Hi, guest ! welcome to Indonesia Punya Cerita. | About Us | Contact | Register | Sign In

Sunday, March 16, 2014

Misteri Gunung Kawi

Gunung Kawi adalah sebuah gunung berapi di Jawa Timur, Indonesia, dekat dengan Gunung Butak. Tidak ada catatan sejarah mengenai letusan gunung berapi ini. Gunung Kawi, terletak di sebelah barat kota Malang merupakan obyek wisata yang perlu untuk dikunjungi bila kita berada di Jawa Timur karena keunikannya, obyek wisata ini lebih tepat dijuluki sebagai "kota di pegunungan". Di sini kita tidak akan menemukan suasana gunung yang sepi, tapi justru kita akan disuguhi sebuah pemandangan mirip di negeri tiongkok zaman dulu.


Di sepanjang jalan kita akan menemui bangunan bangunan dengan arsitektur  khas Tiongkok, dimana terdapat sebuah kuil/klenteng tempat untuk bersembahyang atau melakukan ritual khas Kong Hu Cu. Biasanya orang-orang Tionghoa mengunjungi tempat ini pada hari-hari tertentu untuk melakukan ritual keagamaan seperti memohon keselamatan , giam si , ci suak dsb namun tak jarang pula yang hanya sekedar berpelesir untuk melepas lelah. Di sepanjang jalan juga banyak terdapat penginapan baik itu hotel, losmen, atau bahkan rumah penduduk dapat juga disewa untuk dijadikan tempat menginap.

Ada banyak hal unik yang berhubungan dengan kepercayaan yang dapat kita temukan di gunung Kawi, Salah satu diantaranya adalah sebuah pohon yang konon dipercaya bila kita kejatuhan buahnya, maka kita akan mendapat rejeki. Pada malam-malam tertentu akan banyak sekali orang yang duduk di bawah pohon ini. Selain pohon, terdapat juga makam Mbah Djoego, seorang pertapa pembantu Pangeran Diponegoro, yang juga sangat dijaga oleh penduduk setempat.

Pesugihan Di Gunung Kawi


Dalam masalah pesugihan, sebelumnya pernah membahas tentang Ritual Mesum Pesugihan Gunung Kemukus, kali ini membahas mitos seputar Pesugihan Gunung Kawi. Disaat orang banyak disibukkan dengan kesulitan ekonomi, kadang semua cara digunakan termasuk diantaranya adalah ritual pesugihan.

Ada yang mencari uang dengan bisnis internet, namun karena tidak sedahsyat denga pesugihan maka bagi orang yang malas akhirnya lebih memilih pesugihan. Mitos Pesugihan Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat untuk mencari kekayaan (pesugihan).

Konon, barang siapa melakukan ritual dengan rasa kepasrahan dan pengharapan yang tinggi maka akan terkabul permintaannya, terutama menyangkut masalah kekayaan. Mitos seputar pesugihan Gunung kawi ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah merasakan "berkah" berziarah ke Gunung Kawi. Namun bagi kalangan rasionalis-positivis, hal ini merupakan isapan jempol belaka. Biasanya lonjakan pengunjung yang melakukan ritual terjadi pada hari Jumat Legi (hari pemakaman Eyang Jugo) dan tanggal 12 bulan Suro (memperingati wafatnya Eyang Sujo). Ritual dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan.

Di dalam bangunan makam, pengunjung tidak boleh memikirkan sesuatu yang tidak baik serta disarankan untuk mandi keramas sebelum berdoa di depan makam. Hal ini menunjukkan simbol bahwa pengunjung harus suci lahir dan batin sebelum berdoa.

Selain pesarean sebagai fokus utama tujuan para pengunjung, terdapat tempat-tempat lain yang dikunjungi karena 'dikeramatkan' dan dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk mendatangakan keberuntungan, antara lain:

1. Rumah Padepokan Eyang Sujo
Rumah padepokan ini semula dikuasakan kepada pengikut terdekat Eyang Sujo yang bernama Ki Maridun. Di tempat ini terdapat berbagai peninggalan yang dikeramatkan milik Eyang Sujo, antara lain adalah bantal dan guling yang berbahan batang pohon kelapa, serta tombak pusaka semasa perang Diponegoro.

2. Guci Kuno
Dua buah guci kuno merupakan peninggalan Eyang Jugo. Pada jaman dulu guci kuno ini dipakai untuk menyimpan air suci untuk pengobatan. Masyarakat sering menyebutnya dengan nama 'janjam'. Guci kuno ini sekarang diletakkan di samping kiri pesarean. Masyarakat meyakini bahwa dengan meminum air dari guci ini akan membuat seseorang menjadi awet muda.

3. Pohon Dewandaru
Di area pesarean, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan. Pohon ini disebut pohon dewandaru, pohon kesabaran. Pohon yang termasuk jenis cereme Belanda ini oleh orang Tionghoa disebut sebagai shian-to atau pohon dewa. Eyang Jugo dan Eyang Sujo menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman.

Untuk mendapat 'simbol perantara kekayaan', para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Untuk memanfaatkannya sebagai azimat, biasanya daun itu dibungkus dengan selembar uang kemudian disimpan ke dalam dompet.

Namun, untuk mendapatkan daun dan buah dewandaru diperlukan kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran.

Siapakah sesungguhnya Eyang Jugo dan Eyang Sujo?
Yang dimakamkan dalam satu liang lahat di pesarean Gunung Kawi ini? Menurut Soeryowidagdo (1989), Eyang Jugo atau Kyai Zakaria II dan Eyang Sujo atau Raden Mas Iman Sudjono adalah bhayangkara terdekat Pangeran Diponegoro. Pada tahun 1830 saat perjuangan terpecah belah oleh siasat kompeni, dan Pangeran Diponegoro tertangkap kemudian diasingkan ke Makasar, Eyang Jugo dan Eyang Sujo mengasingkan diri ke wilayah Gunung Kawi ini.

Semenjak itu mereka berdua tidak lagi berjuang dengan mengangkat senjata, tetapi mengubah perjuangan melalui pendidikan. Kedua mantan bhayangkara balatentara Pangeran Diponegoro ini, selain berdakwah agama islam dan mengajarkan ajaran moral kejawen, juga mengajarkan cara bercocok tanam, pengobatan, olah kanuragan serta ketrampilan lain yang berguna bagi penduduk setempat. Perbuatan dan karya mereka sangat dihargai oleh penduduk di daerah tersebut, sehingga banyak masyarakat dari daerah kabupaten Malang dan Blitar datang ke padepokan mereka untuk menjadi murid atau pengikutnya.

Setelah Eyang Jugo meninggal tahun 1871, dan menyusul Eyang Iman Sujo tahun 1876, para murid dan pengikutnya tetap menghormatinya. Setiap tahun, para keturunan, pengikut dan juga para peziarah lain datang ke makam mereka melakukan peringatan. Setiap malam Jumat Legi, malam eninggalnya Eyang Jugo, dan juga peringatan wafatnya Eyang Sujo etiap tanggal 1 bulan Suro (muharram), di tempat ini selalu diadakan erayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya. Upacara ini iasanya dipimpin oleh juru kunci makam yang masih merupakan para keturunan Eyang Sujo.

Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun para peziarah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji, semakin banyak berkah yang akan didapat. Untuk masuk ke makam keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja, mereka berjalan dengan lutut.

Hingga dewasa ini pesarean tersebut telah banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka bukan saja berasal dari daerah Malang, Surabaya, atau daerah lain yang berdekatan dengan lokasi pesarean, tetapi juga dari berbagai penjuru tanah air. Heterogenitas pengunjung seperti ini mengindikasikan bahwa sosok kedua tokoh ini adalah tokoh yang kharismatik dan populis.

Namun di sisi lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini pun sangat beragam pula. Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan leluhur, melakukan penelitian ilmiah, dan yang paling umum adalah kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa agar keinginan lekas terkabul.

Read More »
9:35 AM | 0 comments

Saturday, March 15, 2014

Sejarah Gunung Kelud yang Masih Menjadi Misteri

Gunung Kelud merupakan gunung berapi aktif yang terletak di Jawa Timur, tepatnya diantara kabupaten Kediri dan Blitar. Gunung yang memiliki ketinggian 1.731 mdpl ini, bisa diakses melalui Kabupaten Kediri, untuk dari kabupaten Blitar juga bisa, hanya pada akhirnya juga melewati jalur Kabupaten Kediri. Gunung Kelud merupakan salah satu tujuan wisata di Jatim yang cukup tersohor. Di balik keistimewaan tersebut, Gunung Kelud diselimuti kabut misteri terkait keberadaan gunung berpuncak strato ini.

Legenda Gunung Kelud


Menurut legendanya terbentuk dari sebuah pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti Mahesa Suro dan Lembu Suro. Kala itu, Dewi Kilisuci anak putri Jenggolo Manik yang terkenal akan kecantikannya dilamar dua orang raja. Namun yang melamar bukan dari bangsa manusia, karena yang satu berkepala lembu bernama Raja Lembu Suro dan satunya lagu berkepala kerbau bernama Mahesa Suro.


Untuk menolak lamaran tersebut, Dewi Kilisuci membuat sayembara yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa, yaitu membuat dua sumur di atas puncak Gunung Kelud, yang satu harus berbau amis dan yang satunya harus berbau wangi dan harus selesai dalam satu malam atau sampai ayam berkokok. Dengan kesaktian Mahesa Suro dan Lembu Suro, sayembara tersebut disanggupi. Setelah berkerja semalaman, kedua-duanya menang dalam sayembara. Tetapi Dewi Kilisuci masih belum mau diperistri. Kemudian Dewi Kilisuci mengajukan satu permintaan lagi. Yakni kedua raja tersebut harus membuktikan dahulu bahwa kedua sumur tersebut benar benar berbau wangi dan amis dengan cara mereka berdua harus masuk ke dalam sumur.

Terpedaya oleh rayuan tersebut, keduanyapun masuk ke dalam sumur yang sangat dalam tersebut. Begitu mereka sudah berada di dalam sumur, lalu Dewi Kilisuci memerintahkan prajurit Jenggala untuk menimbun keduanya dengan batu. Maka matilah Mahesa Suro dan Lembu Suro.  Tetapi sebelum mati Lembu Suro sempat bersumpah dengan mengatakan "Ya, orang Kediri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau (semoga tidak terjadi). Dari legenda ini akhirnya masyarakat lereng Gunung kelud melakukan sesaji sebagai tolak balak sumpah itu yang disebut Larung Sesaji. Acara ini digelar setahun sekali pada tanggal 23 bulan surau oleh masyarakat Sugih Waras.

Ritual Gunung Kelud

Sementara itu, terkait den­gan ritual sesaji yang digelar masyarakat lereng Gunung Kelud pada 2007 silam, tat­kala ritual digelar, sesepuh Mbah Ronggo dalam ritualnya mendapati wangsit gaib. Yaitu berupa pesan terjadinya pertan­da besar menyoal keberadaan Gunung Kelud yang terletak 40 kilometer dari kota Kediri yang memiliki keunikan di pun­caknya, yakni berbentuk strato dengan danau kawah di ten­gahnya walaupun danau kawah itu saat ini telah berubah bentuk menjadi kubah lava. Wangsit tersebut mengatakan, “Le, sing ati-ati arep liwat Danyang Gu­nung Kelud,” tutur Mbah Rong­go mengenai pesan gaib yang merupakan pesan jika Gunung Kelud akan meletus.

Terbukti, tahun 2007 Gu­nung Kelud meletus dengan letusan terakhir bersifat efusif (mengalirkan material), berbeda dari latusan sebelumnya yang bersifat eksplosit (menyemburkan material). Akibat letusan terakhir, da­nau kawah Gunung Kelud yang berwarna hijau berubah menjadi kubah lava yang mengalirkan material berwarna hitam dari dalam perut gunung. Keting­gian kubah saat ini mencapai 250 meter dengan lebar sekitar 400 meter.

Sepanjang sejarahnya, gu­nung ini tercatat mengalami 29 kali letusan, baik eksplosif maupun efusif, mulai tahun 1000 sampai tahun 2007. Erupsi eksplosifnya mampu menghan­curkan ratusan desa di seki­tarnya, termasuk ribuan hektare lahan pertanian dan menewas­kan ribuan warga. Sebagai gam­baran, lima letusan terakhirnya saja memakan korban 5.400 jiwa.

Berdasarkan pengamatan le­tusan selama tiga abad berturut-turut, waktu istirahat terpanjang aktivitas dalam perut Gunung Kelud adalah 65-76 tahun, teta­pi pernah pula hanya tiga tahun. Sejak letusan tahun 1901, wak­tu istirahat gunung itu menjadi lebih singkat, yaitu 15-31 tahun, bahkan pernah mencapai masa paling singkat, yaitu satu tahun.

Penunggu kawah Gunung Kelud

Nama Gunung Kelud berasal dari Jarwodhosok, yakni dari kata “ke” (kebak) dan “lud” (ludira). Hal ini berarti bila murka, bisa merenggut banyak kurban jiwa tak berdosa. Menurut kepercayaan penduduk sekitar, kawah gunung ini dijaga sepasang buaya putih, yang konon merupakan jelmaan bidadari.

Legenda menceritakan, zaman dahulu kala ada dua bidadari sedang mandi di telaga tersebut. Karena terlena, dua bidadari ini melakukan perbuatan seperti yang biasa terjadi pada manusia modern, yakni berbuat intim dengan sesama jenis. Jadi, kedua bidadari itu tergolong penganut lesbian. Perbuatan tersebut rupanya diketahui oleh dewa. Karena kesal, sang dewa pun mengutuk kedua bidadari tersebut, “Kelakuan kalian mirip buaya.”

Karena dewa memang penguasa jagad, kata-katanya yang ampuh itu membuat dua bidadari tersebut seketika berubah menjadi dua ekor buaya. Konon, hingga kini mereka menjadi penunggu danau Gunung Kelud. Letusan Kelud pada 1586 menelan korban hingga 10 ribu orang meninggal. Pada letusan 19 Mei 1919 memakan korban 5.110 jiwa. Sedang letusan 26 April 1966 menelan korban jiwa 212 meninggal, 74 hilang dan 89 luka-luka. Menurut sesepuh desa di sekitar gunung ini, para korban itu sedang dikersakke dua bidadari penunggu kawah. Bila laki-laki diperlakukan sebagai suami dan yang perempuan diangkat sebagai saudara. Warga menengarai, bila Kelud akan meletus biasanya ada dua sorot sinar terang masuk ke kawah. Atau banyak burung gagak berterbangan di pedesaan.

6 Fakta Menarik letusan Gunung Kelud



Kelud juga tergolong sebagai gunung berapi aktif tipe A dengan letusan eksplosif. Hanya pada 2007 saja gunung itu tercatat efusif, hanya membentuk kubah lava saja. Sepanjang sejarahnya, Gunung Kelud sudah beberapa kali meletus, pada 1586, 1919, 1951, 1966, 1990, 2007, terakhir 2014.

Ada beberapa fakta letusan gunung kelud yang menarik dan perlu untuk Anda ketahui, seperti dilansir Merdeka.com dan KapanLagi.com berikut ini.

Danau Kawah

Sebelum Gunung Kelud meletus pada tahun 2007 lalu, Gunung kelud memiliki sebuah kawah di puncaknya. Danau tersebut dapat menyimpan banyak sekali air.

Pada zaman penjajahan Belanda muncul kekhawatiran akan timbul banyak korban saat Gunung Kelud meletus akibat dari banyaknya air yang berada dalam kawah. Untuk itu, pada tahun 1902 Pemerintah Belanda membangun sistem terowongan untuk mengurangi jumlah air di kawah.

Terowongan yang telah berhasil mengurangi air dari dalam kawah itu kemudian jebol, akhirnya pada tahun 1923 Pemerintah Belanda membuat 7 terowongan lagi untuk mengurangi jumlah air dalam kawah.

Setelah erupsi tahun 2007, kawah Gunung Kelud yang berisi air tersebut menghilang dan digantikan oleh sebuah kubah lava. Setelah terbentuk kubah lava, kawah gunung ini hanya menyisakan sedikit kubangan air.

Telah meletus 40 kali

Gunung Kelud yang terletak pada perbatasan 3 daerah yaitu Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang ini tercatat telah meletus sebanyak 40 kali. Catatan ini merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Smithsonian di Washington DC, Amerika Serikat.

Gunung Kelud termasuk gunung yang paling aktif di Jawa Timur, 40 kali letusannya terjadi hanya dalam kurun waktu 100 tahun. Gunung ini memiliki frekuensi waktu meletus yang cukup dekat, yaitu sekitar 9-25 tahun

Letusan Tahun 1586

Letusan Gunung Kelud paling besar yang tercatat dalam sejarah terjadi pada tahun 1586. Letusan ini menelan sekitar 1000 korban jiwa. Pada masa itu jumlah penduduk masih sedikit. Bisa di bayangkan betapa dahsyatnya letusan yang terjadi hingga menimbulkan begitu banyak korban jiwa.

Berdasar catatan bencana gunung meletus di Indonesia, jumlah korban jiwa akibat letusan Gunung Kelud pada 1586 itu merupakan rekor jumlah korban jiwa terbesar ketiga, setelah letusan Gunung Tambora di Sumbawa pada 10 hingga 12 April 1815, dan Krakatau di Selat Sunda pada 26 hingga 28 Agustus 1883.

Menurut buku Data Dasar Gunung Api di Indonesia. Letusan pada saat itu diperkirakan memiliki kekuatan Volcanic Explosivity Index (VEI): 5. Ini setara dengan letusan Gunung Pinnatubo di Filipina pada tahun 1991.

Letusan Tahun 1919

Letusan yang terjadi pada tengah malam tanggal 20 Mei 1919 ini merupakan yang terbesar kedua setelah tahun 1586 . Sekitar 5160 orang menjadi korban jiwa akibat letusan gunung ini.

Letusan yang terjadi pada tengah malam ini disebut terbesar dalam abad 20. Letusan ini sangat keras sehingga dentumannya terdengar sampai Kalimantan. Hujan batu cukup lebat dan sebagian atap rumah hancur, dan hujan abu mencapai Bali. Kota Blitar dilaporkan mengalami kehancuran akibat letusan ini.

Karena letusan inilah kemudian dibangun sistem saluran terowongan pembuangan air danau kawah, dan selesai pada tahun 1926. Secara keseluruhan dibangun tujuh terowongan

Letusan Tahun 2007

Pada tahun 2007, Gunung Kelud kembali menggeliat. Pada saat itu, terdapat beberapa aktifitas kegempaan dan suhu air danau meningkat.

Akibat aktivitas tinggi tersebut terjadi gejala unik dalam sejarah Kelud dengan munculnya asap tebal putih dari tengah danau kawah diikuti dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus "tumbuh" hingga berukuran selebar 100 m. Para ahli menganggap kubah lava inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera terjadi. Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa letusan tahun 1990.

Setelah peristiwa itulah danau kawah di gunung kelud ini menghilang, digantikan oleh terbentuknya kubah lava di puncak Gunung Kelud.

Letusan Tahun 2014

Meletusnya Gunung Kelud pada tanggal 13 Februari ini membuat hujan abu yang cukup dahsyat. Hujan abu vulkanik ini terjadi sampai Bandung dan Mataram.

Material vulkanik Gunung Kelud mencapai ketinggian 17 kilometer, sehingga debu terbawa sampai ke beberapa daerah. Menurut BMKG, debu pada lapisan 1.500 meter terbawa ke arah timur Laut, pada lapisan 5.000 meter ke arah barat laut dan pada 9.000 meter ke arah barat.

Di sekitar wilayah Kediri, Batu, dan Blitar, ketebalan pasir yang terjadi mencapai 10-30 cm. Ketebalan ini membuat jalan-jalan dan bangunan di kota-kota tersebut berwarna kelabu karena terselimuti debu.

Nah, itulah 6 Fakta Menarik letusan Gunung Kelud semoga menambah wawasan anda.

Sumber :
http://www.anehdidunia.com/2014/02/misteri-gunung-kelud.html
referensi:https://id-id.facebook.com/sejutafenomena/posts/529592917069374/http://jawatimuran.wordpress.com/2012/08/26/kekeramatan-gunung-kelud-kediri/
http://djangkies.net/sensasi-jalan-misteri-gunung-kelud.html/
http://www.cerita-misteri.com/2012/09/penunggu-kawah-gunung-kelud-sepasang.html
http://zilzaal.blogspot.com/2014/02/6-fakta-menarik-letusan-gunung-kelud.html

Read More »
9:08 AM | 0 comments

Friday, March 14, 2014

Lumajang Kota Sejarah Nusantara Yang Dikubur

Lumajang adalah kabupaten di Jawa Timur yang berada di kaki Gunung Tertinggi pulau Jawa yakni Mahameru atau Semeru.  Namun, banyak orang tidak tahu dimana letak Kabupaten Lumajang, maklum kota-nya tidak berada  di jalan Propinsi, orang lebih tahu Kota Jember.

Jadi tidak salah bila penumpang bus dari luar kota tidak mengetahui Lumajang yang memiliki peradaban sejarah yang cukup besar dijaman kerajaan Tumapel, Singosari dan Wilwatikta (Mojopahit). Lumajang  banyak disebut daerah kantong dikarenakan jarang dimasuki oleh orang dari luar kota.

Lumajang dizaman pra sejarah dikenal dengan sebutan Nagara Lamajang bisa dilihat dalam Prasasti Mulan Malurung yang dibuat oleh Raja Singosari (Tumapel), Sminingrat atau Wisnuwardhana, ditemukan  di kediri padan tahun 1975 dan dalam prasasti itu bertuliskan angka tahun 1177 ( 1255 Masehi). Di prasasti itu disebutkan Sminingrat mengutus anaknya Narariya Kirana sebagai juru pelindung Nagara Lamajang.

Pada masa Kerajaan Singosari (Tumapel) , Lamajang begitu penting karena ada 2 fungsi. Pertama sebagai penghasil pertanian yang makmur. Kedua sebagai pusar pertahanan dalam menghadapi wilayah timur Kerajaan.

Lamajang menjadi  terkenal dan maju setelah Arya wiraraja adalah tokoh besar yang lahir dari keturunan Brahmana dari Pulau bali Ida Manik Angkeran datang ke jawa untuk menjengguk kakeknya. Karena sang kakek meninggal, Arya Wiraraja yang memiliki Nama Ida Banyak Wide diangkat menjadi anak Mpu Sedah.

Saat diasuh Empu Sedah yang menjadi penasehat Raja Airlangga, Arya Wiraraja mengenal sesosok gadis anak bangsawan kerajaan Kediri yakni Ageng Pinatih. Dikarenakan Wiraraja sangatmencintai sang gadis, orang tua angkatnya tidak bisa menolak, meski dia adalah keturunan Brahmana.

Setelah menikah dengan Ageng Pinatih, Wiraraja menjadi adipati di Kerajaan Kediri. Arya Wiraraja adalah punggawa kerajaan kediri yang kritis dalam membangun Kerajaan Kediri.

Namun, karir jabatan sebagai adipati yang berpengaruh di Kediri harus berakhir, saat Kediri  (Tumapel) dipimpin oleh Kertanegara. Arya wiraraja diminta untuk memimpin Kerajaan Madura yang beribukota di Sogenep, sekarang menjadi Sumenep.

Pada 1295 masehi Lamajang menjadi Kerajaan yang berdaulat (tanah pardikan) dengan Prabu Arya Wiraraja sebagai rajanya. Arya Wiraraja menjadi raja Mojopahit Timur dengan ibu kota di Lamajang  dikarenakan sesuai perjanjian dengan raden Wijaya, Raja Wilwatikta (Majapahit Barat) akan membagi wilayah Majapahit menjadi dua.

Wiraraja menjadi Raja di Lamajang setelah anaknya Ranggalawe tewas dibunuh oleh pungawa majapahit yang dipimpin Adipati Nambi, dikarenakan melawan Wilwatikta. Wiraraja yang sedih dan Raden wijaya menyerahkan bagian timur kerjaan Singosari sesuai dengan janjinya.

Beliau memerintah wilayah Tiga Juru (Lamajang, Panarukan dan Blambangan atau wilayah tapal kuda sekarang) ditambah Madura dan banyak menanamkan pengaruh di Bali. Kerajaan Lamajang ini ber- ibuk kota di daerah Biting Kutorenon Kabupaten Lumajang hingga sekarang. Bahkan peninggalan benteng kota raja Lamajang masih bisa dijumpai dan tertimbun tanah (gundukan tanah).

Arya wiraraja adalah tokoh besar yang lahir dari keturunan Brahmana dari Pulau bali Ida Manik Angkeran datang ke jawa untuk menjengguk kakeknya. Karena sang kakek meninggal, Arya Wiraraja yang memiliki Nama Ida Banyak Wide diangkat menjadi anak Mpu Sedah.

Saat diasuh Empu Sedah yang menjadi penasehat raja Airlangga, Arya Wiraraja mengenal sesosok gadis anak bangsawan kerajaan Kediri yakni Ageng Pinatih. Dikarenakan Wiraraja sangatmencintai sang gadis, orang tua angkatnya tidak bisa menolak, meski dia adalah keturunan Brahmana.

Setelah menikah dengan Ageng Pinatih, Wiraraja menjadi adipati di Kerajaan Kediri. Arya Wiraraja adalah punggawa kerajaan kediri yang kritis dalam membangun Kerajaan Kediri.

Namun, karir jabatan sebagai adipati yang berpengaruh di Kediri harus berakhir, saat Kediri  (Tumapel) dipimpin oleh Kertanegara. Arya wiraraja diminta untuk memimpin Kerajaan Madura yang beribukota di Sogenep, sekarang menjadi Sumenep.

Arya Wiraraja meninggal pada tahun 1316 masehi dalam usia 87 tahun. Patih Nambi sebagai salah satu putra beliau pulang ke Lamajang untuk mengadakan upacara dukacita ayahnya dan diserang majapahit dengan mendadak oleh Jayanegara (Raja Majapahit setelah Raden Wijaya) atas hasutan dari Mahapatih(dalam kitab Pararton). Lamajang jatuh karena tidak ada persiapan perang. Fitnah ini membawa bencana. Tujuh menteri utama Majapahit yang juga teman-temn seperjuangan Raden Wijaya yang tidak puas pada keputusan memalukan ini ikut gugur di Lamajang membela patih Nambi.

Perang Lamajang tahun 1316 m ini juga mempengaruhi peperangan yang lain di wilayah bekas Kerajaan ini seperti Perang Lasem yang dipimpin teman seperjuangan radeng Wijaya yaitu Ra Semi (1318 m), perang Kuti yang akhirnya membuat raja melarikan diri ke luar kota Majapahit dan diselamatkan Bekel Gajah Mada (1319 m), Perang sadeng (1328 m) dan perang Keta (1328). Setelah Majapahit besar Lamajang yang sudah berganti menjadi Virabhumi sekali lagi meberontak dan menimbulkan Perang Paregreg yang akhirnya melemahkan Majapahit.

Kebesaran dan kekuatan ideologi kerajaan Lamajang ini bertahan sampai tahun 162o-an dimana Lamajang sebagai pusat pusat pertahan terakhir Kerajaan Hindu di Jawa bagian timur. Kerajaan Mataram yang jaya dan menyebarkan ideologi keyakinin, Lamajang di hancurkan oleh Sultan Agung dan Ibu kota Lamajang di daerah Biting dibakar, munculnya Kutorenon (Ketonon alias terbakar atau dibakar).

Pada masa pemerintahan Kolonial, belanda yang sudah tahu akan kebesaran sejarah Lamajang tidak mau membuka daerah memiliki pengaruh dalam kebesaran nusantara. Lamajang ditaruh dibawah pemrintahan Afdelling Probolingga dan pada tahun 1929 diresmikan nama baru menjadi Kabupaten Lumajang dan KRT Kertao Adirejo sebagai regent pertama.

Sejarah kebesaran Nagara Lamajang (Lumajang) merupakan Kerajaan Merdeka yang belum pernah ditulis dan dihilangan dalam buku sejarah mengenai perjuangan  tokoh Arya Wiraraja sebagai arseitek Nusantara.  Lumajang juga mengalami kemunduran dan ketidak majuan hingga saat ini, bahkan sejarah Lumajang seakan-akan ditutup hingga masyarakatnya sendiri tidak mengetahui.

Beruntung Kotaraja Lamajang di Situs Biting Dusun Biting I dan II Desa Kutorenon Kecamatan Sukodono masih bisa ditemui dan menjadi tonggak kembalinya semangat Lamajangan. Namun, Situs Biting yang berada di luas lahan 135 hektar dengan ditemukan bangunan benteng sepanjang 10 kilometer, lebar 6 meter dan tinggi 10 meter dibiarkan terkubur dan seakan-akan ditutup-tutupi oleh pemilik kebijakan.  Bahkan di Situs biting ada pengembang perumahan yang bisa mengancam kerusakan Situs Kota Raja Lamajang yang meredeka dimasa-nya.

Beruntung ada sekolompok Masyarakat Peduli Peninggalan Mojopahit (MPPM) Timur yang bergerak bersama Komunitas Mahasiswa Peduli Lumajang (KMPL), Kelompok Pecinta Mojopahit Timur (Kopi Pahit) bersama Masyarakat Dusun Biting menguak sejarah yang dikubur dan dilupakan. Save Situs Biting…! Sekarang untuk kejayaan Nusantara dan Kemajuan Lumajang..!

Sumber : http://sejarah.kompasiana.com/2011/05/01/lumajang-kota-sejarah-nusantara-yang-dikubur-361261.html

Read More »
8:55 AM | 0 comments