Showing posts with label Sulawesi. Show all posts
Showing posts with label Sulawesi. Show all posts
Pulau Lanjukang - Pesona Surga Dunia Di Ujung Kota Makassar

Pulau Lanjukang - Pesona Surga Dunia Di Ujung Kota Makassar

Jika Anda mengira kota Makassar hanya memiliki pantai Losari atau Fort Rotterdam saja maka Anda salah, kota yang terkenal dengan hawanya yang panas ini ternyata menyimpan pulau-pulau indah yang berada di selat Makassar. Dari 12 pulau yang masuk ke dalam wilayah kota Makassar, pulau Lanjukang merupakan yang terjauh dengan jarak sekitar 40 km dari kota Makassar. Pulau ini kadang disebut juga pulau Lanyukang atau Laccukang, konon nama itu berawal dari kata "lanjutkan" dimana pulau ini sering dijadikan tempat istirahat sementara para nelayan sebelum berlayar atau pulang menangkap ikan.

Bentuk pulau ini memanjang dari barat daya ke timur laut, dengan luas mencapai kurang lebih 6 ha. Vegetasi di pulau ini cukup padat terutama didominasi oleh pohon pinus dan pohon kelapa serta pohon pisang dibagian tengah pulau. Jadi tidak usah takut kepanasan jika anda berkunjung ke pulau cantik ini. Di sisi timur pulau anda akan menemukan hamparan pantai membentang luas & cukup panjang dengan pasir pantai putih bersih yang indah. Pulau lanjukang adalah salah satu pulau yang memiliki pantai paling indah di kepulauan Spermonde.

Pulau Lanjukang

Dari pantainya yang menawan kita bisa menikmati pemandangan laut berwarna biru toska sejauh mata memandang, itu indah sekali. Anda bisa menikmati semua keindahan ciptaan Tuhan itu dengan suasana pulau yang tenang dan sunyi, hanya ditemani suara deburan ombak dan sapuan angin laut sepoi-sepoi yang menyegarkan. Ahh indahnya hidup ini!

Objek wisata di Makassar, Pulau Lanjukang

Jangan puas hanya sampai di situ, di bawah air lautnya anda akan menemukan keunikan lain dari pulau ini. Sambil berenang anda bisa menikmati pemandangan bawah laut pulau Lanjukang. Terumbu karang pulau Lanjukang masih cukup baik namun tidak terlalu istimewa, ikan-ikan dan binatang laut lainnya tidak terlalu banyak. Perairan di sisi barat pulau sangat dangkal dengan kedalaman kurang lebih hanya satu meter dengan terumbu karang tidak terlalu variatif didominasi oleh staghorn coral. Sebaiknya anda berhati-hati jika snorkeling di spot ini, selain agar anda tidak terluka karena gesekan dengan karang tentunya untuk menjaga kelestarian terumbu karang dari gangguan tak sengaja yang kita buat.

lanjukang

Di perairan sebelah timur pulau dengan kedalaman 4 sampai 5 meter anda akan menemukan terumbu karang yang lebih variatif, namun anda perlu berenang sedikit lebih jauh untuk mencapai lokasi ini. Terlepas dari kondisi terumbu karangnya yang tidak terlalu bagus, saya dan teman-teman tetap asik menikmatinya. Sesekali saya menemukan biota laut yang aneh, anemon dengan warna warni ikan badutnya, lion fish, gerombolan ikan-ikan karang yang berenang kesana-kemari dan lain sebagainya.

Di pulau ini terdapat kurang lebih 15 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 50 orang. Sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Mereka menjual ikan hasil tangkapan ke Makassar dengan biaya transportasi yang cukup mahal. Beberapa diantaranya menangkap dan menternakan kelomang untuk mendapat tambahan penghasilan. Ada yang unik dengan penduduk pulau Lanjukang yaitu beberapa diantaranya memiliki fisik yang sedikit berbeda, yaitu tinggi badan di bawah rata-rata, punggung bungkuk dan rambut yang jarang. Konon hal itu terjadi karena dulu mereka menikah hanya dengan sesama penghuni pulau. Terlepas dari semua itu, mereka adalah teman yang ramah dan asyik diajak berbicara.

Penduduk pulau Lanjukang hidup sederhana di pulau yang juga sederhana ini. Di sini fasilitas umum masih sangat terbatas, belum ada fasilitas pendidikan maupun kesehatan di pulau ini. Saya senang ketika melihat sebuah Mesjid semi permanen berdiri diantara rumah penduduk, ketika waktu magrib tiba beberapa bapak-bapak datang untuk sholat berjamaah. Di tengah-tengah pulau terdapat sebuah sumur air payau dan beberapa toilet umum untuk kebutuhan sehari-hari penduduk.

Instalasi listrik masih sangat terbatas hanya menggunakan generator yang beroperasi dari jam 6 sampai jam 9 malam setiap harinya. Pulau Lanjukang gelap gulita saat malam, kontras dengan keadaan kota Makassar yang gemerlap oleh lampu-lampu kota. Mungkin sebaiknya pulau ini tetap begitu agar keindahannya tetap terjaga dan tidak terkotori. Namun saya harap pulau Lanjukang tidak hanya menjadi surga bagi para pelancong yang datang, tapi juga bagi para penduduknya yang sederhana itu.

Bagaimanan untuk ke pulau Lanjukang?
Biasanya teman-teman dari Makassar berangkat dari pelabuhan Paotere, Makassar. Akses ke sana hanya bisa melalui laut namun tidak ada kapal reguler kesana. Oleh karena itu kita harus menyewa kapal kayu yang muat sampai 30 orang dengan harga sekitar kurang lebih 1,5 jutaan untuk pulang pergi. Perjalanan dari pelabuhan paotere sampai pulau Lanjukang kurang lebih ditempuh selama 3 jam.

Berikut beberapa tips dari saya jika anda tertarik mengunjungi pulau Lanjukang :

  1. Karena waktu tempuh cukup lama, idealnya untuk menikmati sepenuhnya pulau Lanjukang kita harus menginap semalam. Anda bisa camping di pantai atau menginap di rumah warga.
  2. Bawalah perlengkapan pribadi, peralatan snorkeling, camping dan memasak. Jangan lupa juga membawa bahan makanan  seperti beras, mie instan, air minum dan lain sebagainya.
  3. Booking kapal di puelabuhan paotere sehari sebelum berangkat dan jangan lupa untuk menawar, tidak ada harga pasti sehingga bisa saja anda mendapat harga yang lebih murah ataupun yang lebih mahal.
  4. Ajak teman, akan semakin asik bila anda mengajak banyak teman. Selain itu anda bisa sharing ongkos kapal dan biaya lainnya.
  5. (Optional) Membawa bahan makanan lebih untuk disumbangkan ke warga. Akan lebih baik lagi jika anda menyumbang buku-buku dan pakaian bekas yang masih layak pakai.



Sumber : http://sodventure.blogspot.com/2013/07/pulau-lanjukang-surga-di-ujung-kota.html
BENTENG SOMBA OPU - MAKASSAR

BENTENG SOMBA OPU - MAKASSAR

Benteng Somba Opu dibangun oleh Sultan Gowa ke-IX yang  bernama Daeng Matanre Karaeng Tumapa‘risi‘ Kallonna pada tahun 1525. Pada  pertengahan abad ke-16, benteng ini menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan  rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang asing dari Asia dan Eropa.

sombaopu
Fort of Somba Opu, the capital of Great Gowa Kingdom

Pada tanggal 24 Juni 1669,  benteng ini dikuasai oleh VOC dan kemudian dihancurkan hingga terendam oleh  ombak pasang. Pada tahun 1980-an, benteng ini ditemukan kembali oleh sejumlah  ilmuan. Pada tahun 1990, bangunan benteng yang sudah rusak direkonstruksi  sehingga tampak lebih indah. Kini, Benteng Somba Opu menjadi sebuah obyek  wisata yang sangat menarik, yaitu sebagai sebuah museum bersejarah.

kini

dulu
Vue de Samboupo, Carthographer: Jacques Nicolas Bellin 1703-1772, Historie generale des voyages, 1747

William Wallace (Ilmuan Inggris), menyatakan, Benteng Somba Opu adalah benteng terkuat yang pernah dibangun orang nusantara. Benteng ini adalah saksi sejarah kegigihan Sultan Hasanuddin serta rakyatnya mempertahankan kedaulatan negerinya.

Pernyataan Wallace bisa jadi benar. Begitu memasuki kawasan Benteng Somba Opu, akan segera terlihat tembok benteng yang kokoh. Menggambarkan sistem pertahanan yang sempurna pada zamannya. Meski terbuat dari batu bata merah, dilihat dari ketebalan dinding, dapatlah terbayangkan betapa benteng ini amat sulit ditembus dan diruntuhkan.

Ada tiga bastion yang masih terlihat sisa-sisanya, yaitu bastion di sebelah barat daya, bastion tengah, dan bastion barat laut. Yang terakhir ini disebut Buluwara Agung. Di bastion inilah pernah ditempatkan sebuah meriam paling dahsyat yang dimiliki orang Indonesia. Namanya Meriam Anak Makassar. Bobotnya mencapai 9.500 kg, dengan panjang 6 meter, dan diameter 4,14 cm.

Sebenarnya, Benteng Somba Opu sekarang ini lebih tepat dikatakan sebagai reruntuhan dengan sisa-sisa beberapa dinding yang masih tegak berdiri. Bentuk benteng ini pun belum diketahui secara persis meski upaya ekskavasi terus dilakukan. Tetapi menurut peta yang tersimpan di Museum Makassar, bentuk benteng ini adalah segi empat.

Di beberapa bagian terdapat patok-patok beton yang memberi tanda bahwa di bawahnya terdapat dinding yang belum tergali. Memang, setelah berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Gowa yang dipimpin Sultan Hasanuddin, Belanda menghancurkan benteng ini. Selama ratusan tahun, sisa-sisa benteng terbenam di dalam tanah akibat naiknya sedimentasi dari laut.

Secara arsitektural, begitu menurut peta dokumen di Museum Makassar, benteng ini berbentuk segi empat dengan luas total 1.500 hektar. Memanjang 2 kilometer dari barat ke timur. Ketinggian dinding benteng yang terlihat saat ini adalah 2 meter. Tetapi dulu, tinggi dinding sebenarnya adalah antara 7-8 meter dengan ketebalan 12 kaki atau 3,6 meter.

Benteng Somba Opu sekarang ini berada di dalam kompleks Miniatur Budaya Sulawesi Selatan. Wisatawan dapat menikmati bentuk-bentuk rumah tradisional Sulawesi Selatan seperti rumah tradisional Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar tak jauh dari benteng. Di dalam kompleks ini pula setiap tahun digelar Pameran Pembangunan Sulawesi Selatan.

Lokasi Obyek :
Benteng Somba Opu terletak di Jl Daeng Tata, Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa. Jaraknya sekitar enam kilometer sebelah selatan pusat Kota Makassar.

Akses ke Lokasi :
Benteng Somba Opu dapat diakses dari pusat Kota Makassar (Lapangan Karebosi) dengan angkutan kota (petepete) atau taksi. Jika menggunakan angkutan kota, dari Lapangan Karebosi menumpang angkutan kota jurusan Cenderawasih. Dari Cenderawasih berganti angkutan menuju Benteng Somba Opu.

BENTENG BELGICA - MALUKU

Benteng Belgica pada awalnya adalah sebuah benteng yang dibangun oleh bangsa Portugis pada abad 16 di Pulau Neira, Maluku. Lama setelah itu, di lokasi benteng Portugis tersebut kemudian dibangun kembali sebuah benteng oleh VOC atas perintah Gubernur Jendral Pieter Both pada tanggal 4 September 1611. Benteng tersebut kemudian diberi nama Fort Belgica, sehingga pada saat itu, terdapat dua buah benteng di Pulau Neira yaitu; Benteng Belgica dan Benteng Nassau. Benteng ini dibangun dengan tujuan untuk menghadapi perlawanan masyarakat Banda yang menentang monopoli perdagangan pala oleh VOC.




Pada tanggal 9 Agustus 1662, benteng ini selesai diperbaiki dan diperbesar sehingga mampu menampung 30 – 40 serdadu yang bertugas untuk menjaga benteng tersebut.

Kemudian pada tahun 1669, benteng yang telah diperbaiki tersebut dirobohkan, dan sebagian bahan bangunannya digunakan untuk membangun kembali sebuah benteng di lokasi yang sama. Pembangunan kali ini dilaksanakan atas perintah Cornelis Speelman. Seorang insinyur bernama Adriaan Leeuw ditugaskan untuk merancang dan mengawasi pembangunan benteng yang menelan biaya sangat besar ini. Selain menelan biaya yang sangat besar (309.802,15 Gulden), perbaikan kali ini juga memakan waktu yang lama untuk meratakan bukit guna membuat pondasi benteng yaitu sekitar 19 bulan. Biaya yang besar tersebut juga disebabkan karena banyak yang dikorupsi oleh mereka yang terlibat dalam perbaikan benteng ini. Akhirnya benteng ini selesai pada tahun 1672.

Sepuluh tahun kemudian komisaris Robertus Padbrugge ditugaskan untuk memeriksa pembukuan pekerjaan tersebut, tetapi ia tidak berhasil dalam tugasnya tersebut. Hal ini dikarenakan banyak tuan tanah yang beranggapan bahwa biaya tersebut tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan hasilnya, sebuah benteng yang hebat dan mengagumkan. Karena hal tersebut, Padbrugge menghentikan penyelidikannya.

Walaupun benteng tersebut dikatakan sangat hebat dan mengagumkan, tetapi masalah bagaimana untuk mencukupi kebutuhan air dalam benteng masih juga belum terpecahkan. Setelah menimbang-nimbang apakah akan menggali sebuah sumur atau membuat sebuah bak penampungan air yang besar atau membuat empat buah bak penampungan air yang lebih kecil, akhirnya diputuskan untuk menggali sebuah sumur di dekat benteng dan menghubungkannya dengan sebuah bak penampung air berbentuk oval yang dibuat ditengah halaman dalam benteng.

Pada tahun 1795, benteng ini dipugar oleh Francois van Boeckholtz—Gubernur Banda yang terakhir. Pemugaran ini dilaksanakan juga di beberapa benteng-benteng lain sebagai persiapan untuk menghadapi serangan Inggris. Satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 8 Maret 1796, benteng Belgica diserang dan berhasil direbut oleh pasukan Inggris. Dengan jatuhnya benteng ini, Inggris dengan mudah dapat menguasai Banda. Pada tahun 1803 dilaporkan, setiap kali ada satu kapal yang berlabuh, diadakan upacara band militer setiap jam 5 pagi dan jam 8 malam di benteng Belgica dan Nassau. Setiap hari Kamis dan Senin dilakukan pawai militer pada jam 6.30 pagi. Pergantian jaga dilakukan setiap pagi, siang dan malam pada kedua benteng tersebut, sehingga hampir setiap jam masyarakat yang tinggal dekat kedua benteng tersebut dapat melihat parade militer dan mendengarkan musik dari band militer.

Sumber : http://fatawisata.com/

BENTENG KRATON BUTON - IKON SULAWESI TENGGARA


Benteng Keraton Buton merupakan benteng terluas dan terunik di dunia. Terletak di kota Baubau Sulawesi Tenggara. Benteng ini mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guiness Book Record pada September 2006 sebagai benteng terluas di dunia yaitu 23,375 hektar. Keberadaan benteng tersebut dahulunya membawa pengaruh besar bagi keberadaan Kerajaan Islam Buton sehingga mampu bertahan selama kurang lebih 4 abad.





Benteng Keraton Buton yang aslinya disebut Keraton Wolio ini berbentuk huruf dhal dalam alpabet Arab yang diambil dari huruf terakhir nama Nabi Muhammad saw. Panjang keliling benteng tersebut 3 kilometer dengan tinggi rata-rata 4 meter dan lebar atau ketebalan 2 meter. Panjang keliling benteng adalah 2.740 meter yang mengintari perkampungan adat asli Buton dengan rumah-rumah tua yang tetap terpelihara hingga saat ini. Jadi di sini Anda juga dapat menikmati budaya masyarakatnya yang masih menerapkan adat istiadat asli dikemas dalam beragam tampilan seni budaya dan kerap ditampilkan pada upacara upacara adat.

Benteng Keraton Buton merupakan peninggalan Kesultanan Buton yang dibangun pada abad ke-16 oleh Sultan Buton III bernama La Sangaji yang bergelar Sultan Kaimuddin (1591-1596). Benteng ini awalnya hanya dibangun dalam bentuk tumpukan batu yang disusun mengelilingi komplek istana kemudian sekaligus sebagai pagar pembatas antara komplek istana dengan perkampungan masyarakat sekitarnya. Pada masa pemerintahan Sultan Buton IV yang bernama La Elangi atau Sultan Dayanu Ikhsanuddin, benteng tersebut dijadikan bangunan permanen. 


Benteng Keraton Buton ini memiliki bentuk arsitek yang cukup unik, terbuat dari batu kapur gunung. Benteng ini memiliki 12 pintu gerbang yang disebut Lawa dan 16 emplasemen meriam yang mereka sebut Baluara. Karena letaknya pada puncak bukit yang cukup tinggi dengan lereng yang cukup terjal memungkinkan tempat ini sebagai tempat pertahanan terbaik di zamannya. 

Benteng Keraton Buton di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, merupakan bangunan terunik di antara benteng yang ada di seluruh dunia. Konstruksi benteng setinggi 1,5 meter hingga 2 meter tersebut tersusun dari batu-batu gunung dengan menggunakan perekat berupa adonan kapur dicampur cairan putih telur. Di seluruh dunia, tidak ada benteng dengan konstruksi bangunan seperti itu. Pada umumnya, benteng dibangun menggunakan perekat berupa pasir dicampur semen. 

Di dalam benteng terdapat bangunan masjid  yang juga konstruksi bangunannya sama seperti bangunan benteng. Di depan masjid, terdapat tiang bendera yang tingginya 33 meter. Uniknya, tiang bendera yang sudah berusia kurang lebih 400 tahun dan tidak lapuk oleh hujan dan tidak lekang oleh teriknya matahari. Tiang bendera yang saat ini masih berdiri kokoh di depan Masjid Keraton Buton tersebut berbahan kayu yang berasal dari Patani, Thailand dan dibawa para saudagar yang menjadi mitra Sultan Buton. 

Keunikan lain dari Benteng Keraton Buton adalah pintu masuk benteng terdiri atas 12 pintu. Oleh masyarakat Buton, pintu sebanyak itu diidentikan dengan jumlah lubang dalam tubuh manusia yaitu dua lubang mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, satu lubang anus, satu lubang mulut, satu lubang kecing, satu saluran sperma, satu lubang pusat, dan satu lobang keringat atau pori-pori. Lubang keluarnya sperma pada tubuh manusia, dianalogikan dengan pintu rahasia kerajaan, yakni pintu tempat keluarnya keluarga kerajaan apabila ada bahaya yang mengancam kerajaan.

Menurut masyarakat Button atau masyarakat Sulawesi Tenggara, Benteng Kraton Buton ini adalah salah satu benteng yang terbesar di Dunia, dimana benteng ini mengelilingi satu perbukitan pulau Buton. Salah satu Benteng terbesar yang paling terkenal didunia yaitu benteng tebok besar China atau Gread Wall. Saat memasuki pintu utama kawasan ini di sebelah kiri pintu kita akan menjumpai sebuah prasasti yang bertuliskan silsila raja-raja Kerajaan Butun dan disebelah kanan bangunan, berdiri sebuah Mesjid Tua Buton yang sangat khas dan unik, dan terlihat pula Batu bertuah dan  Batu Kramat yang mempunyai kolam kecil yang konon kolam ini tidak pernah kering. Di area ini juga kita bisa melihat makam para raja-raja, Balai Pertemuan para raja-raja, Ruang pelantikan Raja, selain itu juga terdapat peninggalan sejarah kerajaan Buton seperti Meriam/ Basoka Tua. Pulau Buton berada dalam wilayah provinsi Sulawesi Tenggara.

MASJID AL-MUNAWAROH - LANDMARK KOTA TERNATE


Masjid Raya Al-Munawaroh Kota Ternante, propinsi Maluku Utara. Merupakan masjid yang dibangun oleh Pemerintah kota Ternate di bibir pantai kota itu. Masjid yang begitu menawan dipandang dari laut, dengan dua  menaranya yang memang dibangun di laut, memberikan pemandangan yang begitu indah. Masjid Raya Al-Munawaroh kini menjadi landmark kota ternate. Bila dipandang dari arah laut masjid ini begitu menawan dengan gunung Gamalama di latar belakang.


Lokasi Masjid Raya Al-Munawaroh Ternate

Masjid Raya Al-Munawaroh terletak di tepi laut kawasan pantai Sewiring Gamalama Kota ternate, Provinsi Maluku Utara. Pantai Sewiring merupakan pusat berkumpulnya warga kota. Dari pantai ini bisa melihat kemegahan Pulau Maitara dan Tidore yang diabadikan dalam lembaran uang kertas seribu rupiah.



Sejarah Pembangunan Masjid Raya Al-Munawaroh

Mulai dibangun pertengahan tahun 2003 dengan dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) hampir senilai 48 miliar rupiah. Mulai dipakai pertama kali tanggal 6 Agustus 2010 dengan Sholat jum’at berjamaah sekaligus takbir akbar menyambut bulan suci ramadhan 1431H, meskipun belum keseluruhan pembangunan masjid selesai di kerjakan.  Walikota Ternate, Syamsir Andili Turut hadir dalama acara tersebut bersama ribuan ummat Islam Kota Ternate dan sekitarnya.

Pembangunan Masjid Al-Munawaroh ini sempat mengalami keterlambatan yang mengakibatkan Pemerintah Kota Ternate memberikan teguran kepada pelaksana pembangunan dan mewajibkan mereka membayar ganti rugi sebesar lima ratus juta rupiah sebagai rekomendasi dari hasil audit BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) tahun 2007.


Arsitektur Masjid Raya Al-Munawaroh

Masjid dibangun di atas lahan seluas 6 Hektar, dengan luas masjid nya sendiri mencapai 9512 meter persegi, dirancang untuk menampung 15.000 jamaah sekaligus. Hal yang wajar mengingat kota Ternate memang bervisi sebagai kota Madani dengan penduduk 650 ribu jiwa lebih dan 95% penduduknya beragama Islam. Pembangunan masjid ini memakan waktu selama tujuh tahun dari tahun 2003 hingga tahun 2010.  




Masjid Raya Al-Munawaroh dilengkapi dengan 4 menara setinggi 44 meter, dua dari menara tersebut memang dibangun di laut. Sesuai dengan Permendagri Nomor 45 Tahun 2007, Masjid Al-Munawwar termasuk kategori bangunan monumental dengan spesifikasi khusus. Dimana beberapa bahan bangunan masjid seperti keramik dan lampu didatangkan langsung dari Negara Turki.

Cukup menarik karena studi perencanaan struktur beton bertulang dan pondasi tiang pancang pembangunan Masjid Raya Ternate ini dijadikan skripsi oleh dua orang Mahasiswa program sarjana Teknik, Universitas Muhamadiyah Malang tahun 2006 yang lalu.

Sumber : http://bujangmasjid.blogspot.com/


SEJARAH KOTA GORONTALO

SEJARAH KOTA GORONTALO


Menurut sejarah, Jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Kota Makassar, Pare-pare dan Manado. Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo, Bone.Seiring dengan penyebaran agama tersebut Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan masyarakat di wilayah sekitar seperti Bolaang Mongondow (Sulut), Buol Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala (Sulteng) bahkan sampai ke Sulawesi Tenggara. 


Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan karena letaknya yang strategis menghadap Teluk Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara).

Kedudukan Kota Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa Kecamatan Telaga sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango. Menurut Penelitian, pada tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan Hulawa ke Dungingi Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Kota Barat sekarang. Kemudian dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe Kerajaan ini dipindahkan dari Dungingi di pinggiran sungai Bolango, ke satu lokasi yang terletak antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B.

Dengan letaknya yang stategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan serta penyebaran agama islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada wilayah sekitar, bahkan menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan Kepala Daerah Sulawesi Utara Afdeling Gorontalo yang meliputi Gorontalo dan wilayah sekitarnya seperti Buol ToliToli dan, Donggala dan Bolaang Mongondow.


Sebelum masa penjajahan keadaaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut huukm adat etatanegaraan Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut "Pohala'a".Menurut Haga (1931) daerah Gorontalo ada lima pohala'a :
  • Pohala'a Gorontalo
  • Pohala'a Limboto
  • Pohala'a Suwawa
  • Pohala'a Boalemo
  • Pohala'a Atinggola

Dengan hukum adat itu maka Gorontalo termasuk 19 wilayah adat di Indonesia Pohalaa Gorontalo merupakan pohalaa yang paling menonjol diantara kelima pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal.

Asal usul nama Gorontalo terdapat berbagai pendapat dan penjelasan antara lain :
  • "Hulontalangio", nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi hulontalo.
  • Berasal dari " Hua Lolontalango" yang artinya orang-orang Gowa yang berjalan lalu lalang.
  • Berasal dari " Hulontalangi" yang artinya lebih mulia.
  • Berasal dari "Hulua Lo Tola" yang artinya tempat berkembangnya ikan Gabus.
  • Berasal dari " Pongolatalo" atau "Puhulatalo" yang artinya tempat menunggu.
  • Berasal dari Gunung Telu yang artinya tiga buah gunung.
  • Berasal dari " Hunto" suatu tempat yang senantiasa digenangi air

Jadi asal usul nama Gorontalo (arti katanya) tidak diketahui lagi, namun jelas kata "hulondalo" hingga sekarang masih hidup dalam ucapan orang Gorontalo dan orang Belanda karena kesulitan dalam mengucapkannya diucapkan dengan Horontalo dan bila ditulis menjadi Gorontalo.

Pada tahun 1824 daerah Limo Lo Pohalaa telah berada di bawah kekusaan seorang asisten Residen disamping Pemerintahan tradisonal. Pada tahun 1889 sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah " Rechtatreeks Bestur ". Pada tahun 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan Daerah Limo lo pohalaa dibagi atas tiga Onder Afdeling yaitu :
  • Onder Afdeling Kwandang
  • Onder Afdeling Boalemo
  • Onder Afdeling Gorontalo

Selanjutnya pada tahun 1920 berubah lagi menjadi lima distrik yaitu :
  • Distrik Kwandang
  • Distrik Limboto
  • Distrik Bone
  • Distrik Gorontalo
  • Distrik Boalemo

Pada tahun 1922 Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling yaitu :
  • Afdeling Gorontalo
  • Afdeling Boalemo
  • Afdeling Buol

Sebelum kemerdekaan Republik , rakyat Gorontalo dipelopori oleh Bpk. H. Nani Wartabone berjuang dan merdeka pada tanggal 23 Januari 1942. Selama kurang lebih dua tahun yaitu sampai tahun 1944 wilayah Gorontalo berdaulat dengan pemerintahan sendiri. Perjuangan patriotik ini menjadi tonggak kemerdekaan bangsa Indonesia dan memberi imbas dan inspirasi bagi wilayah sekitar bahkan secara nasional. Oleh karena itu Bpk H. Nani Wartabone dikukuhkan oleh Pemerintah RI sebagai pahlawan perintis kemerdekaan.

Hari Kemerdekaan Gorontalo " yaitu 23 Januari 1942 dikibarkan bendera merah putih dan dinyanyikan lagu Indonesia Raya. Padahal saat itu Negara Indonesia sendiri masih merupakan mimpi kaum nasionalis tetapi rakyat Gorontalo telah menyatakan kemerdekaan dan menjadi bagian dari Indonesia

Selain itu pada saat pergolakan PRRI Permesta di Sulawesi Utara masyarakat wilayah Gorontalo dan sekitarnya berjuang untuk tetap menyatu dengan Negara Republik Indonesia dengan semboyan "Sekali ke Djogdja tetap ke Djogdja" sebagaimana pernah didengungkan pertama kali oleh Ayuba Wartabone di Parlemen Indonesia Timur ketika Gorontalo menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur.

Sumber : http://www.gorontalo.go.id/
BENTENG OTANAHA - WISATA SEJARAH DI GORONTALO

BENTENG OTANAHA - WISATA SEJARAH DI GORONTALO


Benteng Otanaha merupakan objek wisata yang terletak di atas bukit di Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo. Benteng ini dibangun sekitar tahun 1522. Benteng Otanaha terletak di atas sebuah bukit, dan memiliki 4 buah tempat persinggahan dan 348 buah anak tangga ke puncak sampai ke lokasi benteng. Jumlah anak tangga tidak sama untuk setiap persinggahan. Dari dasar ke tempat persinggahan I terdapat 52 anak tangga, ke persinggahan II terdapat 83 anak tangga, ke persinggahan III terdapat 53 anak tangga, dan ke persinggahan IV memiliki 89 anak tangga. Sementara ke area benteng terdapat 71 anak tangga, sehingga jumlah keseluruhan anak tangga yaitu 348.

otanaha

Sekitar abad ke-15, dugaan orang bahwa sebagian besar daratan Gorontalo adalah air laut. Ketika itu, Kerajaan Gorontalo di bawah Pemerintahan Raja Ilato, atau Matolodulakiki bersama permaisurinya Tilangohula (1505–1585). Mereka memilik tiga keturunan, yakni Ndoba (wanita), Tiliaya (wanita), dan Naha (pria). Waktu usia remaja, Naha melanglang buana ke negeri seberang, sedangkan Ndoba dan Tiliaya tinggal di wilayah kerajaan. Suatu ketika sebuah kapal layar Portugal singgah di Pelabuhan Gorontalo Karena kehabisan bahan makanan, pengaruh cuaca buruk, dan gangguan bajak laut. Mereka menghadap kepada Raja Ilato. Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah kesepakatan, bahwa untuk memperkuat pertahanan dan keamanan negeri, akan dibangun atau didirikan tiga buah benteng di atas perbukitan Kelurahan Dembe, Kecamatan Kota Barat yang sekarang ini, yakni pada tahun 1525.



Ternyata, para nakhoda Portugis hanya memperalat Pasukan Ndoba dan Tiliaya ketika akan mengusir bajak laut yang sering menggangu nelayan di pantai. Seluruh rakyat dan pasukan Ndoba dan Tiliaya yang diperkuat empat Apitalau, bangkit dan mendesak bangsa Portugis untuk segera meninggalkan daratan Gorontalo. Para nakhkoda Portugis langsung meninggalkan Pelabuhan Gorontalo. Ndoba dan Tiliaya tampil sebagai dua tokoh wanita pejuang waktu itu langsung mempersiapkan penduduk sekitar untuk menangkis serangan musuh dan kemungkinan perang yang akan terjadi. Pasukan Ndoba dan Tiliaya, diperkuat lagi dengan angkatan laut yang dipimpin oleh para Apitalau atau ‘kapten laut’, yakni Apitalau Lakoro, Pitalau Lagona, Apitalau Lakadjo, dan Apitalau Djailani. Sekitar tahun 1585, Naha menemukan kembali ketiga benteng tersebut. Ia memperistri seorang wanita bernama Ohihiya. Dari pasangan suami istri ini lahirlah dua putra, yakni Paha (Pahu) dan Limonu.


Pada waktu itu terjadi perang melawan Hemuto atau pemimpin golongan transmigran melalui jalur utara. Naha dan Paha gugur melawan Hemuto. Limonu menuntut balas atas kematian ayah dan kakaknya. Naha, Ohihiya, Paha, dan Limonu telah memanfaatkan ketiga benteng tersebut sebagai pusat kekuatan pertahanan. Dengan latar belakang peristiwa di atas,maka ketiga benteng dimaksud telah diabadikan dengan nama sebagai berikut. Pertama, Otanaha. Ota artinya benteng. Naha adalah orang yang menemukan benteng tersebut. Otanaha berarti benteng yang ditemukan oleh Naha. Kedua, Otahiya. Ota artinya benteng. Hiya akronim dari kata Ohihiya, istri Naha Otahiya, berarti benteng milik Ohihiya. Ketiga Ulupahu.Ulu akronim dari kata Uwole,artinya milik dari Pahu adalah putera Naha.Ulupahu berarti benteng milik Pahu Putra Naha. Benteng Otanaha, Otahiya, dan Ulupahu dibangun sekitar tahun 1522 atas prakarsa Raja Ilato dan para nakhoda Portugal.

Keunikan dari benteng ini bangunanya terbuat dari campuran kapur dan putih burung aleo. Karena letaknya yang berada dipuncak bukit maka dari benteng ini dapat dilihat pemandangan danau limboto. Selain benteng Otanaha didekatnya pula dua buah benteng yaitu benteng Otahiya dan Ulupahu.

Panorama yang ditawarkan dari Benteng Otanaha adalah panorama Kota Gorontalo dan Danau Limboto. Sepanjang mata memandang, mata dimanjakan pemandangan yang bagus karena lokasi benteng yang berada di ketinggian memang memungkinkan untuk melayangkan pemandangan ke mana saja.

Benteng ini konon dibangun oleh pejuang-pejuang Gorontalo sebagai benteng pertahanan untuk melawan Belanda.Konstruksi benteng berbentuk bulat dengan pondasi dari batu-batu alam. Tinggi benteng sekitar 7 meter dan diameter benteng mungkin sekitar 20 meter. Terdapat 3 benteng yang dihubungkan dengan jalan setapak untuk menuju ke tiap-tiap benteng.Lokasinya yang berada di atas bukit memang sangat strategis sebagai benteng pertahanan sekaligus menara intai saat jaman perang dulu.

Untuk mencapai benteng ini juga mudah, 30 menit dari Kota Gorontalo ke arah Danau Limboto. Untuk sampai ke atas bisa dengan berjalan kaki melalui 1000 anak tangga atau membawa kendaraan sampai di atas bukit dan diparkir di depan benteng. Pengunjung akan dikenai tiket masuk sebesar 5.000 rupiah dan sudah bisa menikmati suasana Benteng Otanaha sepuasnya.

TAMAN NASIONAL LORE LINDU - SULAWESI TENGAH


Taman Nasional Lore Lindu terletak di provinsi Sulawesi Tengah. Taman Nasional ini menyimpan keanekaragaman flora dan fauna khas Sulawesi.

Taman Nasional Lore Lindu memiliki berbagai tipe ekosistem yaitu hutan pamah tropika, hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan sampai hutan dengan komposisi jenis yang berbeda.


Tumbuhan yang dapat dijumpai di hutan pamah tropika dan pegunungan bawah antara lain Eucalyptus deglupta, Pterospermum celebicum, Cananga odorata, Gnetum gnemon, Castanopsis argentea, Agathis philippinensis, Philoclados hypophyllus, tumbuhan obat, dan rotan.

Hutan sub-alpin di taman nasional ini berada diatas ketinggian 2.000 meter dpl. Keadaan hutannya sering diselimuti kabut, dan sebagian besar pohonnya kerdil-kerdil yang ditumbuhi lumut.

Di dalam kawasan taman nasional terdapat berbagai ragam satwa yaitu 117 jenis mamalia, 88 jenis burung, 29 jenis reptilia, dan 19 jenis amfibia. Lebih dari 50 persen satwa yang terdapat di kawasan ini merupakan endemik Sulawesi diantaranya kera tonkean (Macaca tonkeana tonkeana), babi rusa (Babyrousa babyrussa celebensis), tangkasi (Tarsius diannae dan T. pumilus), kuskus (Ailurops ursinus furvus dan Strigocuscus celebensis callenfelsi), maleo (Macrocephalon maleo), katak Sulawesi (Bufo celebensis), musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii musschenbroekii), tikus Sulawesi (Rattus celebensis), kangkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus), ular emas (Elaphe erythrura), dan ikan endemik yang berada di Danau Lindu (Xenopoecilus sarasinorum).

Disamping kekayaan dan keunikan sumberdaya alam hayati, taman nasional ini juga memiliki kumpulan batuan megalitik yang bagus dan merupakan salah satu monumen megalitik terbaik di Indonesia.

Taman Nasional Lore Lindu mendapat dukungan bantuan teknis internasional, dengan ditetapkannya sebagai Cagar Biosfir oleh UNESCO pada tahun 1977. 

SEJARAH BENTENG FORT ROTTERDAM - MAKASSAR


Benteng Fort Rotterdam yang merupakan salah satu peninggalan sejarah penting dan berdiri megah di tengah kota Makassar. Benteng yang dibangun pada masa pemerintahan kerajaan Gowa tahun 1545 oleh Raja Gowa ke X I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna dengan nama Benteng Ujung Pandang.

Didalam benteng ini terdapat rumah panggung khas Gowa yang merupakan kediaman Raja Gowa berserta keluarganya. Setelah Belanda berhasil menaklukan area Banda dan Maluku, Belanda pun mulai menyerang Makassar dengan dalih ingin memperluas perdangan atau VOC hingga akhirnya benteng ini pun diambil alih oleh Belanda. Setelah benteng ini jatuh ke  tangan Belanda, mereka pun menata ulang dengan arsitektur Belanda dan diberi nama “Fort Rotterdam”. Selanjutnya, Fort Rotterda digunakan untuk menampung rempah-rempah dan sebagai pusat pemerintahan Belanda untuk wilayah Indonesia bagian timur. Dimasa pemerintahan Jepang benteng ini digunakan untuk pusat pertanian dan bahasa. Setelah Indonesia merdeka benteng ini pun diambil alih oleh TNI dan dijadikan sebagai pusat komando. Kini, Fort Rotterdam menjadi pusat kebudayaan dan seni.

Benteng yang mempunyai tinggi 5 meter dengan ketebalan dinding mencapai 2 meter ini apabila dilihat dari udara akan tampak seperti penyu. Tak heran jika Fort Rotterdam juga disebut dengan nama “Benteng Panynyua”. Benteng ini memiliki pintu yang kecil dengan posisi sudut benteng yang lebih kokoh dan tinggi, di bagian atas terdapatmeriam. Dari segi filosofi, bentuk penyu ini sebagai simbol bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut, begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang mampu berjaya di daratan maupun di lautan.

Fort Rotterdam memiliki beberapa ruang tahanan atau penjara yang salah satunya digunakan untuk menahan Pangeran Diponegoro pada tahun 1834. Selain itu, terdapat sebuah gereja peninggalan Belanda dan Museum La Galigo yang menyimpan kurang lebih 4.999 koleksi. Koleksi tersebut meliputi benda prasejarah, numismatic, keramik asing, sejarah, naskah dan etnografi. Koleksi etnografi ini terdiri dari berbagai jenis hasil teknologi, kesenian, peralatan hidup dan benda lain yang dibuat dan digunakan oleh suku Bugis, Makassar, Mandar, da Toraja. Saat ini, selain sebagai tempat wisata bersejarah, Fort Rotterdam ini menjadi pusat kebudayaan Sulawesi Selatan.

Benteng yang merupakan warisan dari generasi ke generasi itu, kini telah menjadi salah satu ikon wisata sejarah kota Makassar yang paling sering dikunjungi oleh para pelancong baik dalam dan luar negeri. Hampir setiap hari ratusan orang berkunjung ke benteng ini. Pada malam hari para pengunjung disuguhi berbagai macam hidangan laut khas kota Makassar.

Sumber : http://panduanwisata.com/
WISATA NAN EKSOTIS DI PULAU SILADEN - MANADO

WISATA NAN EKSOTIS DI PULAU SILADEN - MANADO


Pulau SiladenOmbak mengalun tipis, memecah kesunyian. Air biru jernih menerawang tiap jengkal indahnya kehidupan bawah laut dengan keanekaragaman ikan dan terumbu karang yang mempesona. Bentangan pantai dengan hamparan pasir putih berpagar batang-batang nyiur seakan-akan menari-nari tiada henti. Memperlihatkan jerat pesona pulau Siladen yang tersembunyi.

Pulau Siladen adalah satu dari lima pulau di kawasan Taman Nasional Bunaken di Manado, Sulawesi Utara. Pulau ini juga memiliki taman laut dengan ikan dan karang yang warna-warni serta sebuah gua yang indah. Berada di sebelah timur laut pulau Bunaken, Kecamatan Bunaken sekitar 8 mil dari pusat kota yang dapat ditempuh selama 45 menit dengan menggunakan kapal motor.

Keindahan Pulau Siladen

Siladen berada didekat pulau Manado Tua ini mempunyai luas 31,25 ha. Dikelilingi Pantai pasir putih dan lautnya terdapat terumbu karang dengan biota laut yang beraneka bentuk dan warna sehingga membentuk suatu taman laut yang cukup indah. Keindahan taman lautnya dapat dilihat pada lokasi yang disebut dengan Siladen 1 dan Siladen 2.

Menurut sejarah nama Siladen ini mempunyai arti ‘Kandas’, dan ceritanya pada zaman dahulu ada sebuah kapal yang dipergunakan orang Sangier yang sedang mengadakan perjalanan, mengalami kecelakaan dan kandas di pulau tersebut. Sehingga pulau tersebut sampai sekarang bernama Siladen.

Pulau ini juga dikenal sebagai salah satu pulau yang tenang dengan kicauan burung camar turut melengkapi suasana alamiah yang sulit ditemukan di tempat lain. Sangat cocok untuk mereka yang merasa butuh mengasingkan sejenak dari kepenatan dan hiruk-pikuk peradaban kota, tempat ini menawarkan kesempatan yang menyenangkan untuk istirahat dan berjemur menikmati taburan sinar matahari yang menyehatkan.

Hamparan pantai perpasir putih sangat mendominasi pulau kecil ini. Tempat ini tidak hanya merupakan tempat diving yang bagus bagi penyelam perpengalaman, tetapi juga merupakan tempat snorkeling yang nyaman untuk siapa saja. Karena pulau ini mempunyai hamparan pasir putih yang bersih, sedangkan kondisi dalam airnya tidak terlalu banyak terumbu karang dan didominasi dengan pasir, sehingga sangat cocok untuk berenang.

Disini banyak sekali berdiri resort-resort mewah yang terjaga rapi, sehingga jika di Bunaken yang terkenal dengan keindahan dalam lautnya, sedangkan kalau di pulau Siladen lebih menonjolkan keindahan hamparan pantainya, dan para wisatawan lebih suka untuk berjemur di pantai ini.

Terumbu Karang Pulau Siladen

Pantai pasir putih Siladen sangat potensial untuk dijadikan sebagai Pusat Aktivitas Olahraga dan event tahunan pembuatan Istana Pasir dengan mereposisi kawasan ini. Reposisi ini dapat dilakukan dengan mengapitalisasi pasir putih untuk dijadikan lokasi event pembuatan istana pasir maupun aktivitas olahraga voli pantai dan sunbathing (mandi matahari) tetapi disertai denga kode etik tertentu.

Selain aktivitas fisik yang dapat dilakukan di pulau ini, aktivitas pariwisata juga dapat ditingkatkan dengan memasuki niche market (pasar khusus) untuk melayani segmen komunitas yang memiliki minat di bidang kelautan Coastal Cultural Learning Community (Komunitas belajar tentang laut sebagai bagian dari budaya). Segmen pasar ini bisa bervariasi dari kaum awam sampai akademik (mahasiswa) yang berminat mengetahui lingkungan bawah laut.

Kegiatan wisata yang dapat dilakukan, berupa menikmati taman laut dengan cara sightseeing (berkeliling) dengan menggunakan perahu berkaca (katamaran), snorkeling (berenang memakai alat pernapasan), diving (menyelam), dan photografi underwater (foto bawah laut); serta berjemur badan di pantai.

Menuju Siladen
Perjalanan menuju pulau Siladen bisa ditempuh melalui dua alternatif; pertama, dengan menggunakan perahu transportasi umum. Perahu ini yang hanya ada satu kali sehari dan dari manado berangkat sekitar antara jam 13.00 s/d 15.00 (tergantung pasang-surut air). Jadi kalau ingin ke pulau Siladen dengan menggunakan perahu transportasi umum, anda harus siap-siap menginap di pulau Siladen, karena perahu ini baru akan kembali ke manado keesokan harinya sekitar jam 07.00 pagi.

Jadi sebenarnya maksud dari jadwal sekali sehari itu adalah dari pulau Siladen ke Manado berangkat jam 07.00 pagi dan akan kembali lagi dari manado ke pulau Siladen sekitar jam 13.00, jam 14.00 atau jam 15.00. Sementara itu, ongkos perjalanan dengan menggunakan perahu ini adalah untuk non penduduk asli pada kisaran Rp 25,000 – 50,000 per orang.

Kedua, dengan menggunakan perahu speed boat yang dapat di charter oleh para wisatawan. Dengan cara ini wisatawan dapat berangkat ke pulau Siladen kapan saja dan jam berapa saja, lalu bisa kembali pada sore hari itu juga, atau juga bisa dilanjutkan dengan menginap di pulau siladen. Untuk ongkos perjalanan menggunakan speed boat ini wisatawan diharuskan membayar biaya charter perahu one way dari manado ke pulau Siladen dengan harga sampai Rp 250,000 – Rp 300,000 (per speed boat). Kalau untuk sewa satu hari pulang pergi di hari yang sama, wisatawan harus merogoh kocek sebesar Rp 600,000.

Sampai di Pulau Siladen wisatawan akan mendapat sambutan yang hangat oleh penduduk sekitar pulau karena selain memiliki keindahan alam yang khas, juga kehidupan masyarakat pulau Siladen yang cukup unik. Mereka sangat bersahaja dan sangat ramah kepada para pengunjung.

PESONA WISATA ALAM NATUNA - RIAU


Kabupaten Natuna, merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau. Natuna merupakan wilayah kepulauan paling utara di Selat Karimata di sebelah utara, Natuna berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja, sedangkan di Selatan, Natuna berbatasan dengan Sumatera Selatan dan Jambi. Untuk sebelah Barat, Natuna berbatasan dengan Singapura, Malaysia. Dan bagian Timur berbatasan dengan Malaysia Timur dan Kalimantan Barat.

Selama ini, Natuna yang berada pada jalur pelayaran Internasional dikenal sebagai penghasil Minyak dan Gas. Namun, Natuna, tidak hanya menyimpan hasil bumi, karena banyak tempat dapat dijadikan daerah kunjungan wisata, dengan pesona alam pantai dan laut, serta pulau-pulau yang indah untuk dikunjungi.

Pantai Sisi Natuna

Sebut saja, pantai Sisi Serasan yang terletak di Kecamatan Serasan. Memang, sepintas bila kita melihat di Peta, lokasinya berdekatan dengan Kalimantan Barat, dan dekat dengan perbatasan Malaysia bagian Timur atau Serawak.

Dari Ranai, ibukota Kabupaten Natuna, untuk menuju Serasan, maka kita harus menempuh perjalanan laut. Biasanya masyarakat sekitar menaiki KM Bukit Raya milik PT.Pelni, yang memang rutin melayari perjalanan dari Ranai ke Serasan.

Dengan KM.Bukit Raya, waktu tempuh Ranai Serasan memakan waktu 10 – 11 jam perjalanan. Pantai Sisi, memiliki panjang sekitar 7 KM dengan hamparan pasir putih berkilauan. Pantai ini terbentang dari Entebung Kampung Payak sampai Teluk Resak Kampung Jermalik. Untuk mencapai kawasan pantai dapat melalui Entebung atau melewati Engkalan, Kampung Genting. Setiap sore, pantai ini ramai dikunjungi. Tidak saja oleh kalangan muda yang datang untuk bersantai, bahkan juga para orang tua yang datang bersama keluarga, untuk sekedar berdarma-wisata.

Masjid di Natuna

Untuk sarana, di lokasi pantai terdapat sebuah kafe, tempat pengunjung menikmati aneka makanan dan minuman, seraya melihat pemandangan laut lepas dan hamparan pasir putih dan desiran ombak yang menggulung, serta pemandangan sunset, sore hari. Pantai Sisi, tidak pernah sepi. Sedari subuh, sudah terlihat aktifitas, yakni para nelayan setempat yang akan turun melaut, menangkap ikan, yang salah satunya adalah ikan Gerinsi. Pada siang hari, banyak warga yang datang ke pantai untuk menunggu para nelayan pulang melaut, untuk membeli ikan hasil tangkapan.

Indahnya Natuna

Potensi alam natuna sangat kaya tapi masih minim akses serta fasilitas pendukung, harapan terletak pada pemerintahan pusat agar dapat melakukan study kelayakan terhadap potensi alam natuna hingga terekspos dengan kemasan sederhana dan bernilai jual yang sanggat baik dimata wisata dunia. Misalnya saja, keberadaan taman laut yang cukup indah disertai dengan pasir putih yang ada pada beberapa pulau tentu bisa dijadikan sebagai taman wisata.

Selain itu, ada pantai Tanjung, sisi serasan, Midai Pulau laut yang memiliki segudang potensi yang belum disentuh dan dikelola dengan profesional. Tetapi semuanya itu masih membutuhkan investasi besar untuk mengembangkan potensi wisata yang ada. Mudah mudahan saja seiring dengan pengelolaan Migas Blok D Alpha maka potensi wisata juga ikut berkembang, harapnya.
SUKU ARU - MALUKU

SUKU ARU - MALUKU


Membicarakan suku-suku di Indonesia sudah seperti mengeringkan air laut menggunakan cawan, tidak ada habis-habisnya. Seperti halnya air di lautan, Indonesia pun terdiri dari puluhan bahkan ratusan suku yang tersebar di kepulauan Indonesia. Setiap dari mereka memiliki ciri dan keunikan maupun tradisi tersendiri, dari keunikan dan keberagaman inilah Indonesia menjadi begitu kaya akan bahasa daerah dan kebudayaan, tidak heran jika Indonesia terkenal dimata dunia karena ragam kultur dan budayanya.

Salah satu suku di Indonesia yang tidak kalah menarik untuk dibahas adalah suku Aru yang mendiami kepulauan Aru di Maluku. Sejarah panjang orang aru dimulai dari Pulau Eno-Karang, dimana orang aru mulai tersebar keseluruh kawasan kepulauna Aru.  Secra social dan budaya Suku Aru termasuk rumpun Melanesia pasific dan terdiri daari 16 suku asli orang Aru dan berbagai suku lainnya dari maluku, jawa, dan tionghoa. Oleh karena itu orang suku aru tidak berbeda jauh dengan orang-orang yang mendiami kepulauan seperti jawa, sumatra, kalimantan dan kepulauan lainnya yang umunnya juga merupakan rumpun Melanesia pasific. Orang Aru sendiri memiliki 14 bahasa lokal sebagai alat komunikasi mereka. Ragam bahasa lokal tersebut diantaranya, Barakai, Batuley, Doubel Language, Karey, Koba, Kompane, Lola, Larong, Manombai, Mariri Language, East Tarangan, West Tarangan, dan Ujir.

Secara geomorphology dan ecology letak kepulauan Aru sangat menguntungkan, kepulauan Aru terletak di lempeng sahul berdampingan dengan pulau Papua dan benua Australia, terdiri dari 5 pulau besar meliputi, pulau Kola, Pulau Wokam, pulau Kobror, pulau Maekor dan pulau Trangan. Serat dikelilingi 182 pulau kecil dan sangat kecil, dengan total luas 8.563 km².

Selain itu, keragamaman suku dan bahasa Aru asli searta kekayaan Sumber Daya Alam telah membuat kepulauan Aru begitu istimewa dibandingkan kepulauan yang ada di Maluku lainnya. Tercatat pada tahun 1600-an  bangsa Tionghoa menginjakan kaki di kepulauan Aru untuk berniaga.  kemudian bergabung dengan orang Aru asli dan membentuk komunitas masyarakat Aru modern, diketahui terjadi perpaduan yang baik dalam tatanan kehidupan sosial budaya, agama, ekonomi, dan pendidikan antara orang Aru asli dengan masyarakat pendatang. Selain itu kekayaan sumber daya alam di kepulauan Aru juga mengundang negara-negara lain untuk menguasainya, terbukti bangsa Belanda satang ke kepulauan Aru pada tahun 1623, disusul bangsa Inggis pada tahun 1857. Diketahui, Alfred R. Wallace seorang penjelajah dan peneliti berkebangsaan Inggris juga singgah di Dobo, yang pada akhirnya mendapatkan “tanah yang dijanjikan” di kepulauan Aru, dengan tulisan yang berjudul “The Malay Archipelago”, yang diterbitkan Oxford Universitas, tahun 1986.

Dan pada tahun 1968 pemerintah Indonesia mulai memberi perhatian lewat sentralisasi pembangunan pada era orde baru hingga tahun 1998, tercatat mulai berakhirnya era orde baru perbaikan dan pembangunan kepulauan Aru tetap dilanjutkan pada era revormasi tahun 1998 hingga saat ini. Dan pada tahun 2003 mulai dengan pembentukan kabupaten kepulauan Aru, sebagai wujud otonomi daerah dan disentralisasi daerah. Maka dengan demikian kepulauan Aru dapat mengembangkan Sumber Daya Alam.

Meskipun sejarah mencatat kepulauan Aru begitu mengesankan, sangat disadari bahwa perpaduan yang terjadi antara orang Aru asli dan para pendatang yang memang menetap di kepulauan Aru, telah menghadirkan kesalahan-kesalahan kompleks yang berdampak pada tertinggalnya Orang Aru, orang-arang Aru hanya terkesan berjalan di tempat tanpa mengalami perubahan yang signifikan. Namun demikian juga harus kita akui bahwa perpaduan ini juga membawa dampak positif bagi kebaikan bersama, misalnya saja perkembangan agama, pendidikan, serta budaya telah terjadi perpaduan budaya dengan adanya perkawinan antara orang Aru dan pendatang misalnya.

SUKU BUTON - SULAWESI


Suku Buton adalah suatu suku yang berada di Sulawesi Tenggara. Suku Buton mendiami beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara diantaranya kota Baubau, kabupaten Buton, kabupaten Buton Utara, kabupaten Wakatobi, kabupaten Bombana dan kabupaten Muna.

Khusus untuk orang Buton yang berdiam di kabupaten Muna, saat ini lebih suka menyebut diri mereka sebagai orang Muna dari pada sebutan orang Buton yang selama ini disandang mereka.

Suku Buton adalah suku yang menyukai kehidupan laut. Sejak beberapa abad yang lalu orang Buton juga melanglangbuana di laut menjelajah ke berbagai daerah. Mereka menggunaan perahu mulai dari yang berukuran kecil yang bermuatan 5 orang hingga yang berukuran besar yang dapat memuat barang sampai seberat 150 ton.

Pada masa lalu orang Buton adalah orang-orang yang mendiami wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Daerah kekuasaan Kesultanan Buton sejak tahun 1945 telah bergabung dengan Indonesia dan menjadi beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara diantaranya kota Baubau, kabupaten Buton, kabupaten Buton Utara, kabupaten Wakatobi, kabupaten Bombana dan kabupaten Muna.

Orang Buton memiliki sejarah masa lalu dengan beberapa peninggalannya yang terdapat di wilayah Kesultanan Buton, yaitu:
  1. Benteng Keraton Buton, yang merupakan benteng terbesar di dunia
  2. Istana Malige, yang merupakan rumah adat tradisional Buton yang berdiri kokoh setinggi empat tingkat tanpa menggunakan sebatang paku pun
  3. mata uang Kesultanan Buton, yang bernama Kampua dan banyak lagi.

Masyarakat suku Buton sebagian besar hidup pada bidang pertanian. Selain menjadi pelaut dan nelayan, kegiatan pertanian menjadi kegiatan utama mereka saat ini. Mereka menanam padi ladang, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kapas, kelapa, sirih, nanas, pisang dan lain-lain termasuk beberapa jenis sayuran. 

Sumber : http://protomalayans.blogspot.com

7 TRADISI YANG ADA DI SUKU MANDAR


1. KALINDAQDAQ

Dalam masyarakat mandar terdapat tradisi yang sangat unik. Sejak dahulu kala, menelisik keunikan tradisi mandar, salah satunya tercermin pada kegemaran penduduknya yang bila berinteraksi dengan sesama, senang menggunakan perumpamaan ketika hendak menyampaikan keinginannya dan bahkan sering juga di lantunkan dalam acara kegiatan mappatammaq/to messawe. Yang dimana berupa sindiran – sindiran yang bisa membuat para setiap to messawe tersipu malu dengan mendengar lantunan kalindaqdaq. Kalindaqdaq ini terkadang bernuansa sebuah puisi, rayuan kepada wanita, dan bahkan terkadang juga berisikan motivasi atau semangat kepada pejuang ketika dalam masa masa perjuangan di jaman perebutan kekuasaan atau wilayah kerajaan  para raja – raja di mandar.

2. SAYYANG PATTU’DU

Ia berupa seekor kuda yang menari turut sebuah irama yang di perdengarkan dalam acara, seperti acara Khataman Qur’an(mappatammaq), acara pernikahan (tokaweng),dll. Sayyang pattu’du (kuda menari), begitulah masyarakat suku mandar menyebut acara yang diadakan dalam rangka untuk mensyukuri anak – anak yang khatam (tamat) Al – Qur’an. Bagi warga suku mandar, tamatnya anak –anak mereka membaca 30 jus Al – Qur’an merupakan sesuatu yang sangat istimewa, sehingga perlu disyukuri secara khusus dengan mengadakan pesta adat sayyang pattu’du. Pesta ini diadakan sekali setahun, bertepatan dengan bulan Maulid/Rabiul awwal ( kalender hijriyah).pesta tersebut menampilkan atraksi kuda berhias yang menari sembari ditunggangi anak – anak yang mengikuti acara tersebut. Bagi masyarakat mandar, khatam Al – qur’an dan acara adat sayyang pattu’du memiliki pertalian erat antara satu dengan yang lainnya. Acara ini tetap mereka lestarikan dengan baik, bahkan masyarakat suku mandar yang berdiam di luar sulawesi barat dengan sukarela akan kembali ke kampung halamannya demi mengikuti acara tersebut.  

3. SOKKOL LEMEAJU

Sokkol lameaju merupakan sebuah makanan khas masyarakat suku mandar. Sokkol lameaju ini biasanya dibuat ketika masyarakat mandar lagi mengadakan acara keluarga,bahkan juga dalam keseharian ketika lagi dalam kesulitan mendapatkan beras. Bahan yang digunakan dalam membuat sokkol lameaju tersebut yaitu: lameaju/ubi.kacang ijo,kelapa. Dan cara pembuatannya sangat simpel.ubinya diparut kemudian di kukus bersama dengan kacang ijonya dan diberikan kelapa parut sedikit kemudian di kasi sedikit garam biar terasa nikmat rasa asinnya. Sokkol lameaju ini sangat bermanfaat kepada orang yang mempunyai penyakit gula dan juga sebagai pengganti beras.

4. PERAHU SANDEQ

Suku Mandar memiliki sebuah model perahu khas yang menjadi ciri mereka sendiri. Namanya adalah perahu Sandeq. Biasanya mereka menggunakannya dalam kegiatan sebagai nelayan. Dan saat ini Sandeq banyak digunakan untuk kegiatan balapan dalam event – event tertentu saja, seperti dalam perayaan 17 agustus hari kemerdekaan kita. Perahu sandeq ini sangat disukai banyak kalangan dan bahkan  banyak menarik simpati para wisatawan asing. Karena perahu ini sangat trdisional dan bahkan bisa mengarungi benua, dan juga perahu sandeq ini tidak menggunakan mesin melainkan hanya menggunakan tenaga angin saja. Sungguh luar biasa. Inilah yang membuat para wisatawan asing tertarik melihat perahu sandek ketika perayaan hari kemerdekaan kita karena keunikannya dalam menaklukkan lautan yang hanya menggunakan tenaga angin saja.

5. LOKA ANJOROI

Loka anjoroi juga merupakan makanan khas suku mandar. Yang dimana makanan tersebut merupakan bisa menjadi pengganti beras ketika masyaraakat dalam masa – masa susahnya mendapatkan beras atau dengan kata lain gagal panen. Loka anjoroi terbuat dari pisang mentah yang di kukus lalu di campur dengan santan kelapa. 

6. PARRAWANA/REBANA

Dalam masyarakat Mandar banyak sekali tradisi – tradisi yang sangat unik. Salah satunya tercermin pada kegemaran penduduk masyarakat mandar adalah marrawana atau main rebana. Didalam mempermainkan alat musik tersebut biasanya di mainkan pada saat – saat  ada kegiatan pesta perkawinan dan bahkan yang paling populer sekarang ini yaitu adalah di acara mappatammaq/tomissawe. Dimana rawana tersebut dimainkan dengan atraksi kuda berhias  yang menari ketika mendengar lantunan suara rawana/rebana tersebut. Inilah keunikan masyarakat kita yang dimana bisa mebuat kuda menari dengan hanya mendengar suara rawana yang telah di mainkan oleh mansyarakat suku mandar

7. JEPA

Jepa merupakan makanan khas mandar yang menjadi pengganti beras ketika masyarakat suku mandar mengalami gagal panen. Jepa juga sangat paling di cari ketika ada seseorang mengalami penyakit gula. Jepa sangat bermanfaat bagi kalangan suku mandar terutama kepada para nelayan mandar yang biasa pergi melaut sampai berbulan – bulan lamanya. Karena jepa bisa bertahan sampai  berbulan bulan,sedangkan beras terkadang busuk ketika sudah berbulan – bulan di simpan. sehingga para nelayan mandar sangat mengutamakan jepa ketimbang membawa beras. Jepa ini terbuat dari ubi kayu yang di parut lalu d peras agar airnya biasa keluar semua. Lalu kemudian di olah menjadi makanan dengan dimasak di atas Panjepangan. Panjepangan ini Semacam tanah liat yang di buat khusus menyerupai piring.  

Sumber : http://dzulmarz.blogspot.com/2012/07/7-tujuh-tradisi-yang-ada-di-suku-mandar.html
7 ( TUJUH) TRADISI YANG ADA DI SUKU MANDAR (POLEWALI MANDAR) Oleh : IBRAHIM