zaman Kesultanan.

Di samping sebagai tempat ibadah; pada masa penjajahan, Masjid Raya Baiturrahman berfungsi sebagai markas pertahanan terhadap serangan kompeni. Fungsi tersebut mulai terasa semasa pemerintahan Sultan Alaidin Mahmud Syah (1870-1874). Di masjid ini, sering pula diadakan musyawarah besar untuk membicarakan strategi penyerangan dan kemungkinan serangan tentara Belanda terhadap Kesultanan Aceh.

Saat Pemerintah Hindia Belanda menancapkan kekuasaannya di bumi Aceh pada 1873, Kesultanan Aceh di bawah kepemimpinan Sultan Alaidin Mahmud Syah menolak mentah-mentah kedaulatan pemerintahan penjajah tersebut. Penolakan ini membuat pihak Belanda merasa tersinggung dan murka. Buntutnya, Pemerintah Hindia Belanda memaklumatkan perang terhadap Kesultanan Aceh.



Karena posisinya yang sangat penting dan strategis, tidak pelak Masjid Raya Baiturrahman menjadi ajang perebutan. Tercatat dalam sejarah, dua kali masjid kebanggaan kaum Muslim di Tanah Rencong ini dibakar Belanda.

Pertama, pada 10 April 1873, ketika pasukan Belanda melakukan serangan besar-besaran sebagai upaya balas dendam atas kekalahan mereka. Dalam serangan besar itu, Masjid Raya Baiturrahman tidak saja berhasil direbut, bahkan kemudian dibakar sebagian. Dan pada saat itu terjadi pertempuran besar antara tentara Aceh dengan tentara Belanda. Terjadi tembak menembak. Sehingga demikian gugurlah perwira tinggi Belanda bernama Kohler” Pertempuran di masjid ini dikenang lewat pembangunan prasasti Kohler pada halaman masjid. Letak prasasti di bawah pohon Geuleumpang, yang tumbuh di dekat salah satu gerbang masjid.

Kedua, pada 6 Januari 1874. Meskipun masjid ini dipertahankan mati-matian oleh seluruh rakyat Aceh, karena keterbatasan dan kesederhanaan persenjataan, akhirnya rakyat Aceh harus merelakan masjidnya jatuh ke tangan musuh. Tidak hanya direbut, kali ini pihak penjajah membakar habis bangunan Masjid Raya Baiturrahman. Saat bersamaan, Belanda juga mengumumkan bahwa Kesultanan Aceh sudah berhasil ditaklukkan dan berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda.

Namun, untuk mengambil hati rakyat Aceh, Pemerintah Hindia Belanda berjanji akan membangun kembali masjid yang telah hancur itu. Peletakan batu pertama pembangunan kembali masjid dilakukan tahun 1879 oleh Tengku Malikul Adil, disaksikan oleh Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh saat itu, G. J. van der Heijden.

Saksi Bisu Kedahsyatan Tsunami



Masjid Raya Baiturrahman seakan menjadi saksi bisu peristiwa kelam yang telah meluluhlantakkan wilayah Provinsi Aceh beserta seluruh isinya pada 26 Desember 2004. Masjid yang terletak di tengah Kota Banda Aceh ini merupakan satu bukti kebesaran Tuhan yang tetap kokoh dan berdiri tegak kendati gempa dan gelombang tsunami berkekuatan 9,0 skala richter melanda.

Walau akibat gempa itu meninggalkan beberapa keretakan di dinding masjid, hal itu tidak mengurangi keindahan dan keunikan masjid kebanggan warga Aceh ini. Bahkan, ketika Republika mengunjungi masjid ini setahun pascatsunami, sisa-sisa keretakan masih ada. Namun, hal itu dijadikan warga sebagai bentuk peringatan agar senantiasa mengingat kebesaran Tuhan.

Sulaiman, salah seorang jamaah masjid tersebut, mengatakan, saat tsunami terjadi, Masjid Raya Baiturrahman menjadi tempat menyelamatkan diri bagi warga yang berlindung di rumah Allah tersebut.



Meski gelombang tsunami yang terjadi saat itu tingginya mencapai puluhan meter, airnya hanya masuk ke halaman masjid sebatas pinggang dan tidak sampai masuk ke dalam bangunan masjid.

Namun, tidak demikian dengan bangunan gedung dan rumah toko (ruko) di sekitar lingkungan masjid. Seluruh bangunan yang ada di kiri dan kanan masjid tenggelam, kecuali yang ketinggiannya di atas 20 meter, dan semuanya rusak.

Utuhnya masjid ini seharusnya menambah keyakinan bagi umat manusia, khususnya umat Islam untuk mempertebal keimanannya, karena kuasa-Nya sudah ditunjukkan dengan menjaga tempat ibadah bagi pengikut Nabi Muhammad tersebut.



Usai tsunami yang melanda wilayah Aceh ini, Masjid Raya Baiturrahman kembali direnovasi karena mengalami kerusakan walaupun tidak terlalu parah. Renovasi tersebut dilakukan pada tahun 2005. Semua itu menghabiskan dana Rp. 20 milyar. Pada 15 Januari 2007 proses perbaikan dinyatakan resmi selesai. Kini masjid Baiturahman seolah habis bersolek, tampil cantik kian menawan.

Kutipan ‘Atjehcyber 2010 – Masjid Baiturrahman’ 

ADA 2 MASJID DI DALAM TANAH

Jika anda pernah membaca atau melihat secara langsung Masjid Pintu Seribu, pastilah anda akan berpikir masjid itu bukanlah seperti masjid pada umumnya bukan?. Nah, seperti halnya dengan tempat beribadah umat muslim yang satu ini. 


Adalah masjid bawah tanah, yang merupakan sebuah masjid yang  tidak dibangun di atas permukaan tanah seperti lazimnya sebuah masjid dibangun, melainkan didirikan di dalam tanah alias di bawah tanah. Sedikit memang yang berani menggunakan konsep mesjid dibawah tanah, nah dibawah ini ada beberapa mesjid di bawah tanah yang bisa ditemukan di wilayah Indonesia.






1. Masjid Bawah Tanah Taman Sari


Masjid Bawah Tanah ini berada  di Komplek Situs Taman Sari, Yogyakarta. Sesuai dengan namanya mesjid ini memang letaknya berada di bawah tanah dan berbentuk melingkar yang terdiri atas dua lantai, dimana lantai bawah digunakan oleh jemaah wanita dan lantai atas untuk jemaah pria. Di setiap lantai dapat ditemui lubang tempat imam memimpin ibadah.

Lantai atas dan lantai bawah terhubung oleh lima buah tangga yang saling terhubung dan di bawahnya terdapat kolam yang konon digunakan untuk berwudhu oleh para jemaah. Mesjid bawah tanah ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono ke I.


2. Masjid Gua Muhammad


Selain itu juga ada Masjid Gua Muhammad, Masjid jelas tidak bisa dilihat dari luar karena lokasinya berada tepat di bawah Masjid Agung Wisnu Manunggal, di Dusun Losari, Desa pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Kenapa dinamakan masjid ini dengan Gua Muhammad? Para jamaah disana memberinya nama itu lantaran sebagai bentuk penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW.


Untuk sampai di masjid ini, perjalanan harus ditempuh sekitar 14 kilometer dari arah Kota Mojokerto. Sesampai di Masjid Agung Wisnu Manunggal, setiap peziarah akan mendapati bangunan masjid biasa. Untuk sampai ke Masjid Goa Muhammad, setiap peziarah harus melewati gapura di sebelahtimur bangunan induk masjid. Gapura itu merupakan pintu menuju masjid bawah tanah. 



Di samping timur bangunan induk terdapat sebuah lorong sempit. Dengan kedalaman sekitar 5 meter hingga 7 meter, setiap peziarah yang datang harus masuk secara berjajar ke belakang. Sebab lorong itu hanya bisa dilewati seorang saja. Di sepanjang dinding lorong yang terbuat dari tanah dan pasir, tertempel tulisan nama-nama Allah atau pujian terhadap Rasulullah Muhammad SAW, seperti beberapa penggalan bacaan Maulid-Diba dan Barzanji. 



Sejak ditemukan tahun 1995 dan usai dibangun tahun 1997 lalu, Masjid Goa Muhammad ini memiliki ruang utama bawah tanah yang terdiri atas tujuh pintu. Tujuh pintu lorong ini digunakan sebagai baris salat. Setiap lorong bisa ditempati sekitar 7 orang untuk salat. Sehingga saat salat jamaah, masjid bawah tanah ini cukup menampung sekitar 50 orang dengan seorang imam. Masjid ini bisa menjadi salah satu alternatif bagi setiap orang untuk lebih khusyuk saat berdzikir atau salat. Sebab saat berada di dalam tanah, tiada yang terdengar kecuali keheningan dan kegelapan. 


sumber : http://wisataohhwisata.blogspot.com/2012/05/ada-masjid-di-bawah-tanah.html

MASJID SERIBU PINTU


Anda tahu bangunan Lawang Sewu yang berada di kota Semarang bukan?Yang konon katanya kenapa diberikan julukan lawang sewu karena jumlah pintunya mencapai seribu. Atau mungkin mengenal dengan Masjid Seribu Tiang di Jambi.Nah, di Tangerang tepatnya di Kampung Bayur, Priuk, Tangerang juga ada bangunan yang mempunyai seribu pintu, namanya Masjid Seribu Pintu. 



Cukup menarik juga karena jarang sekali ada sebuah masjid di Indonesia yang mempunyai pintu sebanyak seribu buah dan mungkin hanya masjid ini saja yang mempunyai pintu sebanyak itu. Berikut ini ada ulasan singkat masjid seribu pintu yang di dalamnya juga ada sebuah Al-Aquran berukuran besar.

Sejarah
Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 1 hektar  ini didirikan sekitar tahun 1978.  Pendirinya adalah seorang warga keturunan Arab yang warga sekitar menyebutnya dengan sebutan  Al-Faqir. Al Faqir ini adalah salah satu santri dari Syekh Hami Abas Rawa Bokor yang memulai pembangunan masjid itu dengan membuat Majelis Ta’lim terlebih dahulu di daerah tersebut. Ia pun membangun masjid ini dengan merogoh koncek kantongnya dari sendiri.

Warga sekitar pun untuk menghormatinya lantas memberikannya gelar Mahdi Hasan Al-Qudratillah Al Muqoddam. Al-Faqir ini kabarnya tidak membangun majis di Tangerang saja melainkan  juga membangun masjid serupa di Karawang, Madiun, dan beberapa kota lain di Indonesia.

Arsitektur Luar dan Dalam Masjid
Tidak seperti saat kita membangun sebuah bangunan yang harus didahului dengan membuat rancang bangunnya atau blueprintnya terlebih dahulu. Masjid seribu pintu ini pembangunan justru tidak memakai gambar rancang.

Jadi tidak desain dasar yang bisa menampilkan corak arsitektur tertentu. Bisa dikatakan masjid ini campur aduk desain arsitekturnya bila dilihat dari adanya pintu-pintu gerbang yang sangat ornamental mengikuti ciri arsitektur zaman Baroque, tetapi ada juga yang bahkan sangat mirip dengan arsitektur Maya dan Aztec. Masjid ini memang memiliki banyak sekali pintu, namun tidak memiliki kubah besar sebagaimana masjid pada umumnya.

Di beberapa pintu masjid tampak ornamen dengan angka 999. Angka 999 itu merupakan penggabungan jumlah asma Allah yang berjumlah 99 dan 9 wali songo. Di antara pintu-pintu masjid terdapat banyak lorong sempit dan gelap yang menyerupai labirin. Di ujung lorong ada beberapa ruang  bersekat-sekat hingga membentuk ruangan seperti mushola dan setiap ruangan (mushola) yang luasnya  adalah sekitar 4 meter diberikan nama. Ada mushola Fathulqorib, Tanbihul-Alqofilin, Durojatun Annasikin, Safinatu-Jannah, Fatimah hingga mushola Ratu Ayu.

Setiap lorong di masjid ini sudah dilengkapi dengan penunjuk jalan. Dan, salah satu ruang dari sekian banyak lorong itu menuju ruang bawah tanah yang disebut ruang tasbih. Ruang ini biasa digunakan oleh Al Faqir dan jamaah lainnya untuk ber-istiqomah.

Tasbih Berukuran Besar
Selain memiliki seribu pintu, di dalam  ruang bawah tanah masjid ini ada tasbih raksasa yang terbuat dari kayu terpajang di salah satu sudut ruang berteralis besi. Ukuran masing-masing butir tasbihnya berdiameter 10 cm atau sekitar kepalan orang dewasa dan di 99 butir tasbih tersebut tertulis asma'ul Husna. 

Lokasi Masjid
Lokasi masjid ini berada di   RT 01 RW 03, Kampung Bayur, Priuk Jaya, Jatiuwung, Kabupaten Tangerang, Banten. Untuk mencapainya caranya cukup mudah dijangkau dengan mobil dan hanya beberapa menit dari pusat Kota Tangerang. (berbagai sumber)