Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Sejarah Patung Jenderal Sudirman Jakarta

Sebuah patung megah patung Jenderal Sudirman mewarnai Ibu Kota Jakarta. Patung berukuran 12 meter itu terdiri atas, tinggi patung 6,5 meter dan voetstuk atau penyangga 5,5 meter, terletak di kawasan Dukuh Atas, tepatnya depan Gedung BNI, di tengah ruas jalan yang membelah Jalan Sudirman dan berbatasan dengan Jalan Thamrin. Patung ini terbuat dari perunggu seberat 4 ton dengan anggaran sebesar Rp 3,5 miliar dan dikerjakan oleh seniman sekaligus dosen seni rupa Institut Teknologi Bandung, Sunario.



Sosok Jenderal Sudirman digambarkan berdiri kokoh menghormat dan kepala sedikit mendongak ke atas untuk memberi kesan dinamis. Karena berdiri di tengah kawasan yang penuh dengan beragam aktivitas, patung sengaja didesain sederhana dan tidak memerlukan banyak rincian.




Rencana pembangunan patung Sudirman dan sejumlah patung yang akan menghiasi jalan protokol sesuai nama jalan mencuat pada September 2001. Rencana itu merupakan realisasi sayembara patung pahlawan yang dilakukan tahun 1999. Lokasi patung merupakan satu garis lurus yang berujung dari Patung Pemuda Membangun di Kebayoran sampai tugu Monumen Nasional.



Biaya pembangunan patung yang menelan dana Rp 6,6 miliar berasal dari pengusaha, bukan dari APBD DKI. Sebagai kompensasinya pengusaha mendapat dua titik reklame di lokasi strategis, Dukuh Atas. Sementara yang menentukan penyandang dana diserahkan kepada keluarga Sudirman. Pengusaha yang telah ditunjuk mendanai pembangunan patung, yakni PT. Patriamega. Sebagai kompensasinya, PT. Patriamega memperoleh dua titik reklame di lahan strategis di Dukuh Atas, yakni di titik A dan 6B. Bagi kalangan penyelenggara reklame, titik tersebut adalah sangat strategis dan nilai jualnya paling mahal.



Menurut rencana patung Jenderal Sudirman sedianya akan diresmikan 22 Juni 2003 bertepatan HUT ke-476 Jakarta, namun tidak terealisasi. Peresmian akhirnya dilaksanakan tanggal 16 Agustus 2003. Peresmian sempat diwarnai unjuk rasa sekelompok pemuda. Panglima Besar Kemerdekaan RI yang seharusnya menjadi simbol semangat perjuangan bangsa Indonesia kini telah pudar makna kepahlawanannya. Karena Jenderal Sudirman digambarkan sedang dalam posisi menghormat. Posisi patung dianggap tidak pada tempatnya karena sebagai Panglima Besar, Sudirman tidak selayaknya menghormat kepada sembarang warga yang melintasi jalan, yang justru seharusnya menghormati. Hal ini pula yang sempat diangkat dalam film Nagabonar 2. Meski demikian Gubernur DKI Jakarta didampingi Kepala Dinas Pertamanan DKI dan salah satu keluarga besar Jenderal Sudirman, Hanung Faini, tetap meresmikan berdirinya Patung Jenderal Sudirman itu.



Jenderal Sudirman adalah pemimpin pasukan gerilya pada masa perang kemerdekaan (1945-1949). Ia menyandang anugerah Panglima Besar. Jasa dan pengabdiannya kepada bangsa dan negera layak dikenang dan diabadikan.



sumber : http://blog-ansyari.blogspot.com/2012/05/sejarah-patung-jenderal-sudirman.html
Sejarah Monas (Monumen Nasional) Jakarta

Sejarah Monas (Monumen Nasional) Jakarta

Mengenal Lebih Dalam Tentang Monas. Bagi warga negara Indonesia dan warga Jakarta khususnya, Monumen Nasional yang lazim disebut Tugu Monas sudah tidak asing lagi. Berada tepat di jantung ibukota negara dan pemerintahan Republik Indonesia, Tugu Monas menjulang tinggi mengalahkan kemegahan bangunan-bangunan di sekelilingnya.


Menurut sejarahnya, bangunan setinggi 128,70 meter ini dibangun pada era Presiden Sukarno, tepatnya tahun 1961. Awalnya, sayembara digelar oleh Sukarno untuk mencari lambing yang paling bagus sebagai ikon ibukota negara. Sang Presiden akhirnya jatuh hati pada konsep Obelisk yang dirancang oleh Friederich Silaban. Namun saat pembangunannya, Sukarno merasa kurang sreg dan kemudian menggantinya dengan arsitek Jawa bernama Raden Mas Soedarsono. Sukarno yang seorang insinyur mendiktekan gagasannya kepada Soedarsono hingga jadilah Tugu Monas seperti yang dapat kita saksikan saat ini.

Proyek mercusuar pembangunan Monumen Nasional tersebut sesungguhnya dilakukan saat kondisi keuangan negara dalam masa kritis yang sangat hebat. Pada saat itu, Sukarno juga tengah mengerjakan proyek lainnya yang mungkin dianggap lebih ‘mulia’, yakni pembangunan Masjid Istiqlal, masjid terbesar se-Asia Tenggara. Dihadapkan pada pilihan sulit, akhirnya Sukarno lebih memilih merampungkan proyek Tugu Monas daripada rumah Allah tadi. Uniknya, kedua proyek besar tersebut selesai saat Presiden Sukarno sudah tidak berkuasa lagi pasca pemberontakan G 30 S PKI.

5 Hal Yang Harus Diketahui Tentang Monas :
1. Ukuran dan Isi Monas
Monas dibangun setinggi 132 meter dan berbentuk lingga yoni. Seluruh bangunan ini dilapisi oleh marmer.

2. Lidah Api
Di bagian puncak terdapat cawan yang di atasnya terdapat lidah api dari perunggu yang tingginya 17 meter dan diameter 6 meter dengan berat 14,5 ton. Lidah api ini dilapisi emas seberat 45 kg. Lidah api Monas terdiri atas 77 bagian yang disatukan.

3. Pelataran Puncak
Pelataran puncak luasnya 11x11 m. Untuk mencapai pelataran puncak, pengunjung bisa menggunakan lift dengan lama perjalanan sekitar 3 menit. Di sekeliling lift terdapat tangga darurat. Dari pelataran puncak Monas, pengunjung bisa melihat gedung-gedung pencakar langit di kota Jakarta. Bahkan jika udara cerah, pengunjung dapat melihat Gunung Salak di Jawa Barat maupun Laut Jawa dengan Kepulauan Seribu.

4. Pelataran Bawah
Pelataran bawah luasnya 45x45 m. Tinggi dari dasar Monas ke pelataran bawah yaitu 17 meter. Di bagian ini pengunjung dapat melihat Taman Monas yang merupakan hutan kota yang indah.

5. Museum Sejarah Perjuangan Nasional
Di bagian bawah Monas terdapat sebuah ruangan yang luas yaitu Museum Nasional. Tingginya yaitu 8 meter. Museum ini menampilkan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Luas dari museum ini adalah 80x80 m. Pada keempat sisi museum terdapat 12 diorama (jendela peragaan) yang menampilkan sejarah Indonesia dari jaman kerajaan-kerajaan nenek moyang Bangsa Indonesia hingga G30S PKI.

Sukarno yang terkenal flamboyan saat itu lebih memilih Monas karena merupakan simbol phallus raksasa. Tidak aneh jika simbol ibukota negaranya adalah simbol kejantanan seorang pria (phallus). Sukarno adalah seorang visioner yang tidak tanggung-tanggung dan berpandangan jauh ke depan. Dia tidak membiarkan pembangunan phallus/lingga sendirian. Saat bersamaan, dia juga memerintahkan pembangunan ‘pasangannya’, yakni Yoni sebagai simbol perempuan, tepat di atas Monas. Jadilah Monas seperti yang terlihat sekarang, sebuah bangunan lambing penyatuan Lingga dan Yoni, simbol laki-laki dan perempuan.

Menurut penuturan Dan Brown dalam novel fenomenalnya, penyatuan Lingga dan Yoni merupakan ritus purba seksual, Persetubuhan Suci (The Sacred Sextum). Ini adalah ritual tertinggi bagi kelompok-kelompok penganut Luciferian (penyembah setan) seperti halnya Ksatria Templar dan Freemasonry.

Monas adalah The Sacred Sextum
Tugu Monas hanyalah salah satu dari obelisk-obelisk lain yang tersebar di pusat-pusat kota seluruh dunia. Obelisk tertua berasal dari kebudayaan Mesir Kuno, simbol menjulang menuju dewa tertinggi bangsa pagan purba (dan modern). Selain Kairo dan Jakarta, obelisk asli Mesir dapat kita saksikan di ibukota penguasa dunia saat ini, Washington DC Amerika Serikat. Lokasinya tepat di depan Capitol Hill tempat presiden-presiden Amerika terpilih mengucapkan sumpahnya secara turun-temurun. Obelisk atau phallus juga bisa kita jumpai tepat di tengah lapangan Basilika Santo Petrus, Vatican City, negara tempat pemimpin umat Katholik Roma sejagat raya. Phallus modern juga dapat berupa obelisk baja yang menjulang di tengah-tengah ibukota Perancis, Paris berupa Menara Eiffel.

Obelisk adalah simbol kejantanan, kekuatan, dan kekuasaan
Jika kita cermati bersama, keberadaan Tugu Monas di jantung ibukota negara Republik Indonesia adalah sebuah ejekan tak kentara terhadap sila pertama Pancasila. Monas adalah lambang Persetubuhan Suci yang dilakukan tanpa malu-malu di sekeliling rumah Tuhan. Dia mengejek Gereja Imanuel, dia mengejek Gereja Katedral, dan dia juga mengejek Masjid Istiqlal. Terhadap rumah Tuhan-rumah Tuhan yang mengelilinginya, Monas seakan mencibir, “Lihatlah aku, aku lebih tinggi dan lebih megah ketimbang kalian, dan yang pasti pengikutku lebih banyak dari penghuni kalian, hahahaha...”

Dan memang ada benarnya, Monas adalah simbol dari tabiat bangsa ini dari waktu ke waktu yang semakin tidak memiliki rasa malu. Di bawah naungannya, di antara rindangnya pepohonan dan rimbunnya semak-semak di sekitarnya, tidak siang tidak malam, banyak manusia yang melakukan ritus purba seperti yang ditunjukkan penyatuan Lingga dan Yoni, Monas. Kebanyakan pelakunya adalah muda-mudi yang tidak tahu diri dan tidak memiliki harga diri lagi.

Dan, rahasia Tugu Monas yang barangkali tidak dapat kita rasakan hingga saat ini adalah bentuk piramida silang Monas jika dilihat dari udara.

Sebelum adanya aplikasi Google Earth, tak banyak manusia yang dapat menyaksikan simbol pagan masyarakat purba (dan modern) dengan seksama seperti saat ini. Sebagai perbandingan, arahkan kursor peta Google Earth tepat di atas Piramida Giza di Kairo, Mesir. Kemudian alihkan kursor ke kota Jakarta tepat di atas komplek Tugu Monas. Jika silang Monas yang tampak dari atas tersebut kita anggap sebagai sisi-sisi piramida dan Tugu Monas yang berada tepat di tengahnya sebagai puncak piramida, terlihat ada kesamaan bentuk dan konsep antara Piramida Giza di Mesir dan ‘Piramida Monas’di Indonesia.

Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) - Kediri

Lokasi Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) berada di Desa Tugurejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa  Timur. Jaraknya sekitar 6 km arah timur dari Kota Kediri atau searah dengan jalan raya menuju kota Pare.

alamat slg kediri
Monumen Simpang Lima Gumul Nampak siang dan malam

Monumen Simpang Lima Gumul memiliki luas 804 m2 dan tinggi 25 m. Berada di tengah-tengah jalur jalan melingkar, yang merupakan persimpangan jalan menuju lima arah berbeda. Arah selatan menuju ke Wates/Gunung Kelud, Timur Ke Gurah, Utara ke Pagu, Timur laut ke Pare, dan arat Barat ke Kota Kediri.

alamat simpang lima gumul kediri
Lorong bawah tanah menuju Monumen SLG
Pintu Masuk dari Lokasi Parkir Kendaraan

relief sejarah kediri di monumen simpang lima gumul
Ukiran relief dan patung di beberapa titik

makanan yang dijual di simpang lima gumul kediri
Pasar Minggu Monumen Simpang Lima Gumul,
ramai pengunjung di akhir pekan

Monumen yang pembangunannya digagas oleh Bapak Sutrisno, bupati Kediri saat itu, menjadi ikon dan gerbang wisata menuju kabupaten Kediri. Selain itu juga menjadi sentra perekonomian untuk kemajuan wilayah Kediri. Seperti terlihat setiap akhir pekan, di sekitar area Monumen Simpang Lima Gumul, terdapat pasar minggu yang selalu rame dengan pengunjung.

Arc de triomphe nya Indonesia

Anda pernah ke Kota Paris? Di kota Paris terdapat monumen yang sangat terkenal, yaitu Arc de triomphe atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Gapura Kemenangan. Monumen Arc de triomphe terletak di bukit Chaillot dan berdiri di tengah area Place de I'Etoile, di ujung barat wilayah Champs-Elysees. Posisinya berada di tengah konfigurasi persimpangan jalan raya berbentuk bintang lima. Dibangun atas  perintah Napoleon Bonaparte dengan tujuan untuk menghormati jasa tentara kebesarannya.

arc de triomphe dan slg
Arc de Triomphe Paris dan Simpang Lima Gumul Kediri
Posisinya jika dilihat dari citra satelit

Nah untuk dapat menyaksikan keindahan dan kemegahan monumen Arc de triomphe dari dekat, sepertinya anda tidak perlu jauh-jauh ke Paris. Coba anda perhatikan bentuk dan posisi Monumen simpang lima gumul Kediri, sangat mirip. Saat anda berada disana, akan berasa sedang di Arc de triomphe Paris. Tak perlu ongkos mahal dan perjalan jauh, sudah bisa menikmati kemegahan dan keindahan  Arc de Triomphe dari dekat, ala Kediri. 

kesamaan simpang lima gumul dan arc de triomphe paris
Arc de Triomphe Paris dan Simpang Lima Gumul Kediri

Seperti gambar diatas, dari bentuk dan posisinya bisa dibilang memiliki citarasa seni serupa. Istilah kata “Tak lihat Arc de Triomphe, Simpang Lima Gumul pun jadi”, miripkan? Buruan yang ingin berwisata ke Paris lewat Kediri.

Sumber:
Lokasi Monumen Simpang Lima Gumul Kediri
http://wongcrewchild.blogspot.com/2015/01/monumen-simpang-lima-gumul-slg-kediri.html

BENTENG MARTELLO DI PULAU KELOR

Sesuai dengan namanya, Pulau Kelor memang hanya selebar daun kelor. Luasnya tak lebih dari dua hektar. Daratan kecil tak berpenghuni ini hanya terdiri dari selarik pantai mini dan bangunan Benteng Martello.

Benteng Martello adalah benteng bulat dari bata yang dibuat dengan meniru benteng Mortella di Corsica (sebuah pulau di Laut Tengah). Dulu, Pulau Kelor adalah garda terdepan untuk mempertahankan Batavia dari serangan angkatan laut musuh yang menyerang dari samudera. Penjaga pulau akan memantau wilayah laut di depannya dan mengabarkan pada Batavia jika kapal musuh menampakkan diri di cakrawala.

Konstruksi Benteng Martello di Pulau Kelor, Kepulauan Seribu. Foto: Famega Syavira

Masyarakat sekitar juga menyebut pulau ini sebagai Pulau Kuburan. Konon beberapa pemberontak memang dimakamkan di sekitar benteng. Salah satunya adalah pemberontak yang melawan Belanda dari atas kapal Zeven Provincien pada Februari 1933. Sayang, kini setengah bagian luar benteng tertutup semak-semak sehingga tak mudah dijelajahi.

Bangunan benteng yang asli sebenarnya jauh lebih luas daripada yang bisa disaksikan sekarang. Benteng yang tersisa hanya bagian dalamnya. Sebagian besar benteng runtuh dan terendam air karena abrasi yang mengikis pulau.

Ketiga pulau ini dapat dicapai dari Pelabuhan Kamal Muara, Muara Angke dan Marina, Ancol. Dua pelabuhan yang saya sebut pertama adalah pelabuhan rakyat yang becek dan kotor.

Lautnya? Jangan tanya lagi. Untuk menuju pulau-pulau itu, kapal harus melewati laut berbau busuk, berwarna hitam kental akibat polusi. Beberapa kali kapal harus berhenti di tengah laut karena sampah tersangkut ke baling-balingnya. Ketika saya ke sana, baling-baling terlilit semacam senar panjang yang sulit dilepaskan.

Setelah setengah jam perjalanan, warna hitam berangsur-angsur menghilang meski air tetap tak biru. Di Pulau Kelor yang berjarak 15 menit dari pesisir Jakarta, air laut masih tampak kotor sehingga tak disarankan untuk mandi-mandi di sini.

Laut biru di Teluk Jakarta setidaknya baru akan muncul di sekitar pulau Pramuka. Meski demikian, Kepulauan Seribu bisa menjadi pilihan alternatif perjalanan yang singkat dan menyenangkan bagi warga Jakarta. 

Sumber: http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/113-kuburan-di-pulau-kelor

WISATA SEJARAH DI KOTA TUA JAKARTA


Kota Tua Jakarta atau yang dikenal juga dengan nama Oud Batavia merupakan sebuah wilayah di Jakarta yang cukup kecil. Luas wilayah Kota Tua hanya sekitar 1,3 km persegi yang melintasi Jakarta Pusat dan Jakarta Barat.

kota tua jakarta

Berdasarkan sejarah, pada tahun 1526 Fatahillah dikirim oleh Kerajaan Demak untuk menyerang Sunda Kelapa yang dikuasai oleh Kerajaan Hindu Pajajaran. Setelah Sunda Kelapa berhasil ditundukkan, kemudian tempat ini diberi nama Jayakarta. Namun pada tahun 1619 VOC menghancurkan Jayakarta di bawah komando JP Coen. Dalam selang waktu satu tahun kemudian VOC membangun kota baru yang berpusat di tepi timur Sungai Ciliwung dan diberi nama Batavia.

Pada tahun 1635 Kota Batavia meluas hingga tepi barat Sungai Ciliwung yang dulu merupakan bekas reruntuhan Jayakarta. Gaya arsitektur bangunan-bangunan disini sangat kental dengan nuansa Belanda yang dilengkapi dengan benteng, dinding kota, dan kanal-kanal. Pembangunan Batavia baru selesai pada tahun 1650 dan menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur. Batavia kemudian menjadi pusat administratif Hindia Timur Belanda hingga tahun 1942. Pada masa pendudukan Jepang, nama Batavia diganti menjadi Jakarta hingga sekarang. 

Gedung-gedung peninggalan masa pendudukan Belanda di Jakarta saat ini masih bisa dilihat di kawasan Kota Tua Jakarta, salah satunya adalah yang sebelumnya saya datangi yaitu Stasiun Jakarta Kota. Saat ini kawasan Kota Tua ditetapkan sebagai warisan budaya dan jadikan tempat wisata serta tempat belajar sejarah yang menarik.

Sebagai kawasan wisata, Kota Tua Jakarta dibagi menjadi lima zona. Zona 1 merupakan area Sunda Kelapa yang terdiri dari Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari, Menara Syahbandar, dan Gudang VOC. Zona 2 merupakan area Fatahillah yang di sekitarnya terdapat Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Wayang, Museum Fatahillah, Stasiun Jakarta Kota dan lain-lain. Selain itu ada zona 3 yang merupakan kawasan pecinan, zona 4 adalah kawasan pekojan, dan zona 5 merupakan kawasan peremajaan sebagai pusat niaga dan kuliner.



Kalian ingin berwisata ke Kota Tua? Nah, pusat keramaian Kota Tua Jakarta terletak di depan Museum Fatahillah atau yang biasa juga disebut dengan Museum Sejarah Jakarta. Ini berarti berada di zona 2. Tepat di halaman museum tersebut sudah terpancar aura keramaian *halah*. Mulai dari sepeda warna-warni yang berjejer untuk disewakan, pengunjung yang berlalu-lalang baik dengan jalan kaki maupun bersepeda, hingga pedagang kaki lima yang menjual souvenir, makanan, dan minuman. Selain itu terdapat pula seniman-seniman jalanan yang menghibur para pengunjung.



Halaman yang cukup luas ini setidaknya di kelilingi tiga buah museum yaitu Museum Fatahillah, Museum Wayang, serta Museum Seni Rupa dan Keramik. Kegiatan yang umum dilakukan di Kota Tua tentu saja berkunjung dari satu museum ke museum yang lainnya. Salah satu tujuannya adalah untuk mempelajari sejarah Jakarta atau paling tidak bagaimana seluk-beluk Kota Tua Jakarta.

Sumber : http://www.wijanarko.net
SARINAH MALL - MALL TERTUA DI INDONESIA

SARINAH MALL - MALL TERTUA DI INDONESIA



Sarinah didirikan pada tanggal 17 Agustus 1962 atas gagasan mendiang Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia.

sarinah dept storeSarinah diambil dari nama pengasuh Ir. Soekarno. Nama Sarinah berkonotasi dengan nama seorang wanita dari Golongan masyarakat rendah Pada awalnya Sarinah diharapkan akan menjadi stimulator, mediator, stabilator dan pelopor bagi pengembangan usaha ritel modern Indonesia. 

Pada tanggal 17 Agustus 2012 genap 50 tahun usia PT. Sarinah (Persero) Setengah abad sudah Sarinah menorehkan sejarah ritel di Indonesia Sarinah bukan saja pelopor dalam bisnis ritel berskala besar di Indonesia, namun Sarinah adalah manik-manik pertama yang menghiasi jantung kota Jakarta, memancarkan gemerlap cahayanya.

Selama itu pula tiada henti Pengabdian Sarinah terhadap para pelaku Usaha Kecil dan Menengah. Sarinah membawa harkat dan martabat para pengrajin nusantara ke tingkat dunia.

Sumber : www.sarinah.co.id

SEJARAH ASAL USUL ONDEL-ONDEL


Di Pasundan dikenal dengan sebutan Badawang, di Jawa Tengah disebut Barongan Buncis, sedangkan di Bali lebih dikenal dengan nama Barong Landung. Menurut perkiraan jenis pertunjukan itu sudah ada sejak sebelum tersebarnya agama Islam di Pulau Jawa.

Semula ondel-ondel berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang gentayangan. Dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat atau untuk penyambutan tamu terhormat, misainya pada peresmian gedung yang baru selesai dibangun. Betapapun derasnya arus modernisasi, ondel-ondel ternyata masih tetap bertahan dan menjadi penghias wajah kota metropolitan Jakarta.

Adapun sejarah dari Ondel-ondel sebagai berikut :
Ondel-ondel adalah pertunjukan rakyat yang sudah berabad-abad terdapat di Jakarta dan sekitarnya, yang dewasa ini menjadi wilayah Betawi. Walaupun pertunjukan rakyat semacam itu terdapat pula di beberapa tempat lain seperti di Priangan dikenal dengan sebutan Badawang, di Cirebon disebut Barongan Buncis dan di Bali disebut Barong Landung, tetapi ondel-ondel memiliki karakteristik yang khas. Ondel-ondel tergolong salah satu bentuk teater tanpa tutur, karena pada mulanya dijadikan personifikasi leluhur atau nenek moyang, pelindung keselamatan kampung dan seisinya. Dengan demikian dapat dianggap sebagai pembawa lakon atau cerita, sebagaimana halnya dengan “bekakak” dalam upacara “potong bekakak” digunung gamping disebelah selatan kota Yogyakarta, yang diselenggarakan pada bulan sapar setiap tahun.

Ondel-ondel berbentuk boneka besar dengan rangka anyaman bambu dengan ukuran kurang lebih 2,5M, tingginya dan garis tengahnya kurang dari 80 cm. Dibuat demikian rupa agar pemikulnya yang berada didalamnya dapat bergerak agak leluasa. Rambutnya dibuat dari ijuk,”duk” kata orang Betawi. Mukanya berbentuk topeng atau kedok, dengan mata bundar (bulat) melotot.

Ondel-ondel yang menggambarkan laki-laki mukanya bercat merah, yang menggambarkan perempuan bermuka putih atau kuning. Ondel-ondel biasanya digunakan untuk memeriahkan arak-arakan, seperti mengarak pengantin sunat dan sebagainya. Lazimnya dibawa sepasang saja, laki dan perempuan. Tetapi dewasa ini tergantung dari permintaan yang empunya hajat. Bahkan dalam perayaan-perayaan umum seperti ulang tahun hari jadi kota Jakarta, biasa pula dibawa beberapa pasang, sehingga merupakan arak-arakan tersendiri yang cukup meriah.

Musik pengiring ondel-ondel tidak tertentu, tergantung masing-masing rombongan. Ada yang diiringi Tanjidor, seperti rombongan ondel-ondel pimpinan Gejen, kampung Setu. Ada yang diiringi gendang pencak Betawi seperti rombongan “Beringin Sakti” pimpinan Duloh (alm), sekarang pimpinan Yasin, dari Rawasari. Adapula yang diiringi Bende, “Kemes”, Ningnong dan Rebana Ketimpring, seperti rombongan ondel-ondel pimpinan Lamoh, kalideres.

Disamping untuk memeriahkan arak-arakan pada masa yang lalu biasa pula mengadakan pertunjukan keliling, “Ngamen”. Terutama pada perayaan-perayaan Tahun Baru, baik masehi maupun Imlek. Sasaran pada perayaan Tahun Baru Masehi daerah Menteng, yang banyak dihuni orang-orang Kristen.Pendukung utama kesenian ondel-ondel petani yang termasuk “abangan”, khususnya yang terdapat di daerah pinggiran kota Jakarta dan sekitarnya.

Pembuatan ondel-ondel dilakukan secara tertib, baik waktu membentuk kedoknya demikian pula pada waktu menganyam badannya dengan bahan bambu. Sebelum pekerjaan dimulai, biasanya disediakan sesajen yang antara lain berisi bubur merah putih, rujak-rujakan tujuh rupa, bunga-bungaan tujuh macam dan sebagainya, disamping sudah pasti di bakari kemenyan. Demikian pula ondel-ondel yang sudah jadi, biasa pula disediakan sesajen dan dibakari kemenyan, disertai mantera-mantera ditujukan kepada roh halus yang dianggap menunggui ondel-ondel tersebut. Sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanan, bila akan berangkat main, senantias diadakan sesajen. Pembakaran kemenyan dilakukan oleh pimpinan rombongan, atau salah seorang yang dituakan. Menurut istilah setempat upacara demikian disebut “Ukup” atau “ngukup”.

Sumber : jakartapunyasouvenir.blogspot.com
FAKTA DAN KISAH DIBALIK PATUNG-PATUNG DI JAKARTA

FAKTA DAN KISAH DIBALIK PATUNG-PATUNG DI JAKARTA


Banyak kisah maupun fakta menarik dibalik pembuatan patung-patung di kota Jakarta. Seperti yang kita kenal saat ini, ada beberapa tugu atau patung yang keberadaannya terkenal di Jakarta, antara lain Patung Dirgantara, Patung Selamat datang, patung Arjuna wijaya, patung pahlawan, dan lain sebagainya.

Ada fakta dan kisah menarik dibalik patung-patung tersebut. Saya akan membahasnya di kesempatan kali ini, khususnya bagi anda yang belum mengetahuinya.

1. Fakta Patung Arjuna Wijaya atau Patung Asta Brata

Patung Arjuna Wijaya-Patung Asta Brata

Patung Arjuna Wijaya ini dibangun pada bulan Agustus 1987. Patung ini menggambarkan sosok Arjuna dalam perang Baratayudha yang kereta perangnya ditunggangi oleh Batara Kresna. Adegan patung karya pematung Nyoman Nuarta itu diambil dari fragmen saat mereka melawan Adipati Karna. Oleh orang-orang jakarta, patung ini biasa dikenal dengan nama Patung kuda setan, atau juga Patung delman.

Kereta pada patung tersebut ditarik oleh delapan kuda, yang melambangkan delapan ajaran kehidupan yang diidolakan oleh Presiden Soeharto. Asta Brata itu meliputi falsafah hidup yang mengajarkan kita harus mencontoh bumi, matahari, api, bintang, samudra, angin, hujan dan bulan. Di bagian patung itu menempel prasasti yang bertuliskan “Kuhantarkan kau melanjutkan perjuangan dengan pembangunan yang tidak mengenal akhir”.

Proses pembuatan patung ini pernah mengalami keterbatasan dana, sehingga patung itu dibuat dari bahan poliester resin yang punya kelemahan mudah rapuh jika terkena sinar ultraviolet. Sampai dengan tahun 2003, patung Arjuna Wijaya mengalami kerusakan, sehingga akhirnya patung ini direnovasi kembali dengan menelan biaya 4M. Bahan material patung itu sendiri diganti dengan bahan tembaga.

2. Fakta Patung Dirgantara

patung pancoran

Patung dirgantara biasa dikenal dengan  nama plesetannya, yakni patung pancoran, patung “hey kamu”, bahkan ada yang menyebutnya sebagai patung superman. Patung yang berada di daerah pancoran ini dirancang oleh Edhi Sunarso sekitar tahun 1964 – 1965 dengan bantuan dari Keluarga Arca Yogyakarta atas permintaan Bung Karno. Tujuan dari pembuatan patung ini adalah untuk menampilkan keperkasaan dan kekuatan angkatan udara bangsa Indonesia.

Patung Dirgantara ini menghadap ke Utara dengan tangannya mengacung ke bekas Bandar Udara Internasional Kemayoran. Lokasinya dekat dengan Markas Besar Angkatan Udara di Selatannya dan Bandar Udara Domestik Halim Perdana Kusuma di Tenggaranya. Karena bertempat di kawasan Pancoran makanya patung ini sering dibilang patung Pancoran.
Ada kisah yang beredar, bahwa Indonesia pernah mengalami kekurangan anggaran untuk biaya pembuatan patung ini, sehingga Presiden Soekarno harus rela menjual mobilnya untuk membiayai kekurangannya.

3. Fakta Patung Selamat Datang

patung selamat datang

Patung Selamat Datang dibangun untuk menyambut para atlet peserta Asian Games IV tahun 1962. Patung ini berada di depan Hotel Indonesia dengan posisi berdiri persis di atas air mancur bundaran HI. Patung perunggu ini dibuat oleh Edhi Sunarso, dan dirancang bersama dengan Henk Ngantung mantan Gubernur Jakarta. Sesuai sama namanya, patung ini dibangun untuk memberikan salam selamat datang bagi para pendatang. Posisi patung yang menghadap ke arah kota (utara) juga menunjukan daerah kota berperan sebagai pusat bisnis, perdagangan, dan pendatang dari pelabuhan saat itu.

Disekitar patung ini terdapat lima formasi Air Mancur yang dijadikan simbol ideologi Negara Republik Indonesia, Pancasila. Simbol ini juga berperan untuk memberikan salam kepada kota Jakarta sebagai kota Ibu Negara dan Kota Metropolitan dengan formasi ucapan Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Petang, Selamat Malam dan Selamat Hari Minggu. Orang-orang jakarta biasa menyebut patung selamat datang sebagai patung jali-jali atau patung HI

4. Fakta Patung Pemuda Membangun

Patung Pemuda Membangun

Pizza Man atau Patung Laki-laki bawa obor, begitulah orang-orang menamainya. Patung ini dibangun sebagai penghargaan untuk pemuda dan pemudi dalam keikut sertaannya pada pembangunan Indonesia. Patung ini dilambangkan dengan seorang pemuda gagah dan kuat yang sedang memegang piring berisi api yang tak pernah padam sebagai perwujudan semangat pembangunan yang tak pernah mati.

Saat pembangunannya, patung ini direncanakan selesai pada Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1971, namun karena pembangunan belum selesai akhirnya diresmikan pada bulan Maret 1972. Patung ini terletak di Bunderan Senayan, tempat strategis sebagai titik temu antara Senayan sebagai pintu gerbang Jakarta Pusat dengan area Jakarta Selatan.

5. Fakta Patung Pahlawan

Patung Pahlawan

Patung ini dibuat sebagai bentuk penghargaan kepada para pejuang kemerdekaan Indonesia, yang dilambangkan dengan seorang laki-laki yang memakai caping (topi pak tani) menyandang senapan dan sedang meminta restu pada wanita yang ada disisinya untuk maju ke medan perang. Disebabkan karena topi capingnya itulah, maka orang-orang biasa menyebut patung ini dengan sebutan patung pak tani.

Ide patung ini dimulai saat presiden Soekarno melakukan perjalanan ke kota Moskow dan beliau terkesan dengan patung-patung yang ada disana. Saat itu presiden Russia mengenalkan presiden Soekarno ke salah satu seniman yang bernama Matvei Manizer dan anaknya Otto Manizer.

Mereka pun kemudian diundang ke Indonesia untuk membuat patung yang melambangkan semangat kemerdekaan. Disinilah kedua pematung itu berkelana dan menemukan legenda Jawa Barat yang berkisah tentang seorang Ibu yang mengiringi anaknya untuk pergi berperang. Sang Ibu memberikan semangat supaya sang anak memenangkan setiap peperangan dan selalu ingat dengan orang tua dan negaranya. Patung perunggu ini dibuat di Rusia dan dibawa ke Indonesia dengan menggunakan kapal laut, dan kemudian diresmikan pada tahun 1963 oleh Presiden Soekarno. Pada papan di monumennya tertulis: “Bangsa yang menghargai pahlawannya adalah bangsa yang besar”.

SEJARAH ANCOL (TAMAN IMPIAN JAYA ANCOL)


Sebagai kawasan wisata, Taman Impian Jaya Ancol ternyata sudah berdiri sejak abad ke-17.
Waktu itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Adriaan Valckenier, memiliki rumah peristirahatan sangat indah di tepi pantai. Seiring perjalanan waktu, kawasan itu kemudian berkembang menjadi tempat wisata.

Sayangnya, ketika Perang Dunia II meletus disusul perang kemerdekaan, Ancol terlupakan.
Sungai Ciliwung secara leluasa menumpahkan air dan lumpurnya ke sana sehingga mengubah kawasan tersebut menjadi kotor, kumuh, dan berlumpur. Kawasan yang semula cantik, berubah menjadi menyeramkan bagaikan ‘tempat jin buang anak’.

Lalu, muncul usulan agar kawasan itu difungsikan menjadi daerah industri. Namun, usul itu ditolak mentah-mentah oleh Presiden Soekarno. Malah, Bung Karno ingin membangun kawasan itu sebagai daerah wisata. Lewat Keputusan Presiden pada akhir Desember 1965, Bung Karno memerintahkan kepada Gubernur DKI Jaya waktu itu, dr. Soemarno, sebagai pelaksana pembangunan proyek Taman Impian Jaya Ancol. Proyek pembangunan ini baru terlaksana di bawah pimpinan Ali Sadikin yang ketika itu menjadi Gubernur Jakarta. Pembangunan Ancol dilaksanakan oleh PD Pembangunan Jaya di bawah pimpinan Ir. Ciputra.

Sebagai salah satu lokasi tujuan wisata, nama Ancol bukan merupakan nama yang asing bagi warga kota Jakarta. Kawasan wisata pantai yang memiliki beragam fasilitas hiburan ini juga telah dikenal sejak lama bahkan mungkin sebelum masa penjajahan Belanda. Namun dengan berbagai keterbatasan informasi yang ada, sejarah kawasan ini baru diketahui sejalan dengan terbentuknya kota Batavia abad ke-17.


Secara umum posisi Ancol tidak menguntungkan karena merupakan dataran rendah yang dipenuhi rawa. Meski demikian areal pantainya masih dianggap layak untuk dijadikan tempat tinggal karena letaknya yang landai dan dilindungi oleh gugusan kepulauan seribu, sehingga tidak memungkinkan dilanda amukan ombak laut Jawa.

Di lokasi pantai ini atau tepatnya diujung muara Ancol Vaart (sekarang kali Ancol), pemerintah kolonial Belanda pernah membangun sebuah benteng guna melindungi Batavia dari serangan musuh yang berasal dari laut (tidak ditemukan informasi mengenai tahun serta apakah lokasi benteng yang dimaksud sama dengan sisa benteng tua yang sekarang berada dalam kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol/Ancol Bay).

Selain sisa-sisa benteng, pantai Ancol juga memiliki sebuah bangunan tua bersejarah lain bernama Kelenteng An Xu Da Bo Gong Miao (sekarang Kelenteng Toapekong Ancol/Vihara Ancol. Letaknya didalam kawasan Taman Impian Jaya Ancol). Klenteng ini diperkirakan dibangun tahun 1650 oleh para pengikut Armada Cheng Ho saat berlabuh di kawasan Jakarta.

Pesatnya perkembangan kota Batavia di abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-18 membuat nama Ancol sebagai sebuah pantai yang terletak tidak jauh dari kota Batavia ikut terangkat. Keindahan pantai Ancol yang terkenal sering dimanfaatkan sebagai lokasi peristirahatan oleh penduduk.

Seperti yang pernah diabadikan Johhanes Ranch dalam karya-karya lukisannya tentang Ancol, pada masa itu dengan mudah ditemukan banyak vila-vila peristirahatan berdiri di sekitar pantai ini, bahkan Gubernur Jendral Hindia Belanda Andriaan Valckneir disebut-sebut pernah memiliki tempat peristirahatan di lokasi ini

Sayang, seiring hancurnya iklim kota lama Batavia di akhir abad-18 akibat polusi dan berjangkitnya wabah penyakit, serta adanya eksodus warga Batavia ke wilayah kota baru Weltevreden membuat Ancol mulai ditinggalkan. Kawasan berawa ini dikatakan sebagai salah satu daerah sumber penyebaran penyakit malaria yang terkenal dan memakan banyak korban jiwa saat itu.

Pada masa kekuasaan imperialisme Jepang dikisahkan, rawa-rawa sekitar Ancol sering dimanfaatkan sebagai ladang eksekusi dan tempat pemakaman warga eropa khususnya Belanda yang berani melawan Jepang (beberapa sumber menuliskan setelah kekalahan Jepang oleh sekutu di perang dunia ke-II, makam-makam tersebut dibongkar dan dipindahkan ke lokasi pemakaman baru. Pemakaman ini sekarang dikenal dengan nama Everald Ancol atau Kuburan Belanda, terletak dalam kompleks Taman Impian Jaya Ancol).

Setelah peristiwa kemerdekaan negara Indonesia tepatnya tahun 1965, presiden pertama Indonesia Soekarno mencetuskan ide untuk mengangkat kembali pamor Ancol dengan menjadikannya sebagai sebuah sarana rekreasi bagi warga Jakarta. Ide ini sempat tertunda pelaksanaannya dan baru dapat diwujudkan saat pemerintahan Jakarta dijabat oleh Ali Sadikin, tahun 1966. Diawali dengan hadirnya kawasan pantai Bina Ria Ancol yang terkenal dengan teater mobilnya di era 1970-an, kawasan Ancol terus menerus dibenahi.

Tahun 1984, sebuah arena permainan berteknologi tinggi bernama Dunia Fantasi mulai diperkenalkan guna melengkapi fasilitas-fasilitas yang telah ada lebih dulu. Kini kawasan pantai Ancol tidak lagi dikenal sebagai kawasan terbelakang. Namanya sudah berubah menjadi salah satu kawasan wisata dan hiburan terbaik yang ada di Jakarta.

sumber : http://www.ancol.com/
DIBALIK NAMA DAN SEJARAH LUBANG BUAYA

DIBALIK NAMA DAN SEJARAH LUBANG BUAYA


Lubang Buaya adalah sebuah tempat di kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur. Lubang Buaya terdiri dari dua kosakata, yakni Lubang dan Buaya. Lubang yang berarti lekuk di tanah dan lain-lain, sementara Buaya adalah binatang berdarah dingin yg merangkak (reptilia) bertubuh besar dan berkulit keras, bernapas dengang paru-paru, hidup di air (sungai, laut).

Lubang atau sumur tempat tujuh pahlawan revolusi dibuang yang terdapat di Kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Foto : Wikipedia

Nama Lubang Buaya sendiri berasal dari sebuah legenda yang menyatakan bahwa ada buaya-buaya putih di sungai yang terletak di dekat kawasan itu. Nama Lubang Buaya juga identik dengan adanya sebuah lubang atau sumur yang menjadi tempat pembuangan tujuh pahlawan revolusi yang dilakukan oleh Gerakan 30 September pada tahun 1965 atau yang dikenal G 30S PKI.  

"Menurut cerita orang sini (Lubang Buaya), disini banyak lubang buaya yang isinya buaya putih. Makanya diberi nama Lubang Buaya. Ditambah disini ada sumur atau lubang tempat tragedi G 30S PKI. Tapi itu bukan jadi nama awal tempat ini," jelas Suratman, salah seorang penduduk disekitar Lubang Buaya.

Di era G30S Lubang Buaya dijadikan pusat pelatihan milik PKI, dimana tujuan dari Aidit dkk untuk menggantikan Pancasila dengan Komunis. Namun PKI mampu diberantas oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada tanggal 30 September 1965 dibawah komando Mayjen Soeharto, dan sehari kemudian pada 1 Oktober 1965 dijadikan sebagi hari kesaktian Pancasila, dan selalu diadakan upacara setiap tanggal tersebut sampai saat ini.

Kini untuk mengenang itu semua di wilayah tersebut terdapat Monumen Pancasila Sakti, yang mana didalamnya menggambarkan hasil perjuangan para pahlawan revolusi kala memberantas PKI. Dalam monumen tersebut terdapat diorama pemberantasan PKI serta sumur atau lubang tempat tujuh pahlawan revolusi dibuang, mereka ialah :  
1.       Ahmad Yani, Jend. Anumerta
2.       Donald Ifak Panjaitan, Mayjen. Anumerta
3.       M.T. Haryono, Letjen. Anumerta
4.       Piere Tendean, Kapten CZI Anumerta
5.       Siswono Parman, Letjen. Anumerta
6.       Suprapto, Letjen. Anumerta
7.       Sutoyo Siswomiharjo, Mayjen. Anumerta

Selain itu, mengenang jasa para pahlawan tersebut, kini dibangun patung tujuh pahlawan yang dibelakangnya terdapat patung elang yang cukup besar.

Selain itu juga terdapat rumah yang di dalamnya ketujuh pahlawan revolusi disiksa dan dibunuh. Untuk memberi gambaran jelas para pengunjungnya, maka disana juga disimpan mobil yang digunakan untuk mengangkut jenasah tujuh pahlawan revolusi yang dibunuh PKI.
Secara spesifik, sumur Lubang Buaya terletak di Kelurahn Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. 

sumber
TEMPAT TERANGKER DI JAKARTA

TEMPAT TERANGKER DI JAKARTA


1. RUMAH PONDOK INDAH


Lokasi: Jln. Metro Pondok Indah, Jak-Sel
Fenomena: Penampakan hantu bapak-bapak dan perempuan.

Testimonial: Sekitar tahun 2002, Nurdin (32), penjual gulai dan soto di sekitar Pondok Indah, mengaku pernah melihat hantu yang menyerupai bapak-bapak hilir-mudik di halaman depan rumah ini.

Sejarah: Masih ingat ramainya pembicaraan di akhir September 2002 tentang hilangnya seorang tukang nasi goreng di depan rumah kosong ini? Kejadian ini jadi menghebohkan karena di depan rumah tersebut hanya tertinggal gerobak nasi gorengnya. Konon katanya, malam sebelum hilang tukang nasi goreng tersebut hendak mengantar nasi goreng yang dipesan oleh seorang perempuan ke dalam rumah. Namun, ia tak pernah keluar lagi. Mengenai sejarah rumah itu, konon seisi keluarga pemilik rumah ini tewas dalam peristiwa perampokan bermotif persaingan bisnis. Sejak itu, banyak orang yang lewat kerap melihat jelmaan hantu seperti hantu bapak-bapak dan hantu perempuan. Namun, akhir-akhir ini sudah tidak banyak kejadian horor yang dilaporkan terjadi di rumah ini. Bahkan beberapa waktu lalu, rumah ini sempat dijadikan tempat bermalam para tunawisma.

2. TAMAN KOTA LANGSAT, MAYESTIK


Lokasi: Di belakang pasar burung Barito Jak-Sel.
Fenomena: Kuntilanak dan genderuwo

Testimonial: Kisah hantu dan orang-orang yang kesurupan bukan lagi barang baru bagi Ibu Rahmat (34), penjual rokok di tepi taman Langsat, yang sudah 25 tahun membuka kios rokok tersebut. Suatu ketika, tamu yang sedang kongkow di warungnya pernah pamit pada jam 1 pagi karena mengaku melihat genderuwo. Setiap kali berjaga malam, Syamsuri (21), Satpam yang telah bertugas selama 3 tahun di Taman Langsat, sering mencium bau-bau aneh dan mendengar suara-suara tertawa yang tak jelas sumbernya.

Sejarah: Taman Langsat ini sebenarnya merupakan fasilitas olah raga dan bersantai yang cukup lengkap. Di dalamnya tumbuh pepohonan yang asri. Hanya saja, tidak banyak orang yang memanfaatkan fasilitas ini. Karena sepi, taman kota ini pun menjadi angker, terutama pada malam hari. Konon pada malam hari, warga kerap melihat kuntilanak di pohon-pohon di taman Langsat.

3. RUMAH KENTANG PRAPANCA


Lokasi: Jln. Dharmawangsa 9, Jak-Sel, persis di sebelah salah satu club terkemuka di daerah ini.
Fenomena: Hantu anak kecil

Sejarah: Konon, di rumah ini ada seorang anak kecil yang terjatuh ke dalam kuali yang sedang digunakan untuk merebus kentang. Apabila Anda sedang ‘mujur’ dan lewat di depan rumahnya, Anda dapat mencium aroma kentang rebus dan mendengar suara anak kecil menangis.

Testimonial: Agip (24) sudah menjaga kios rokok di depan rumah ini sejak tahun 1997. Agip mengaku sering mencium aroma kentang rebus, terutama menjelang malam, meskipun rumah kosong ini sempat ramai karena disewa oleh ekspatriat.

4. LINTASAN KERETA BINTARO


Lokasi: Bintaro, Jakarta Selatan
Fenomena: Makhluk menyeramkan korban tabrakan kereta

Sejarah: Pada 19 Oktober 1987, terjadi kecelakaan kereta yang menewaskan ratusan orang di dekat Stasiun Sudimara, Bintaro. Di lintasannya sendiri juga sudah berulang kali terjadi kecelakaan yang memakan korban nyawa. Konon, lintasan ini dianggap angker karena sering terdengar suara orang menangis dan menjerit.

Testimonial: Imam (31), teknisi rel yang bekerja sejak tahun 1996. Ia pernah melihat makhluk yang wujudnya seperti orang berbalut sarung hitam. Meski kereta sudah bolak-balik lewat melindasnya, makhluk ini tak mau pergi seperti sengaja meledek. Akhirnya di rel tersebut diadakan pemotongan kerbau. Ia juga pernah bertemu makhluk serupa perempuan Belanda di zaman kolonial, dan kuntilanak melintas di rel.

5. JEMBATAN ANCOL


Lokasi: Jembatan Ancol (eks jembatan goyang), Pantai Ancol, dan daerah lain sekitar Ancol, Jak-Ut
Fenomena: Siti Ariah Si Manis Jembatan Ancol (populer dengan sebutan Maryam setelah kisahnya diangkat ke layar kaca)

Sejarah: Pada 1995, seorang pelukis di Ancol didatangi seorang perempuan yang meminta dilukis. Ketika pelukis baru menggambar setengah bagian tubuhnya, perempuan itu menghilang. Warga percaya bahwa perempuan itu adalah Si Manis Jembatan Ancol. Mitos ini sudah dimulai puluhan tahun sebelumnya. Di tahun 60-an ketika daerah Ancol masih berupa empang-empang, seorang pendayung perahu pernah bertemu dengan Si Manis. Perempuan itu naik perahu malam-malam ddan membayar pendayung tersebut dengan daun. Keterangan ini didapat dari Kostan Simatupang (65), seorang fotografer keliling di Ancol, teman dari pendayung perahu tadi.

Testimonial: Anshori (38), penjual rokok di dekat pintu keluar Ancol, mengaku pernah melihat Siti Ariah dari dekat. Ia membuka pertama kali kios rokoknya di sini pada 1990, tepatnya di samping jembatan goyang. Saat itu malam Jumat,
Anshori sedang menunggui kiosnya, agak gerimis. Sekitar pukul 1 pagi, lewat seorang perempuan. Ketika sudah agak jauh, perempuan itu berbalik arah menghampiri kios Anshori sembari tersenyum. Anshori menyapa perempuan yang dikiranya calon pembeli dagangannya itu. Jarak Anshori dengan perempuan itu kira-kira 50 cm. Menurut Anshori, perempuan itu berwajah manis, serta memakai kemeja kuning dan rok abu-abu. Setelah ditanya hendak belanja apa, perempuan itu menghilang. Meski tidak memakai pakaian serba putih, Anshori yakin perempuan itu adalah Si Manis Jembatan Ancol. Semenjak kejadian itu, Anshori merasa dagangannya kian laku dan rejekinya semakin lancar.

6. TEROWONGAN CASABLANCA


Lokasi: Jln. Basuki Rachmat, Jak-Tim
Fenomena: Sosok menyeberang jalan, di antaranya nenek-nenek bersama cucunya dan perempuan cantik.

Sejarah: Dibangun di atas tanah pekuburan, terowongan Casablanca terbilang angker. Menurut beberapa warga Casablanca , ketika pembongkaran kuburan tersebut, bahkan ada 1 jenazah yang masih utuh. Dari terowongan Casablanca sampai kira-kira radius 40 meter sesudahnya, banyak terjadi kecelakaan yang penyebabnya tidak masuk akal. Biasanya karena pengendara motor atau mobil melihat sesosok perempuan tiba-tiba menyeberang di hadapan kendaraannya, sehingga pengemudi kendaraan tiba-tiba banting setir dan menabrak pembatas jalan.

Menurut warga, ada baiknya ketika melewati terowongan ini, pengemudi kendaraan membunyikan klakson untuk “menyapa” penghuni terowongan. Akhir tahun 90-an, seorang laki-laki separuh baya ada yang menggantung diri dengan spanduk di sini. Jadilah tempat ini semakin angker.

Testimonial: Menurut Ibu Yati Mustofa (43), warga yang tinggal di dekat terowongan Casablanca, warga kerap mendengar suara tangisan, ketika sumber bunyi dihampiri, suara itu berpindah-pindah.

7. TPU JERUK PURUT


Lokasi: Kelurahan Jeruk Purut, Jak-Sel
Fenomena: Pocong, tuyul, kuntilanak, kuntilanak-laki, and if you’re lucky , Pastur Kepala Buntung.

Sejarah: Pada tahun 1986, seorang penjaga makam TPU Jeruk Purut yang sedang jaga malam melihat sesosok pastur tak berkepala melintas di antara makam. Pastur itu menenteng kepalanya sendiri dan di belakangnya, ikut seekor a n j i n g. Konon, pastur ini “salah pulang”. Ia mencari-cari makamnya yang sebenarnya berada di unit Kristen TPU Tanah Kusir, sedangkan di TPU Jeruk Purut hanya ada unit Islam. Sapri Saputra, penjaga makam yang melihat pastur kepala buntung itu, hingga kini masih menjaga makam dan dianggap kuncen atau orang yang dituakan di TPU Jeruk Purut. Kesaksian Bapak Sapri ini kemudian menyebar luas se-Jakarta dan hingga kini “Sang Pastur Kepala Buntung” menjadi legenda horor di Jeruk Purut. Konon, jika Anda ingin menemui pastur legendaris ini, Anda harus datang pada malam Jumat dengan jumlah ganjil (sendiri atau bertiga).

Testimonial: Sejak kecil, Asmari (34), juniornya Bapak Sapri, telah terbiasa tinggal di areal pemakaman Jeruk Purut. Ayahnya adalah pegawai Pemda

yang bekerja di sana . Semenjak lulus SD (1986), Asmari menjadi pengurus makam non-karyawan TPU Jeruk Purut mengikuti jejak ayahnya. Menurut Asmari, pengalaman bertemu dengan makhluk-makhluk gaib merupakan hal yang biasa baginya; mulai dari pocong, tuyul, kuntilanak, kuntilanak laki, dan lain-lain. Akan tetapi, hingga saat ini dia belum pernah bertemu dengan Sang Pastur Kepala Buntung. “Yang paling jahil itu kuntilanak-laki, ” tutur Asmari.

Ketika sedang ronda, Asmari pernah ditimpuki kerikil dari atas pohon melinjo oleh makhluk ini. Tapi, dari semua pengalaman Asmari bertemu dengan makhluk gaib, yang paling menarik adalah ketika bertemu dengan tuyul. Pada suatu hari menjelang malam di tahun 1986, Asmari hendak pulang ke rumah bersama ayahnya.

Mereka melihat seorang anak kecil telanjang bulat berlarian di antara makam sambil tertawa-tawa. Anak itu lalu berteriak meminta uang pada Asmari. Asmari heran karena anak itu tak dikenalnya, sementara ia mengenal semua penduduk di kampung belakang Jeruk Purut. Dulu memang hanya ada satu kampung yang penduduknya tidak terlalu banyak. Ketika ditanya latar belakangnya, anak kecil mi malah lari ke dalam keramat, sebuah rumah makam tradisional Betawi. Asmari mengikutinya hingga ke dalam keramat dan, bisa ditebak, anak itu menghilang.

4 TUJUAN DI JAKARTA YANG TERSEMBUNYI


Monas, Taman Mini Indonesia Indah, dan Bundaran Hotel Indonesia adalah sebagian destinasi di Jakarta yang ramai dikunjungi turis. Tapi tahukah Anda, masih ada tempat lain yang tak kalah menarik, namun kadang tak terlihat?

Pesona Jakarta sebagai Ibukota Indonesia memang begitu menyilaukan turis. Tak sedikit dari mereka yang takluk melihat kemegahan kota di balik layar, dan memutuskan datang ke kota sibuk ini. 

Destinasi wisata yang terkenal seperti Taman Margasatwa Ragunan, Monumen Nasional dan aneka pusat perbelanjaan pun selalu ramai pengunjung. Padahal, selain destinasi di atas, masih ada tempat wisata lain yang menarik, namun tidak semua orang 'ngeh' dengan keberadaannya? berikut adalah 4 tempat di Jakarta yang kadang tak tertangkap mata Anda:

1. Hutan Muara Angke

Mungkin tak banyak yang tahu kalau di balik tingginya gedung dan kepulan asap knalpot, Jakarta masih punya hutan rimbu. Adalah Muara Angke wilayah di Jakarta yang masih memiliki hutan.


Hutan yang sebenarnya berada dekat dengan pelabuhan dan pasar ikan Muara Angke ini memang sedikit dilirik orang, tertutup hiruk pikuk pasar ikan. Padahal, inilah hutan paling besar yang masih ada di Jakarta.

Pepohonan hijau nan rindang, dan vegetasi bakau pun mendominasi dalam hutan. Inilah yang membuat Hutan Muara Angke diselimuti udara segar, meski berada di dekat perumahan mewah Pantai Indah Kapuk. Hiruplah oksigen yang dihasilkan setiap helai daunnya di pagi hari. Biarkan udara bersih memasuki paru-paru Anda yang haus udara bersih.

Waktu paling asyik untuk menikmati suasana Hutan Muara Angke adalah pada pagi hari, seperti dilakukan detikTravel beberapa waktu lalu. Pijakkan kaki Anda di atas board walk atau jembatan kayu sepanjang 843 meter. Jembatan sengaja dibuat melingkar agar turis bisa menikmati seluruh hutan.

2. Taman Amir Hamzah

Tempat wisata lain yang bisa Anda kunjungi di Jakarta, tapi jarang terlihat orang adalah Taman Amir Hamzah di Menteng. Keberadaan taman ini memang tidak setenar Taman Menteng yang berada di kawasan sama. Tapi siapa sangka, dulunya inilah tempat bermain Obama dan Gus Dur semasa kecil.


Tidak seperti taman lain yang ada di Jakarta, Taman Amir Hamzah tidak begitu luas. Meski demikan, pesona indah taman terasa begitu kental lewat pepohonan rindang, dan kolam kecil dengan air mancur di tengahnya. Benar-benar menyimbolkan kesederhanaan nan bersahaja.

Mau tahu waktu paling asyik datang ke Taman Amir Hamzah? Pagi atau sore hari jawabannya. Saat itu, Anda bisa menikmati segarnya udara dari pepohonan dengan aneka jajanan ringan, seperti bakso, ketoprak, mie ayam dan aneka minuman segar.

3. Taman Tanjung

Tak disangka, ternyata Jakarta memiliki banyak taman yang masih belum banyak dikunjungi, atau bahkan diketahui orang. Setelah Taman Amir Hamzah, kini giliran Taman Tanjung di Jakarta Barat.


Taman yang berada di Jl TB Simatupang, tepatnya sebelah kiri jalan sebelum flyover dari arah Ragunan ini, ternyata adalah sebuah taman indah, dengan fasilitas yang cukup lengkap. Tidak percaya? Langsung saja masuk ke dalamnya.

Ada banyak bangku taman berbentuk lingkaran yang menyambut Anda, mempersilakan setiap pengunjung untuk duduk. Tak ketinggalan lahan hijau yang mendominasi pandangan, membuat pandangan terasa begitu teduh di tengah panasnya matahari Jakarta.

Memang disediakan untuk seluruh umur, Taman Tanjung juga menyediakan sarana permainan untuk anak-anak. Eits, bukan cuma itu, taman ini juga memiliki lapangan futsal yang selalu ramai saat sire tiba.

4. Patung-patung tersembunyi di Monas

Selama ini para turis yang datang ke Monas kadang hanya fokus melihat keindahan monumen, atau sekadar duduk-duduk di tamannya. Tapi tahukah Anda kalau taman di Monas dihuni juga oleh patung-patung pahlawan?



Ya, keberadaan patung-patung di taman Monas memang belum banyak sadar dengan keberadaannya. Entah tak terlihat atau memang tidak ada yang sadar, patung ini berdiri sendiri tanpa ada yang memerhatikan.

Patung pertama yang bisa Anda lihat di Monas adalah Patung Peringatan Raden Ajeng Kartini. Patung ini berada di dalam wilayah Monas yang berseberangan dengan Stasiun Gambir. Ada tiga pose yang digambarkan patung ini, yaitu Kartini yang sedang berjalan, menyusui, dan sedang menari.

Patung kedua yang juga bisa Anda lihat adalah Patung Pangeran Diponegoro. Patung ini menjulang tinggi di dekat pintu masuk menuju ke dalam bangunan Monas.

Selain Pangeran Diponegoro dan RA Kartini, patung lain yang juga ada di Monas adalah patung penyair terkenal, Chairil Anwar. Patung ini menggambarkan wajah sang penyair dengan jelas. Di depan patungnya, Anda bisa melihat ada informasi mengenai kisah hidup sang penyair ini.

AKSI UJI NYALI GUBERNUR JAKARTA JOKOWI


Gubernur DKI Joko Widodo tak pernah mengenal lelah saat bekerja. Tak jarang, dia juga sempat melakukan aksi berbahaya dalam tugasnya. Dalam catatan detikcom, sedikitnya ada enam aksi 'uji nyali' Jokowi yang berhubungan dengan tugasnya sebagai gubernur. Aksi itu cukup berbahaya untuk seukuran pejabat negara. Namun Jokowi tetap melakukannya.

Berikut keenam aksi 'uji nyali' Jokowi:

1. Naik Jembatan Srengseng


Di tengah guyuran hujan, Jokowi berjalan perlahan bolak-balik melintasi jembatan bambu yang rusak parah di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Nyali Jokowi menjadi ciut.

Jokowi yang mengenakan kemeja warna putih meninjau jembatan mengenaskan di Srengseng Sawah, Sabtu (8/12/2012) sekitar pukul 11.15 WIB.

Ia langsung uji nyali menjajal jembatan sepanjang 100 meter dan lebar 120 cm yang menghubungkan Jakarta-Depok. Dia pun meminta pada wartawan agar tak mengikutinya.

Meski ngeri, Jokowi justru menjajal jembatan yang telah berusia 30 tahun itu sekali lagi. Saat berada di tengah jembatan, tiba-tiba hujan deras mengguyur. Jokowi kehujanan dan bajunya basah. Si ajudan dengan sigap membawa payung untuk Jokowi.

Hujan tidak menghentikan niat Jokowi melintasi jembatan. Ia tetap melanjutkan langkahnya.

2. Naik Getek di Sungai Ciliwung


Jokowi mengunjungi kawasan Kampung Pulo, Jaktim, yang baru saja terendam banjir. Gubernur DKI itu dielu-elukan warga karena berani membagikan bantuan di atas getek.

Setiba di Kali Ciliwung, Jokowi langsung naik ke atas getek. Didampingi pihak Kecamatan Jatinegara dan Dinas PU, Jokowi melihat bagaimana kondisi Kali Ciliwung. Dia sambil memegang kertas yang tertulis beberapa gambar.

Jokowi kemudian berpindah ke getek yang satu lagi. Dia kembali berbincang dengan pihak terkait. Selama 2 menit berada di getek itu, dia kemudian pergi dengan memberi uang Rp 100 ribu kepada penarik getek.

Nah, dalam kunjungan ini, Jokowi pun membawa bantuan 23 karung beras bagi warga korban banjir. Beras itu disimpan di rumah tokoh warga setempat, untuk kemudian didistribusikan.

3. Berusaha Menerjang Banjir Tengah Malam


Saat upacara persiapan menghadapi beberapa waktu lalu, Jokowi sudah berjanji akan berada di lapangan bila terjadi banjir. Dia akan memantau semua proses evakuasi dan pemberian bantuan.

Benar saja, saat banjir terjadi akhir November lalu, Jokowi sibuk keliling memeriksa lokasi-lokasi banjir, terutama yang terkena imbas luapan kali Pesanggrahan.

Kunjungan Jokowi ada yang digelar siang hari, namun ada juga yang malam. Saat mendatangi banjir di kompleks IKPN Bintaro, Jokowi datang menjelang tengah malam.

Menurut camat setempat, saat itu Jokowi hendak berusaha menerjang banjir di rumah warga yang tingginya mencapai 2 meter dengan perahu karet. Namun pihak keamanan setempat melarangnya dengan alasan keselamatan.

Akhirnya, Jokowi hanya bertemu warga di pengungsian.

4. Berbaur dengan Massa yang Mendemonya


Pada 20 November lalu, para sopir angkot dan anggota Organda beraksi di depan Balai Kota. Mereka menentang kebijakan Jokowi soal peremajaan bus hingga biaya retribusi. Jokowi dan jajarannya pun sempat dikecam.

Bukannya menghindar, dengan berani dan penuh percaya diri, Jokowi malah menemui mereka. Dia tak takut dengan teriakan dan jumlah massa yang sempat mengecamnya.

Jokowi langsung naik ke atas podium dadakan dan mengambil mikrofon. Dia berdesak-desakan dengan pendemo tanpa pengawalan. Jokowi pun berorasi menjelaskan duduk perkara yang dipersoalkan pendemo.

Situasi pun berbalik. Aksi berani Jokowi itu malah mendapat simpati dari para pendemo. Mereka mengelu-elukan mantan wali kota Solo itu.

"Hidup Pak Jokowi, hidup Pak Jokowi," teriak para sopir angkot dengan penuh semangat.

Dalam kesempatan terpisah, Jokowi juga pernah menemui warga Cilincing yang berdemo. Padahal saat itu, warga tengah emosi sambil bakar ban dan blokir jalan. Untungnya, warga pun mau mendengar arahan Jokowi.

5. Berpergian Tanpa Pengawalan dan Voorijder


Sejak awal, Jokowi sudah berkomitmen tak akan menggunakan voorijder saat berdinas. Dia juga tak mau dikawal terlalu ketat saat blusukan menemui warga.

Dalam perjalanannya, Jokowi hanya ditempel dua motor pegawai Dishub. Itu pun di belakang mobil, bukan di bagian depan. Mobil pengiring terbanyak yang "mengawal"-nya justru dari kalangan wartawan.

Akibatnya, semua warga bisa berdekatan dengan Jokowi. Tak hanya itu, tak sedikit juga warga yang mendapat kesempatan berfoto dengannya.

Bahkan saat Jokowi muncul di depan publik saat pertunjukan musik, dia tampak santai duduk di bagian festival, bukan di deretan tamu VIP.

6. Naik Atap Sekolah Ambruk


Joko Widodo meninjau SDN 03 Rawamangun, Jakarta Timur, yang atapnya ambruk Selasa (6/11) lalu. Gubernur DKI itu naik tangga kayu untuk melihat kontruksi atap sekolah. Padahal cukup berbahaya.

Kedatangan Jokowi langsung disambut sekitar puluhan warga. Warga yang terdiri dari ibu-ibu yang mengenakan daster dan anak-anak ini berebut untuk meminta salaman pada Jokowi. Mereka juga meneriakkan "Jokowi-jokowi!". Jokowi pun memenuhi permintaan warga sambil tersenyum. Setelah itu, Jokowi langsung meninjau puing-puing bekas reruntuhan. Dia menengok kanan-kiri, melihat ruang kelas, sampai naik tangga kayu untuk melihat konstruksi atap sekolah yang ambruk.

Mantan Wali Kota Solo itu melihat-lihat atap sekolah yang ambruk sekitar 15 menit. Setelah itu Jokowi pulang.