TARI KATRILI DARI MINAHASA

TARI KATRILI DARI MINAHASA

Menurut legenda rakyat Minahasa, tari katrili adalah salah satu tari yang dibawa oleh Bangsa Spanyol pada waktu mereka datang dengan maksud untuk membeli hasil bumi yang ada di Tanah Minahasa. Karena mendapatkan hasil yang banyak, mereka menari-nari tarian katrili.

Donny D - Katrili #2

Donny D - Katrili


Lama-kelamaan mereka mengundang seluruh rakyat Minahasa yang akan menjual hasil bumi mereka didalam menari bersama-sama sambil mengikuti irama musik dan aba-aba. Ternyata tarian ini boleh juga dibawakan pada waktu acara pesta perkawinan di tanah Minahasa. 

Sekembalinya Bangsa Spanyol kenegaranya dengan membawa hasil bumi yang dibeli di Minahasa, maka tarian ini sudah mulai digemari Rakyat Minahasa pada umumnya. Tari katrili termasuk tari modern yang sifatnya kerakyatan.
SEJARAH PANJANG MUMMI TANAH PAPUA

SEJARAH PANJANG MUMMI TANAH PAPUA

Kebanyakan orang di dunia mengidentikkan Mumi dengan Mesir karena sejarah Mumi para Firaun di Mesir. Namun demikian, sejarah panjang mumi ternyata ada juga dalam hidup orang Papua.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada akhir tahun 1980-an sampai awal tahun 1990-an, telah ditemukan tujuh mumi di Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Yahukimo. Ketujuh Mumi tersebut berada di:
  1. Kecamatan Kurulu, utara Kota Wamena sebanyak sebanyak 3 mumi;
  2. Kecamatan Assologaima, barat Kota Wamena sebanyak 3 mumi;
  3. serta satu mumi di Kecamatan Kurima Kab. Yahokimo adalah satu-satunya mumi perempuan.

Dari ketujuh mumi tersebut, hanya mumi Werupak Elosak di Desa Aikima dan mumi Wimontok Mabel di Desa Yiwika – Kecamatan Kurulu – Kabupaten Jayawijaya yang sudah dikenal para wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang mengunjungi kabupaten Jayawijaya karena masyarakat pribumi membuka peluang kepada masyarakat di luar untuk menyaksikannya. Namun untuk melihat mumi-mumi tersebut, para wisatawan harus membayar.

Mumi Werupak Elosak(nama ketika masih hidup) berumur sekitar 230 tahun. Pakaian tradisional yang dikenakan, seperti koteka, masih utuh. Ia adalah panglima perang dan meninggal akibat luka tusukan sege (tombak). Lukanya pun masih terlihat jelas hingga kini. Jasad Werupak dijadikan mumi, selain untuk menghormati jasa semasa hidupnya, juga karena Werupak sendiri yang meminta. Ia ingin supaya mayatnya diawetkan.

Hal ini berbeda dengan mumi Wimontok Mabel. Ia adalah seorang kepala suku. Wimontok mempunyai arti perang terus. Karena semasa hidupnya ia kepala suku perang yang ahli strategi. Wimontok meninggal akibat usia tua dan memberi wasiat kepada keluarganya agar jasadnya diawetkan. Dari segi ukuran, mumi ini lebih kecil ketimbang Weropak. Namun, kondisinya masih lebih bagus.

Setiap lima tahun sekali diadakan upacara adat untuk melingkarkan semacam kalung di leher Wimontok. Upacara tersebut disertai pemotongan babi. Lalu lemak dari babi itu dioleskan ke seluruh tubuh mumi. Dari kalung tersebutlah perkiraan umur mumi didapat, yaitu sekitar 382 tahun.

Mumi Wamena-Papua

Para mumi ini dibuat dengan menggelar upacara sakral. Dilanjutkan dengan pengasapan jenazah selama tiga bulan terus-menerus. Setelah menjadi mumi, perawatan selanjutnya ditangani kaum laki-laki saja. Karena menurut adat setempat, sentuhan wanita akan membuat mumi menjadi rusak serta mendatangkan malapetaka bagi wanita tersebut dan lingkungan sekitar. Mumi-mumi ini hanya diletakkan di dalam sebuah kotak kayu dan disimpan dalam pilamo, rumah adat khusus laki-laki.

Tidak semua mayat/ jasad yang diperbolehkan menjadi atau dijadikan mumi. Hanya yang mempunyai jasa besar terhadap suku seperti kepala suku atau panglima perang yang secara adat diizinkan menjadi mumi.

Setiap wisatawan yang hendak melihat dikenai biaya 30.000 per orang dan yang hendak berfoto dengan mumi ini dikenai biaya Rp 20.000 sekali foto. Di pojok halaman, dekat dengan honai yang menjadi tempat mumi bersemayam ada kios kecil yang menjual suvenir.

WISATA AIR DI TANJUNG BENOA


Tanjung Benoa yang terletak di ujung timur “sepatu” pulau Bali, merupakan salah satu tujuan wisata air yang cukup lengkap. Berbagai sarana olahraga air disediakan disini seperti, banana boat, snorkling, flying fish, parasailing dan jetski. Uniknya olahraga surfing yang banyak dijumpai di pantai-pantai lain dari pulau bali, justru tidak tersedia di objek wisata ini, hal ini dikarenakan ombak yang ada dilokasi wisata ini cenderung tenang, sehingga kurang cocok untuk olah raga surfing.

Harga yang dikenakan kepada pengunjung untuk menikmati berbagai sarana olahraga air tersebut berkisar antara 150 ribu hingga 200 ribu. Dengan harga tersebut secara tertulis disebutkan bahwa pengunjung bisa menikmatinya dalam kurun waktu 10-15 menit. Namun kenyataan yang saya alami hanyalah sekitar 5 menit. Mungkin dikarenakan saat itu antrian pengunjung yang ingin mencoba cukup banyak sehingga jatah waktu dikurangi cukup drastis. Bahkan beberapa turis luar, nampak berusaha menyela antrian mengingat mereka merasa membayar lebih mahal dibandingkan turis lokal.

Wisata Tanjung Benoa

Banana Boat Tanjung Benoa

Snorkling Tanjung Benoa

Flying fish merupakan bentuk olahraga air yang baru pertamakali ini saya lihat. Terdiri dari sebuah perahu dari karet yang hanya berkapasitas dua orang dengan satu orang petugas yang duduk ditengah sebagai penyeimbang. Penumpang tidur terlentang diperahu yang kemudian ditarik dengan speedboat kecepatan tinggi. Akibatnya, perahu menjadi terangkat dan terbang diatas air pada ketinggian 10-15 meter. Selama berada diudara, petugas yang duduk ditengah akan berusaha menyeimbangkan perahu tersebut agar terhindar dari kemungkinan berputar atau terbaliknya perahu karena hembusan angin yang tentunya bisa berakibat fatal bagi pengguna. Mengingat terdapat tiga orang dalam perahu, terkadang bisa terjadi kasus dimana perahu karet tersebut tidak bisa terbang, karena dibutuhkan selain kecepatan speedboat yang tinggi juga hembusan angin yang cukup kuat untuk bisa menerbangkannya. Seorang rekan yang kurang beruntung mengalami kejadian ini, akibatnya apa yang dialami tidak lain cuman sekedar punggung yang terhempas-hempas oleh permukaan air laut, tanpa mengalami sensasi “flying fish” yang seharusnya.

Selain olahraga air, pengunjung juga bisa mengunjungi pulau penyu yang berjarak kurang lebih 30 menit perjalan dengan menggunakan perahu yang bisa disewa dilokasi. Pulau penyu merupakan tempat pengembangbiakan berbagai spesies penyu yang hampir punah. Dilokasi ini pengunjung bisa melihat langsung dan bertanya-tanya seputar hal proses pengembang biakan penyu. Penyu-penyu yang ada dipisahkan diberbagai tempat berdasarkan ukuran tubuhnya. Ada yang masih berukuran jari hingga yang cukup besar dengan berat hingga puluhan kilo. Di pulau ini juga terdapat berbagai binatang lain seperti ular, kelelawar dan burung langka yang dimungkinkan bagi pengunjung untuk memegang sekedar mengambil gambar/foto.

Satu paket dengan perjalanan ke Pulau Penyu, pengunjung juga bisa melihat objek wisata bawah laut. Perahu yang digunakan, telah didesain sedemikian rupa sehingga pada bagian dasar tengah perahu telah dipasang kaca yang memungkinkan bagi pengunjung untuk melihat dasar laut yang dangkal tanpa perlu berbasah-ria. Dari dalam perahu pengunjung bisa melihat ikan-ikan khas air laut yang kaya akan warna di bagian tubuhnya. Agar ikan-ikan tersebut mau berkumpul pengemudi kapal menebarkan roti tawar kelaut sebagai pancingan. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu ikan tersebut untuk datang, sayangnya jenis ikan yang datang kurang bervariasai sehingga kurang menarik untuk dinikmati .

Secara keseluruhan, Tanjung Benoa layak untuk dikunjungi sebagai alternatif wisata air. Hal yang sedikit mengganggu adalah tidak adanya transportasi umum yang hilir mudik didaerah tersebut sehingga umumnya pengunjung yang datang menggunakan bus-bus pariwisata, kendaraan sewa maupun pribadi.

Sumber:
 http://www.navigasi.net
PULAU DERAWAN - SURGANYA TROPIS

PULAU DERAWAN - SURGANYA TROPIS


d3a49d22ebf72af94ac86196b87ca1a3_derawanPulau derawan adalah surga tropis yang sempurna. Suasana di sini hangat dengan pemandangan pasir pantai putih halus, pohon palem yang melambai-lambai, laut murni yang berubah warna dari hijau ke biru gelap. Kehidupan bawah laut di sini luar biasa, Anda akan temukan kura-kura raksasa, lumba-lumba, ikan pari, duyung dan barakuda, ubur-ubur stingless. Ikan Hiu Derawan di sini merupakan salah satu keragaman hayati di dunia. Tak heran, pulau Derawan dikenal sebagai tujuan wisata menyelam terbaik di dunia.

Terletak tak jauh dari daratan Kalimantan Timur di Kabupaten Berau, kepulauan Derawan terdiri dari 31 pulau dan yang paling terkenal di antaranya adalah Pulau Derawan, Maratua, Sangalaki, dan Kakaban. Di sinilah tempat bersarangnya kura-kura hijau langka dan berbahaya, juga penyu sisik. Anda dapat menyaksikan setiap hari penyu bertelur di pasir atau berenang ke laut bersama kura-kura. Seluruh wilayah konservasi laut ini luasnya tidak kurang dari 1,27 juta hektar.

268ab13048185b031fb26bd652622192_derawan1Disinilah Anda dapat menemukan 460 jenis karang dan menempati posisi kedua setelah Raja Ampat di Papua Barat. Pengurus tempat konserfasi dan tim ahli internasional juga menemukan lebih dari 870 jenis ikan di sini, mulai dari kuda laut kerdil hingga pari manta raksasa. Dalam beberapa hari, sekelompok pari manta ini dalam jumlah yang banyak sekitar 50 ekor terlihat makan bersama di perairan Derawan.

Sementara di Kakaban, Anda dapat menemukan danau ubur-ubur terbesar dan paling beragam di dunia, termasuk empat spesies unik ubur-ubur stingless yang dapat berenang terbalik. Inilah alasanya mengapa Kakaban dipertimbangkan menjadi nominasi Situs Warisan Dunia UNESCO.

Resot Derawan menyediakan transportasi dan peralatan menyelam. Untuk akomodasi, resot menyediakan juga bungalow yang rumah bergaya kalimantan dan menghadap pemandangan laut yang indah.

Anda bisa menyewa rumah kapal yang didesain untuk tempat tinggal bila ingin tinggal di kapal, biasanya untuk perjalanan jauh.

Untuk menuju Derawa, dapat dituju melalui penerbangan dari Singapura ke Balikpapan di Kalimantan Timur.

Anda juga bisa mengambil penerbangan dari Jakarta, Surabaya atau Denpasar ke Balikpapan dengan Garuda Indonesia atau Mandala Air. Kemudian mengambil penerbangan penghubung dengan KALStar, Deraya airlines atau DAS ke Tanjung Redep di Berau. Dari sini, kapal akan mengatar anda ke Kepulauan Derawan.

Sumber: http://www.indonesia.travel/id/destination/430/kepulauan-derawan/getthere

WISATA DANAU RANU KUMBOLO DI LUMAJANG


Ranu Kumbolo - Pariwisata Lumajang
Ranu Kumbolo merupakan danau tertinggi di pulau Jawa (2400 Mdpl). Ranu Kumbolo adalah salah satu dari danau yang dimiliki oleh Lumajang. Danau yang tepatnya berada di jalur mutlak pendakian Gunung Semeru yakni gunung tertinggi di pulau Jawa (3676 Mdpl), adalah danau yang masih terjaga keperawanannya dalam arti danau ini masih murni tak ada satupun campur tangan manusia yang merubah wujud keindahannya.

Ranu Kumbolo sendiri biasanya di jadikan pos peristirahatan pertama oleh para pendaki, sebab di sini adalah tempat yang menyediakan sumber air bagi para pendaki.  Di sini terdapat danau yang cukup besar yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pendakian. Meski sesungguhnya ada mata air lagi di lereng Semeru yakni sumber mani. Selain itu juga disebelah Ranu Kumbolo di sediakan shelter pos istirahat yang biasanya digunakan untuk menginap di hari pertama dan terakhir.

Pendaki Semeru Melepas Lelah di Ranu Kumbolo - Pariwisata LumajangPanorama alam yang disuguhkan oleh Ranu Kumbolo adalah panorama eksotik yang mengejutkan setiap mata yang melihatnya , terlebih ketika matahari terbit maka di tengah danau akan terlihat belahan bukit dengan garis tengah sinar mentari ,di sempurnakan lagi dengan adanya bukit - bukit hijau di sekeliling danau. Kalau beruntung bahkan kita bisa melihat butir-butir es pada musim-musim tertentu.  

Pecinta Alam Semeru, Senduro - Ranu KumboloDi Ranu Kumbolo yakni danau yang berada di bagian Barat, kec. Senduro juga terdapat ragam flora dan fauna yang khas, diantaranya adalah bunga anggrek lumut dan burung jalak semeru. Eksotika Ranu Kumbolo akan terlengkapi jika anda berada di "Tanjakan Cinta" yang populer di kalangan pendaki akan mitosnya. Di balik tanjakan cinta tersebut kita di suguhi medan berpetualang di padang savana.

Sumber : http://pariwisatalumajang.blogspot.com/

SUKU KERINCI DI JAMBI

Suku Kerinci adalah suku bangsa yang mendiami wilayah kabupaten Kerinci provinsi Jambi. Populasi suku Kerinci pada sensus tahun 1996 berjumlah sekitar 300.000 orang.

Suku Kerinci adalah suatu bangsa yang tergolong dalam kelompok Melayu, tetapi menurut dugaan para peneliti sejarah, bahwa suku Kerinci ini justru lebih tua dari suku-suku Melayu lainnya yang pada umumnya mendominasi wilayah Sumatra mulai dari provinsi Riau hingga Sumatra bagian selatan. Naskah Melayu tertua ditemukan di Kerinci, dan pada abad ke-14 Kerinci menjadi bagian dari kerajaan Malayu dengan Dharmasraya sebagai ibu kota. Setelah Adityawarman menjadi maharaja maka ibu kota dipindahkan ke Saruaso dekat Pagaruyung di Tanah Datar.

Suku Kerinci berbicara dalam bahasa Kerinci yang masihberkerabat erat dengan bahasa Minangkabau dan bahasa Melayu Jambi. Bahasa Kerinci memiliki banyak dialek tersebar di beberapa tempat di Kerinci dalam wilayah kabupaten Kerinci. Hanya dalam berkomunikasi dengan orang luar, mereka menggunakan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia (yang mereka sebut bahasa Melayu Tinggi). Dalam budaya suku Kerinci juga dikenal tulisan yang disebut aksara Incung, yang merupakan salah satu variasi surat ulu.

Asal usul suku Kerinci sendiri tidak diketahui secara pasti darimana berasal, beberapa cerita mengatakan bahwa suku Kerinci adalah dahulunya para perantau Minangkabau, yang membuka pemukiman di daerah Kerinci, hidup sekian lama dan terbentuklah suku Kerinci seperti sekarang.

Pendapat lain, mengatakan bahwa suku Kerinci justru lebih tua dari suku-suku Melayu yang ada, termasuk lebih tua dari suku Minangkabau. Kedatangan suku Kerinci diduga berasal dari daratan Indochina, yang pada masa ribuan tahun yang lalu memasuki wilayah pulau Sumatra, dan menetap di dataran tinggi sekitar gunung Kerinci. Melihat kebiasaan mereka yang hidup di dataran tinggi dan di sekitar danau, kemungkinan mereka dahulunya satu rumpun dengan bangsa-bangsa Proto Malayo yang memang menyukai daerah dataran tinggi dan mengisolasi diri di pedalaman.

Adanya penemuan artefak purbakala di wilayah Kerinci, menjelaskan bahwa sebelum orang Kerinci hadir di wilayah ini, telah ada manusia lain yang pernah hidup di wilayah Kerinci, tapi diduga penemuan artefak purbakala tersebut adalah sisa-sisa dari bangsa weddoid atau melanosoid yang pernah hidup di wilayah Sumatra ini, jauh ribuan tahun sebelum hadirnya bangsa-bangsa Proto Malayo dan Deutro Malayo. Beberapa keturunan bangsa weddoid yang masih tersisa bisa ditemukan di Sumatra adalah suku Lubu dan suku Kubu, hanya saja selama ribuan tahun telah terjadi percampuran ras, sehingga ras weddoid pada suku Lubu dan Kubu, sudah tercampur dengan ras Melayu yang pada umumnya memiliki ras Mongoloid.

Van Vollenhoven, seorang penulis dari Belanda memasukkan suku Kerinci ke dalam wilayah adat Sumatera Selatan. Tetapi kalau dilihat dari kedekatan adat-istiadat serta bahasa, sepertinya suku Kerinci masih lebih dekat dan berkerabat dengan orang-orang Minangkabau. Kemungkinan pada masa dahulu terjadi hubungan kekerabatan antara kedua suku bangsa ini. Selain itu sistem keturunan dalam masyarakat Kerinci memakai sistem matrilineal seperti pada masyarakat suku Minangkabau.

Pada awal keberadaan suku Kerinci, hidup dalam kelompok kecil yang menetap di pemukiman yang mereka sebut “duseung” (dusun). Sebuah dusun dihuni oleh masyarakat dari satu akar kelompok keturunan yang satu keturunan berdasarkan garis keturunan matrilineal.

Pada setiap “duseoung” atau dusun terdapat beberapa “Laheik Jajou/ Larik” atau Rumah Panjang yang dibangun secara menempel yang dihubungkan dengan pintu dari satu rumah ke rumah yang lain. Setiap larik dibangun dalam ciri khas budaya Kerinci. Setiap Larik memiliki Tetua Suku, dan setap Larik diberi nama sesuai dengan suku (marga) yang tinggal di Larik tersebut. Dalam Larik terdapat beberapa Tumbi. Tumbi adalah kelompok kecil masyarakat di dalam Larik.

Selanjutnya kelompok terpenting diantara Tumbu Tumbi yang ada di sebut Kalbu, dalam Kalbu terdapat Pemangku Adat yang mengatur jalannya kehidupan masyarakat dalam kalbu. Gabungan dari beberapa Duseoung (Dusun) dan kelompok masyarakat adat di sebut Kemendapoan yang dipimpin oleh Mendapo.

Status dusun sebenarnya geogragis saja, petunjuk atau lantak adanya suatu negeri, mendirikan dusun erat dengan faktor air yaitu di tepi sungai atau danau. Bagi masyarakat Kerinci, negeri adalah semacam desa/ kelurahan yang memiliki pemerintahan adat.

Sumber : http://protomalayans.blogspot.com/2012/09/suku-kerinci.html
WISATA SEGITIGA RANU DI KABUPATEN LUMAJANG

WISATA SEGITIGA RANU DI KABUPATEN LUMAJANG

Kabupaten Lumajang, merupakan tempat yang mungkin bisa anda kunjungi sebagai lokasi wisata yang cukup indah dan menarik. Menariknya di sana kita akan menemukan tiga buah ranu (danau) vulkanik yang berada di sekitar lereng Gunung Lamongan, yakni Ranu Pakis, Ranu Klakah dan Ranu Bedali. Ranu Pakis digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai tempat budidaya ikan air tawar. Ranu Klakah merupakan ranu yang berlatar belakang Gunung Klakah. Ranu Bedali merupakan Ranu yang terdapat di daerah cekungan, seolah-olah ranu ini berada di sebuah mangkuk besar. Ketiga Ranu tersebut membentuk segitiga, sehingga disebut dengan “Segitiga Ranu”.

Gunung LamonganGunung Lamongan, terletak di sebelah timur Klakah, gunung ini merupakan tempat berkemah dan pendakian bagi para pecinta alam. Di lerengnya terdapat sebuah tempat untuk beristirahat bagi para pengunjung, sebelum melanjutkan pendakian ke puncak Gunung Lamongan. Masyarakat sekitar menyebut tempat itu dengan istilah Rumah Mbah Citro. Dari Klakah menuju ‘Mbah Citro’ dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Dari ‘Mbah Citro’ kita bisa melihat pemandangan kota Lumajang dari ketinggian, yang nampak lebih indah ketika malam hari. Bila siang terlihat pula panorama pantai selatan yang begitu eksotika. Dari Mbah Citro menuju puncak membutuhkan waktu sekitar 6-7 jam. Di tengah rute terdapat sebuah watu gede (”Batu Besar”) yang dijadikan tempat peristirahatan sementara sebelum melanjutkan pendakian ke puncak. Pendakian umumnya dilakukan pada malam hari, dengan perkiraan pagi hari sebelum matahari terbit telah sampai di puncak Gunung Lamongan. Keindahan matahari terbit dapat disaksikan dengan jelas dari puncak Gunung Lamongan.

Ranu Klakah

Ranu Klakah
Obyek wisata danau ini terletak di sebelah Utara kota Lumajang tepatnya di Desa Tegalrandu Kecamatan Klakah dengan jarak tempuh 20 Km dari kota Lumajang. Transportasi, mudah dicapai dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum baik roda dua maupun roda empat disamping ada dokar sebagai sarana angkutan tradisional masyarakat setempat.

Obyek ini berada pada ketinggian 900 meter dpl, dengan luas 22 hektar dan kedalaman 28 m yang dilatar belakangi gunung Lamongan dengan ketinggian 1.668 m dpl, serta didukung oleh udara yang sejuk dan segar.

Obyek ini berada pada ketinggian 900 meter dpl, dengan luas 22 hektar dan kedalaman 28 m yang dilatar belakangi gunung Lamongan dengan ketinggian 1.668 m dpl, serta didukung oleh udara yang sejuk dan segar. Beraneka ragamnya buah-buahan nangka khas Klakah yang dijual sepanjang jalan raya menjadi daya tarik lain bagi obyek wisata ini.

Panorama yang khas berupa fatamorgana kebiruan air obyek wisata ini merupakan alternatif pilihan tujuan wisata di Jawa Timur bila mengunjungi Bali melewati Kabupaten Jember. Danau ini merupakan salah satu obyek wisata dari Kawasan Wisata Setiga Ranu ( danau ) sedangkan lainnya adalah Ranu Pakis dan Ranu Bedali, yang satu sama lain terhubung oleh jalan yang dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Disamping menikmati panoramanya, aktivitas yang dapat dilakukan sendiri ataupun bersama keluarga antara lain, joging mengelilingi area danau dengan fasilitas jalan beraspal, berperahu, menikmati sarana permainan anak, berolahraga tennis dan memancing. di Ranu Klakah tersedia sarana Hotel untuk menginap dengan jumlah kamar 6 buah.

Ranu Pakis

Ranu PakisSekitar 10 menit dengan berkendaraan roda dua ataupun roda empat sampailah kita ke Ranu Pakis, bila kunjungan wisata kita diawali dari Ranu Klakah. Obyek wisata danau ini terletak di Desa Ranu Pakis dengan jarak 20,5 Km disebelah Utara kota Lumajang, mempunyai ketinggian 600 Meter, dari permukaan laut dengan luas danau 50 Ha dan kedalaman 26 m. Masih dilatar belakangi Gunung Lamongan dan nampak lebih dekat, serta kondisi alam yang masih perawan akan menjadi daya tarik bagi pecinta lingkungan atau wisatawan yang membutuhkan udara segar.

Selain rekreasi dapat pula menikmati ikan segar yang dijual di warung-warung sederhana dan dapat pula dibawa untuk oleh-oleh. Ikan ini hasil budi daya pada perairan Ranu Pakis dengan sistim keramba jaring apung, jenisnya Mujaher, Nila.

Ranu Bedali

Ranu BedaliSebagai rangkaian kawasan Segitiga Ranu, dengan jarak 7 Km dari Ranu Pakis atau 6 Km dari Ranu Klakah kita sampai pada Ranu Bedali Kecamatan Ranuyoso. Obyek wisata ini mempunyai ketinggian 700 M dari permukaan laut dengan luas danau 25 Ha dan kedalaman 28 m.

Berbeda dari dua ranu sebelumnya, yang menarik dari ranu ini adalah letak permukaan air berada jauh di bawah permukaan tanah. Sehingga untuk mencapai daratan tepi danau dibutuhkan kesehatan prima yang merupakan tantangan bagi mereka yang berjiwa muda. Meskipun demikian panorama danau ini dilihat dari atas cukup mengasyikkan.

Sumber : http://www.lumajang.go.id
WARUGA - MAKAM BATU SUKU MINAHASA

WARUGA - MAKAM BATU SUKU MINAHASA


Kebudayaan dan ciri khas masyarakat Indonesia memang beraneka ragam. Waruga, makam leluhur yang terbuat dari batu menjadi keunikan tersendiri untuk Suku Minahasa, Sulawesi Utara. 

Berkunjung ke Sulawesi Utara, belum lengkap rasanya kalau belum ke Waruga. Waruga merupakan kuburan batu yang terletak di Desa Sawangan, Kabupaten Minahasa Utara.

Suku Minahasa mulai menggunakan Waruga untuk menguburkan orang yang meninggal sejak abad IX. Orang yang telah meninggal diletakkan menghadap ke utara. Kemudian jenazah didudukkan dengan posisi tumit kaki menempel pada pantat dan kepala mencium lutut. Tujuan dihadapkan ke bagian utara menandakan bahwa nenek moyang Suku Minahasa berasal dari bagian Utara.

Sekitar tahun 1860, sebenarnya pemerintah Belanda melarang Waruga digunakan sebagai makam. Seiring dengan penyebaran agama Kristen di Minahasa maka Waruga pun mulai ditinggalkan.

Waruga sendiri terdiri dari dua bagian. Bagian atasnya berbentuk segitiga seperti bubungan rumah, bagian bawah berbentuk kotak, dan bagian tengahnya ada ruang. Waruga memiliki ukiran dan relief yang menggambarkan berapa jasad yang tersimpan di dalamnya. Selain itu, relief tersebut juga menggambarkan mata pencarian atau pekerjaan semasa hidupnya.

Jadi, bila mempunyai waktu berlibur ke Sulawesi Utara pastikan Anda berkunjung ke tempat ini. Perlu diketahui, kini situs ini telah dicalonkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1995.

Sumber : http://www.griyawisata.com

SUKU KOROWAI PAPUA


Suku Korowai adalah suku yang baru ditemukan keberadaannya sekitar 30 tahun yang lalu di pedalaman Papua dan berpopulasi sekitar 3000 orang. Suku terasing ini hidup di rumah yang dibangun di atas pohon yang disebut Rumah Tinggi. Beberapa rumah mereka bahkan bisa mencapai ketinggian sampai 50 meter dari permukaan tanah.Mereka membangun rumah di atas pohon tersebut agar terhindar dari serangan binatang.

Suku Korowai adalah salah satu suku di daratan Papua yang tidak menggunakan koteka. Pria Korowai menggunakan semacam dedaunan untuk menutupi kemaluan mereka. Sedangkan Wanita Korowai menggunakan semacam rok pendek yang terbuat dari pohon sagu,yang juga merupakan makanan pokok mereka. Suku Korowai termasuk salah satu suku paling terbelakang di dunia. Sampai tahun 1970, mereka tidak mengetahui keberadaan setiap orang selain kelompok mereka. Bahasa mereka termasuk dalam keluarga Awyu-Dumut (Papua tenggara) dan merupakan bagian dari filum Trans-Nugini.

artikel-populer.blogspot.com - Seputar Suku Korowai Yang Aneh Di Dunia

artikel-populer.blogspot.com - Seputar Suku Korowai Yang Aneh Di Dunia

artikel-populer.blogspot.com - Seputar Suku Korowai Yang Aneh Di Dunia

artikel-populer.blogspot.com - Seputar Suku Korowai Yang Aneh Di Dunia

Sejak tahun 1980 sebagian anggota suku Korowai  telah pindah ke desa-desa yang baru dibuka dari Yaniruma di tepi Sungai Becking (area Kombai-Korowai), Mu, dan Basman (daerah Korowai-Citak). Pada tahun 1987, desa dibuka di Manggél, di Yafufla (1988), Mabül di tepi Sungai Eilanden (1989), dan Khaiflambolüp (1998).

Dalam memenuhi kebutuhannya, suku Korowai biasa berburu dan melakukan sistem  pertanian ladang berpindah. Suku Korowai merupakan salah satu suku yang memiliki kemampuan berburu yang sangat baik.  

Suku Korowai juga dikenal karena adanya perilaku kanibalisme di dalam budaya mereka. Namun,mereka hanya mempraktekkan kanibalisme pada orang tertentu saja, seperti orang yang diduga sebagai dukun atau khakhua. Hal ini dilakukan sebagai semacam hukuman bagi para khakhua yang melakukan sihir dan dipercaya dapat menyebabkan kematian anggota suku lainnya. Bagi beberapa suku Korowai yang tinggal di tepi hutan, budaya kanibalisme ini sudah mulai ditinggalkan diantaranya karena adanya kontak dengan dunia luar.

ASAL USUL TARI PIRING


Tari piring dikatakan tercipta dari 'wanita-wanita cantik yang berpakaian indah,serta berjalan dengan lemah lembut penuh kesopanan dan ketertiban ketika membawa piring berisi makanan yang lesat untuk dipersembahkan kepada dewa-dewa. semua wanita ini akan menari sambil berjalan, dan dalam masa yang sama menunjukkan kecakap mereka menunjukkan bahwa piring berisi makanan tersebut' kedatangan islam telah membawa perubahan kepercayaan dan konsep tarian ini.

Pada umumnya pakaian yang berwarna-warni dan cantik adalah hal yang wajib bagi sebuah tarian tetapi pada tarian piring sudah cukup dengan berbaju melayu dan bersamping saja. warna baju juga adalah terserah kepada penari sendiri untuk menentukannya,namun warna-warna terang seperti merah dan kuning sering menjadi pilihan kepada penari tari piring karena ia lebih mudah dilihat oleh penonton, Alat musik yang digunakan untuk mengiringi tari piring cukup dengan pukulan rebana dan gong saja. pukulan gong amat penting sekali karena ia akan menjadi panduan kepada penari untuk melakukan langkah dan gerak tari piringnya, namun dalam keadaan tertentu tari piring boleh juga diiringi oleh alat musik lain seperti talempong dan gendang.

Tari piring atau dalam bahasa minangkabau disebut dengan tari piriang, adalah salah satu jenis tari yang berasal dari Sumatra Barat yaitu masyarakat Minangkabau disebut dengan tari piring karena penari saat menari membawa piring. Pada awalnya dulu tari piring diciptakan untuk membawa persembahan kepada para dewa ketika memasuki masa panen, tapi setelah datangnya agama islam di Minangkabau tari piring tidak lagi dipersembahkan untuk para dewa tapi ditujukan bagi majelis-majeliss keramaian yang dihadiri oleh para raja atau para pembesar negri,tari piring juga dipakai pada acara keramaian lain misalnya seperti pada acara pesta perkawinan.

Pada seni tari piring dapat dilakukan melalui berbagai cara atau versi, hal itu semua tergantung dimana tempat dimana tari pirirng itu dibawakan, namun tidak begitu banyak khususnya mengenai konsep,pendekatan dan gaya persembahan. Mengenai waktu kemunculan tari piring ini belum diketahui pasti. tapi dipercaya bahwa tari piring telah ada di Sumatra Barat dan berkembang hingga pada zaman sri wijaya.

SEJARAH DAN BUDAYA SUKU MINANGKABAU


Suku Minangkabau atau Minang adalah kelompok etnik Nusantara yang berbahasa dan menjunjung adat  Minangkabau. Wilayah penganut kebudayaannya meliputi Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, bagian selatan Sumatera  Utara, barat daya Aceh, dan juga Negeri Sembilandi Malaysia. Dalam percakapan awam, orang Minang sering kali disamakan sebagai orang Padang, merujuk kepada nama ibukota propinsi Sumatera Barat yaitu kota Padang. Hal ini dapat dikaitkan dengan kenyataan bahwa beberapa literatur Belanda juga telah menyebut masyarakat suku ini sebagai Padangsche Bovenlanden.

Suku ini mempunyai sifat merantau yang boleh dikatakan telah menyatu dalam pola hidup mereka sehingga banyak di antara mereka pindah ke pulau-pulau lain di Indonesia. Suku Minangkabau merupakan suku terbesar ke 4 di Indonesia yang tersebar luas dan sangat berpengaruh.

SOSIAL BUDAYA
Nama Minangkabau mencerminkan kecerdasan yang tinggi dan panjang akal. Secara harafiah, nama Minangkabau berarti "menang kerbau." Menurut dongeng, kata Minangkabau berasal dari kemenangan orang Minangkabau - di bawah pimpinan Datuk Parpatih Nan Sebatang dan Datuk Katumanggungan dalam adu kerbau dengan orang-orang kerajaan Majapahit. Konon, anak kerbau orang Minangkabau berhasil membunuh kerbau besar Majapahit karena pada moncongnya diikatkan sebuah taji (minang) yang tajam. Kini, kerbau merupakan figur yang sangat kuat melekat pada mitos, budaya dan arsitektur suku Minang (atap rumah tradisional Minang bergonjong seperti tanduk kerbau).

Suku ini terkenal di seluruh Indonesia dengan kesuksesan mereka dalam bisnis, makanan yang pedas dan kebanggaan mereka akan adat istiadat. Dalam kebudayaan suku Minangkabau, harta kekayaan dan nama keluarga diwariskan kepada kaum wanita (matrilineal). Tanggung jawab dalam rumah tangga istri lebih banyak di tangan ninik mamak (saudara laki-laki ibu). Ia wajib mengurusi kemenakannya dan mengawasi segala sesuatu yang berhubungan dengan segala harta pusaka dan warisan. Hal yang sama juga menjadi peranan seorang suami di dalam keluarganya sendiri, yaitu mengawasi saudara perempuan dan kemenakan-kemenakannya. Namun pada masa sekarang, peranan ninik mamak semakin kecil karena ia lebih cenderung untuk mengurusi istri dan anak-anaknya sendiri dan seorang suami pun lebih banyak berperan dalam rumah tangganya. Perubahan ini terutama terlihat pada keluarga Minangkabau di perantauan.

AGAMA/KEPERCAYAAN
Suku Minangkabau merupakan kaum muslim yang taat menjalankan ke 5 rukun Islam di Indonesia. Ada satu pepatah Minangkabau yang berkata "Menjadi orang Minangkabau adalah menjadi Islam." Mereka yang beralih ke agama lain akan diusir dan kehilangan mata pencaharian.

KEBUTUHAN
Di bidang pendidikan maupun pekerjaan, suku ini relatif lebih maju daripada propinsi lain di luar Pulau Jawa. Namun demikian mereka masih membutuhkan peningkatan di bidang pendidikan maupun di bidang industri, khususnya kerajinan rakyat yaitu jahit, sulam dan anyam-anyaman. Di samping itu Kepulauan Mentawai, Danau Maninjau, Danau Singkarak dan Bukittinggi merupakan daerah pariwisata yang masih dapat dikembangkan dan mempunyai potensi untuk pengembangan tenaga pembangkit listrik.

Sumber : http://halindshop.blogspot.com/2012/12/menelisik-sejarah-budaya-suku.html

SUKU AMUNGME DARI PAPUA


Suku Amungme adalah salah satu suku yang tinggal di dataran tinggi Papua. Suku Amungme mendiami beberapa lembah luas di kabupaten Mimika dan Kabupaten Puncak Jaya antara gunung-gunung tinggi yaitu lembah Tsinga, lembah Hoeya, dan lembah Noema serta lembah-lembah kecil seperti lembah Bella, Alama, Aroanop, dan Wa. Sebagian lagi menetap di lembah Beoga (disebut suku Damal, sesuai panggilan suku Dani) serta dataran rendah di Agimuga dan kota Timika.

Amungme terdiri dari dua kata "amung" yang artinya utama dan "mee" yang artinya manusia. Menurut legenda orang Amungme berasal dari derah Pagema (lembah baleim) Wamena. Hal ini dapat ditelusuri dari kata kurima yang artinya tempat orang berkumpul dan hitigima yang artinya tempat pertama kali para nenek moyang orang-orang Amungme mendirikan honey dari alang-alang.

Suku Amungme memiliki kepercayaan bahwa mereka adalah anak pertama dari anak sulung bangsa manusia, mereka hidup disebelah utara dan selatan pegunungan tengah yang selalu diselimuti salju yang dalam bahasa Amungme disebut nemangkawi (anak panah putih). Suku Amungme menggangap bahwa mereka adalah penakluk, pengusa serta pewaris alam amungsa dari tangan Nagawan Into (Tuhan). Kerasnya alam pegunungan membuat karakter masyarakat amungme menjadi keras, tidak kenal kompromi, adil dan jantan.

Suku Amungme memiliki dua bahasa, yaitu Amung-kal yang dituturkan oleh penduduk yang hidup disebelah selatan dan Damal-kal untuk suku yang menetap di utara. Suku Amungme juga memiliki bahasa simbol yakni Aro-a-kal. Bahasa ini adalah bahasa simbol yang paling sulit dimengerti dan dikomunikasikan, serta Tebo-a-kal, bahasa simbol yang hanya diucapkan saat berada di wilayah yang dianggap keramat.

Konsep mengenai tanah, manusia dan lingkungan alam mempunyai arti yang intergral dalam kehidupan sehari-hari. Tanah digambarkan sebagai figure seorang ibu yang memberi makan, memelihara, mendidik dan membesarkan dari bayi hingga lanjut usia dan akhirnya mati. Tanah dengan lingkungan hidup habitatnya dipandang sebagai tempat tinggal, berkebun, berburu dan pemakaman juga tempat kediaman roh halus dan arwah para leluhur sehingga ada beberapa lokasi tanah seperti gua, gunung, air terjun dan kuburan dianggap sebagai tempat keramat.

Mata pencaharian suku Amungme umumnya berburu karena ditunjang faktor alam dengan berbagai jenis flora yang tumbuh lebat dan terdapat berbagai jenis fauna seperti babi hutan, burung kasuari, burung mambruk, kakaktua dan lain-lain, bertani dan bercocok tanam serta beternak, banyak di antara mereka telah bekerja di kota sebagai pedagang, pegawai maupun karyawan swasta.

Banyak senjata yang digunakan oleh masyarakat Amungme dalam bertahan hidup, seperti halnya pisau belati yang merupakan senjata tradisional. Selain itu mereka juga sering menggunakan tombak serta panah untuk berburu. Umumnya suku Amungme telah menggunakan uang tukar resmi (rupiah) sebagai alat jual-beli, sedangkan sistem barter atau eral sudah hampir tidak dipergunakan lagi.

Salah satu keunikan suku Amungme adalah dengan adanya upacara tradisional yang dinamakan dengan Bakar Batu. Tradisi ini merupakan salah satu tradisi terpenting masyarakat suku amungme yang berfungsi sebagai tanda rasa syukur, menyambut kebahagiaan atas kelahiran, kematian, atau untuk mengumpulkan prajurit untuk berperang. Persiapan awal tradisi ini masing - masing kelompok menyerahkan hewan babi sebagai persembahan, sebagain ada yang menari, lalu ada yang menyiapkan batu dan kayu untuk dibakar. Proses ini awalnya dengan cara menumpuk batu sedemikian rupa lalu mulai dibakar sampai kayu habis terbakar dan batu menjadi panas. Setelah itu, babi yang telah di persiapkan tadi dipanah terkebih dahulu. Biasanya yang memanah adalah kepala suku dan dilakukan secara bergantian. pada Tradisi ini ada pemandangan yang cukup unik dalam ritual memanah babi. Ketika semua kepala suku sudah memanah babi dan langsung mati, pertanda acara akan sukses dan bila tidak babi yang di panah tadi tidak langsung mati, diyakini acara tidak akan sukses.
WISATA MUSEUM TSUNAMI BANDA ACEH

WISATA MUSEUM TSUNAMI BANDA ACEH


Bencana tsunami 26 Desember 2004 menyisakan trauma yang sulit untuk dilupakan bagi rakyat Aceh. Bagaimana tidak, ratusan ribu jiwa melayang dalam sekejap disapu ombak pantai yang menggulung. Tsunami di pantai barat Aceh meluluh-lantakkan hampir seluruh kota Banda Aceh dan Meulaboh.

Tujuh tahun sudah setelah bencana berlalu, ketika saya berkesempatan berkunjung ke tanah rencong ini, tepatnya akhir November tahun lalu. Meski sudah kembali pulih, tapi sisa-sisa tsunami masih terasa. Mendengar cerita orang-orang yang menjadi saksi hidup tsunami membuat kita tidak sanggup berkata apa-apa. Jejak-jejak tsunami dapat kita lihat saat melewati beberapa tempat yang menjadi saksi bisu seperti kuburan massal korban tsunami Aceh, taman tsunami, mesjid-mesjid yang selamat dari bencana tsunami dan museum Tsunami.


Museum Tsunami sengaja dibangun oleh pemerintah untuk mengenang terjadinya bencana tsunami yang melanda wilayah Aceh dan Samudera Hindia tahun 2004. Museum yang dirancang oleh arsitek Indonesia ini bangunannya megah dan kokoh. Tempat ini sekaligus dijadikan pembelajaran dan evakuasi saat terjadi bencana. Di museum ini memang disajikan rekam jejak tsunami dalam berbagai media seperti audiovisual, photo slide, foto-foto dan alat peraga tsunami.

Di luar museum, dapat kita temukan salah satu saksi bisu tsunami yaitu helikopter milik Polda yang tidak sempat terbang karena keburu disambar air laut. Akibatnya helikopter sempat terendam air dan sebagian menjadi hancur.


Memasuki museum akan membawa kita menyaksikan jejak-jejak minimalis terjadinya bencana tsunami 7 tahun-an silam. Sesaat setelah melewati pintu masuk, kita akan melewati lorong dengan air mengalir di dinding-dindingnya yang memerciki setiap yang lewat di lorong itu. Suasana agak mencekam karena jalannya dibuat agak menanjak dan redup. Karena baru pertama kali ke sana, waktu itu saya agak cemas dan malah berpikir apa nanti bakal dikejutkan dengan simulasi tsunami di lorong ini. Untunglah tidak hehe.


Lebih ke dalam lagi, kita akan memasuki ruangan kosong melingkar dimana di dindingnya terdapat nama-nama korban tsunami yang berhasil diidentifikasi. Nama-nama ditulis di seluruh dindingnya. Bagian tengah meninggi ke atas membentuk cerobong yang bertuliskan nama Allah dalam tulisan arab, sayapun harus mendongak untuk bisa memotretnya. Di ruangan itu terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an yang mengingatkan kita akan kebesaran Sang Pencipta.



Setelah itu kita kembali melewati lorong yang menanjak tetapi lebih terang dan tidak ada air yang memercik di dinding-dindingnya. Desain museum ini memang unik dan sarat akan arti serta makna kejadian tertentu. Banyak lorong-lorong tangganya yang dibuat unik. Untuk naik ke lantai selanjutnya akan melewati jembatan menanjak yang disebut jembatan perdamaian. Di bawahnya terdapat air dan membentuk seperti kolam, sedangkan bagian atasnya banyak terdapat bendera-bendera dari berbagai negara yang telah memberikan sumbangan saat terjadi bencana. Di situ tertulis kata ‘damai’ dalam berbagai bahasa.




Saya pun tidak melewatkan kesempatan untuk menonton VCD bencana tsunami di ruang audiovisual. Waktu itu ada juga orang asing yang menonton berbarengan dengan saya dan teman-teman. Salah satu isi video menampilkan rekaman dari kamera amatir saat kejadian tsunami. Meskipun saya tidak mengalami kejadiannya secara langsung, film yang diputar membuat suasana hati menjadi terhanyut. Apalagi mengingat cerita-cerita para korban selamat dimana mereka banyak yang kehilangan sanak keluarganya. Sedih sekali mendengarnya, pokoknya speachless deh. Tiba-tiba ingatanpun melayang pada kisah Nabi Nuh yang pernah saya dengar.


Di ruangan lain, kita bisa melihat poster-poster tentang Aceh dan bencana tsunami yang dipajang dalam stand poster. Semua bisa menggambarkan Aceh sebelum maupun sesudah terjadinya tsunami. Beberapa poster ada yang saya potret secara close-up. Di situ ada foto jam milik Mesjid Baiturrahman dengan latar belakang bangunan yang porak-poranda. Jam ini berhenti di angka 8 lewat 17 menit, dimana menunjukkan waktu terjadinya tsunami. Di poster yang lain juga terdapat informasi wilayah yang menjadi pusat gempa di Aceh dan kawasan Samudera Hindia. Saat bencana terjadi, memang korban baik harta maupun jiwa terbanyak terdapat di Aceh.






Di ruangan lain terdapat miniatur bangunan yang selamat dari bencana tsunami seperti Mesjid Lampisang di Lampuuk serta kapal pembangkit listrik yang terdampar di Punge karena terbawa ombak laut sejauh 6-7 km. Tempat-tempat tersebut yang asli saat ini masih dapat dijumpai dan dijadikan sebagai situs tsunami.



Pengunjung di museum tsunami ini juga bisa mencoba simulasi terjadinya guncangan gempa bumi, tetapi sayangnya saya tidak bisa mencobanya karena pada saat berkunjung ke sana tempat itu sedang direnovasi.


Museum tsunami memang menarik dan sarat akan pembelajaran. Tempat ini bisa menjadi salah satu tujuan wisata jika berkunjung ke Aceh, berwisata sekaligus belajar. Jejak-jejak minimalis tsunami di museum ini menjadi pengingat bahwa pernah terjadi musibah besar yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh. Dan betapa kecil dan lemahnya kita di hadapan Sang Pencipta. Semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya.

Sumber  : http://hezzoinfo.wordpress.com/2012/06/25/wisata-museum-tsunami-banda-aceh/