Showing posts with label jawa timur. Show all posts
Showing posts with label jawa timur. Show all posts

Sejarah Tugu Pahlawan Surabaya

Monumen Tugu Pahlawan tentu banyak yang tahu dan mengenalnya sebagai  bangunan untuk mengenang jejak sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya yang terjadi di Kota Surabaya. Namun mungkin banyak yang belum tahu tentang  sejarah dan sisi lain tentang Monumen Tugu Pahlawan.Baik ketika awal dibangun atau dalam perkembangan selanjutnya.


Monumen  Tugu Pahlawan yang menjadi ikon dan land mark Kota Surabaya ini setinggi 45 yard (40.5 meter)  dan berbentuk Lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk  Canalures atau lengkungan-lengkungan  sebanyak 10 lengkungan  dan terbagi atas 11 ruas. 


Tinggi, ruas, dan canalures itu ternyata bermakna simbolis  tanggal 10, bulan 11 , tahun 1945 yang berarti tgl 10 November 1945 yang merupakan saat terjadinya pertempuran hebat antara arek-arek  Pejuang Surabaya melawan tentara  Sekutu dan Belanda yang hendak menjajah kembali bangsa Indonesia. Pada setiap tahunnya tgl  10 November kemudian diperingati oleh bangsa Indoensia sebagai  Hari Pahlawan. 


Pada masa kolonial , di kawasan Monumen Tugu Pahlawan ini terdapat gedung Raad Van Justitie yang digunakan sebagai markas Kenpetai pada masa pendudukan penjajah Jepang. Sesuai SK Walikota Surabaya No 188.45/251/402.1.04/1996 no urut 45, kawasan Monumen Tugu Pahlawan ditetapkan sebgai Bangunan Cagar Budaya.


Ada dua pendapat mengenai siapa yang menjadi pemrakarsa, sekaligus arsitek monumen yang dibangun pada tahun 1951 dan terletak di Jalan Pahlawan Surabaya ini.  Gatot Barnowo berpendapat  bahwa pembangunan monumen ini diprakarsai oleh Doel Arnowo, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Daerah Kota Besar Surabaya. 

Kemudian ia meminta Ir. Tan untuk merancang gambar monumen yang dimaksud yang kemudian  diajukan kepada Presiden Soekarno.

  
Sedangkan menurut Ir. Soendjasmono, pemrakarsa monumen ini adalah Ir. Soekarno sendiri. Ide itu kemudian mendapat perhatian khusus dari  Doel Arnowo. Tentang  perencanaan dan gambar Monumen Tugu Pahlawan itu diserahkan kepada Ir. R. Soeratmoko, yang telah mengalahkan beberapa arsitektur lainnya dalam sayembara pemilihan arsitek untuk membangun monumen ini.


Pada awalnya pekerjaan pembangunan Monumen Tugu Pahlawan ditangani Balai Kota Surabaya sendiri. Pembangunan kemudian dilanjutkan oleh Indonesian Engineering Corporation, yang diteruskan oleh Pemborong Saroja.


Monumen yang dibangun selama sepuluh bulan ini akhirnya diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 10 Nopember 1952.


Di bagian bawah monumen terdapat bangunan  Museum Perjuangan 10 November Surabaya yang menyimpan benda-benda yeng berkaitan dengan sejarah dan perjuangan arek-arek Surabaya.Ada juga foto-foto dokumentasi pembangunan Monumen Tugu Pahlawan. Pada tahun 1991-1996 dilakukan pembenahan kawasan Tugu Pahlawan dan Museum Perjuangan 10 November Surabaya yang dipimpin oleh arsitek Ir. Sugeng Gunadi, MLA dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Sejarah Tarian Reog Ponorogo Jawa Timur

Sejarah Tarian Reog Ponorogo Jawa Timur

Sejarah Tarian Reog Ponorogo mungki agan semua sudah banyak  yang tahu mengenai tarian yang satu ini dengan banyak unsur magis di dalamnya, sedikit tahu tentang reog bisa di baca dibawah ini yang saya cuplik dari wikipedia langsung. kita perlu menjaga dan melestarikan budaya Indonesia sebagai adat istiadat ciri khas bangsa Kita sebelum diakui oleh bangsa Lain. termasuk Pakaian Adat dan Rumah Adat.

Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.


SEJARAH TARIAN REOG PONOROGO





Pertunjukan reog di Ponorogo tahun 1920. Selain reog,
terdapat pula penari kuda kepang dan bujangganong.


Ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok , namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang berasal dari Cina, selain itu juga murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. 


Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan di mana ia mengajar seni bela diri kepada anak-anak muda, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Kertabhumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.



Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. 



Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya. 



Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Bhre Kertabhumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. 



Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru di mana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewandono, Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu.



Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujang Anom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. 



Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan "kerasukan" saat mementaskan tariannya.



Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai warisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.



Pesona Air Terjun Dolo - Kediri

Air Terjun Dolo adalah suatu lokasi tempat wisata air terjun yang sangat populer dan terletak di Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Air Terjun Dolo  bertempat di sisi bagian timur lembah Gunung Wilis (2.850 meter), Air Terjun ini memiliki ketinggian 125 meter dan 1800 meter di atas permukaan laut (dpl). 

Air Terjun Dolo adalah suatu lokasi tempat wisata air terjun yang sangat populer dan terletak di Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Air Terjun Dolo bertempat di sisi bagian timur lembah Gunung Wilis (2.850 meter), Air Terjun ini memiliki ketinggian 125 meter

Air Terjun Dolo adalah suatu lokasi tempat wisata air terjun yang sangat populer dan terletak di Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Air Terjun Dolo bertempat di sisi bagian timur lembah Gunung Wilis (2.850 meter), Air Terjun ini memiliki ketinggian 125 meter

Jarak Air terjun Dolo dengan Air Terjun Irenggolo berkisar 4 meter yang dibatasi oleh banyaknya pepohonan besar dan hutan yang lebat, yang juga masih terletak di kawasan Besuki. Debit air yang dikeluarkan Air Terjun Dolo memang tidak terlalu deras, namun air yang keluar bersuhu sangat dingin. Curahan  Air Terjun Dolo yang jatuh dari ujung terbagi atas tiga bagian, mulai dari bagian yang tertinggi berkisar kurang lebih 90 meter dan dibawahnya lagi sekitar 2 sampai 5 meter. 

Air terjun Dolo bertempat di kawasan pegunungan, sehingga selain suhu udara yang dingin, terkadang kawasan di sekitar Air Terjun dan fasilitas jalan menuju ke lokasi wisata alam Air Terjun Dolo tertutup oleh kabut yang pekat. Perjalanan Anda menuju Air Terjun akan dimanjakan dengan hamparan hijau pemandangan hutan pinus lengkap dengan aroma khasnya disepanjang aspal hotmix yang meliuk-liuk melingkar menuju puncak.

Akses Jalan Menuju Air Terjun Dolo

Air Terjun Dolo adalah suatu lokasi tempat wisata air terjun yang sangat populer dan terletak di Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Air Terjun Dolo bertempat di sisi bagian timur lembah Gunung Wilis (2.850 meter), Air Terjun ini memiliki ketinggian 125 meter.

Air Terjun Dolo adalah suatu lokasi tempat wisata air terjun yang sangat populer dan terletak di Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Air Terjun Dolo bertempat di sisi bagian timur lembah Gunung Wilis (2.850 meter), Air Terjun ini memiliki ketinggian 125 meter


Bila kita akan berkunjung ke Taman Wisata Alam Air Terjun Dolo sebaiknya perhatikan jalan yang benar karena lokasi wisata ini tidak dekat jika anda berasal dari luar daerah Kediri. Air terjun Dolo bejarak sekitar kurang lebihnya 25 kilometer dari pusat Kota Kediri, sekitar 2 jam dari daerah Pare, Kabupaten Kediri. Jika akan menuju tempat wisata alam Air Terjun Dolo, berangkat dari pusat Kota Kediri ke arah barat lalu melalui Pohsarang, Kecamatan Semen. 

Akses jalan menuju Air Terjun Dolo tidaklah mudah, Akses jalan menuju lokasi  Air Terjun Dolo berkelak-kelok karena terletak di daerah pegunungan. Namun pemerintah Kabupaten Kediri telah membangun sarana jalan yang lebih halus dan lebar dari sebelumnya, sehingga lebih memudahkan para pengunjung yang datang baik dari arah kota Kediri maupun dari arah Ponorogo. Sesudahnya berada di lokasi parkir, perjalanan menuju pusat Air Terjun Dolo diteruskan dengan berjalan kaki menaiki anak tangga. Untuk mencapain lokasi Air Terjun Dolo, wisatawan harus melewati dan menuruni ratusan hingga ribuan anak tangga yang panjangya sekitar 1 kilometer.

Fasilitas Lokasi Wisata Air Terjun Dolo

Air Terjun Dolo adalah suatu lokasi tempat wisata air terjun yang sangat populer dan terletak di Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Air Terjun Dolo bertempat di sisi bagian timur lembah Gunung Wilis (2.850 meter), Air Terjun ini memiliki ketinggian 125 meter.

Ada begitu banyak fasilitas yang bisa anda dapatkan di lokasi wisata Air Terjun Dolo. Lokasi wisata air Terjun Dolo mempunyai banyak fasilitas yang membuat nyaman para pengunjungnya, seperti warung makan, kantin dan mushala untuk orang muslim. Ditambah juga dengan adanya pemandangan yang  sekitar kawasan air terjun juga menyediakan fasilitas untuk tempat olahraga lari pagi (jogging track) dan mendaki (hiking area). 

Di Air Terjun Dolo terdapat juga taman bermain untuk anak-anak usia dini (play ground) dan lokasi perkemahan (camping ground) untuk wisatawan yang akan bermalam dengan mendirikan tenda di malam hari. Untu semua pengunjung yang ingin bermalam lebih nyaman, mereka juga bisa menginap di villa-villa yang terletak tidak jauh dari lokasi Air Terjun Dolo, lokasi penginapan ini  berjarak sekitar 4 kilometer. Tidak jauh hanya beberapa meter dari Air Terjun Dolo terdapat kebun berbagai macam sayur dan stroberi di sebuah pondokan yang dibuat dari bambu. Untuk pengunjung yang berkunjung dapat membeli sayuran dan stroberi yang masih segar atau dapat memetiknya sendiri.

Sumber : http://tamanwisataalam.blogspot.com/2014/06/air-terjun-dolo.html

Sejarah Candi Penataran - Blitar

Candi Penataran terletak di desa Penataran, kecamatan Nglegok, kabupaten Blitar, Jawa Timur, Indonesia. Koordinat GPS : 8° 00’59.06″ S 112° 12’34.90″ E. Lokasinya yang terletak di kaki gunung Kelud, menjadikan area Candi Penataran berhawa sejuk. Candi Penataran adalah kompleks percandian terbesar dan paling terawat di provinsi Jawa Timur, Indonesia.



Candi Penataran merupakan candi yang kaya dengan berbagai macam corak relief, arca, dan struktur bangunan yang bergaya Hindu. Adanya pahatan Kala (raksasa menyeringai), arca Ganesya (dewa ilmu pengetahuan dalam mitologi Hindu), arca Dwarapala (patung raksasa penjaga pintu gerbang), dan juga relief Ramayana adalah bukti tidak terbantahkan bahwa Candi Penataran adalah candi Hindu.


Prasasti Palah yang terdapat di area Candi Penataran mengabarkan bahwa candi ini mulai dibangun sekitar tahun 1194, pada masa pemerintahan raja Syrenggra yang memerintah kerajaan Kadiri, dan selesai pada masa kerajaan Majapahit. Dengan demikian candi ini melewati masa tiga kerajaan besar Nusantara yaitu Kadiri, Singasari, dan Majapahit. Candi Penataran memegang peranan cukup penting bagi kerajaan-kerajaan tersebut, yaitu sebagai tempat pengangkatan para raja dan tempat untuk upacara pemujaan terhadap Sang Pencipta.


Berbagai kajian oleh para sejarawan terhadap teks-teks kuno, kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca, misalnya, dijelaskan bahwa Candi Penataran sangat dihormati oleh para raja dan petinggi kerajaan besar di JawaTimur. Candi Penataran pernah menyimpan abu dari raja Rajasa (Ken Arok) pendiri kerajaan Singasari, dan juga abu dari raja Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) pendiri kerajaan Majapahit. Bahkan konon, menurut legenda rakyat setempat, sumpah sakral Mahapatih Gajah Mada untuk menyatukan seluruh Nusantara dalam kekuasaan Majapahit, yang dikenal dengan nama “Sumpah Palapa”, diucapkan di Candi Penataran.


MISTERI YANG TERSIMPAN DI CANDI PENATARAN MENGUAK FAKTA BAHWA INDONESIA MERUPAKAN ASAL PERADABAN DUNIA

Candi Penataran yang terletak di Desa Penataran Kec. Nglegok ternyata menyimpan banyak misteri diantaranya bahwa Indonesia merupakan asal peradaban dunia. Hal ini terungkap dari gambar relief yang ada di setiap sudut candi. Misteri dibalik Candi Penataran terungkap dari investigasi relief oleh Yayasan Turangga Seta yang dimulai sejak tahun lalu.



Dalam pahatan relief terkuak sejarah jika nenek moyang kita pernah melakukan infasi hingga  Benua Amerika dengan mengalahkan bangsa Indian dan sempat berperang dengan prajurit Bangsa Maya. Mereka kemudian menguasai wilayah tersebut hingga diangkat sebagai penguasa. Tidak hanya itu pada salah satu relief juga digambarkan beberapa bangsa lain seperti Bangsa Han (China), Bangsa Campa, Bangsa Maya, Bangsa Yahudi dan Bangsa Mesir tunduk pada leluhur kita. Demikian seperti diungkapkan Ketua Yayasan Turangga Seta, Agung Bimo Sutejo. Ia menambahkan dalam pahatan lain terungkap jika pada waktu itu terdapat 3 species yang sudah mempunyai peradaban yakni ras manusia kera, ras raksasa dan manusia biasa. Mereka pun hidup saling berdampingan.

Gambaran pada relief ini sekaligus membantah teori Darwin yang menyatakan manusia berasal dari evolusi kera. Dalam tata cara kematian manusia jaman dulu mereka yang meninggal jasadnya akan diperabukan sehingga fosilnya tidak akan ditemukan. Sedangkan ras manusia kera dan raksasa dengan cara dikubur sehingga fosil yang banyak ditemukan arkreolog tersebut adalah fosil ras manusia kera yang berbeda dengan species kita saat ini dan dimungkinkan ras manusia kera telah punah.

Sementara dari penelitian yang dilakukan Yayasan Turangga Seta, juga terkuak misteri jika keberadaan Candi Penataran di Blitar yang merupakan Candi terbesar di Jawa Timur itu terkait dengan berdirinya kerajaan besar di Blitar kala itu yang justru wilayah kekuasaannya lebih besar dari Kerajaan Majapahit. Namun sayang misteri ini belum akan diungkapkan pada publik.

Sumber :
http://www.purnamaserulingpenataran.com/sejarah-candi-penataran/
https://ahmadsamantho.wordpress.com/2011/04/01/misteri-yang-tersimpan-di-candi-penataran-menguak-fakta-bahwa-indonesia-merupakan-asal-peradaban-dunia/

Wisata dengan Nuansa Unik dan Horor di Museum Kesehatan Surabaya

Museum Kesehatan dr. Adyatama, museum kesehatan yang berada di Jalan Indrapura no.17, Surabaya ini awalnya museum adalah Rumah Sakit Kelamin. Namun atas kebijakan pemerintah berganti menjadi museum kesehatan. Didalamnya menyimpan berbagai peralatan kesehatan tempo dulu serta benda-benda terkait supranatural. Oleh karena itu museum ini sering dijuluki museum santet.



Dikelola oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) dan Kebijakan Kesehatan, Departemen Kesehatan. Museum yang selesai dibangun pada tahun 2004 ini diresmikan oleh Dr. Ahmad Sujudi selaku Menteri Kesehatan pada masa itu. Awalnya museum ini dirintis oleh Dr.dr. Haryadi Suparto yang kemudian mengambil penamaan museum dari dr. Adhyatma yang pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan pada tahun 1988 hingga 1993.

Apa yang menarik dari museum ini? Di museum ini terdokumentasi dengan baik cara –cara pengobatan tradisional dan santet. Terdapat benda yang sering dipakai untuk urusan mistik tersebut. Seperti kayu pohon telor, kayu santen, kayu kengkeng, kayu kelor dan bambu. Terdapat pula boneka santet yang ditusuk jarum, foto seseorang yang ditusuk paku dalam kain merah kemudian rokok kelobot yang dibentuk menyerupai boneka orang yang pada bagian tubuhnya tertancap kayu. Tak hanya itu museum ini juga menyimpan tanah kuburan yang diyakini akan membawa sial sesorang yang membawanya pulang. Semua benda tersebut kerap dipercayai dan dijadikan sarana untuk melakukan kegiatan supranatural.



Beberapa benda lain terkait dengan adanya santet juga disimpan di museum ini. Benda seperti potongan usus dari pasien terkena santet, paku bengkok yang dikeluarkan dari tubuh seorang pasien, serta beberapa helai ijuk yang keluar dari tubuh seorang pasien. Pengelola museum mendapatkan benda-benda tersebut dari dukun santet. Benda-benda mistik lainnya juga bisa Anda temukan di ruang ini. Dari kain bertuliskan rajah, batu, kain hingga obat-obatan dari dukun. Yang menarik di sini adalah boneka Jalangkung dan Nini Thowok yang disimpan di lemari kaca.

Tempat ini juga mengoleksi benda yang seringkali dianggap memiliki khasiat atau mitos tertentu misalnya air dari paranormal Ki Kusumo, air dari dukun cilik Ponari, hingga rumput Fatimah yang diambil dari Arafah yang dipercaya dapat menguatkan kandungan seseorang setelah melahirkan.

Tak hanya benda-benda supranatural dan medis, museum ini juga mengoleksi benda-benda yang unik. Seperti celana anti perkosaan dan alat perangsang seks untuk pria dan wanita. Ada pula benda berupa vacuum yang berfungsi untuk membesarkan alat kelamin pria.

Anda dapat pula menyaksikan proses penyantetan yang terdokumentasi dengan baik lewat foto-foto yang terdapat di museum ini. Dari foto itu, wisatawan dapat mengetahui bagaimana ritual penyantetan berlangsung. Tak hanya itu bulu kuduk Anda akan semakin dibuat merinding tatkala menyaksikan video yang ditayangkan. Video tersebut merekam proses pembedahan otak seorang pasien dan anehnya darah yang keluar adalah darah ayam.



Museum ini buka buka setiap hari dari hari Senin hingga Jum’at dan tutup pada hari libur nasional. Buka mulai pukul 8.00 wib pagi hingga pukul 15.00 wib. Pada hari Sabtu dan Minggu buka pada pukul 09.00 wib sampai pukul 14.00 wib.

Menjelajahi isi Museum Kesehatan dr Adhyatma ini bukan saja akan menambah wawasan Anda mengenai dunia kesehatan, namun kita dapat melihat realita masyarakat yang hingga kini masih mempercayai hal-hal mistik.

Ruangan Dunia Lain

Di museum kesehatan terdapat ruangan yang dikunci rapat oleh penjaga museum. Ruangan ini dinamakan "DUNIA LAIN". Untuk bisa memasuki ruangan tersebut, kalian harus meminta izin oleh penjaganya untuk bisa memasuki ruangan tersebut, agar tidak terjadi apa-apa. Ruangan tersebut merupakan ruangan kamar mandi yang dibiarkan kotor. Namun pada ruangan ini juga terdapat 1 kotak tengkorak , 1 kotak abu jenazah , 2 peti mati besar dan kecil yang bekas dikubur. 





Sumber : http://surabaya.panduanwisata.id/wisata-sejarah-dan-budaya/isi-museum-kesehatan-dr-adyatma-di-surabaya/
Melihat Surabaya Tempo Dulu di Museum Surabaya

Melihat Surabaya Tempo Dulu di Museum Surabaya



Saat ini Surabaya telah memiliki museum baru, yaitu Museum Surabaya yang baru saja diresmikan pada 3 Mei 2015 oleh Ibu Tri Rismaharini selaku Wali Kota Surabaya. Museum ini jadi destinasi wisata baru bagi para pelancong yang wajib untuk dikunjungi, sebab di dalamnya berisi ribuan artefak dan barang-barang bersejarah milik Kota Surabaya yang ada di masa lalu. Berbeda dengan Museum Tugu Pahlawan atau Museum House of Sampoerna, museum ini mengisahkan tentang Kota Surabaya sepenuhnya.


Museum Surabaya terletak di lantai dasar bekas Gedung Siola (Cagar Budaya) di Jalan Tunjungan. Ibu Risma mengatakan bahwa museum ini merupakan media edukasi untuk masyarakat Surabaya, terutama yang ingin mengetahui berbagai sejarah yang pernah ada di kota pahlawan tersebut. Museum ini berisi semua hal tentang Kota Surabaya di masa lalu. Ia menilai bahwa mungkin banyak warga yang masih belum mengerti mengenai sejarah atau benda-benda antik tersebut. Padahal benda-benda tersebut merupakan bagian dari perjalanan pembangunan Kota Surabaya. Museum ini menampilkan sebuah perpaduan masa lalu dan masa kini yang ada di Kota Surabaya.

Berbagai penghargaan yang pernah diraih Kota Surabaya

Gedung Siola berlantai tiga itu kini telah disulap menjadi lebih bersih. Sebelum masuk ke dalam museum, Anda akan menjumpai kereta kuno yang dipamerkan di samping gedung. Di dalam Museum Surabaya ada berbagai macam koleksi benda-benda bersejarah meliputi dua buah meriam kuno, foto seluruh wali kota Surabaya yang pernah menjabat, bemo (becak motor) yang terkenal sebagai alat transportasi tahun 1970-an, becak, mata uang kuno, piano, bangku sekolah mesin ketik, peralatan pemadam kebakaran, alat kesehatan, piala serta tropi penghargaan yang diperoleh Kota Surabaya, furnitur, berbagai macam baju dinas dari segala profesi, peta Surabaya, komputer server, alat komunikasi, buku catatan kelahiran warga Surabaya, buku catatan perkawinan warga Surabaya, hingga buku catatan pemakaman warga Surabaya yang ada di Makam Kembang Kuning Surabaya.

Koleksi benda-benda historis yang ada merupakan sumbangan dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Beberapa dinas menyumbangkan benda historis yang mereka miliki untuk dipajang di Museum Surabaya ini. Misalnya, Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) yang menyumbangkan pakaian lengkap para petugas PMK mulai dari zaman Belanda, Jepang, awal kemerdekaan, sampai sekarang. Pakaian tersebut lengkap dari topi sampai sepatu. Selain itu, beberapa benda seperti lonceng tanda terjadinya kebakaran dan alat penyemprot juga turut dipajang museum ini.

Deretan foto Wali Kota Surabaya

Dinas Perhubungan (Dishub) juga ikut menyumbang benda-benda historis miliknya menjadi koleksi Museum Surabaya. Benda-benda antik itu seperti komputer server yang dulu digunakan untuk operasional Area Traffic Control System (ATCS). Kemudian Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan (DPPK) memberikan dua mesin proporsi manual yang dulu digunakan sebagi alat pengesahan karcis maupun retribusi oleh Pemkot Surabaya.

Memang saat ini koleksi yang ada di Museum Surabaya belum sempurna, namun Pemerintah Kota Surabaya akan terus berupaya untuk menambah koleksinya lagi. Selain area etalase benda-benda bersejarah, di Museum Surabaya juga ada panggung live performance dari para seniman, area makanan khas Surabaya, sentra usaha kecil menengah (UKM), hingga pameran lukisan. Selain itu juga ada pelayanan masyarakat yang dibuka mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB. Pelayanan tersebut meliputi BKPM, DPBT, serta Dispendukcapil. Museum ini dibuka untuk umum. Bagi pengunjung yang ingin memasuki Museum Surabaya tidak dipungut biaya sama sekali. Pengunjung hanya akan disuruh petugas untuk mengisi data diri di buku catatan yang telah disediakan.

Sumber : http://ulinulin.com/news/tempat-wisata-museum-surabaya-melihat-surabaya-tempo-dulu
Misteri Mistis Yang Tersembunyi Di Gunung Raung Banyuwangi

Misteri Mistis Yang Tersembunyi Di Gunung Raung Banyuwangi

Keangkeran Gunung Raung sudah terlihat dari nama-nama pos pendakian yang ada, mulai dari Pondok Sumur, Pondok Demit, Pondok Mayit dan Pondok Angin. Semua itu mempunyai sejarah tersendiri hingga dinamakan demikian.


Pondok Sumur misalnya, katanya terdapat sebuah sumur yang biasa digunakan seorang pertapa sakti asal Gresik. Sumur dan pertapa itu dipercaya masih ada, hanya saja tak kasat mata. Di Pondok Sumur ini, saat berkemah,juga terdengar suara derap kaki kuda yang seakan melintas di belakang tenda.


Selanjutnya Pondok Demit, disinilah tempat aktivitas jual-beli para lelembut atau dikenal dengan Parset (Pasar Setan). Sehingga, padaMore… hari-hari tertentu akan terdengar keramaian pasar yang sering diiringi dengan alunan musik. Lokasi pasar setan terletak disebelah timur jalur, sebuah lembah dangkal yang hanya dipenuhi ilalang setinggi perut dan pohon perdu.

Pondok Mayit adalah pos yang sejarahnya paling menyeramkan, karena dulu pernah ditemukan sesosok mayat yang menggantung di sebuah pohon. Mayat itu adalah seorang bangsawan Belanda yang dibunuh oleh para pejuang saat itu.

Tak jauh dari Pondok Mayit, adalah Pondok Angin yang juga merupakan pondok terakhir atau base camp pendaki. Tempat ini menyajikan pemandangan yang memukau karena letaknya yang berada di puncak bukit, sehingga kita dapat menyaksikan pemandangan alam pegunungan yang ada disekitarnya. Gemerlapnya kota Bondowoso dan Situbondo serta sambaran kilat jika kota itu mendung, menjadi fenomena alam yang sangat luar biasa. Namun, angin bertiup sangat kencang dan seperti maraung-raung di pendengaran. Karenanya gunung ini dinamakan Raung, suara anginnya yang meraung di telinga terkadang dapat menghempaskan kita didasar jurang yang terjal.

Sebelah barat yang merupakan perbukitan terjal itu adalah lokasi kerajaan Macan Putih, singgasananya Pangeran Tawangulun. Di sini, juga sering terengar derap kaki suara kuda dari kereta kencana. Konon, pondok Angin ini merupakan pintu gerbang masuk kerajaan gaib itu.

Konon, di perbukitan yang mengelilingi kaldera itulah kerajaan Macan Putih berdiri. Sebuah kerajaan yang berdiri saat gunung ini meletus tahun 1638. Pusatnya terletak di puncak Gunung Raung. Kerajaan tersebut dipimpin oleh Pangeran Tawangulun. Beliau adalah salah-satu anak raja Kerajaan Majapahit yang hilang saat bertapa di gunung. Keberadaan kerajaan itu sedikit banyak masih memiliki hubungan yang erat dengan penduduk setempat. Misalnya bila terjadi upacara pernikahan di kerajaan, maka hewan-hewan di perkampungan banyak yang mati. Hewan-hewan itu dijadikan upeti bagi penguasa kerajaan.

Konon, menurut masyarakat setempat, seluruh isi dan penghuni kerajaan Macan Putih lenyap masuk ke alam gaib atau dikenal dengan istilah mukso. Dan hanya pada saat tertentu, tepatnya setiap malam jum’at kliwon, kerajaan itu kembali ke alam nyata.

Pangeran Tawangulun dipercaya merupakan salah satu suami dari Nyai Roro Kidul. Setiap malam jum’at itulah penguasa laut selatan mengunjungi suaminya. Biasanya, akan terdengar suara derap kaki kuda ditempat yang sakral. Suara tersebut berasal dari kereta kencana Sang Ratu yang sedang mengunjungi sang suami Pangeran Tawangulun.

Bila mendengar suara tersebut lebih baik pura-pura tidak mendengar. Jika dipertegas, suara akan bertambah keras dan mungkin akan menampak wujudnya. Bila demikian, kemungkinan kita akan terbawa masuk ke alam gaib dan kemudian dijadikan abdi dalem kerajaan Macan Putih.

sumber : http://seruu.com/pojok-seruu/misteri-dan-mitos-yang-selimuti-gunung-raung/itemid-686

Misteri Gunung Kawi

Gunung Kawi adalah sebuah gunung berapi di Jawa Timur, Indonesia, dekat dengan Gunung Butak. Tidak ada catatan sejarah mengenai letusan gunung berapi ini. Gunung Kawi, terletak di sebelah barat kota Malang merupakan obyek wisata yang perlu untuk dikunjungi bila kita berada di Jawa Timur karena keunikannya, obyek wisata ini lebih tepat dijuluki sebagai "kota di pegunungan". Di sini kita tidak akan menemukan suasana gunung yang sepi, tapi justru kita akan disuguhi sebuah pemandangan mirip di negeri tiongkok zaman dulu.


Di sepanjang jalan kita akan menemui bangunan bangunan dengan arsitektur  khas Tiongkok, dimana terdapat sebuah kuil/klenteng tempat untuk bersembahyang atau melakukan ritual khas Kong Hu Cu. Biasanya orang-orang Tionghoa mengunjungi tempat ini pada hari-hari tertentu untuk melakukan ritual keagamaan seperti memohon keselamatan , giam si , ci suak dsb namun tak jarang pula yang hanya sekedar berpelesir untuk melepas lelah. Di sepanjang jalan juga banyak terdapat penginapan baik itu hotel, losmen, atau bahkan rumah penduduk dapat juga disewa untuk dijadikan tempat menginap.

Ada banyak hal unik yang berhubungan dengan kepercayaan yang dapat kita temukan di gunung Kawi, Salah satu diantaranya adalah sebuah pohon yang konon dipercaya bila kita kejatuhan buahnya, maka kita akan mendapat rejeki. Pada malam-malam tertentu akan banyak sekali orang yang duduk di bawah pohon ini. Selain pohon, terdapat juga makam Mbah Djoego, seorang pertapa pembantu Pangeran Diponegoro, yang juga sangat dijaga oleh penduduk setempat.

Pesugihan Di Gunung Kawi


Dalam masalah pesugihan, sebelumnya pernah membahas tentang Ritual Mesum Pesugihan Gunung Kemukus, kali ini membahas mitos seputar Pesugihan Gunung Kawi. Disaat orang banyak disibukkan dengan kesulitan ekonomi, kadang semua cara digunakan termasuk diantaranya adalah ritual pesugihan.

Ada yang mencari uang dengan bisnis internet, namun karena tidak sedahsyat denga pesugihan maka bagi orang yang malas akhirnya lebih memilih pesugihan. Mitos Pesugihan Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat untuk mencari kekayaan (pesugihan).

Konon, barang siapa melakukan ritual dengan rasa kepasrahan dan pengharapan yang tinggi maka akan terkabul permintaannya, terutama menyangkut masalah kekayaan. Mitos seputar pesugihan Gunung kawi ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah merasakan "berkah" berziarah ke Gunung Kawi. Namun bagi kalangan rasionalis-positivis, hal ini merupakan isapan jempol belaka. Biasanya lonjakan pengunjung yang melakukan ritual terjadi pada hari Jumat Legi (hari pemakaman Eyang Jugo) dan tanggal 12 bulan Suro (memperingati wafatnya Eyang Sujo). Ritual dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan.

Di dalam bangunan makam, pengunjung tidak boleh memikirkan sesuatu yang tidak baik serta disarankan untuk mandi keramas sebelum berdoa di depan makam. Hal ini menunjukkan simbol bahwa pengunjung harus suci lahir dan batin sebelum berdoa.

Selain pesarean sebagai fokus utama tujuan para pengunjung, terdapat tempat-tempat lain yang dikunjungi karena 'dikeramatkan' dan dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk mendatangakan keberuntungan, antara lain:

1. Rumah Padepokan Eyang Sujo
Rumah padepokan ini semula dikuasakan kepada pengikut terdekat Eyang Sujo yang bernama Ki Maridun. Di tempat ini terdapat berbagai peninggalan yang dikeramatkan milik Eyang Sujo, antara lain adalah bantal dan guling yang berbahan batang pohon kelapa, serta tombak pusaka semasa perang Diponegoro.

2. Guci Kuno
Dua buah guci kuno merupakan peninggalan Eyang Jugo. Pada jaman dulu guci kuno ini dipakai untuk menyimpan air suci untuk pengobatan. Masyarakat sering menyebutnya dengan nama 'janjam'. Guci kuno ini sekarang diletakkan di samping kiri pesarean. Masyarakat meyakini bahwa dengan meminum air dari guci ini akan membuat seseorang menjadi awet muda.

3. Pohon Dewandaru
Di area pesarean, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan. Pohon ini disebut pohon dewandaru, pohon kesabaran. Pohon yang termasuk jenis cereme Belanda ini oleh orang Tionghoa disebut sebagai shian-to atau pohon dewa. Eyang Jugo dan Eyang Sujo menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman.

Untuk mendapat 'simbol perantara kekayaan', para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Untuk memanfaatkannya sebagai azimat, biasanya daun itu dibungkus dengan selembar uang kemudian disimpan ke dalam dompet.

Namun, untuk mendapatkan daun dan buah dewandaru diperlukan kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran.

Siapakah sesungguhnya Eyang Jugo dan Eyang Sujo?
Yang dimakamkan dalam satu liang lahat di pesarean Gunung Kawi ini? Menurut Soeryowidagdo (1989), Eyang Jugo atau Kyai Zakaria II dan Eyang Sujo atau Raden Mas Iman Sudjono adalah bhayangkara terdekat Pangeran Diponegoro. Pada tahun 1830 saat perjuangan terpecah belah oleh siasat kompeni, dan Pangeran Diponegoro tertangkap kemudian diasingkan ke Makasar, Eyang Jugo dan Eyang Sujo mengasingkan diri ke wilayah Gunung Kawi ini.

Semenjak itu mereka berdua tidak lagi berjuang dengan mengangkat senjata, tetapi mengubah perjuangan melalui pendidikan. Kedua mantan bhayangkara balatentara Pangeran Diponegoro ini, selain berdakwah agama islam dan mengajarkan ajaran moral kejawen, juga mengajarkan cara bercocok tanam, pengobatan, olah kanuragan serta ketrampilan lain yang berguna bagi penduduk setempat. Perbuatan dan karya mereka sangat dihargai oleh penduduk di daerah tersebut, sehingga banyak masyarakat dari daerah kabupaten Malang dan Blitar datang ke padepokan mereka untuk menjadi murid atau pengikutnya.

Setelah Eyang Jugo meninggal tahun 1871, dan menyusul Eyang Iman Sujo tahun 1876, para murid dan pengikutnya tetap menghormatinya. Setiap tahun, para keturunan, pengikut dan juga para peziarah lain datang ke makam mereka melakukan peringatan. Setiap malam Jumat Legi, malam eninggalnya Eyang Jugo, dan juga peringatan wafatnya Eyang Sujo etiap tanggal 1 bulan Suro (muharram), di tempat ini selalu diadakan erayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya. Upacara ini iasanya dipimpin oleh juru kunci makam yang masih merupakan para keturunan Eyang Sujo.

Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun para peziarah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji, semakin banyak berkah yang akan didapat. Untuk masuk ke makam keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja, mereka berjalan dengan lutut.

Hingga dewasa ini pesarean tersebut telah banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka bukan saja berasal dari daerah Malang, Surabaya, atau daerah lain yang berdekatan dengan lokasi pesarean, tetapi juga dari berbagai penjuru tanah air. Heterogenitas pengunjung seperti ini mengindikasikan bahwa sosok kedua tokoh ini adalah tokoh yang kharismatik dan populis.

Namun di sisi lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini pun sangat beragam pula. Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan leluhur, melakukan penelitian ilmiah, dan yang paling umum adalah kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa agar keinginan lekas terkabul.

Sejarah Gunung Kelud yang Masih Menjadi Misteri

Gunung Kelud merupakan gunung berapi aktif yang terletak di Jawa Timur, tepatnya diantara kabupaten Kediri dan Blitar. Gunung yang memiliki ketinggian 1.731 mdpl ini, bisa diakses melalui Kabupaten Kediri, untuk dari kabupaten Blitar juga bisa, hanya pada akhirnya juga melewati jalur Kabupaten Kediri. Gunung Kelud merupakan salah satu tujuan wisata di Jatim yang cukup tersohor. Di balik keistimewaan tersebut, Gunung Kelud diselimuti kabut misteri terkait keberadaan gunung berpuncak strato ini.

Legenda Gunung Kelud


Menurut legendanya terbentuk dari sebuah pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti Mahesa Suro dan Lembu Suro. Kala itu, Dewi Kilisuci anak putri Jenggolo Manik yang terkenal akan kecantikannya dilamar dua orang raja. Namun yang melamar bukan dari bangsa manusia, karena yang satu berkepala lembu bernama Raja Lembu Suro dan satunya lagu berkepala kerbau bernama Mahesa Suro.


Untuk menolak lamaran tersebut, Dewi Kilisuci membuat sayembara yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa, yaitu membuat dua sumur di atas puncak Gunung Kelud, yang satu harus berbau amis dan yang satunya harus berbau wangi dan harus selesai dalam satu malam atau sampai ayam berkokok. Dengan kesaktian Mahesa Suro dan Lembu Suro, sayembara tersebut disanggupi. Setelah berkerja semalaman, kedua-duanya menang dalam sayembara. Tetapi Dewi Kilisuci masih belum mau diperistri. Kemudian Dewi Kilisuci mengajukan satu permintaan lagi. Yakni kedua raja tersebut harus membuktikan dahulu bahwa kedua sumur tersebut benar benar berbau wangi dan amis dengan cara mereka berdua harus masuk ke dalam sumur.

Terpedaya oleh rayuan tersebut, keduanyapun masuk ke dalam sumur yang sangat dalam tersebut. Begitu mereka sudah berada di dalam sumur, lalu Dewi Kilisuci memerintahkan prajurit Jenggala untuk menimbun keduanya dengan batu. Maka matilah Mahesa Suro dan Lembu Suro.  Tetapi sebelum mati Lembu Suro sempat bersumpah dengan mengatakan "Ya, orang Kediri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau (semoga tidak terjadi). Dari legenda ini akhirnya masyarakat lereng Gunung kelud melakukan sesaji sebagai tolak balak sumpah itu yang disebut Larung Sesaji. Acara ini digelar setahun sekali pada tanggal 23 bulan surau oleh masyarakat Sugih Waras.

Ritual Gunung Kelud

Sementara itu, terkait den­gan ritual sesaji yang digelar masyarakat lereng Gunung Kelud pada 2007 silam, tat­kala ritual digelar, sesepuh Mbah Ronggo dalam ritualnya mendapati wangsit gaib. Yaitu berupa pesan terjadinya pertan­da besar menyoal keberadaan Gunung Kelud yang terletak 40 kilometer dari kota Kediri yang memiliki keunikan di pun­caknya, yakni berbentuk strato dengan danau kawah di ten­gahnya walaupun danau kawah itu saat ini telah berubah bentuk menjadi kubah lava. Wangsit tersebut mengatakan, “Le, sing ati-ati arep liwat Danyang Gu­nung Kelud,” tutur Mbah Rong­go mengenai pesan gaib yang merupakan pesan jika Gunung Kelud akan meletus.

Terbukti, tahun 2007 Gu­nung Kelud meletus dengan letusan terakhir bersifat efusif (mengalirkan material), berbeda dari latusan sebelumnya yang bersifat eksplosit (menyemburkan material). Akibat letusan terakhir, da­nau kawah Gunung Kelud yang berwarna hijau berubah menjadi kubah lava yang mengalirkan material berwarna hitam dari dalam perut gunung. Keting­gian kubah saat ini mencapai 250 meter dengan lebar sekitar 400 meter.

Sepanjang sejarahnya, gu­nung ini tercatat mengalami 29 kali letusan, baik eksplosif maupun efusif, mulai tahun 1000 sampai tahun 2007. Erupsi eksplosifnya mampu menghan­curkan ratusan desa di seki­tarnya, termasuk ribuan hektare lahan pertanian dan menewas­kan ribuan warga. Sebagai gam­baran, lima letusan terakhirnya saja memakan korban 5.400 jiwa.

Berdasarkan pengamatan le­tusan selama tiga abad berturut-turut, waktu istirahat terpanjang aktivitas dalam perut Gunung Kelud adalah 65-76 tahun, teta­pi pernah pula hanya tiga tahun. Sejak letusan tahun 1901, wak­tu istirahat gunung itu menjadi lebih singkat, yaitu 15-31 tahun, bahkan pernah mencapai masa paling singkat, yaitu satu tahun.

Penunggu kawah Gunung Kelud

Nama Gunung Kelud berasal dari Jarwodhosok, yakni dari kata “ke” (kebak) dan “lud” (ludira). Hal ini berarti bila murka, bisa merenggut banyak kurban jiwa tak berdosa. Menurut kepercayaan penduduk sekitar, kawah gunung ini dijaga sepasang buaya putih, yang konon merupakan jelmaan bidadari.

Legenda menceritakan, zaman dahulu kala ada dua bidadari sedang mandi di telaga tersebut. Karena terlena, dua bidadari ini melakukan perbuatan seperti yang biasa terjadi pada manusia modern, yakni berbuat intim dengan sesama jenis. Jadi, kedua bidadari itu tergolong penganut lesbian. Perbuatan tersebut rupanya diketahui oleh dewa. Karena kesal, sang dewa pun mengutuk kedua bidadari tersebut, “Kelakuan kalian mirip buaya.”

Karena dewa memang penguasa jagad, kata-katanya yang ampuh itu membuat dua bidadari tersebut seketika berubah menjadi dua ekor buaya. Konon, hingga kini mereka menjadi penunggu danau Gunung Kelud. Letusan Kelud pada 1586 menelan korban hingga 10 ribu orang meninggal. Pada letusan 19 Mei 1919 memakan korban 5.110 jiwa. Sedang letusan 26 April 1966 menelan korban jiwa 212 meninggal, 74 hilang dan 89 luka-luka. Menurut sesepuh desa di sekitar gunung ini, para korban itu sedang dikersakke dua bidadari penunggu kawah. Bila laki-laki diperlakukan sebagai suami dan yang perempuan diangkat sebagai saudara. Warga menengarai, bila Kelud akan meletus biasanya ada dua sorot sinar terang masuk ke kawah. Atau banyak burung gagak berterbangan di pedesaan.

6 Fakta Menarik letusan Gunung Kelud



Kelud juga tergolong sebagai gunung berapi aktif tipe A dengan letusan eksplosif. Hanya pada 2007 saja gunung itu tercatat efusif, hanya membentuk kubah lava saja. Sepanjang sejarahnya, Gunung Kelud sudah beberapa kali meletus, pada 1586, 1919, 1951, 1966, 1990, 2007, terakhir 2014.

Ada beberapa fakta letusan gunung kelud yang menarik dan perlu untuk Anda ketahui, seperti dilansir Merdeka.com dan KapanLagi.com berikut ini.

Danau Kawah

Sebelum Gunung Kelud meletus pada tahun 2007 lalu, Gunung kelud memiliki sebuah kawah di puncaknya. Danau tersebut dapat menyimpan banyak sekali air.

Pada zaman penjajahan Belanda muncul kekhawatiran akan timbul banyak korban saat Gunung Kelud meletus akibat dari banyaknya air yang berada dalam kawah. Untuk itu, pada tahun 1902 Pemerintah Belanda membangun sistem terowongan untuk mengurangi jumlah air di kawah.

Terowongan yang telah berhasil mengurangi air dari dalam kawah itu kemudian jebol, akhirnya pada tahun 1923 Pemerintah Belanda membuat 7 terowongan lagi untuk mengurangi jumlah air dalam kawah.

Setelah erupsi tahun 2007, kawah Gunung Kelud yang berisi air tersebut menghilang dan digantikan oleh sebuah kubah lava. Setelah terbentuk kubah lava, kawah gunung ini hanya menyisakan sedikit kubangan air.

Telah meletus 40 kali

Gunung Kelud yang terletak pada perbatasan 3 daerah yaitu Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang ini tercatat telah meletus sebanyak 40 kali. Catatan ini merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Smithsonian di Washington DC, Amerika Serikat.

Gunung Kelud termasuk gunung yang paling aktif di Jawa Timur, 40 kali letusannya terjadi hanya dalam kurun waktu 100 tahun. Gunung ini memiliki frekuensi waktu meletus yang cukup dekat, yaitu sekitar 9-25 tahun

Letusan Tahun 1586

Letusan Gunung Kelud paling besar yang tercatat dalam sejarah terjadi pada tahun 1586. Letusan ini menelan sekitar 1000 korban jiwa. Pada masa itu jumlah penduduk masih sedikit. Bisa di bayangkan betapa dahsyatnya letusan yang terjadi hingga menimbulkan begitu banyak korban jiwa.

Berdasar catatan bencana gunung meletus di Indonesia, jumlah korban jiwa akibat letusan Gunung Kelud pada 1586 itu merupakan rekor jumlah korban jiwa terbesar ketiga, setelah letusan Gunung Tambora di Sumbawa pada 10 hingga 12 April 1815, dan Krakatau di Selat Sunda pada 26 hingga 28 Agustus 1883.

Menurut buku Data Dasar Gunung Api di Indonesia. Letusan pada saat itu diperkirakan memiliki kekuatan Volcanic Explosivity Index (VEI): 5. Ini setara dengan letusan Gunung Pinnatubo di Filipina pada tahun 1991.

Letusan Tahun 1919

Letusan yang terjadi pada tengah malam tanggal 20 Mei 1919 ini merupakan yang terbesar kedua setelah tahun 1586 . Sekitar 5160 orang menjadi korban jiwa akibat letusan gunung ini.

Letusan yang terjadi pada tengah malam ini disebut terbesar dalam abad 20. Letusan ini sangat keras sehingga dentumannya terdengar sampai Kalimantan. Hujan batu cukup lebat dan sebagian atap rumah hancur, dan hujan abu mencapai Bali. Kota Blitar dilaporkan mengalami kehancuran akibat letusan ini.

Karena letusan inilah kemudian dibangun sistem saluran terowongan pembuangan air danau kawah, dan selesai pada tahun 1926. Secara keseluruhan dibangun tujuh terowongan

Letusan Tahun 2007

Pada tahun 2007, Gunung Kelud kembali menggeliat. Pada saat itu, terdapat beberapa aktifitas kegempaan dan suhu air danau meningkat.

Akibat aktivitas tinggi tersebut terjadi gejala unik dalam sejarah Kelud dengan munculnya asap tebal putih dari tengah danau kawah diikuti dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus "tumbuh" hingga berukuran selebar 100 m. Para ahli menganggap kubah lava inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera terjadi. Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa letusan tahun 1990.

Setelah peristiwa itulah danau kawah di gunung kelud ini menghilang, digantikan oleh terbentuknya kubah lava di puncak Gunung Kelud.

Letusan Tahun 2014

Meletusnya Gunung Kelud pada tanggal 13 Februari ini membuat hujan abu yang cukup dahsyat. Hujan abu vulkanik ini terjadi sampai Bandung dan Mataram.

Material vulkanik Gunung Kelud mencapai ketinggian 17 kilometer, sehingga debu terbawa sampai ke beberapa daerah. Menurut BMKG, debu pada lapisan 1.500 meter terbawa ke arah timur Laut, pada lapisan 5.000 meter ke arah barat laut dan pada 9.000 meter ke arah barat.

Di sekitar wilayah Kediri, Batu, dan Blitar, ketebalan pasir yang terjadi mencapai 10-30 cm. Ketebalan ini membuat jalan-jalan dan bangunan di kota-kota tersebut berwarna kelabu karena terselimuti debu.

Nah, itulah 6 Fakta Menarik letusan Gunung Kelud semoga menambah wawasan anda.

Sumber :
http://www.anehdidunia.com/2014/02/misteri-gunung-kelud.html
referensi:https://id-id.facebook.com/sejutafenomena/posts/529592917069374/http://jawatimuran.wordpress.com/2012/08/26/kekeramatan-gunung-kelud-kediri/
http://djangkies.net/sensasi-jalan-misteri-gunung-kelud.html/
http://www.cerita-misteri.com/2012/09/penunggu-kawah-gunung-kelud-sepasang.html
http://zilzaal.blogspot.com/2014/02/6-fakta-menarik-letusan-gunung-kelud.html
Lumajang Kota Sejarah Nusantara Yang Dikubur

Lumajang Kota Sejarah Nusantara Yang Dikubur

Lumajang adalah kabupaten di Jawa Timur yang berada di kaki Gunung Tertinggi pulau Jawa yakni Mahameru atau Semeru.  Namun, banyak orang tidak tahu dimana letak Kabupaten Lumajang, maklum kota-nya tidak berada  di jalan Propinsi, orang lebih tahu Kota Jember.

Jadi tidak salah bila penumpang bus dari luar kota tidak mengetahui Lumajang yang memiliki peradaban sejarah yang cukup besar dijaman kerajaan Tumapel, Singosari dan Wilwatikta (Mojopahit). Lumajang  banyak disebut daerah kantong dikarenakan jarang dimasuki oleh orang dari luar kota.

Lumajang dizaman pra sejarah dikenal dengan sebutan Nagara Lamajang bisa dilihat dalam Prasasti Mulan Malurung yang dibuat oleh Raja Singosari (Tumapel), Sminingrat atau Wisnuwardhana, ditemukan  di kediri padan tahun 1975 dan dalam prasasti itu bertuliskan angka tahun 1177 ( 1255 Masehi). Di prasasti itu disebutkan Sminingrat mengutus anaknya Narariya Kirana sebagai juru pelindung Nagara Lamajang.

Pada masa Kerajaan Singosari (Tumapel) , Lamajang begitu penting karena ada 2 fungsi. Pertama sebagai penghasil pertanian yang makmur. Kedua sebagai pusar pertahanan dalam menghadapi wilayah timur Kerajaan.

Lamajang menjadi  terkenal dan maju setelah Arya wiraraja adalah tokoh besar yang lahir dari keturunan Brahmana dari Pulau bali Ida Manik Angkeran datang ke jawa untuk menjengguk kakeknya. Karena sang kakek meninggal, Arya Wiraraja yang memiliki Nama Ida Banyak Wide diangkat menjadi anak Mpu Sedah.

Saat diasuh Empu Sedah yang menjadi penasehat Raja Airlangga, Arya Wiraraja mengenal sesosok gadis anak bangsawan kerajaan Kediri yakni Ageng Pinatih. Dikarenakan Wiraraja sangatmencintai sang gadis, orang tua angkatnya tidak bisa menolak, meski dia adalah keturunan Brahmana.

Setelah menikah dengan Ageng Pinatih, Wiraraja menjadi adipati di Kerajaan Kediri. Arya Wiraraja adalah punggawa kerajaan kediri yang kritis dalam membangun Kerajaan Kediri.

Namun, karir jabatan sebagai adipati yang berpengaruh di Kediri harus berakhir, saat Kediri  (Tumapel) dipimpin oleh Kertanegara. Arya wiraraja diminta untuk memimpin Kerajaan Madura yang beribukota di Sogenep, sekarang menjadi Sumenep.

Pada 1295 masehi Lamajang menjadi Kerajaan yang berdaulat (tanah pardikan) dengan Prabu Arya Wiraraja sebagai rajanya. Arya Wiraraja menjadi raja Mojopahit Timur dengan ibu kota di Lamajang  dikarenakan sesuai perjanjian dengan raden Wijaya, Raja Wilwatikta (Majapahit Barat) akan membagi wilayah Majapahit menjadi dua.

Wiraraja menjadi Raja di Lamajang setelah anaknya Ranggalawe tewas dibunuh oleh pungawa majapahit yang dipimpin Adipati Nambi, dikarenakan melawan Wilwatikta. Wiraraja yang sedih dan Raden wijaya menyerahkan bagian timur kerjaan Singosari sesuai dengan janjinya.

Beliau memerintah wilayah Tiga Juru (Lamajang, Panarukan dan Blambangan atau wilayah tapal kuda sekarang) ditambah Madura dan banyak menanamkan pengaruh di Bali. Kerajaan Lamajang ini ber- ibuk kota di daerah Biting Kutorenon Kabupaten Lumajang hingga sekarang. Bahkan peninggalan benteng kota raja Lamajang masih bisa dijumpai dan tertimbun tanah (gundukan tanah).

Arya wiraraja adalah tokoh besar yang lahir dari keturunan Brahmana dari Pulau bali Ida Manik Angkeran datang ke jawa untuk menjengguk kakeknya. Karena sang kakek meninggal, Arya Wiraraja yang memiliki Nama Ida Banyak Wide diangkat menjadi anak Mpu Sedah.

Saat diasuh Empu Sedah yang menjadi penasehat raja Airlangga, Arya Wiraraja mengenal sesosok gadis anak bangsawan kerajaan Kediri yakni Ageng Pinatih. Dikarenakan Wiraraja sangatmencintai sang gadis, orang tua angkatnya tidak bisa menolak, meski dia adalah keturunan Brahmana.

Setelah menikah dengan Ageng Pinatih, Wiraraja menjadi adipati di Kerajaan Kediri. Arya Wiraraja adalah punggawa kerajaan kediri yang kritis dalam membangun Kerajaan Kediri.

Namun, karir jabatan sebagai adipati yang berpengaruh di Kediri harus berakhir, saat Kediri  (Tumapel) dipimpin oleh Kertanegara. Arya wiraraja diminta untuk memimpin Kerajaan Madura yang beribukota di Sogenep, sekarang menjadi Sumenep.

Arya Wiraraja meninggal pada tahun 1316 masehi dalam usia 87 tahun. Patih Nambi sebagai salah satu putra beliau pulang ke Lamajang untuk mengadakan upacara dukacita ayahnya dan diserang majapahit dengan mendadak oleh Jayanegara (Raja Majapahit setelah Raden Wijaya) atas hasutan dari Mahapatih(dalam kitab Pararton). Lamajang jatuh karena tidak ada persiapan perang. Fitnah ini membawa bencana. Tujuh menteri utama Majapahit yang juga teman-temn seperjuangan Raden Wijaya yang tidak puas pada keputusan memalukan ini ikut gugur di Lamajang membela patih Nambi.

Perang Lamajang tahun 1316 m ini juga mempengaruhi peperangan yang lain di wilayah bekas Kerajaan ini seperti Perang Lasem yang dipimpin teman seperjuangan radeng Wijaya yaitu Ra Semi (1318 m), perang Kuti yang akhirnya membuat raja melarikan diri ke luar kota Majapahit dan diselamatkan Bekel Gajah Mada (1319 m), Perang sadeng (1328 m) dan perang Keta (1328). Setelah Majapahit besar Lamajang yang sudah berganti menjadi Virabhumi sekali lagi meberontak dan menimbulkan Perang Paregreg yang akhirnya melemahkan Majapahit.

Kebesaran dan kekuatan ideologi kerajaan Lamajang ini bertahan sampai tahun 162o-an dimana Lamajang sebagai pusat pusat pertahan terakhir Kerajaan Hindu di Jawa bagian timur. Kerajaan Mataram yang jaya dan menyebarkan ideologi keyakinin, Lamajang di hancurkan oleh Sultan Agung dan Ibu kota Lamajang di daerah Biting dibakar, munculnya Kutorenon (Ketonon alias terbakar atau dibakar).

Pada masa pemerintahan Kolonial, belanda yang sudah tahu akan kebesaran sejarah Lamajang tidak mau membuka daerah memiliki pengaruh dalam kebesaran nusantara. Lamajang ditaruh dibawah pemrintahan Afdelling Probolingga dan pada tahun 1929 diresmikan nama baru menjadi Kabupaten Lumajang dan KRT Kertao Adirejo sebagai regent pertama.

Sejarah kebesaran Nagara Lamajang (Lumajang) merupakan Kerajaan Merdeka yang belum pernah ditulis dan dihilangan dalam buku sejarah mengenai perjuangan  tokoh Arya Wiraraja sebagai arseitek Nusantara.  Lumajang juga mengalami kemunduran dan ketidak majuan hingga saat ini, bahkan sejarah Lumajang seakan-akan ditutup hingga masyarakatnya sendiri tidak mengetahui.

Beruntung Kotaraja Lamajang di Situs Biting Dusun Biting I dan II Desa Kutorenon Kecamatan Sukodono masih bisa ditemui dan menjadi tonggak kembalinya semangat Lamajangan. Namun, Situs Biting yang berada di luas lahan 135 hektar dengan ditemukan bangunan benteng sepanjang 10 kilometer, lebar 6 meter dan tinggi 10 meter dibiarkan terkubur dan seakan-akan ditutup-tutupi oleh pemilik kebijakan.  Bahkan di Situs biting ada pengembang perumahan yang bisa mengancam kerusakan Situs Kota Raja Lamajang yang meredeka dimasa-nya.

Beruntung ada sekolompok Masyarakat Peduli Peninggalan Mojopahit (MPPM) Timur yang bergerak bersama Komunitas Mahasiswa Peduli Lumajang (KMPL), Kelompok Pecinta Mojopahit Timur (Kopi Pahit) bersama Masyarakat Dusun Biting menguak sejarah yang dikubur dan dilupakan. Save Situs Biting…! Sekarang untuk kejayaan Nusantara dan Kemajuan Lumajang..!

Sumber : http://sejarah.kompasiana.com/2011/05/01/lumajang-kota-sejarah-nusantara-yang-dikubur-361261.html