Showing posts with label Museum. Show all posts
Showing posts with label Museum. Show all posts

Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) - Kediri

Lokasi Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) berada di Desa Tugurejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa  Timur. Jaraknya sekitar 6 km arah timur dari Kota Kediri atau searah dengan jalan raya menuju kota Pare.

alamat slg kediri
Monumen Simpang Lima Gumul Nampak siang dan malam

Monumen Simpang Lima Gumul memiliki luas 804 m2 dan tinggi 25 m. Berada di tengah-tengah jalur jalan melingkar, yang merupakan persimpangan jalan menuju lima arah berbeda. Arah selatan menuju ke Wates/Gunung Kelud, Timur Ke Gurah, Utara ke Pagu, Timur laut ke Pare, dan arat Barat ke Kota Kediri.

alamat simpang lima gumul kediri
Lorong bawah tanah menuju Monumen SLG
Pintu Masuk dari Lokasi Parkir Kendaraan

relief sejarah kediri di monumen simpang lima gumul
Ukiran relief dan patung di beberapa titik

makanan yang dijual di simpang lima gumul kediri
Pasar Minggu Monumen Simpang Lima Gumul,
ramai pengunjung di akhir pekan

Monumen yang pembangunannya digagas oleh Bapak Sutrisno, bupati Kediri saat itu, menjadi ikon dan gerbang wisata menuju kabupaten Kediri. Selain itu juga menjadi sentra perekonomian untuk kemajuan wilayah Kediri. Seperti terlihat setiap akhir pekan, di sekitar area Monumen Simpang Lima Gumul, terdapat pasar minggu yang selalu rame dengan pengunjung.

Arc de triomphe nya Indonesia

Anda pernah ke Kota Paris? Di kota Paris terdapat monumen yang sangat terkenal, yaitu Arc de triomphe atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Gapura Kemenangan. Monumen Arc de triomphe terletak di bukit Chaillot dan berdiri di tengah area Place de I'Etoile, di ujung barat wilayah Champs-Elysees. Posisinya berada di tengah konfigurasi persimpangan jalan raya berbentuk bintang lima. Dibangun atas  perintah Napoleon Bonaparte dengan tujuan untuk menghormati jasa tentara kebesarannya.

arc de triomphe dan slg
Arc de Triomphe Paris dan Simpang Lima Gumul Kediri
Posisinya jika dilihat dari citra satelit

Nah untuk dapat menyaksikan keindahan dan kemegahan monumen Arc de triomphe dari dekat, sepertinya anda tidak perlu jauh-jauh ke Paris. Coba anda perhatikan bentuk dan posisi Monumen simpang lima gumul Kediri, sangat mirip. Saat anda berada disana, akan berasa sedang di Arc de triomphe Paris. Tak perlu ongkos mahal dan perjalan jauh, sudah bisa menikmati kemegahan dan keindahan  Arc de Triomphe dari dekat, ala Kediri. 

kesamaan simpang lima gumul dan arc de triomphe paris
Arc de Triomphe Paris dan Simpang Lima Gumul Kediri

Seperti gambar diatas, dari bentuk dan posisinya bisa dibilang memiliki citarasa seni serupa. Istilah kata “Tak lihat Arc de Triomphe, Simpang Lima Gumul pun jadi”, miripkan? Buruan yang ingin berwisata ke Paris lewat Kediri.

Sumber:
Lokasi Monumen Simpang Lima Gumul Kediri
http://wongcrewchild.blogspot.com/2015/01/monumen-simpang-lima-gumul-slg-kediri.html

Wisata dengan Nuansa Unik dan Horor di Museum Kesehatan Surabaya

Museum Kesehatan dr. Adyatama, museum kesehatan yang berada di Jalan Indrapura no.17, Surabaya ini awalnya museum adalah Rumah Sakit Kelamin. Namun atas kebijakan pemerintah berganti menjadi museum kesehatan. Didalamnya menyimpan berbagai peralatan kesehatan tempo dulu serta benda-benda terkait supranatural. Oleh karena itu museum ini sering dijuluki museum santet.



Dikelola oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) dan Kebijakan Kesehatan, Departemen Kesehatan. Museum yang selesai dibangun pada tahun 2004 ini diresmikan oleh Dr. Ahmad Sujudi selaku Menteri Kesehatan pada masa itu. Awalnya museum ini dirintis oleh Dr.dr. Haryadi Suparto yang kemudian mengambil penamaan museum dari dr. Adhyatma yang pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan pada tahun 1988 hingga 1993.

Apa yang menarik dari museum ini? Di museum ini terdokumentasi dengan baik cara –cara pengobatan tradisional dan santet. Terdapat benda yang sering dipakai untuk urusan mistik tersebut. Seperti kayu pohon telor, kayu santen, kayu kengkeng, kayu kelor dan bambu. Terdapat pula boneka santet yang ditusuk jarum, foto seseorang yang ditusuk paku dalam kain merah kemudian rokok kelobot yang dibentuk menyerupai boneka orang yang pada bagian tubuhnya tertancap kayu. Tak hanya itu museum ini juga menyimpan tanah kuburan yang diyakini akan membawa sial sesorang yang membawanya pulang. Semua benda tersebut kerap dipercayai dan dijadikan sarana untuk melakukan kegiatan supranatural.



Beberapa benda lain terkait dengan adanya santet juga disimpan di museum ini. Benda seperti potongan usus dari pasien terkena santet, paku bengkok yang dikeluarkan dari tubuh seorang pasien, serta beberapa helai ijuk yang keluar dari tubuh seorang pasien. Pengelola museum mendapatkan benda-benda tersebut dari dukun santet. Benda-benda mistik lainnya juga bisa Anda temukan di ruang ini. Dari kain bertuliskan rajah, batu, kain hingga obat-obatan dari dukun. Yang menarik di sini adalah boneka Jalangkung dan Nini Thowok yang disimpan di lemari kaca.

Tempat ini juga mengoleksi benda yang seringkali dianggap memiliki khasiat atau mitos tertentu misalnya air dari paranormal Ki Kusumo, air dari dukun cilik Ponari, hingga rumput Fatimah yang diambil dari Arafah yang dipercaya dapat menguatkan kandungan seseorang setelah melahirkan.

Tak hanya benda-benda supranatural dan medis, museum ini juga mengoleksi benda-benda yang unik. Seperti celana anti perkosaan dan alat perangsang seks untuk pria dan wanita. Ada pula benda berupa vacuum yang berfungsi untuk membesarkan alat kelamin pria.

Anda dapat pula menyaksikan proses penyantetan yang terdokumentasi dengan baik lewat foto-foto yang terdapat di museum ini. Dari foto itu, wisatawan dapat mengetahui bagaimana ritual penyantetan berlangsung. Tak hanya itu bulu kuduk Anda akan semakin dibuat merinding tatkala menyaksikan video yang ditayangkan. Video tersebut merekam proses pembedahan otak seorang pasien dan anehnya darah yang keluar adalah darah ayam.



Museum ini buka buka setiap hari dari hari Senin hingga Jum’at dan tutup pada hari libur nasional. Buka mulai pukul 8.00 wib pagi hingga pukul 15.00 wib. Pada hari Sabtu dan Minggu buka pada pukul 09.00 wib sampai pukul 14.00 wib.

Menjelajahi isi Museum Kesehatan dr Adhyatma ini bukan saja akan menambah wawasan Anda mengenai dunia kesehatan, namun kita dapat melihat realita masyarakat yang hingga kini masih mempercayai hal-hal mistik.

Ruangan Dunia Lain

Di museum kesehatan terdapat ruangan yang dikunci rapat oleh penjaga museum. Ruangan ini dinamakan "DUNIA LAIN". Untuk bisa memasuki ruangan tersebut, kalian harus meminta izin oleh penjaganya untuk bisa memasuki ruangan tersebut, agar tidak terjadi apa-apa. Ruangan tersebut merupakan ruangan kamar mandi yang dibiarkan kotor. Namun pada ruangan ini juga terdapat 1 kotak tengkorak , 1 kotak abu jenazah , 2 peti mati besar dan kecil yang bekas dikubur. 





Sumber : http://surabaya.panduanwisata.id/wisata-sejarah-dan-budaya/isi-museum-kesehatan-dr-adyatma-di-surabaya/
Melihat Surabaya Tempo Dulu di Museum Surabaya

Melihat Surabaya Tempo Dulu di Museum Surabaya



Saat ini Surabaya telah memiliki museum baru, yaitu Museum Surabaya yang baru saja diresmikan pada 3 Mei 2015 oleh Ibu Tri Rismaharini selaku Wali Kota Surabaya. Museum ini jadi destinasi wisata baru bagi para pelancong yang wajib untuk dikunjungi, sebab di dalamnya berisi ribuan artefak dan barang-barang bersejarah milik Kota Surabaya yang ada di masa lalu. Berbeda dengan Museum Tugu Pahlawan atau Museum House of Sampoerna, museum ini mengisahkan tentang Kota Surabaya sepenuhnya.


Museum Surabaya terletak di lantai dasar bekas Gedung Siola (Cagar Budaya) di Jalan Tunjungan. Ibu Risma mengatakan bahwa museum ini merupakan media edukasi untuk masyarakat Surabaya, terutama yang ingin mengetahui berbagai sejarah yang pernah ada di kota pahlawan tersebut. Museum ini berisi semua hal tentang Kota Surabaya di masa lalu. Ia menilai bahwa mungkin banyak warga yang masih belum mengerti mengenai sejarah atau benda-benda antik tersebut. Padahal benda-benda tersebut merupakan bagian dari perjalanan pembangunan Kota Surabaya. Museum ini menampilkan sebuah perpaduan masa lalu dan masa kini yang ada di Kota Surabaya.

Berbagai penghargaan yang pernah diraih Kota Surabaya

Gedung Siola berlantai tiga itu kini telah disulap menjadi lebih bersih. Sebelum masuk ke dalam museum, Anda akan menjumpai kereta kuno yang dipamerkan di samping gedung. Di dalam Museum Surabaya ada berbagai macam koleksi benda-benda bersejarah meliputi dua buah meriam kuno, foto seluruh wali kota Surabaya yang pernah menjabat, bemo (becak motor) yang terkenal sebagai alat transportasi tahun 1970-an, becak, mata uang kuno, piano, bangku sekolah mesin ketik, peralatan pemadam kebakaran, alat kesehatan, piala serta tropi penghargaan yang diperoleh Kota Surabaya, furnitur, berbagai macam baju dinas dari segala profesi, peta Surabaya, komputer server, alat komunikasi, buku catatan kelahiran warga Surabaya, buku catatan perkawinan warga Surabaya, hingga buku catatan pemakaman warga Surabaya yang ada di Makam Kembang Kuning Surabaya.

Koleksi benda-benda historis yang ada merupakan sumbangan dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Beberapa dinas menyumbangkan benda historis yang mereka miliki untuk dipajang di Museum Surabaya ini. Misalnya, Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) yang menyumbangkan pakaian lengkap para petugas PMK mulai dari zaman Belanda, Jepang, awal kemerdekaan, sampai sekarang. Pakaian tersebut lengkap dari topi sampai sepatu. Selain itu, beberapa benda seperti lonceng tanda terjadinya kebakaran dan alat penyemprot juga turut dipajang museum ini.

Deretan foto Wali Kota Surabaya

Dinas Perhubungan (Dishub) juga ikut menyumbang benda-benda historis miliknya menjadi koleksi Museum Surabaya. Benda-benda antik itu seperti komputer server yang dulu digunakan untuk operasional Area Traffic Control System (ATCS). Kemudian Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan (DPPK) memberikan dua mesin proporsi manual yang dulu digunakan sebagi alat pengesahan karcis maupun retribusi oleh Pemkot Surabaya.

Memang saat ini koleksi yang ada di Museum Surabaya belum sempurna, namun Pemerintah Kota Surabaya akan terus berupaya untuk menambah koleksinya lagi. Selain area etalase benda-benda bersejarah, di Museum Surabaya juga ada panggung live performance dari para seniman, area makanan khas Surabaya, sentra usaha kecil menengah (UKM), hingga pameran lukisan. Selain itu juga ada pelayanan masyarakat yang dibuka mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB. Pelayanan tersebut meliputi BKPM, DPBT, serta Dispendukcapil. Museum ini dibuka untuk umum. Bagi pengunjung yang ingin memasuki Museum Surabaya tidak dipungut biaya sama sekali. Pengunjung hanya akan disuruh petugas untuk mengisi data diri di buku catatan yang telah disediakan.

Sumber : http://ulinulin.com/news/tempat-wisata-museum-surabaya-melihat-surabaya-tempo-dulu
Museum Sandi - Tempat Wisata Budaya Persandian Indonesia Di Yogya

Museum Sandi - Tempat Wisata Budaya Persandian Indonesia Di Yogya

Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota di Indonesia yang menyimpan beragam budaya dan sejarah serta tempat bersejarah salah satunya Museum Sandi. Salah satu wisata di Yogya ini terletak di Jalan Faridan M Noto 21 Kota Baru Yogyakarta, menyimpan sekitar 43 koleksi benda persandian Indonesia. Kota ini memang dipilih menjadi tempat dibangunnya museum ini karena sejarah persandian Indonesia berawal dari Yogyakarta.

Menurut Anis Hilal yang menjadi Koordinator Museum Sandi, di tahun 1948 ketika terjadi Agresi Militer Belanda yang kedua dan menjajah kota Yogyakarta, pejuang Indonesia mulai memakai sandi dalam melawan Belanda. Ini yang menjadi awal mula persandian ada di Indonesia.

wisata di Yogya, Museum Sandi

Museum Sandi didirikan pada tanggal 29 Juli 2008. Pertama dibangun, museum ini masuk dalam bagian Museum Perjuangan Yogyakarta yang berada di wilayah Brontokusuman Jl. Kolonel Sugiyono, No 24. Namun, pada awal Januari 2014 di pindahkan ke Jalan Faridan M Noto 21 Kota Baru.

wisata di Yogya

Tujuan didirikannya museum ini sebenarnya untuk menampilkan dan menjaga beragam koleksi benda-benda sandi yang memiliki nilai sejarah dan budaya, yang pastinya berguna dalam menambah pengetahuan serta wawasan pengunjung tentang dunia persandian, khususnya untuk generasi muda.

museum sandi

Museum yang dijaga dalam Lembaga Sandi Negara ini mempunayi beragam koleksi seperti buku kode, telegraf, sampai jenis-jenis mesin sandi yang dibuat dari dalam atau luar negeri. Dengan koleksinya yang menarik, dan mendidik lengkap dengan alur sejarah persandian. Terdapat juga panel multimedia interaktif yang berguna dalam menerangkan persandian Indonesia.

Tiap bulannya, pengunjung salah satu tempat wisata di Yogya ini dikunjungi sekitar 1.000 pengunjung. Mereka adalah mahasiswa, pelajar, dan warga negara asing. Terdapat beberapa fasilitas seperti pemandu, anjungan informasi elektronik, ruang pameran, bagian multimedia, dan ruang cryptogames. Selain itu, tidak dikenakan biaya masuk yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah kunjungan.

Sumber : http://travelblog.ticktab.com/2014/09/02/museum-sandi-tempat-wisata-budaya-persandian-indonesia-di-yogya/

Menengok Camp Vietnam, sejarah pilu Manusia Perahu di Batam

Mengisi waktu liburan di Batam tidak hanya bisa dilakukan dengan berbelanja di daerah Nagoya. Anda juga bisa berkunjung ke kawasan wisata sejarah Camp Vietnam atau juga biasa disebut Kampung Vietnam. Terletak di Pulau Galang, Camp Vietnam adalah suatu area tidak berpenghuni yang dulunya merupakan tempat pengungsi Vietnam yang dikenal dengan sebutan Manusia Perahu untuk mencari perlindungan atau suaka pasca terjadinya konflik internal antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan sekitar tahun 1979. Dalam area seluas sekitar 80 hektar ini tersebar benda-benda dan bangunan-bangunan yang akan memberikan gambaran kehidupan para pengungsi dengan sejarah yang pilu ini.


Di masa perang saudara di Vietnam tahun 1979, ratusan ribu penduduk Vietnam Selatan mengungsi dari negaranya demi alasan kemanan. Mereka mengungsi dengan menggunakan perahu-perahu kayu sederhana yang kondisinya memprihatinkan karena dalam satu perahu bisa ditempati 40-100 orang. Berbulan-bulan para ‘Manusia Perahu’ ini terombang-ambing mengarungi perairan Laut Cina Selatan sejauh ribuan kilometer tanpa tujuan yang jelas dengan harapan mendapat perlindungan deari negara lain. Sebagian dari mereka ada yang meninggal di tengah lautan dan sebagian lagi berhasil mencapai daratan, termasuk wilayah Indonesia.


Pengungsi pertama yang yang mendarat di Indonesia adalah di Kepulauan Natuna bagian utara pada tanggal 22 Mei 1975, sebanyak 75 orang. Pengungsi yang jumlahnya masih sedikit ini awalnya ditampung oleh masyarakat setempat, hingga akhirnya perahu-perahu pengungsi lain juga berdatangan, termasuk di Kepulauan Anambas dan Pulau Bintan. Gelombang pengungsi ini menarik perhatian Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) dan Pemerintah Indonesia. Setelah mengevaluasi beberapa pulau di sekitar Pulau Bintan, berdasarkan alasan kemudahan menyalurkan pengungsi ke negara ketiga, area yang cukup luas untuk menampung 10.000 pengungsi, kemudahan isoler, serta kemudahan akses, akhirnya diputuskanlah Pulau Galang, tepatnya di Desa Sijantung, Kepulauan Riau sebagai tempat penampungan sementara bagi para pengungsi.

Di Pulau Galang para pengungsi Vietnam meneruskan hidupnya hingga tahun 1995, sampai akhirnya mereka mendapat suaka di negara-negara maju yang mau menerima mereka ataupun dipulangkan ke Vietnam. Para pengungsi tersebut hidup terisolasi di dalam area seluas 80 hektar dan tertutup interaksinya dengan penduduk setempat. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengawasan, pengaturan, penjagaan keamanan, sekaligus untuk menghindari penyebaran penyakit kelamin Vietnam Rose yang dibawa para pengungsi.

Untuk mencapai Camp Vietnam, bisa ditempuh dalam waktu sekitar 60 menit menggunakan kendaraan bermotor dari pusat kota Batam menuju Pulau Galang dengan melalui Jembatan Barelang. Jembatan Barelang yang namanya merupakan singkatan dari Batam, Rempang, dan Galang ini terdiri dari 6 jembatan yang menghubungkan pulau-pulau kecil. Diperlukan waktu sekitar 1 jam yang diiringi pemandangan lautan biru yang indah tiap kali berada di atas jembatan hingga akhirnya tiba di Pulau Galang.

Dari jalanan utama Pulau Galang, di sebelah kiri akan terlihat gapura berbentuk perahu bercat merah dan putih sebagai gerbang masuk Camp Vietnam. Hati-hati terlewat karena letaknya kurang mencolok. Dengan membayar di loket masuk sebesar Rp. 5000 per mobil dan Rp. 3000 per orang, perjalanan napak tilas bersejarah ini pun dimulai.

Jalanan sepi berkelok-kelok membelah rimbunnya pepohonan di kanan-kiri yang juga dihuni monyet-monyet jinak. Silih berganti bangunan-bangunan bersejarah akan kita lewati. Salah satunya yang terdekat dari gerbang masuk adalah Humanity Statue. Monumen kemanusiaan ini berbentuk patung perempuan dalam keadaan terkulai. Monumen ini didirikan untuk mengenang tragedi kemanusiaan Tinh Han Loai, seorang wanita yang bunuh diri karena malu setelah diperkosa oleh sesama pengungsi. Pemerkosaan bukanlah satu-satunya tindakan kriminal yang dilakukan oleh para pengungsi. Beberapa dari mereka juga mencuri, bahkan membunuh. Oleh karena itu sebuah penjara juga dibangun di tempat ini yang digunakan untuk menahan para pengungsi yang melakukan tindakan kriminal dan yang mencoba melarikan diri. 

Tidak jauh dari Humanity Statue, terdapat pemakaman Nghia-Trang Galang. Sekitar 503 pengungsi dimakamkan di sini. Kebanyakan dari mereka meninggal akibat penyakit yang diderita selama berlayar berbulan-bulan di laut lepas. Pemakaman itulah yang membuat para kerabat yang telah kembali ke Vietnam atau yang telah mendapat suaka di negara lain untuk bermukim masih kerap datang ke Pulau Galang untuk berziarah.

Selepas pamakaman Nghia-Trang Galang, kita akan menemui Monumen Perahu. Perahu-perahu ini adalah sebagian perahu asli yang benar-benar digunakan para pengungsi untuk mengarungi Laut Cina Selatan. Dan dalam perahu yang kecil ini, dipaksakan untuk memuat 40-100 orang selama berbulan-bulan. Tak terbayangkan bagaimana para ‘Manusia Perahu’ ini bisa bertahan untuk hidup. Perahu-perahu ini pernah dengan sengaja ditenggelamkan, bahkan sebagian perahu dibakar oleh para pengungsi sebagai bentuk protes atas kebijakan UNHCR dan Pemerintah Indonesia yang ingin memulangkan sekitar lima ribu pengungsi. Lima ribu pengungsi ini dipulangkan karena mereka tidak lolos tes untuk mendapatkan kewarganegaraan baru. Sepeninggal para pengungsi ini tahun 1995, Pemerintah Otorita Batam mengangkat perahu-perahu yang ditenggelamkan ke daratan, diperbaiki, dan dipamerkan ke publik sebagai benda bernilai sejarah.


Museum juga tersedia di lokasi wisata sejarah ini. Di dalam museum terdapat banyak pasfoto para pengungsi, foto keluarga, foto kegiatan para pengungsi, serta benda-benda rumah tangga yang dapat menggambarkan situasi kehidupan di Camp Vietnam. Selain museum juga terdapat bekas bangunan rumah sakit yang masih menyimpan kotak-kotak dan botol-botol obat yang dibiarkan terbengkalai begitu saja, bangkai-bangkai kendaraan roda empat yang sudah berkarat dan ditumbuhi tanaman rambat, serta bangunan-bangunan sekolah bahasa yang hanya terlihat sebagian karena mayoritas dindingnya sudah tertutup tanaman rimbun hingga atap. Sekolah bahasa ini dulunya digunakan Badan Penanganan Pengungsi PBB, UNHCR, untuk meningkatkan keterampilan bahasa para pengungsi. Sebelum mendapat suaka di negara ketiga, para pengungsi diwajibkan memiliki keterampilan khusus dan menguasai bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris dan Perancis. 


Tempat-tempat ibadah juga tersedia di dalam area pengungsian ini. Terdapat vihara, mushala, gereja Kristen, serta gereja Katolik. Semua bangunan tersebut masih orisinil. Hanya vihara yang baru saja diperbaiki dan dicat ulang sehingga terlihat mencolok di antara bangunan-bangunan tua lainnya. Keadaan ini berbanding terbalik dengan gereja Kristen yang hampir tidak terlihat dari jalanan karena yang tersisa hanya tinggal puing yang tersembunyi di balik pepohonan. Sedangkan bangunan mushola dan gereja Katolik masih berdiri tegak. Namun yang paling menarik adalah Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem karena ukurannya yang lumayan tinggi menjulang.

Untuk memasuki wilayah Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem ini kita harus melalui jembatan kayu yang keadaannya sudah terlihat lapuk namun ternyata masih bisa dilewati pejalan kaki dengan aman. Bagi yang membawa kendaraan roda empat atau roda dua, bisa melewati jembatan jembatan baru yang terbuat dari semen di samping gereja. Gereja ini setiap harinya dijaga oleh seorang Bapak Petugas yang ramah. Menurut pengakuan beliau, bangunan gereja ini termasuk interiornya masih asli. Hanya sebagian dinding yang pernah dicat ulang serta atap yang pernah diganti. Di bagian samping gereja ini juga terdapat patung-patung, di antaranya patung Bunda Maria yang menginjak bola dunia di dalam sebuah perahu. Di kanan-kirinya terdapat dua patung singa putih yang di punggungnya terdapat tulisan dalam bahasa Vietnam dan Inggris. Tulisan berbahasa Inggrisnya berbunyi sebagai berikut: “O Mary, we are all deeply grateful for your protecting presence on our way to freedom. We always entrust our lives to you. Your care for us will be highly appreciated in our heart forever.” Kalimat rasa syukur yang sangat dalam maknanya bagi para pengungsi yang berhasil dengan pantang menyerah berusaha menemukan harapan baru demi kehidupan yang lebih baik.

Begitulah kira-kira gambaran Camp Vietnam di Pulau Galang, Batam. Tempatnya yang sunyi, pepohonan rimbun, dan bangunan-bangunan terbengkalainya akan membuat siapapun yang berkunjung ke sana terhanyut membayangkan pilunya sejarah tempat ini. Semoga dengan dibukanya tempat ini sebagai kawasan wisata sejarah akan selalu mengingatkan kita semua untuk selalu menjaga kedamaian agar tidak akan terjadi lagi tragedi-tragedi kemanusiaan lainnya.

Sumber : http://tourismnews.co.id/category/destinations/menengok-camp-vietnam-sejarah-pilu-manusia-perahu-di-batam

MUSEUM KRETEK KUDUS

Museum Kretek yang diresmikan pada tanggal 3 Oktober 1986 oleh Soeparjo Rustam Gubernur Jawa Tengah merupakan satu-satunya museum kretek di Indonesia, bahkan di dunia.


Menelusuri sejarah rokok kretek di Kudus, bermula dari sosok H. Jamhari, karena deraan penyakit dada yang sering menyesakkan nafasnya, ia mencoba mengoleskan minyak cengkeh pada dada dan punggungnya. Kemudian H. Jamhari mencoba dengan cara lain, yakni cengkeh yang sudah dirajang dicampur dengan rempah-rempah dan ia linting menjadi batang rokok.


Banyaknya permintaan akan rokok racikannya, H. Jamhari membuat rokok dalam jumlah besar. Sejak saat itulah industri rokok terlahir. Dan rokok cengkeh yang diisap menimbulkan bunyi ”kretek-kretek”, khalayak kemudian menyebut rokok tersebut sebagai ”Rokok Kretek”.

Sejarah telah mencatat, industri rokok kretek Kudus mengalami masa keemasan ketika Mas Niti Semito seorang tokoh kretek mengembangkan industri kretek dengan merek ”Bal Tiga”. Hal-hal yang dapat diteladani dari Mas Niti Semito adalah seorang pribumi buta aksara mampu mengelola perusahaan dengan jumlah karyawan mencapai 10.000 lebih pada masa itu (tahun 1906), belum termasuk karyawan sistem abon. Pertumbuhan industri kretek di Kudus berkembang pesat ditandai dengan berdirinya Pabrik Kretek Goenoeng Kedoe, Tebu dan Cengkeh, Delima, Jangkar, Garbis dan Manggis, Sukun, Nojorono, Jambu Bol, dll, serta pada tahun 1951 berdiri pabrik Rokok Djarum.

Sambil berwisata di Museum Kretek pengunjung dapat mempelajari tentang evolusi peradaban manusia khususnya evolusi peradaban kebudayaan lokal berupa kretek. Industri kretek asal mula diproduksi secara tradisional dan berskala kecil. kemudian sejalan dengan perkembangan pola pikir manusia sebagai pelaku, Industri Kretek di produksi dengan teknologi modern /mesin.

Keberadaan Museum Kretek yang terletak di Jalan Getas Pejaten Kudus, mulai tahun 2008 dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas:

1. Waterboom
Dengan tiga slide yaitu, spiral waterslide, torpedo waterslide serta manuver waterslide, waterboom Museum Kretek memanjakan anda sekaligus menguji adrenalin. 
HTM. Rp. 15.000,- (include bermain di kolam arus dengan perahu kayak).


2. Ember Tumpah 
Pesta air yang dipadukan dengan nuansa air tumpah menambah keceriaan anak-anak anda.
HTM. Rp. 5000,- /orang


3. Mini Movie
Suguhan film dokumenter berjudul Kudus Kota Kretek, pengunjung dapat menyimak sejarah Kudus sebagai penghasil kretek. Kapasitas tempat duduk 20 kursi cocok untuk dinikmati bersama keluarga.
HTM. Rp. 20.000,- sekali putar untuk 20 orang.


4. Fasilitas Penunjang lainnya
Rumah Pamer Joglo Pencu
Rumah adat Kudus yang disebut juga Oemah Pencu mempunyai nilai penting bagi sejarah karena keunikan dan gaya khas yang dimilikinya, dindingnya terbuat dari kayu jati pilihan dan diukir gaya khas 3 dimensi. Jumlahnya sangat terbatas dan jenisnya sangat langka, maka rumah adat Kudus ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya yang harus dilindungi dan dilestarikan. Rumah adat Kudus memiliki 3 bidang ruang yaitu Joglo satru, Gedongan, dan Pawon. Rumah Adat Kudus bisa menjadi wisata edukatif untuk semua kalangan.


5. Taman Bermain anak-anak

6. Mushola

7. Kios Kuliner dan Souvenir

8. Kantin

9. Area Parkir