Showing posts with label Kalimantan. Show all posts
Showing posts with label Kalimantan. Show all posts

SEJARAH KOTA SAMARINDA - KALIMANTAN TIMUR

Pada saat pecah perang Gowa, pasukan Belanda di bawah Laksamana Speelman memimpin angkatan laut menyerang Makasar dari laut, sedangkan Arupalaka yang membantu Belanda menyerang dari daratan. Akhirnya Kerajaan Gowa dapat dikalahkan dan Sultan Hasanudin terpaksa menandatangani perjanjian yang dikenal dengan " PERJANJIAN BONGAJA" pada tanggal 18 Nopember 1667.

Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaja tersebut, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah kerajaan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.

Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh.

Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan didalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua "sama" derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak, dan di kiri kanan sungai daratan atau "rendah". Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan SAMARENDA atau lama-kelamaan ejaan "SAMARINDA".

Orang-orang Bugis Wajo ini bermukim di Samarinda pada permulaan tahun 1668 atau tepatnya pada bulan Januari 1668 yang dijadikan patokan untuk menetapkan hari jadi kota Samarinda. Telah ditetapkan pada peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor: 1 tahun 1988 tanggal 21 Januari 1988, pasal 1 berbunyi "Hari Jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal 21 Januari 1668 M, bertepatan dengan tanggal 5 Sya'ban 1078 H" penetapan ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan hari jadi kota Samarinda ke 320 pada tanggal 21 Januari 1980 


Samarinda merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Timur yang iuga dikenal sebagai pusat industri perkayuan di Kalimantan Timur serta kota pelabuhan yang penting. Letaknya tidak jauh dari Balikpapan namun kota berpenduduk sekitar 500 ribu jiwa ini memiliki suasana yang agak berbeda dengan kota Balikpapan. Bagi wisatawan, Samarinda adalah tempat yang bagus untuk memulai perjalanan ke daerah pedalaman, menyusuri Sungai Mahakam.

Kebanyakan penduduk di Samarinda adalah Orang Banjar dari Kalimantan Selatan sehingga Bahasa Banjar sering terdengar dalam percakapan sehari hari.  Bahasa  Banjar merupakan bahasa utama di Samarinda dan selain orang Banjar, kelompok masyarakat terbesar kedua di Samarinda adalah Orang Kutai dan pendatang lainnya.


Sebagian besar wilayah Kota Samarinda terletak di Utara Sungai Mahakam. Di tepi Sungai Mahakam ini berdiri sebuah masjid besar Masjid Raya Darussalam yang menjadi salah  satu cirri atau simbol Kota Samarinda. Sekitar tahun 1990-an dilakukan pemugaran menyerupai sebuah mesjid dii Timur Tengah. Masjid berkonstruksi  beton  ini berlantai tiga dan dapar menampung sekitar 14.000 jemaah. Di  lingkungan masjid ini dilengkapi taman, kolam dan perpustakaan.

Di wilayah Selatan Sungai Mahakam atau disebut juga dengan sebutan Samarinda Seberang, berjarak 8 km dari pusat kota, di Jl. Bung Tomo, terdapat pusat kerajinan sarung Samarinda. Kerajinan ini mulanya dibawa pendatang suku Bugis dari Sulawesi. Hampir di setiap perkampungan Suku Bugis di tempat ini dapat ditemukan pengrajin sarung Samarinda. Alat tenun yang digunakan para pengrajin adalah alat tradisional yang disebut 'gedokan'. Produk yang dihasilkan untuk satu buah sarung memakan waktu tiga minggu.


Kebun Raya UNMUL Samarinda  merupakan hutan pendidikan dan kebun Botani yang menjadi salah satu obyek wisata alami. Memiliki beberapa karakteristik dengan dikembangkannya sebagai hutan pendidikan seluas 62,4 ha dan menjadi arboretum hutan buatan yang meliputi hutan alam, hutan tanaman daun lebar, hutan tanaman Konifer kebun bunga, kebun buah, kebun palma dan kebun bambu. Sisanya seluas 238,6 ha masih berupa hutan sekunder.

Berbagai sarana yang terdapat di lokasi ini adalah kolam pemancingan, sepeda air, restoran, penangkaran satwa seperti burung hutan tropis, buaya muara, orang utan dan lainnya. Selain sebagai tempat rekreasi kebun raya ini juga tempat olahraga dan jogging yang sehat karena udaranya bersih dengan terpeliharanya vegetasi di sekitarnya.

Kawasan Citra Niaga merupakan kawasan pertokoan yang memadukan antara pedagang besar dan pedagang kecii dalam satu komplek dengan arsitektur Timur Tengah. Di sini wisatawan dapat menemukan berbagai suvenir Kalimantan Timur yang dljual dengan harga terjangkau.

Dan kawasan Citra Niaga pada sore hingga malam hari, wisatawan dapat menikmati keindahan tepian sungai Mahakam dengan suasana yang romantis. Melihat aktivitas sungai sebagai sarana transportasi untuk angkutan penumpang dan barang serta hasil bumi yang diperdagangkan melalui pelabuhan alur Sungai Mahakam tentunya mengasyikkan diselingi makan jagung bakar aneka rasa di sepanjang tepian ditemani beragam minuman ringan dan penghangat tubuh.

Air Terjun Tanah Merah terletak sekitar 14 km dari pusat kota Samarinda, tepatnya di dusun Purwosari Kecamatan Samarinda Utara. Tempat wisata yang bersuasana teduh ini cocok bagi wisata keluarga karena dilengkapi dengan areal parkir kendaraan yang luas, pendopo istirahat, warung, pentas terbuka dan lain-lain tersedia di lokasi wisata ini. Untuk mencapai tempat ini dapat menumpang kendaraan umum trayek Pasar Segiri-Sungai Siring.


Kawasan Wisata Budaya Pampang  terletak sekitar 20 km dari Kota Samarinda merupakan kawasan wisata budaya yang menarik untuk menyaksikan kehidupan suku Dayak Kenyah. Kawasan Budaya Pampang terbentuk akibat perpindahan suku Dayak Kenyah dari Apokayan, di Kabupaten Bulungan melalui Muara Wahau, Long Segar, Tabang, Long Iram di Kabupaten Kutai tahun 1967.

Sejak itulah mereka mulai merintis kehidupan di lokasi Pampang, Kelurahan Sungai Siring, Kecamatan Samarinda Utara.  Pampang merupakan alternatif bagi wisatawan yang memiliki waktu singkat namun ingin menyaksikan kehidupan budaya suku pedalaman khususnya Dayak Kenyah.

Di tempat ini pula dapat disaksikan atraksi kesenian seperti Kancet Punan letto, Kancet lasan (gong), tari Hudoq, tari Manyam tali, kancet Nyelama Sakai, tari Pemung Tawai, tari Burung Enggang, tari Lelene yang disuguhkan rutin pada hari Minggu siang hingga sore hari.

Obyek wisata budaya ini dapat ditempuh dengan rnenggunakan kendaraan bermotor melalul jalan raya Samarinda-Bontang. Daya tarik yang dapat disaksikan di tempat ini adalah Lamin atau rumah adat suku Dayak serta tarian dan upacara adat Dayak Kenyah, yang digelar setiap hari Minggu siang sampai dengan sore.

Sumber :
http://www.samarindakota.go.id/index.php?page=33
Buku Informasi Pariwisata Nusantara Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia 
http://fatawisata.com/kalimantan-timur/1174-kota-samarinda

BANJARMASIN - KOTA SERIBU SUNGAI

Kota Banjarmasin adalah salah satu kota sekaligus merupakan ibu kota dari propinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Kota yang cukup padat ini termasuk salah satu kota besar di Indonesia, walau luasnya yang terkecil di Kalimantan, yakni luasnya lebih kecil daripada Jakarta Barat. Kota yang dijuluki kota seribu sungai ini merupakan sebuah kota delta atau kota kepulauan sebab terdiri dari sedikitnya 25 buah pulau kecil (delta) yang merupakan bagian-bagian kota yang dipisahkan oleh sungai-sungai. Dalam bahasa Jawa, Banjarmasin berarti taman asin sedangkan sejarah Jawa Barat mencatat nama Banjarmasin berasal dari keluarga keraton Kerajaan Mahasin di Singapura yang mengungsi ke daerah Banjar karena serangan Sriwijaya kemudian berdirilah Kerajaan Banjar Mahasin, namun nama asli kota Banjarmasin adalah Banjar-Masih, pada tahun 1664 orang Belanda masih menulisnya Banjarmasch atau Banzjarmasch.cKota yang secara historis menjadi ibukotacpropinsi Kalimantan sampai tahun 1957 ini memiliki Indeks persepsi kenyamanan 52.61 (th. 2009) meningkat menjadi 53.16 (th. 2011) walau masih di bawah rata-rata. Tahun 1942 Jepang menduduki kota ini, sebelumnya kolonial Belanda, menjadikan Banjarmasin sebagai ibukota Dutch-Borneo dan di bawah kekuasaan Inggris (Alexander Hare) dikenal sebagai British-Borneo.


Banjarmasin juga dikenal sebagai ladang tanah Gambut. Sebagian besar wilayahnya terdiri dari jenis tanah ini serta jenis tanah lunak sehingga agak sulit untuk melakukan pembangunan-pembangunan disebabkan oleh kedalaman tanah lunak hingga mencapai 36 meter lebih. Oleh sebab itu, kebiasaan warga disana untuk melakukan pembangunan pondasi dengan menggunakan kayu Galam bukan dengan tiang seperti yang dilakukan pada umumnya di kota besar di Jawa. Karena produksi kayu di hutan kalimantan cukup besar, maka banyak sekali bangunan-bangunan disana yang memanfaatkan kayu sebagai bagian dari pembangunan.


Kendaraan ojek melaju dengan kecepatan yang sedang mengitari kota Banjarmasin. Kota ini tidak jauh beda dengan kota Malang maupun kota-kota besar nomer 2 lainnya. Lalu lalang kendaraan dimalam hari serta pengamen jalanan yang sebagian besar anak kecil cukup menghiasi wajah kota ini. Yang agak berbeda dengan kondisi kota-kota lainnya adalah, banyak jembatan yang berada diatas sungai yang banyak sekali mengitari kota ini. Sesuai dengan julukannya, yaitu kota seribu sungai, kota ini memang terdapat banyak sekali sungai dan tentu saja jembatan sebagai penghubung sungai-sungai kecil tersebut.Untuk itulah banjarmasin juga dikenal dengan pasar terapungnya. Sesuai dengan namanya, pasar ini terapung diatas sungai Barito dan menggunakan tuktuk (kapal tradisional daerah ini) untuk menjajakan barang dagangannya.

Sasirangan adalah kain adat suku Banjar di Kalimantan Selatan, yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur kemudian diikat tali rafia dan selanjutnya dicelup. Upaya untuk melindungi budaya Banjar ini, telah diakui oleh pemerintah melalui Dirjen HAKI Departemen Hukum dan HAM RI beberapa motif sasirangan sebagai beriku: Iris Pudak,Kambang Raja,Bayam Raja,Kulit Kurikit,Ombak Sinapur Karang,Bintang Bahambur,Sari Gading,Kulit Kayu,Naga Balimbur,Jajumputan,Turun Dayang,Kambang Tampuk Manggis,Daun Jaruju,Kangkung Kaombakan,Sisik Tanggiling,Kambang Tanjung. Menurut mas Acim, kawan baru saya seorang lelaki asal Banjar yang sangat ramah yang menemani saya ngobrol di toko itu, mengatakan bahwa konon kain ini merupakan kain istimewa dimana biasanya raja menggunakan kain ini untuk melamar wanita impiannya. Kain ini dulu hanya boleh dibuat oleh wanita-wanita desa yang masih perawan. Tetapi sekarang, kain ini digunakan sebagai semacam batiknya Kalimantan. Dimana pada hari-hari tertentu, para pegawai di kota ini menggunakan sasirangan sebagai seragam kantor seperti halnya batik di Jawa.

Sumber : http://thinksugestion.blogspot.com/

JEMBATAN KAHAYAN - IKON KOTA PALANGKARAYA

Jembatan Kahayan terletak di kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Jembatan Kahayan dikenal sebagai ikon kota Palangkaraya. Dibangun di atas sungai Kahayan, menghubungkan kota Palangkaraya dengan empat kabupaten di daerah aliran sungai Barito, yaitu: kabupaten Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara dan Murung Raya. Jembatan Kahayan dibangun pada tahun 1995 dan selesai pada tahun 2001, kemudian diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada tanggal 13 Januari 2002. Batu peresmian jembatan ini terletak di wilayah Pahandut sebelah utara kaki jembatan. 





Panjang jembatan ini adalah 640 meter dan lebar 9 meter, sedangkan panjang busur 150 meter serta ketinggian busur 36 meter ini memiliki warna merah. Apabila tidak memiliki busur, jembatan ini tampaknya akan sama seperti jembatan lain di Kalimantan dengan rangka dasar persegi berwarna kelabu. 

jembatan kahayan palangkaraya

Jembatan Kahayan Kalteng menjadi tempat favorit warga untuk bersantai sambil menikmati pemandangan sungai Kahayan di bawahnya. Jadilah jembatan ini sebagai tempat wisata yang murah bagi warga kota Palangkaraya. Tidak hanya warga setempat, warga yang datang ke jembatan ini juga adalah warga kota lain yang sedang beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh.

Selain menikmati pemandangan dan semilir angin, di atas jembatan ini juga banyak pedagang yang mangkal menjajakan makanan dan minuman. Biasanya banyak pedagang pentol (bakso), minuman ringan dan keripik singkong.

RITUAL ADAT PANIBAS MASYARAKAT DAYAK


Masyarakat Dayak percaya bahwa bumi selain dihuni oleh mahluk hidup yang kasat mata seperti manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan, ada juga mahluk halus yang dipercaya berdiam di tengah hutan, di pohon-pohon besar, tempat-tempat yang dikeramatkan atau bahkan dirumah yang dikosongkan oleh penghuninya dan biasa ini pasti berada sangat dekat dengan kehidupan sekitar kita.

Sadar atau tidaknya kita sebagai mahluk Tuhan yang paling mulia, bahwa keberadan mahluk halus, hantu, jin atau apa saja namanya kadang membuat kita terganggu dan merasa tidak nyaman, umumnya akan mengakibatkan penglihatan akan objek yang menakutkan dari mahluk halus tersebut yang menyeruapai berbagai bentuk yang menyerampak, seperti yang dialami beberapa siwwi SDN No. 08 Kelurahan Nyarumkop yang dalam beberapa hari ini mengalami kemasukan atau kesurupan karena diganggu oleh mahluk halus yang dianggap tersesat di sekitar sekolah mereka. Salah seorang murid bahkan hingga berhari-hari masih merasakan melihat mahluk menyerupai seorang wanita cantik dengan rambut panjang dalam penglihatannya, tidak hanya disekolah terebut dia masih melihat mahluk tersebut namun hingga pulang kerumahnya pun masih terbayang dipenglihatannya pada sosok misterius tersebut.

Kejadian-kejadian seperti ini sudah biasa dan sangat familiar kita lihat di berita-berita Televisi Swasta di tanah air adanya kesurupan masal disebuah sekolah yang dialami oleh para muridnya yang umumnya menyerang para siswi/murid perempuan. Lain lubuk lain ikannya demikian pepatah mengatakan, lain daerahnya lain pula cara penanganannya untuk mengusir roh halus yang kerap mengganggu para siswi tersebut.

Masyarakat Dayak di Singkawang atau Dayak Salako mempunyai suatu Ritual Adat yang dikenal dengan nama Panibas atau ritual adat pengusiran setan dan mahluk halus. Ritual tersebut dilakukan disekitar penampakan mahluk yang dianggap sering menggangu, dan dilaksanakan pada sore hari harus selesai menjelang matahari terbit. Ritual dipimpin seorang Panyangohot yang dibantu oleh beberapa asistennya untuk mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan selama ritual. Panibas membutuhkan banyak syarat dan kebutuhan ritual yang harus disiapkan. Ada 31 macam bahan yang diperlukan seperti: kemenyan, manyang pinang, tempayan laki lengkap dengan mangkuk, ayam jantan bulu merah baru tumbuh taji, ayam angsa, air tongkor, air balu, air 3 tikungan, bunga 7 macam, daun jengkol, daun petai, dan berbagai macam daun-daunan yang disenangi oleh hantu. Setelah semua kebutuhan siap maka ritual baru bisa dilaksanakan.

Ritual Adat Panibas bertujuan untuk mengusir Mahluk Halus atau roh yang dianggap jahat yang suka mengganggu manusia. Dalam ritual tersebut semua roh-roh yang dianggap mendiami tempat-tempat keramat dipanggil untuk diperingatkan agar jangan lagi menggangu manusia dan mereka secara simbolis dikasih makanan yang sudah disiapkan panyangohot yaitu berupa darah ayam jantan yang sudah dicambur dengan bahan yang sudah dipersiapkan, dengan harapan agar mahluk yang mengganggu tersebut tidak datang kembali dan mengganggu manusia.

Sumber: http://palingindonesia.com

SEJARAH KOTA PALANGKARAYA



Terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah melalui proses yang cukup panjang sehingga mencapai puncaknya pada tanggal 23 Mei 1957 dan dikuatkan dengan Undang-Undang Darurat Nomor 10 tahun 1957, yaitu tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah. Sejak saat itu Provinsi Kalimantan Tengah resmi sebagai daerah otonom, sekaligus sebagai hari jadi Provinsi Kalimantan Tengah.

Sedangkan tiang pertama Pembangunan Kota Palangka Raya dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia SOEKARNO pada tanggal 17 Juli 1957 dengan ditandai peresmian Monumen/Tugu Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah di Pahandut yang mempunyai makna:
  1. Angka 17 melambangkan hikmah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
  2. Tugu Api berarti api tak kunjung padam, semangat kemerdekaan dan membangun.
  3. Pilar yang berjumlah 17 berarti senjata untuk berperang.
  4. Segi Lima Bentuk Tugu melambangkan Pancasila mengandung makna Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemudian berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1958 Ibu Kota Provinsi yang dulunya Pahandut berganti nama dengan Palangka Raya.

Sejarah pembentukan Pemerintahan Kota Palangka Raya merupakan bagian integral dari pembentukan Propinsi Kalimantan Tengah berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 10 Tahun 1957, lembaran Negara Nomor 53 berikut penjelasannya (Tambahan Lembaran Negara Nomor 1284) berlaku mulai tanggal 23 Mei 1957, yang selanjutnya disebut Undang-Undang Pembentukan Daerah Swatantra Propinsi Kalimantan Tengah.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1958, Parlemen Republik Indonesia tanggal 11 Mei 1959 mengesahkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959, yang menetapkan pembagian Propinsi Kalimantan Tengah dalam 5 (lima) Kabupaten dan Palangka Raya sebagai Ibukotanya. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 dan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia tanggal 22 Desember 1959 Nomor Des. 52/12/2-206, maka ditetapkanlah pemindahan tempat dan kedudukan Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah dari Banjarmasin ke Palangka Raya terhitung tanggal 20 Desember 1959. Selanjutnya, Kecamatan Kahayan Tengah yang berkedudukan di Pahandut secara bertahap mengalami perubahan dengan mendapat tambahan tugas dan fungsinya, antara lain mempersiapkan Kotapraja Palangka Raya. Kahayan Tengah ini dipimpin oleh Asisten Wedana, yang pada waktu itu dijabat oleh J. M. NAHAN.

Peningkatan secara bertahap Kecamatan Kahayan Tengah tersebut, lebih nyata lagi setelah dilantiknya Bapak TJILIK RIWUT sebagai Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah pada tanggal 23 Desember 1959 oleh Menteri Dalam Negeri, dan Kecamatan Kahayan Tengah di Pahandut dipindahkan ke Bukit Rawi. Pada tanggal 11 Mei 1960, dibentuk pula Kecamatan Palangka Khusus Persiapan Kotapraja Palangka Raya, yang dipimpin oleh J.M. NAHAN. Selanjutnya sejak tanggal 20 Juni 1962 Kecamatan Palangka Khusus Persiapan Kotapraja Palangka Raya dipimpin oleh W. COENRAD dengan sebutan Kepala Pemerintahan Kotapraja Administratif Palangka Raya.

Perubahan, peningkatan dan pembentukan yang dilaksanakan untuk kelengkapan Kotapraja Administratif Palangka Raya dengan membentuk 3 (tiga) Kecamatan, yaitu:
1. Kecamatan Palangka di Pahandut.
2. Kecamatan Bukit Batu di Tangkiling.
3. Kecamatan Petuk Katimpun di Marang Ngandurung Langit.

Kemudian pada awal tahun 1964, Kecamatan Palangka di Pahandut dipecah menjadi 2 (dua) kecamatan, yaitu:
1. Kecamatan Pahandut di Pahandut.
2. Kecamatan Palangka di Palangka Raya

Sehingga Kotapraja Administratif Palangka Raya telah mempunyai 4 (empat) kecamatan dan 17 (tujuh belas) kampung, yang berarti ketentuan-ketentuan dan persyaratan-persyaratan untuk menjadi satu Kotapraja yang otonom sudah dapat dipenuhi serta dengan disyahkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1965, Lembaran Negara Nomor 48 tahun 1965 tanggal 12 Juni 1965 yang menetapkan Kotapraja Administratif Palangka Raya, maka terbentuklah Kotapraja Palangka Raya yang Otonom.

Peresmian Kotapraja Palangka Raya menjadi Kotapraja yang Otonom dihadiri oleh Ketua Komisi B DPRGR, Bapak L.S. HANDOKO WIDJOYO, para anggota DPRGR, Pejabat-pejabat Depertemen Dalam Negeri, Deputy Antar Daerah Kalimantan Brigadir Jendral TNI M. PANGGABEAN, Deyahdak II Kalimantan, Utusan-utusan Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan dan beberapa pejabat tinggi Kalimantan Lainnya.

Upacara peresmian berlangsung di Lapangan Bukit Ngalangkang halaman Balai Kota dan sebagai catatan sejarah yang tidak dapat dilupakan sebelum upacara peresmian dilangsungkan pada pukul 08.00 pagi, diadakan demonstrasi penerjunan payung dengan membawa lambang Kotapraja Palangka Raya.

Demonstrasi penerjunan payung ini, dipelopori oleh Wing Pendidikan II Pangkalan Udara Republik Indonesia Margahayu Bandung yang berjumlah 14 (empat belas) orang, dibawah pimpinan Ketua Tim Letnan Udara II M. DAHLAN, mantan paratrop AURI yang terjun di Kalimantan pada tanggal 17 Oktober 1947. Demonstrasi penerjunan payung dilakukan dengan mempergunakan pesawat T-568 Garuda Oil, di bawah pimpinan Kapten Pilot Arifin, Copilot Rusli dengan 4 (empat) awak pesawat, yang diikuti oleh seorang undangan khusus Kapten Udara F.M. Soejoto (juga mantan Paratrop 17 Oktober 1947) yang diikuti oleh 10 orang sukarelawan dari Brigade Bantuan Tempur Jakarta. Selanjutnya, lambang Kotapraja Palangka Raya dibawa dengan parade jalan kaki oleh para penerjun payung ke lapangan upacara. Pada hari itu, dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah Bapak TJILIK RIWUT ditunjuk selaku penguasa Kotapraja Palangka Raya dan oleh Menteri Dalam Negeri diserahkan lambang Kotapraja Palangka Raya.

Pada upacara peresmian Kotapraja Otonom Palangka Raya tanggal 17 Juni 1965 itu, Penguasa Kotapraja Palangka Raya, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah, menyerahkan Anak Kunci Emas (seberat 170 gram) melalui Menteri Dalam Negeri kepada Presiden Republik Indonesia, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan selubung papan nama Kantor Walikota Kepala Daerah Kotapraja Palangka Raya.

Sumber: http://www.palangkaraya.go.id

TRADISI NGAYAU SUKU DAYAK


Asal usul kata ngayau umumnya terdapat kesepakatan di kalangan suku Dayak. Namun, kapan ngayau dimulai dan bagaimanakah sejarahnya, agaknya masih simpang siur dan sering muncul dalam berbagai versi.

Hal itu disebabkan belum ada studi dan catatan sejarah mengenai asal mula ngayau secara detail dan kronologis. Hanya ada catatan mengenai kesepakatan bersama seluruh etnis Dayak Borneo untuk mengakhirinya. Ini terjadi pada pada 22 Mei - 24 Juli 1894, ketika diadakan Musyawarah Besar Tumbang Anoi di Desa Huron Anoi Kahayan Ulu Kalimantan Tengah.

Benar adanya bahwa sebelum perjanjian Tumbang Anoi disepakati, terjadi praktik headhunting bahkan di kalangan sesama Dayak. Praktik ngayau antarsesama Dayak ini sukar dibantah dan memang demikianlah adanya. Dayak Jangkang misalnya, dahulu kala bermusuhan dengan Dayak Ribunt. Padahal, keduanya tidak berjauhan tempat tinggal.

Apakah faktor yang menyebabkan pengayauan antar Dayak ini terjadi?

Saling mengayau di antara sesama Dayak, sejatinya bukanlah semata-mata mencari kepala musuh sebagai tanda bukti kekuatan dan kebanggaan sebagaimana selama ini dipersepsikan banyak orang. Alasan ini terlampau sederhana! Lebih dari itu, dilatari juga oleh nafsu balas dendam dan sebagai cara mempertahankan diri: menyerang lebih dulu sebelum diserang. Ini mirip dengan pepatah Latin si vis pacem, para bellum (jika Anda menginginkan damai, siap sedialah untuk perang).

Masuknya agama Katolik di tengah-tengah etnis Dayak, terutama dengan datangnya misi Katolik ke pulau Borneo di pengujung abad 18, membawa pengaruh baik. Perlahan-lahan ajaran Katolik tentang balas dendam (mata ganti mata, gigi ganti gigi) merasuk dalam hidup orang Dayak.

Ajaran Kristen yang radikal untuk tidak balas dendam dengan hukum “mata ganti mata, tulang ganti tulang” segera merasuk etnis Dayak. Ajaran cinta kasih ini menyadarkan masyarakat Dayak untuk segera menghentikan tradisi mengayau ini. Musyawarah ini dihadiri para kepala adat se-Kalimantan yang berkumpul dan bersepakat untuk menghentikan pengayauan antarsesama Dayak. Namun, pertemuan yang berbuah kesepakatan Tumbang Anoi sendiri diprakarsai pemerintah Hindia Belanda.

Ngayau berasal dari kata kayau yang berarti “musuh”. J.U. Lontaan, op.cit. hal. 532. Selanjutnya, untuk mendukung pendapatnya, Lontaan mengutip Alfred Russel Wallage dalam The Malay Archhipelago, 1896: 68, “… headhunting is a custom originating in the petty wars of village with village and tribe with tribe….”

Terdapat berbagai versi etimologi ngayau. Sebagai contoh, Fridolin Ukur dalam buku Tantang Jawab Suku Daya menyebut bahwa ngayau mencari kepala musuh. Sedangkan bagi Dayak Lamandau dan Delang di Kalimantan Tengah, mengayau berasal dari kata “kayau” atau “kayo’; yang artinya mencari. Mengayau berarti men¬cari kepala musuh. Jadi, mengayau ialah suatu perbuatan dan tindak-budaya mencari kepala musuh.

Bai Dayak Jangkang, ngayau juga disebut ngayo. Berasal dari kata “yao” yang berarti: bayang-bayang, mengahantui, meniadakan, atau memburu kepala musuh sebagai prasyarat atau pesta gawai. Ada gawai khusus untuk merayakan kepala musuh dengan tarian perang, yakni gawai naja bak (pesta kepala).

Namun, serta merta perlu diberikan catatan pada apa yang disebutkan perbuatan dan tindak-budaya ini. Kedengarannya aneh di telinga untuk saat ini. Namun, jika menyelami keyakinan etnis Dayak lebih mendalam maka kita akan segera menjadi mafhum di balik tradisi mengayau ini.

Ngayau tidak terlepas dari keyakinan komunitas Dayak sebagai sebuah entitas. Hal ini dapat ditelusuri dari cerita lisan dan tradisi yang diturunkan dari mulut ke mulut. Menurut keyakinan yang dipegang teguh, orang Dayak yakin mereka adalah keturunan makhluk langit. Ketika turun ke dunia ini, menjadi makhluk yang paling mulia dan, karena itu, menjadi penguasa bumi.

Keyakinan ini, pada gilirannya, membawa konsekuensi orang Dayak lalu memandang rendah entis lain. Jika menganggu dan mengancam keberadaan dan kelangsungan hidup mereka, etnis lain dapat disingkirkan. Namun, harus ada alasan yang kuat untuk itu. Darah hewan, apalagi manusia, tabu untuk ditumpahkan. Jika sampai terjadi, mereka akan menuntut balas.

Prinsip bahwa mata ganti mata, gigi ganti gigi benar-benar diterapkan. Meski mengalami penyempurnaan dan penyesuaian, sisa-sisa praktik ini “mata ganti mata, gigi ganti gigi” ini masih diteruskan di Jangkang hingga hari ini.

Pasal-pasal hukum adat Kecamatan Jangkang masih terasa kental nuansa penuntutan atas pertumpahan darah ini. Terbukti dari diaturnya secara detail pasal-pasal yang menetapkan pengadilan atas perkara dari mulai yang terkecil kasus pertumpahan darah hingga mengakibatkan kematian, yang dalam bahasa Dayak Jangkang disebut dengan “Adat Pati Nyawa”.

Satuan untuk menghitung ganti atas pertumpahan darah unik, disebut dengan tael. Di masa lampau, menghilangkan nyawa manusia baik sengaja (misalnya tertembak waktu berburu) maupun secara sengaja maka si pelaku akan mengalami kesulitan membayarnya. Seisi keluarga dan sanak saudara akan turut terlibat membantu. Bahkan, bukan tidak mungkin sampai seumur hidup pelaku menunaikan kewajibannya membayar Adat Pati Nyawa.

Apakah Adat Pati Nyawa? Secara harfiah, pati berarti sari atau inti. Kata “pati” kerap muncul dalam bahasa Dayak dengan inisial dan pembagian Djo (lihat Ethnologue: Languages of the World, Fifteenth edition, Dallas, “Djongkang: A language of Indonesia” (Kalimantan) ISO 639-3: djo

Jadi, pati nyawa adalah pengganti nyawa yang hilang. Tentu saja, hukum pati nyawa ini tidak berlaku dalam ngayau. Dan hanya berlaku dalam keadaan normal saja, sebab pekik ngayau haruslah datang dari aump dan merupakan hasil dari permufakatan bersama.

Demikianlah, ngayau pun harus disertai alasan-alasan yang kuat dan masuk akal bagi komunitas Dayak dan harus melalui hasil mufakat bersama. Disebut komunitas, karena suatu kampung biasanya menempati sebuah batang atau rumah panjang. Sebelum melancarkan pengayauan, malam harinya diadakan musyawarah bersama yang dalam bahasa Dayak Jangkang disebut boraump. Semua peserta wajib memberikan pendapat dan penilaian. Keputusan diambil dengan berpangkal tolak pada suara dan pendapat mayoritas.

Patut diberi catatan tambahan bahwa ngayau di kalangan suku Dayak umumnya, dan Dayak Djongkang khususnya, bukan sekadar memanggal kepala musuh. Ada filosofi yang melatarinya. Banyak kandungan hikmah, meski sekilas tampak sadis, di balik itu semua.

Orang luar yang kurang memahami secara mendalam filosofi dan latar di balik tradisi ngayau, sehingga menarik simpulan entimema: orang Dayak biadab, sadis, pemburu kepala manusia, dan headhunting. Tentang labeling bahwa Dayak adalah pemburu kepala manusia ini, Wikimedia bahkan mencatatnya sebagai “budaya” yang semestinya harus serta merta diberikan catatan bahwa itu adalah gambaran Dayak masa lampau. Perjanjian Tumbang Anoi yang difasilitasi Pemerintah Kolonial Belanda menghapuskan budaya ngayau ini. Di beberapa subsuku memang masih berlangsung, namun di Kalbar tradisi mengayau sudah berakhir pada sekitar sejak tahun 1938.

Toh demikian, Wikipedia yang tidak tahu sejarahnya masih mencatat demikian, “Headhunting was an important part of Dayak culture, in particular to the Iban and Kenyah. There used to be a tradition of retaliation for old headhunts, which kept the practise alive. External interference by the reign of the Brooke Rajahs in Sarawak and the Dutch in Kalimantan Borneo curtailed and limited this tradition. Apart from massed raids, the practice of headhunting was limited to individual retaliation attacks or the result of chance encounters. Early Brooke Government reports describe Dayak Iban and Kenyah War parties with captured enemy heads. At various times, there have been massive coordinated raids in the interior, and throughout coastal Borneo, directed by the Raj during Brooke's reign in Sarawak. This may have given rise to the term, Sea Dayak, although, throughout the 19th Century, Sarawak Government raids and independent expeditions appeared to have been carried out as far as Brunei, Mindanao, East coast Malaya, Jawa and Celebes. Tandem diplomatic relations between the Sarawak Government (Brooke Rajah) and Britain (East India Company and the Royal Navy) acted as a pivot and a deterrence to the former's territorial ambitions, against the Dutch administration in the Kalimantan regions and client Sultanates.”

Tidak mengherankan, dalam literatur dan laporan-laporan tertulis pada zaman kolonial, Dayak dicap sebagai suku asli Borneo yang tidak berkeadaban. Meski para peneliti dan ahli antropologi tidak memasukkan Dayak sebagai suku terakhir di Nusantara yang mempraktikkan headhunting, toh stereotipe sebagai pengayau masih melekat kuat minimal hingga kerusuhan etnis terjadi di Sambas pada 19 Januari 1999 di Desa Parit Setia, Kecamatan Jawai, Sambas dan kemudian merambat ke Sampit pada 18 Februari 2001.

Banyak orang melihat pertalian kejadian itu, meski sebenarnya berbeda dalam hal casus belli dan eskalasi. Akan tetapi, satu yang sama: solidaritas di kalangan etnis Dayak tumbuh menghadapi bahaya dari luar. Dalam konteks mempertahankan diri dan melakukan tindakan menyerang lebih dulu sebelum diserang ini, dapat dipahami latar dan filosofi ngayau.

sumber : http://www.ceritadayak.com/2010/05/etimologi-dan-asal-usul-ngayau.html 

PASAR TERAPUNG MUARA KUIN - BANJARMASIN


Pasar Terapung adalah salah tujuan wisata utama di Kalimantan. Salah satu pasar terapung terkenal di Banjarmasin adalah Pasar Terapung Muara Kuin di Sungai Barito. Pasar ini biasa buka sejak subuh hingga pukul 7.00 pagi hari waktu setempat. Paling lambat pasar ini tutup pukul 9 pagi. Jika anda berkunjung lewat dari jam ini, maka bisa dipastikan pasar sudah sepi. Lewat dari jam ini biasanya para penjual mulai berpencar untuk menjajakan barang dagangan mereka kepada orang-orang yang tinggal di sepanjang bantaran sungai.

Pasar Terapung Muara Kuin di Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Salah satu pemandangan menarik disini adalah kita bisa berbelanja sambil melihat matahari terbit dari ufuk timur. Berbagai barang diperjual-belikan di tempat ini, namun kebanyakan bahan-bahan kebutuhan pokok yang merupakan hasil perkebunan di sekitar Sungai Barito. Berbelanja di Pasar Terapung tidak ubahnya seperti berwisata. Bagi penduduk setempat kegiatan ini mungkin sudah biasa, namun bagi turis ini adalah pemandangan langka dan menyenangkan. Perahu-perahu  berjejer di pinggiran sungai dengan pedagang di atasnya yang siap melayani setiap pembeli. Sayur, buah, ikan, dan berbagai bahan makanan lain bisa anda temukan disini. Deretan perahu yang berdesak-desakan semakin membuat Pasar Terapung ini terlihat unik. Berbeda dengan pasar tradisional pada umumnya, Pasar Terapung Muara Kuin tidak memiliki persatuan khusus. Oleh sebab itu tidak ada catatan detil tentang jumlah pedagang dan pengelompokan barang dagangan. Pedagang wanita yang menjual hasil panennya disebut dengan dukuh. Sedangkan orang yang membeli barang tersebut untuk dijual kembali disebut dengan panyambangan. Keunikan lain dari Pasar Terapung adalah masih menerapkan sistem barter. Walaupun sekarang sudah ada rupiah untuk transaksi, namun pedagang masih suka menukar barang mereka dengan barang yang dijual oleh pedagang lain.

Pasar Terapung Muara Kuin di Banjarmasin, Kalimantan Selatan 2

Tidak hanya perahu kayu (jukung) saja yaang meramaikan pasar ini, namun bebeberapa kapal motor juga atau klotok juga berseliweran di tempat ini. Pasar Muara Kuin telah ada lebih dari 400 tahun lalu. Ini menunjukkan bahwa transaksi di atas air sudah dikenal dari jaman dulu. Jenis benda yang diperdagangkan hampir tidak ada bedanya dengan pasar di darat, kebutuhan apapun bisa ditemukan disini. Namun sangat disayangkan, seiring dengan arus modernisasi, popularitas pasar terapung Muara Kuin perlahan-lahan mulai memudar. Bisa dilihat saat ini jumlah pedagang semakin menurun jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kebijakan pemerindah dengan membangun pasar di dekat Pasar Terapung juga menjadi salah satu penyebab mengapa Pasar ini tidak bergairah seperti dulu lagi. Belum lagi pembangunan jembatan yang semakin menghalangi transportasi air di bawahnya.

Pasar Terapung Muara Kuin di Banjarmasin, Kalimantan Selatan 3

Berkunjung ke Pasar Terapung Muara Kuin mengingatkan kita betapa manusia tidak terpisahkan dengan sungai dan air. Sebelum pasar ini benar-benar punah oleh arus globalisasi, ada baiknya anda segera berkunjung kesana. Orang bilang, belum berkunjung ke Banjarmasin kalau belum ke Pasar Terapung Muara Kuin. Ini sekaligus sebagai penanda betapa penting dan berharganya Pasar Terapung bagi warga Banjarmasin. Jika anda ingin merasakan bagaimana sensasi berada di atas kapal, anda mungkin bisa meminta salah satu pedagang untuk mengajak anda berjualan. Anda akan melihat bahwa semua pedagang di atas kapal sangat mahir mengendalikan kapal. Melakukan manuver ke kiri, ke kanan, bergerak ke depan, ke belakang, semuanya bisa dengan mudah mereka lakukan.

Pasar Terapung Muara Kuin di Banjarmasin, Kalimantan Selatan 4

Pasar Terapung Muara Kuin di Banjarmasin, Kalimantan Selatan 5

Akses ke Pasar Terapung Muara Kuin tidak susah. Dari pusat Kota Banjarmasin, perjalanan ke tempat ini membutuhkan waktu 45 menit dengan perahu motor. Ini adalah alternatif kendaraan bagi anda yang ingin melihat keindahan Sungai Barito dari dekat. Namun jika anda ingin lebih cepat, silakan pakai angkutan darat dengan rute Banjarmasin - Desa Alalak. Untuk fasilitas dan akomodasi, di tempat ini sudah cukup lengkap sehingga tidak perlu lagi repot membawa banyak barang dari rumah.

MONUMEN TUGU KHATULISTIWA - PONTIANAK


Jika anda sedang berada di Pontianak, kenapa tidak berkunjung ke salah satu objek wisata populer disana, yaitu Tugu Khatulistiwa. Objek wisata ini berlokasi di jalan yang memiliki nama sama, Jalan Khatulistiwa, Pontianak-Kalimantan Barat. Dari pusat kota, tempat ini berjarak kurang lebih 3 kilometer. Tugu Khatulistiwa adalah ikon Kota Pontianak, oleh sebab itu sering didatangi wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Ada berbagai catatan sejarah di dalam bangunan ini, salah satunya adalah tentang sejarah pembentukan monumen ini. Tugu ini memiliki umur yang sudah sangat tua, pertama kali didirikan pada tahun 1928 dengan bentuk seperti tonggak dengan anak panahnya. Dua tahun kemudian, pada 1930 monumen in kembali mengalami penyempurnaan dan diberikan tambahan berupa lingkaran. Tugu Khatulistiwa kembali pengalami penyempurnaan pada tahun 1938. Dan renovasi terakhir dilakukan pada tahun 1990 dengan penambahan kubah di bagian atas sebagai pelindung. Di tahun itu juga dibuat sebuah tugu lain yang merupakan duplikasi dari Tugu Khatulistiwa dengan ukuran 5 kali lebih besar. Setelah itu, pada 21 September 1991, Tugu ini diresmikan.


Berkunjung ke monumen bersejarah seperti ini tentu saja ada banyak pelajaran yang bisa anda dapatkan. Dengan berkunjung ke tempat ini anda bisa merasa lebih dekat dengan sejarah perkembangan Kota Pontianak. Tugu Khatulistiwa memiliki 4 tonggak utama yang dibuat dari kayu belian atau orang-orang menyebutnya dengan kayu besi. Setiap tonggak memiliki diameter sekitar 0,3 meter dan ketinggian 3 meter (tonggak bagian depan) dan 4,4 meter (tonggak di bagian belakang). 


Pada tahun 2005, BTTP pernah melakukan koreksi pada Tugu Khatulistiwa untuk menentukan dimana sebenarnya lokasi titik nol Khatulistiwa. Barangkali anda belum tahu tentang titik nol. Titik nol itu adalah titik di tengah-tengah perbatasan antara belahan bumi utara dan bumi selatan. Pengukuran ini dilakukan dengan gabungan beberapa metode, seperti metode terestrial dan metode ekstrateresstrial. Proses koreski ini juga dibantu dengan GPS yang berfungsi sebagai penunjuk arah. Di dalam proses pengukuran tersebut, didapatkan hasil bahwa Tugu Khatulistiwa tidak berada di posisi nol derajat, nol menit, dan nol detik. Titik tersebut ternyata berlokasi di luar tempat ini, yaitu sekitar 117 m dari Sungai Kapuas. Di tempat tersebut kemudian sebuah patok baru dibangun namun masih menggunakan peralatan sederhana seperti pipa PVC dan tali rafia.

Ada satu hal menarik yang bisa anda saksikan di Objek wisata Tugu Khatulistiwa, yaitu titik kulminasi matahari. Ini adalah sebuah fenomena dimana Matahari berada tepat di atas garis Khatulistiwa. Jadi matahari akan benar-benar sejajar dengan kita sehingga bayangan tidak akan terlihat saat berada di bawahnya. Bahkan fenomena ini juga membuat bayangan objek di sekitar tempat ini menghilang selama beberapa detik. Peristiwa ini hanya terjadi 2 kali dalam setahun, yaitu sekitar tanggal 21-23 maret dan sekitar tanggal 21-23 September. Begitu menariknya peristiwa ini sehingga banyak wisatawan yang datang kesini pada tangga tersebut untuk melihat titik kulminasi matahari.

  
Objek wisata Tugu Khatulistiwa sangat lekat dengan Pontianak sehingga pemerintah setempat pernah mencoba mendaftarkan tempat ini sebagai salah satu cagar budaya UNESCO. Nah, bagi anda yang sedang berlibur ke Pontianak, kenapa tidak berkunjung kesini. UNESCO saja sudah melihat secara langsung keunikan tempat ini, kita yang tinggal di Indonesia juga harus melihatnya.

UPACARA TIWAH SUKU DAYAK


Suku dayak adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, di gunung, dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan. Sejarah suku dayak pada tahun (1977-1978) saat itu, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara yang masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan “Muller-Schwaner”. Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam. Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. 

Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608). Dibawah ini ada adat istiadat bagi suku dayak yang masih terpelihara hingga kini, dan dunia supranatural Suku Dayak pada zaman dahulu maupun zaman sekarang yang masih kuat sampai sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia, karena pada awal mulanya Suku Dayak berasal dari pedalaman Kalimantan.

Upacara Tiwah

Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia. 

Upacara Tiwah adalah upacara kematian yang biasanya digelar atas seseorang yang telah meninggal dan dikubur sekian lama hingga yang tersisa dari jenazahnya dipekirakan hanya tinggal tulangnya saja. Ritual Tiwah bertujuan sebagai ritual untuk meluruskan perjalanan roh atau arwah yang bersangkutan menuju Lewu Tatau (Surga – dalam Bahasa Sangiang) sehingga bisa hidup tentram dan damai di alam Sang Kuasa. Selain itu, Tiwah Suku Dayak Kalteng juga dimaksudkan oleh masyarakat di Kalteng sebagai prosesi suku Dayak untuk melepas Rutas atau kesialan bagi keluarga Almarhum yang ditinggalkan dari pengaruh-pengaruh buruk yang menimpa. Melaksanakan upacara tiwah bukan pekerjaan mudah. Diperlukan persiapan panjang dan cukup rumit serta pendanaan yang tidak sedikit. Selain itu, rangkaian prosesi tiwah ini sendiri memakan waktu hingga berhari-hari nonstop, bahkan bisa sampai satu bulan lebih lamanya. 

Ritual ini sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun silam, jadi perlu dilestarikan. Mengangkat kerangka orang yang sudah meninggal kemudian menaruhnya di dalam sandung atau rumah kecil dengan tidak menyentuh tanah. Sebelum upacara tiwah dilaksanakan, terlebih dahulu digelar ritual lain yang dinamakan upacara tantulak. Menurut kepercayaan Agama Kaharingan, setelah kematian, orang yang meninggal dunia itu belum bisa langsung masuk ke dalam surga. Kemudian digelarlah upacara tantulak untuk mengantar arwah yang meninggal dunia tersebut menuju Bukit Malian, dan di sana menunggu diberangkatkan bertemu dengan Ranying Hattala Langit, Tuhan umat Kaharingan, sampai keluarga yang masih hidup menggelar upacara tiwah. Puncak acara tiwah ini sendiri nantinya memasukkan tulang-belulang yang digali dari kubur dan sudah disucikan melalui ritual khusus ke dalam sandung. Namun, sebelumnya lebih dahulu digelar acara penombakan hewan-hewan kurban, kerbau, sapi, dan babi.

MENGHORMATI PARA LELUHUR LEWAT TARIAN TOR - TOR

MENGHORMATI PARA LELUHUR LEWAT TARIAN TOR - TOR


Beragam tarian di bumi pertiwi lahir dilandasi berbagai tujuan dan maksud tertentu. Banyak tarian yang lahir dengan maksud untuk mengenang dan menghormati leluhur, wujud rasa syukur atas berkah yang diberikan, ritual sebelum berperang dan lainnya. Dari kemajemukan tujuan dan budaya tersbut hadirlah berbagai tarian yang unik dan indah yang akhirnya menjadi ciri khas suatu suku. Salah satu contohnya adalah tarian Tor-Tor. Tarian daerah yang berasal dari Sumatera Utara dan kerap ditarikan oleh suku Batak  ini digunakan dalam acara-acara adat.


Tarian ini merupakan ritual pemanggilan roh leluhur yang akan “masuk” ke dalam patung simbol para leluhur. Anggapan bahwa roh yang akan dipanggil ini masuk ke dalam patung dan menjadi bentuk gerakan Tari Tor-Tor. Mereka meniru gerakan patung-patung tersebut kemudian bergerak dengan kaki jinjit-jinjit dan gerakan tangan yang kaku seperti patung. Nuansa Tari Tor-Tor seirama dengan iringan musik yang disebut Margondang, alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak, dan lain-lain.

Sebelum mulai manortor, barisan penari harus menata susunan tempat mereka berdiri agar terlihat rapi. Kemudian rombongan ini mulai menarikan dengan penuh penghayatan dinaungi oleh semangat mengikuti Gondang. Konon, dalam manortor terdapat banyak pantangan. Semisal tangan si penari tidak boleh melewati batas mulai dari bahu ke atas. Dan jika dilanggar, berarti sang penari harus siap menerima tantangan dari orang lain mulai dari adu ilmu kanuragan, pencak silat dan yang lainnya.

Terdapat beberapa gerakan pada Tarian Tor-Tor. Pertama adalah Pangurdot, gerakan yang dilakukan oleh daun kaki, tumit sampai bahu. Kedua adalah Pangeal, bagian tubuh yang digerakan adalah pinggang, tulang punggung, sampai daun bahu. Kemudian yang ketiga adalah Pandenggal, gerakan yang dilakukan oleh tangan dan jari-jari tangan. Lalu ada Siangkupna, gerakan yang dilakukan oleh leher.

Tarian yang sudah menjadi ikon suku Batak ini mempunyai berbagai macam jenis nama dan jenis tarian. Ada yang dinamakan Tor-Tor Pangurason atau tari pembersihan, tarian ini digunakan untuk “membersihkan” tempat atau lokasi pesta dari marabahaya. Kemudian ada yang bernama Tor-Tor Sipitu Cawan, jenis tarian ini biasanya digelar pada saat pengukuhan seorang raja. Lalu ada jenis tarian Tor-Tor yang digunakan jika suatu desa terkena musibah yang bernama Tor-Tor Tunggal Panaluan.

Selain untuk pelaksanaan ritual yang berhubungan dengan roh para leluhur, tarian ini juga dilakukan sebagai acara syukur seperti sehabis panen, perkawinanan dan menyambut tamu. Namun belakangan, tarian Tor-Tor mulai berkembang sebagai salah satu karya seni yang kerap dipertontonkan dalam setiap perhelatan adat Batak.

sumber : http://palingindonesia.com/menghormati-leluhur-lewat-tor-tor/

TUGU KHATULISTIWA ( Equator Monument )


Tugu Khatulistiwa atau dalam bahasa inggris disebut Equator Monument terletak di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Letaknya sekitar 3 km dari pusat kota Pontianak. Tugu ini merupakan ikon wisata kota Pontianak yang selalu dikunjungi terutama oleh wisatawan yang datang ke Pontianak. Tugu ini terletak di pinggir jalan sehingga mudah untuk mencarinya.

Bagi yang belum tahu Tugu Pontianak, tugu ini dibangun karena di lokasi tugu ini merupakan titik 0 derajat. Ingatkan waktu masih sekolah, bumi ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu belahan bumi utara dan belahan bumi selatan, dan tepat di tugu ini adalah di tengah-tengah.

Sejarah pembangunan tugu ini bisa dilihat pada catatan yang ada didalam gedung. Tugu ini pertama kali di bangun pada tahun 1928 yang pada mulanya hanya berbentuk tonggak dengan anak panah. Kemudian disempurnakan lagi pada tahun 1930 dengan menambahkan lingkaran. 

Tahun 1938 tugu ini dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh arsitek Silaban. Dan terakhir pada tahun 1990 direnovasi dengan pembangunan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan tugu duplikat sebesar 5 kali lipat dari tugu asli, sedangkan tugu asli bisa dilihat didalam gedung. Tugu ini diresmikan pada tanggal 21 September 1991.

Tugu Asli
Peristiwa yang ditunggu-tunggu di tugu khatulistiwa ini adalah terjadinya titik kulminasi matahari. Yaitu saat matahari berada tepat di garis khatulistiwa sehingga bayang-bayang benda yang ada di sekitar tugu ini akan menghilang. Dan bayangan tugu inipun juga menghilang pula.

Pintu Masuk
Peristiwa titik kulminasi matahari ini terjadi 2 kali dalam setahun yaitu pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Peristiwa ini menjadi event tahunan bagi para wisatawan dan biasanya akan dibarengi juga dengan perayaan adat budaya disana.

sumber