SEJARAH KOTA MANADO

SEJARAH KOTA MANADO


ASAL MULA NAMA MANADO

Nama Kota Manado menurut tutur legenda yang diceritakan berasal dari bahasa Etnik Toutemboan Minahasa yaitu "Manarow” yang artinya "Pergi ke Negeri Jauh". Jikalau seseorang Suku Minahasa asli hendak bepergian ke Manado, maka tetangganya akan menyapanya dalam bahasa daerahnya, "Mange-an isako..??" (Mau kemana engkau..??), maka dia akan menjawab, "Mange-an Manarow atau mau pergi ke tempat negeri yang Jauh". Dalam versi Bahasa Sangir Tua disebutMararau; Marau yang artinya Jauh.

Nama lain yg lebih tua untuk Kota Manado adalah “Wenang/Benang”.. Wenang atau Benangitu sendiri adalah Pohon yang banyak tumbuh di pesisir Manado atau biasa disebut Pohon Bahu yg bisa kita jumpai disepanjang Pantai di Bahu Malalayang sampai di Kalasey.

Wenang atau Benang itu sendiri dalam versi Bahasa Sangir Tua adalah “Gahenang/Mahenang”, artinya api yang menyala/ bercahaya/ bersinar(suluh, obor, api unggun).

Dan Kata “Manarow” itu sendiri merujuk pada sebuah Pulau yaitu Pulau Manado Tua.. dimana penghuni Pulau Manado Tua ini adalah Orang-orang dari Etnis Sangir Tua yaitu Etnis Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu.

Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu itu berasal dari bahasa Sangir Tua yaitu “Bowong artinya Atas dan Kehu artinya Hutan.. jadi Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu adalah sebuah Kerajaan yg terletak diatas Hutan yg Rajanya disebut Kulano.

Kemudian pada sekitaran abad 14-15, kaum Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu itu melakukan perpindahan ke daratan tanah Minahasa.. Perpindahan dilakukan dengan menggunakan perahu (Bininta), melalui tempat yg bernama "Tumumpa di Tuminting Manado Utara" dlm bahasa Sangir yg artinya "Turun sambil melompat,kemudian menetap di Singkil berasal dari bahasa Sangir Tua disebut "Singkile artinya pindah/menyingkir."

Mereka menyebar sampai ke Pondol yg dalam bahasa Sangir disebut Pondole artinya di Ujung. (Pondol sekarang berada dikawasan Mega Mall Manado).

Tuturan versi lainnya juga mengatakan bahwa pada sekitar tahun 1600 Etnis Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu, mereka beralih ke daratan Minahasa diteluk Manado, disebelah Selatan Sungai Tondano kira-kira di Wilayah Calaca sekarang., dan Penghunian pertama ini merupakan inti kota Manado sekarang dan menjadi Negeri Baru sebab pada waktu itu Kota Manado tidak identik dgn Wenang, akan tetapi Negeri Manado sampai kira-kira Tahun 1830 hanya merupakan sebagian dari Calaca Barat dan wilayah Pelabuhan Manado dan sebelah Utara dari Pasar 45 sekarang.

Oleh sebab itu diseputaran wilayah Calaca, Pelabuhan dan Pasar 45 dari dulu disebut “Bendar” atau “Bandar” atau “Pelabuhan” yaitu tempat Orang-orang dari Minahasa dan Sangir Tua, dan juga para pendatang lainnya seperti Etnis Tionghoa, Arab, Gorontalo dan Bolmong melakukan Barter Dagang.

Ada kemungkinan bahwa istilah atau sebutan "Mange-an isako..??" (Mau kemana engkau..??), ketika ada Orang bertanya pada tetangganya yg mau turun ke Kota Manado maka dia akan menjawab, “Mange-an Manarow” itu terjadi didaerah / wilayah ini ketika Orang-orang dari Gunung mau turun melakukan Barter Dagang di Kota Manado.

Orang-orang Gunung ini atau Etnis Minahasa yg tinggal di Pegunungan ini oleh kaum dari Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu atau Orang Sangir Tua disebut “Tou Kaporo atau Orang Gunung”.

Interaksi antara Sub-sub Etnis Minahasa pada Zaman dahulu dimana Etnis Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu dan Bantik adalah bagian di dalamnya sudah terjadi pada Abad-abad sebelumnya.

Deklarasi di Watu Pinabetengan menandai awal pembagian Tanah Adat bagi Etnis-etnis Minahasa tersebut dimana Etnis Tounsea, Toumbulu, Tountemboan, Toulour, Tounsawang, Pasan,Panosakan mendiami Daratan Minahasa, Etnis Bantik mendiami wilayah pesisir Kota Manado dan Etnis Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu mendiami Pulau Manado Tua, Pulau Siladen, Pulau Bunaken, Pulau Mantehage, Pulau Nain, Pulau Talise, Pulau Gangga, Pulau Bangka dan Pulau Lembeh serta daerah pesisir Daratan Minahasa lainnya.

PERKEMBANGAN KOTA MANADO 

Nama “Manado” mulai digunakan pada tahun 1623 menggantikan nama “Pogidon” atau “Wenang”. Kata Manado sendiri berasal dari bahasa daerah Minahasa yaitu Mana rou atau Mana dou yang dalam bahasa Indonesia berarti “di jauh”. Pada tahun itu juga, tanah Minahasa-Manado mulai dikenal dan populer di antara orang-orang Eropadengan hasil buminya. Hal tersebut tercatat dalam dokumen-dokumen sejarah.

Tahun 1658, VOC membuat sebuah benteng di Manado. Sejarah juga mencatat bahwa salah satu Pahlawan Nasional Indonesia, Pangeran Diponegoro pernah diasingkan ke Manado oleh pemerintah Belanda pada tahun 1830. Biologiwan Inggris Alfred Wallace juga pernah berkunjung ke Manado pada 1859 dan memuji keindahan kota ini.

Keberadaan kota Manado dimulai dari adanya besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 1 Juli 1919. Denganbesluit itu, Gewest Manado ditetapkan sebagai Staatsgemeente yang kemudian dilengkapi dengan alat-alatnya antara lain Dewan gemeente atau Gemeente Raad yang dikepalai oleh seorang Walikota (Burgemeester). Pada tahun 1951,Gemeente Manado menjadi Daerah Bagian Kota Manado dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesitanggal 3 Mei 1951 Nomor 223. Tanggal 17 April 1951, terbentuklah Dewan Perwakilan Periode 1951-1953 berdasarkan Keputusan Gubernur Sulawesi Nomor 14. Pada 1953 Daerah Bagian Kota Manado berubah statusnya menjadi Daerah Kota Manado sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 42/1953 juncto Peraturan Pemerintah Nomor 15/1954. Tahun 1957, Manado menjadi Kotapraja sesuai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957. Tahun 1959, Kotapraja Manado ditetapkan sebagai Daerah Tingkat II sesuai Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959. Tahun 1965, Kotapraja Manado berubah status menjadi Kotamadya Manado, yang dipimpin oleh Walikotamadya Manado KDH Tingkat II Manado sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974.

Hari jadi Kota Manado yang ditetapkan pada tanggal 14 Juli 1623, merupakan momentum yang mengemas tiga peristiwa bersejarah sekaligus yaitu tanggal 14 yang diambil dari peristiwa heroik yaitu peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946, dimana putra daerah ini bangkit dan menentang penjajahan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, kemudian bulan Juli yang diambil dari unsur yuridis yaitu bulan Juli 1919, yaitu munculnyaBesluit Gubernur Jenderal tentang penetapan Gewest Manado sebagai Staatgemeente dikeluarkan, dan tahun 1623yang diambil dari unsur historis yaitu tahun dimana Kota Manado dikenal dan digunakan dalam surat-surat resmi. Berdasarkan ketiga peristiwa penting tersebut, maka tanggal 14 Juli 1989, Kota Manado merayakan HUT-nya yang ke-367. Dan sejak saat itu hingga sekarang tanggal tersebut terus dirayakan oleh masyarakat dan pemerintah Kota Manado sebagai hari jadi Kota Manado.

sumber : http://www.manadokota.go.id/page-100-sejarah.html
UPACARA PEMAKAMAN SUKU TANA TORAJA

UPACARA PEMAKAMAN SUKU TANA TORAJA


Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. 

Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.

Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman. Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.

Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau. Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam "masa tertidur". Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.

Ada tiga cara pemakaman: Peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya kadang-kadang dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar. Peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh.

TRADISI RAMBU SOLOK KHAS SUKU TANA TORAJA


Rambu Solok mungkin belum familiar di telinga Anda, tapi jika disebutkan kata Toraja, tentu Anda akan setuju dengan keunikan etnik tersebut. Ya, Toraja adalah salah satu etnik yang terdapat di Sulawesi Selatan. Mereka menduduki kawasan pegunungan Tana Toraja yang terletak 328 Km sebelah utara kota Makassar dan diperkirakan berjumlah 1 juta jiwa. Istilah Toraja adalah dari bahasa bugis to riaja. 'To' bermaksud orang dan 'riaja' bermaksud bukit. Maka Toraja bermaksud orang yang datang dari bukit. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya berasal dari To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. 

Seeblum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa-desa otonom. Mereka masih menganut animisme. Pada tahun 1900-an, misionaris Belanda kemudia datang dan menyebarkan agama Kristen. Dan setelah semakin terbuka kepada dunia luar, kabupaten Tana Toraja menjadi salah satu lambang pariwisata nasional. Masyarakat Toraja telah banyak mengalami transformasi budaya, dan kini mengandalkan sektor pariwisata sebagai daya tarik daerah. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, dan disebut Rambu Solok.

Rambu Solok merupakan sebuah ritual sekaligus perayaan besar bagi suku Toraja. Jika suku lain mengumbar kesedihan saat melakukan penguburan kerabat yang meninggal, maka suku Toraja akan merayakannya dengan sebuah pesta. Selain itu, penguburan jenazah tidak dilakukan dengan dikubur melainkan dimasukkan ke dalam peti dan diletakkan di dalam gunung atau bebatuan raksasa yang sudah dipahat dan dilubangi hingga menyerupai sebuah ruangan. Demikianlah terciptanya alam pegunungan dan bebatuan di Tana Toraja sehingga dapat difungsikan oleh penduduknya. 

 Khusus untuk rambu solok, masyarakat Toraja percaya tanpa upacara penguburan ini maka arwah orang yang meninggal tersebut akan memberikan kemalangan bagi orang-orang yang ditinggalkannya. Rambu Solok adalah rangkaian kegiatan yang rumit serta membutuhkan banyak biaya. Persiapannya pun berbulan-bulan. Oleh karena itu, biasanya jenazah yang akan dimakamkan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah keluarga hingga hari dimana keluarga menyanggupi untuk mengadakan pesta pemakanannya. Bahkan ada jenazah yang harus menunggu hingga bertahun-tahun sebelum akhirnya dimakamkan. 

Dalam kepercayaan masyarakat Tana Toraja, prinsip semakin tinggi tempat jenazah diletakkan maka semakin cepat rohnya untuk sampai ke nirwana. Bagi kalangan bangsawan yang meninggal, keluarga harus memotong kerbau yang jumlahnya 24-100 ekor sebagai kurban (Ma’tinggoro Tedong), dan satu diantaranya harus berupa kerbau belang yang terkenal mahalnya.  

Toraja tidak hanya menyuguhkan pemandangan indah pegunungan dan bukit-bukit batunya, tapi saat ini ritual Rambu Solok beserta “rumah masa depan” menjadi daya tarik pariwisata yang unik sekaligus menegangkan.

Beberapa tempat wisata yang dapat Anda kunjungi dan menambah pengalaman berpetualang Anda di Tana Toraja, antara lain adalah:

1. Londa
Londa adalah bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Salah satunya terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam dimana peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainnya dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau. 

2. Pallawa
Tongkonan Pallawa adalah salah satu tongkonan atau rumah adat yang menarik dan berada di antara pohon-pohon bambu di puncak bukit. Tongkonan tersebut didekorasi dengan sejumlah tanduk kerbau yang ditancapkan di bagian depan rumah adat.
Masyarakat Toraja hidup dalam komunitas kecil dimana anak-anak yang sudah menikah akan meninggalkan orangtua mereka dan memulai hidup baru di tempat lain. Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial.ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangat penting dalam kehidupan spiritual suku toraja, termasuk rambu

3. Kete Kesu
Objek-objek yang terdapat di desa ini adalah tongkonan, lumbung padi dan bangunan megalith di sekitarnya. Di belakang perkampungan ini terdapat situs perkuburan tebing dengan kuburan bergantung. Masyarakat desa ini juga terkenal dengan keahlian seni ukir yang dimilikinya sehingga banyak suvenir yang dapat diperoleh dari tempat ini.

4. Lemo
Lemo merupakan tempat pemakaman yang sering disebut dengan rumah para arwah. Anda dapat melihat mayat yang disimpan di udara terbuka, di tengah bebatuan yang curam. Kompleks pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni dan ritual adat. Pada waktu-waktu tertentu pakaian dari mayat-mayat akan diganti melalui upacara Ma Nene.

MAKANAN FAVORIT PARA PRESIDEN INDONESIA


Tinggal di istana negara bukan berarti selalu menyantap makanan mewah. Buktinya, presiden dan mantan presiden Republik Indonesia ini justru senang menyantap makanan yang merakyat. Wah, ternyata makanan favorit mereka seperti santapan kita sehari-hari!

Ada yang hobi makan masakan Padang, ada pula yang menggilai sambal. Selain bersantap di istana, mereka juga punya warung makan langganan yang selalu dikunjungi jika sempat. Inilah makanan favorit para presiden dan mantan presiden RI, diolah dari berbagai sumber:

1. Soekarno

 

Presiden RI pertama ini rupanya menyenangi masakan khas Bengkulu, karena selama 1938-1942 ia menjalani pengasingan di provinsi itu. Salah satunya ada bagar hiu yang mirip rendang. Almarhum juga suka makan pais ikan, yakni pepes ikan gebu dan ikan buli. Selain ikan, sang proklamator hobi menyantap sayur lodeh, tahu, dan tempe.

2. Soeharto

Makanan kesukaan Soeharto kebanyakan khas Jawa Tengah, seperti sayur sambal goreng tempe dan cabuk. Cabuk terbuat dari ketupat yang diiris tipis, disiram dengan saus wijen campur kemiri dan kelapa parut, serta diberi kerupuk karak. Makanan ini disajikan dengan di atas daun pisang (pincuk).

Kalau berkunjung ke Solo, mendiang biasanya tak lupa berkunjung ke warung Bu Wongso Lemu untuk menyantap nasi liwet. Almarhum juga doyan sate kambing Mbok Galak. Di Jakarta, Bakmi Jawa Haji Minto di Stasiun Gondangdia menjadi langganannya.

3. BJ Habibie

Dulu, saat jeda kerja sebagai wakil presiden dan presiden, Habibie biasanya mampir ke rumah makan Padang Sari Bundo. Letaknya di seberang Kantor Sekretariat Negara RI. Menu yang sering ia pesan adalah ayam goreng dan jus terong Belanda campur sirsak. Selain itu, mantan presiden RI ini juga menggemari tinotuan, bubur Manado.

4. Abdurrahman Wahid

 


Saat masih menjabat sebagai ketua umum PBNU, Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gusdur ini rajin menyambangi rumah makan Padang Sederhana dekat kantornya. Di sana, ia biasa memesan dendeng batokok, gulai otak sapi, serta gulai limpa. Untuk minuman, mendiang menyukai jus alpukat atau es teh tawar.

Di luar masakan Padang, Gusdur doyan ikan baronang dan telur dadar. Mendiang juga suka ngemil sawut singkong, enting enting, tahu Sumedang, serta kue pancong tanpa gula dekat RSCM.

5. Megawati Soekarno Putri

 


Satu-satunya perempuan yang pernah menjabat sebagai presiden RI ini gemar masakan Bali. Megawati langganan mampir ke warung Pak Made di Batubulan, Gianyar. Favoritnya adalah udang bakar sambal terasi.

Puteri Soekarno ini memang menggilai sambal, terutama sambal terasi. Ia juga doyan mencocol sambal mentah dan sambal bawang putih. Seperti Soeharto, Megawati juga menyukai bakmi Jawa racikan Haji Minto di Stasiun Gondangdia.

6. Susilo Bambang Yudhoyono



Anda suka tahu Sumedang? Berarti Anda satu selera dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saking gemarnya, ia bisa menghabiskan sepuluh potong tahu hangat plus cabe rawit sekaligus. Selain cemilan ini, ia menyenangi masakan Indonesia dan Jawa Timur seperti pecel lele, pecel madiun, telur dadar bawang, gado-gado, sayur asem, ikan asin, dll. SBY lebih suka makanan rumahan yang disajikan panas-panas dibanding makanan hotel.

MISTERI ORANG PENDEK DI DANAU GUNUNG TUJUH


Danau Gunung Tujuh di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat tak hanya memiliki kekayaan alam. Tapi juga cerita unik, tentang "orang pendek" yang menjaga kawasan itu. 

Orang pendek adalah makhluk kecil setinggi 50 sentimeter yang bentuknya kombinasi manusia dan orang utan. Ia tidak berekor, tapi telapak kakinya menghadap ke belakang. Beberapa penduduk mengaku pernah melihatnya, tapi makhluk itu menghilang secepat kilat.

Jeremy Holden dan Debby Martir, dua turis asal Inggris, juga mengaku pernah melihat hewan itu sekilas. Mereka kemudian mengadakan penelitian di kawasan itu sejak 1995. WWF juga ikut mendanai penelitian untuk menyibak misteri orang pendek ini dan sejumlah kamera dipasang di hutan di kawasan ini.

Tapi hingga kini hewan itu tak kunjung ditemui. Walaupun tempatnya di jantung taman nasional, tidak terlihat ada "orang pendek". Justru burung-burung dan berang-berang yang berenang hilir mudik di danau. Kemungkinan binatang-binatang liar itu sudah pindah ke kawasan hutan yang lebih jauh ke dalam seiring dengan mulai banyaknya orang yang datang ke kawasan Danau Gunung Tujuh.

Danau Gunung Tujuh merupakan danau vulkanik yang terbentuk akibat kegiatan gunung berapi ratusan tahun lalu. Panjangnya sekitar 4,5 kilometer dengan lebar sekitar 3 kilometer.

Menjelajahi Danau Gunung tujuh, pengunjung bisa berenang dan berjalan di pinggiran danau. Pada bagian tepi danau terhampar pasir putih sepanjang hampir satu kilometer. Pasir putih ini biasanya tenggelam saat pemukaan air danau naik pada musim penghujan dan muncul ketika permukaan air danau turun pada musim panas.

Selain tempat wisata, kawasan Danau Gunung Tujuh merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Berbagai jenis tumbuhan dan satwa, seperti harimau Sumatera, kambing hutan, rusa, tapir, dan beruang madu banyak ditemukan di sini. Jadi bisa berwisata sekaligus belajar.

Bila ingin ke Danau Gunung Tujuh, perjalanan bisa dimulai dari Kayu Aro. Ke Kayu Aro bisa menggunakan bus travel ke Kerinci dari Padang. Jadwal bus setiap hari dengan perjalanan 5 sampai 6 jam. Bila dari Jambi ke Kayu Aro bisa lebih lama, perjalanan memakan waktu 10-12 jam. 

MAYAT BERJALAN - TRADISI TANA TORAJA


Kisah Ma`nene - Kabut tipis menyelimuti pegunungan Balla, Kecamatan Baruppu, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, pertengahan Agustus silam. Namun, kabut tersebut perlahan mulai tersibak dinginnya angin pagi. Hari ini, kesibukan luar biasa terjadi pada setiap penghuni warga Baruppu. 

Mereka tengah menggelar sebuah ritual di tempat awal mula sejarah dan misteri anak manusia yang mendiami Kecamatan Baruppu. Ritual yang selalu digelar seluruh warga Baruppu untuk melaksanakan amanah leluhur. Ma`nene, sebuah tradisi mengenang para leluhur, saudara, dan handai taulan lainnya yang sudah meninggal dunia. 

Kisah Ma`nene bermula dari seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek, ratusan tahun lampau. Ketika itu, dirinya berburu hingga masuk kawasan hutan pegunungan Balla. Di tengah perburuannya, Pong Rumasek menemukan jasad seseorang yang meninggal dunia, tergeletak di tengah jalan di dalam hutan lebat. Mayat itu, kondisinya mengenaskan. Tubuhnya tinggal tulang belulang hingga menggugah hati Pong Rumasek untuk merawatnya. Jasad itu pun dibungkus dengan baju yang dipakainya, sekaligus mencarikan tempat yang layak. Setelah dirasa aman, Pong Rumasek pun melanjutkan perburuannya. 

Sejak kejadian itu, setiap kali dirinya mengincar binatang buruan selalu dengan mudah mendapatkannya, termasuk buah-buahan di hutan. Kejadian aneh kembali terulang ketika Pong Rumasek pulang ke rumah. Tanaman pertanian yang ditinggalkannya, rupanya panen lebih cepat dari waktunya. Bahkan, hasilnya lebih melimpah. Kini, setiap kali dirinya berburu ke hutan, Pong Rumasek selalu bertemu dengan arwah orang mati yang pernah dirawatnya. Bahkan, arwah tersebut ikut membantu menggiring binatang yang diburunya. 

Pong Rumasek pun berkesimpulan bahwa jasad orang yang meninggal dunia harus tetap dimuliakan, meski itu hanya tinggal tulang belulangnya. Maka dari itu, setiap tahun sekali sehabis panen besar di bulan Agustus, setiap penduduk Baruppu selalu mengadakan Ma`nene, seperti yang diamanatkan leluhurnya, mendiang Pong Rumasek. 

Bagi masyarakat Baruppu, ritual Ma`nene juga dimaknai sebagai perekat kekerabatan di antara mereka. Bahkan Ma`nene menjadi aturan adat yang tak tertulis yang selalu dipatuhi setiap warga. Ketika salah satu pasangan suami istri meninggal dunia, maka pasangan yang ditinggal mati tak boleh kawin lagi sebelum mengadakan Ma`nene. Mereka menganggap sebelum melaksanakan ritual Ma`nene status mereka masih dianggap pasangan suami istri yang sah. Tapi, jika sudah melakukan Ma`nene, maka pasangan yang masih hidup dianggap sudah bujangan dan berhak untuk kawin lagi. 

Meski warga Baruppu termasuk suku Toraja. Tapi, ritual Ma`nene yang dilakukan setiap tahun sekali ini adalah satu-satunya warisan leluhur yang masih dipertahankan secara rutin hingga kini. Kesetiaan mereka terhadap amanah leluhur melekat pada setiap warga desa. Penduduk Baruppu percaya jika ketentuan adat yang diwariskan dilanggar maka akan datang musibah yang melanda seisi desa. Misalnya, gagal panen atau salah satu keluarga akan menderita sakit berkepanjangan. 

Dalam bahasa Bugis, Toraja diartikan sebagai orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan. Namun, masyarakat Toraja sendiri lebih menyukai dirinya disebut sebagai orang Maraya atau orang keturunan bangsawan yang bernama Sawerigading. Berbeda dengan orang Toraja pada umumnya, masyarakat Baruppu lebih mengenal asal usulnya dari Ta`dung Langit atau yang datang dari awan. 

Lama kelamaan Ta`dung Langit yang menyamar sebagai pemburu ini menetap di kawasan hutan Baruppu dan kawin dengan Dewi Kesuburan Bumi. Karena itu, sering terlihat ketika orang Toraja meninggal dunia, mayatnya selalu dikuburkan di liang batu. Tradisi tersebut erat kaitannya dengan konsep hidup masyarakat Toraja bahwa leluhurnya yang suci berasal dari langit dan bumi. Maka, tak semestinya orang yang meninggal dunia, jasadnya dikuburkan dalam tanah. Bagi mereka hal itu akan merusak kesucian bumi yang berakibat pada kesuburan bumi. 

Kali ini, keluarga besar Tumonglo melakukan ritual Ma`nene, seperti tahun-tahun sebelumnya. Sejak pagi, keluarga ini sudah disibukkan serangkaian kegiatan ritual yang diawali dengan memotong kerbau dan babi. Bagi keluarga Tumonglo maupun sebagian besar masyarakat Toraja lainnya pesta adalah bagian yang tak terpisahkan setiap kali menghormati orang yang akan menuju nirwana. Meski mereka sudah banyak yang menganut agama-agama samawi, adat dan tradisi yang diwariskan para leluhurnya ini tak mudah ditinggalkan. 

Kini, tiba saatnya keluarga Tumonglo menjalani ritual inti dari Ma`nene. Di bawah kuburan tebing batu Tunuan keluarga ini berkumpul menunggu peti jenazah nenek Biu--leluhur keluarga Tumonglo yang meninggal dunia setahun lalu--diturunkan. Tak jauh dari tebing, kaum lelaki saling bergandengan tangan membentuk lingkaran sambil melantunkan Ma`badong. Sebuah gerak dan lagu yang melambangkan ratapan kesedihan mengenang jasa mendiang yang telah wafat sekaligus memberi semangat pada keluarga almarhum. 

Bersamaan dengan itu, peti jenazah pun mulai diturunkan dari lubang batu secara perlahan-lahan. Peti kusam berisi jasad nenek Biu. Keluarga Tumonglo mempercayai bahwa ada kehidupan kekal setelah kematian. Sejatinya kematian bukanlah akhir dari segala risalah kehidupan. Karena itu, menjadi kewajiban bagi setiap keluarga untuk mengenang dan merawat jasad leluhurnya meski sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Dalam ritual ini, jasad orang mati dikeluarkan kembali dari tempatnya. Kemudian, mayat tersebut dibungkus ulang dengan lembaran kain baru oleh masing-masing anak cucunya. 

Di desa Bu`buk, suasananya tak jauh beda dengan desa lainnya di Kecamatan Baruppu. Di tempat ini keluarga besar Johanes Kiding juga akan melakukan Ma`nene terhadap leluhurnya Ne`kiding. Sebelum ke kuburan, masyarakat dan handai taulan berkumpul di pelataran desa di bawah deretan rumah tradisional khas Toraja, Tongkonan. 

Pagi itu, mereka disuguhi makanan khas daging babi oleh keluarga besar Johanes untuk disantap beramai-ramai. Setelah selesai, masyarakat, dan handai taulan keluarga Johanes mulai berangkat menuju kuburan nenek moyang. Namun, kuburan yang dituju bukan liang batu seperti umumnya, melainkan Pa`tane yakni rumah kecil yang digunakan untuk menyimpan jasad para leluhur mereka. 

Acara dilanjutkan dengan membuka dua peti yang berisi jasad leluhur. Mayat yang sudah meninggal setahun yang lalu itu dibungkus ulang dengan kain baru. Perlakuan itu diyakini atas rasa hormat mereka pada leluhur semasa hidup. Mereka yakin arwah leluhur masih ada untuk memberi kebaikan. 

Dalam setiap Ma`nene, jasad orang yang meninggal pantang diletakkan di dasar tanah. Karena itu, para sanak keluarga selalu menjaganya dengan memangku jasad leluhurnya. Tak ayal, tangis kepiluan kembali merebak. Mereka meratapi leluhurnya sambil menyebut-nyebut namanya. Jasad yang sudah dibungkus kain baru pun dimasukkan kembali ke dalam rumah Pa`tane. Kini, keluarga Johanes pun telah selesai melaksanakan amanah leluhur.

MISTERI DANAU PURBA DI CANDI BOROBUDUR


Dua gelar kini melekat pada Candi Borobudur, sebagai Warisan Dunia UNESCO dan Guinness World Records sebagai situs arkeologi candi Budha terbesar di dunia.

Terlepas dari kemegahan dan keindahan Borobudur, lengkap dengan relief yang penuh kisah dalam agama Budha, sejumlah misteri masih melingkupi candi ini.

Pada tahun 1814, atas jasa Gubernur Jenderal Britania Raya, Thomas Stamford Rafffles, candi yang selama berabad-abad terkubur di bawah gundukan tanah, menjadi serupa bukit penuh semak belukar dan ditumbuhi pohon, mulai jadi perhatian pemerintah kolonial. Raffles juga lah yang pertama kali menuliskan nama “Borobudur” dalam bukunya, History of Java. Tak jelas asal mula nama itu.

Borobudur yang misterius itu diakui oleh Direktur Utama Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur Prambanan Ratu Boko (Persero), Purnomo Siswoprasetjo.

Salah satunya, bagaimana cara Borobudur itu dibangun. Dari mana asal batu-batu besar material candi dan teknologi apa yang digunakan untuk mengangkat dan menyusunnya dengan presisi dan desain arsitektur yang mengagumkan.

“Apakah batu itu berasal dari Gunung Merapi, terus bagaimana membawanya dari Merapi menuju lokasi candi masih misteri,” kata Purnomo kepada VIVAnews, Kamis, 5 Juli 2012.

Tak hanya asal batu, di mana pembuat Borobudur mengukir dan memahat batu juga masih belum diketahui. Para arkeolog masih mencari dimana bengkel para seniman. “Mengukir dan memahat batu sedemikian besar ukurannya dan jumlahnya banyak, belum diketahui di mana tempatnya,” terang dia.

Letak Borobudur yang tak biasa, berada di atas bukit, dikelilingi dua pasang gunung kembar — Sindoro-Sumbing dan Merbabu-Merapi, sementara candi lain dibangun di tanah datar juga menjadi teka-teki yang belum terjawab.

Pada tahun 1931, seniman dan pakar arsitektur Hindu Buddha, W.O.J. Nieuwenkamp, mengajukan teori bahwa Daratan Kedu — lokasi Borobudur menurut legenda Jawa, dulunya adalah sebuah danau purba. Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Ini sebuah hipotesa yang menjadi perdebatan hangat di kalangan para ilmuwan saat itu.

Van Bemmelen dalam bukunya “The Geology of Indonesia” menyebutkan bahwa piroklastika Merapi pada letusan besar tahun 1006 telah menutupi danau Borobudur menjadi kering dan sekaligus menutupi candi ini hingga lenyap dari sejarah.

Fakta geologi juga memberi dukungan pada pendapat itu. “Di sekitar candi terdapat sumur yang airnya asin. Tapi yang sumurnya asin tidak di semua daerah, hanya di titik tertentu,” tutur Purnomo soal dugaan Borobudur dibangun di tengah danau purba.

Dia menambahkan, pertanyaan itu juga yang menarik banyak ilmuwan asing berdatangan, untuk melakukan penelitian. “Banyak para ahli dari luar negeri seperti dari Jepang yang datang ke Candi Borobudur khusus untuk meneliti danau purba itu. Mereka biasa tinggal selama satu minggu hingga dua minggu,” kata dia.

Salah satu cara untuk mengungkap misteri danau purba itu dengan meneliti sungai-sungai yang berada di sekitar Borobudur, termasuk Sungai Progo dan Elo. Juga pada masyarakat yang tinggal di sekitar candi.

“Semua pertanyaan-pertanyaan itu masih tersimpan semua. Kita menunggu kajian dari arkeolog untuk mengungkap misteri itu,” ucap dia. 

TARI BONDAN - TARIAN ASLI SURAKARTA, JAWA TENGAH


Tari Bondan adalah tari yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Tarian ini melambangkan seorang ibu yang menjaga anak-anaknya dengan hati-hati.


Tari Bondan terbagi atas 3, yaitu :
1. Bondan Cindogo
2. Bondan Mardisiwi
3. Bondan Pegunungan/Tani

Tari Bondan merupakan bagian dari tari klasik yang merupakan tari gembira. Tarian ini mengungkapkan rasa kasih sayang seorang ibu kepada putranya yang baru lahir. Pada tarian Bondan Cindogo terselip kisah sedih dimana satu-satunya anak yang ditimang-timang tersebut akhirnya meninggal dunia, sedangkan pada Bondan Mardisiwi tidak. Perlengkapan tari Bondan Mardisiwi sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo. 

Kostum yang dipakai oleh penari Bondan Cindogo dan Mardisiwi adalah kain yang diwiron, jamang, dan baju kotang, dengan menggendong boneka dan memanggul payung di pundak. Pada jaman dulu dilengkapi dengan kendi, sedangkan sekarang kebanyakan tidak. Untuk Bondan Pegunungan penarinya memakai pakaian lazimnya seorang gadis desa yang dilengkapi dengan topi caping, menggendong tenggok dan membawa alat pertanian.

Musik yang dipakai untuk mengiringi tarian ini adalah gending.

Di tahun 1960an, Tari Bondan adalah tari unggulan atau tari wajib bagi perempuan-perempuan cantik untuk menunjukkan siapa jati dirinya. Hampir semua penari Tari Bondan adalah kembang kampung. Tari Bondan ini juga paling sulit ditarikan karena sambil menggendong boneka, si penari harus siap-siap naik di atas kendi yang berputar sambil memutar-mutarkan payung kertasnya. Penari Tari Bondan biasanya menampilkan Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi memakai kain Wiron, memakai Jamang, baju kutang, memakai sanggul, menggendong boneka, memanggul payung, dan membawa kendhi. Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. Sedangkan Bondan Pegunungan, melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang, sawah, tegal pertanian. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing.

Ciri tarian : yaitu mengenakan pakaian seperti gadis desa, menggendong tenggok, memakai caping dan membawa alat pertanian. Bentuk tariannya pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo atau Mardisiwi.


Sedangkan Bondan Pegunungan, melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang, sawah, tegal pertanian. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing lengkap. 

Ciri pakaiannya :
  • mengenakan pakaian seperti gadis desa, menggendong tenggok, memakai caping dan membawa alat pertanian.

  • Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa, hanya tidak memakai jamang tetapi memakai sanggul/gelungan. Kecuali jika memakai jamang maka klat bahu, sumping, sampur, dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok.

Bentuk tariannya : pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo / Mardisiwi.

ASAL MULA HANACARAKA (AKSARA JAWA)


Tidak banyak yang tahu sejarah aksara Jawa. Aksara Jawa sangat berkaitan dengan sejarah dari Ajisaka. Sang Ajisaka itulah yang menciptakan aksara Jawa yang kita kenal hingga saat ini. Bagaimana kisahnya?

ImageDahulu kala, di Pulau Majethi hidup seorang satria tampan bernama Ajisaka. Selain tampan, Ajisaka juga berilmu tinggi dan sakti mandraguna. Sang Satria mempunyai dua orang punggawa yang bernama Dora dan Sembada. Kedua punggawa itu sangat setia pada Ajisaka. Pada suatu hari, Ajisaka berkeinginan pergi berkelanan meninggalkan Pulau Majethi. Kepergiannya ditemani punggawanya yang bernama Dora, sementara Sembada tetap tinggal di Pulau Pulo Majethi, diperintahkan menjaga pusaka andalannya. Ajisaka berpesan pada Sembada, tidak boleh menyerahkan pusaka tersebut kepada siapapun kecuali pada Ajisaka sendiri. Sembada menyanggupi akan melaksanakan perintahnya.

Pada masa itu di tanah Jawa terdapat negara yang terkenal makmur, tertib, aman dan damai, yang bernama Medhangkamulan. Rajanya adalah Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang luhur budinya serta bijaksana. Pada suatu hari, juru masak kerajaan mengalami kecelakaan, jarinya terbabat pisau hingga terlepas. Ki Juru Masak tidak menyadari bahwa potongan jarinya tercebur ke dalam hidangan yang akan disuguhkan pada Sang Prabu. Ketika tanpa sengaja memakan potongan jari tersebut, Sang Prabu serasa menyantap daging yang sangat enak, sehingga ia mengutus Sang Patih untuk menanyai Ki Juru Masak.

Setelah mengetahui yang disantap tadi adalah daging manusia, sang Prabu lalu memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan seorang dari rakyatnya untuk santapannya. Sejak saat itu Prabu Dewatacengkar mempunyai kegemaran menyeramkan, yaitu menyantap daging manusia. Wataknya berbalik seratus delapanpuluh derajat, berubah menjadi bengis dan senang menganiaya. Negara Medhangkamulan berubah menjadi wilayah yang angker dan sepi karena rakyatnya satu persatu dimangsa rajanya, sisanya lari menyelamatkan diri. Sang Patih pusing memikirkan keadaan, karena sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa dihaturkan pada rajanya.

Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya, Dora, tiba di Medhangkamulan. Ajisaka heran melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. Setelah mendapat keterangan mengenai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan, Ajisaka lalu menghadap Rekyana Patih dan menyatakan kesanggupannya menjadi santapan Prabu Dewatacengkar. Pada awalnya Sang Patih tidak mengizinkan karena merasa sayang bila Ajisaka yang tampan dan masih muda harus disantap Sang Prabu. Namun tekad Ajisaka sudah bulat, sehingga akhirnya iapun dibawa menghadap Sang Prabu.

Sang Prabu tak habis pikir, mengapa orang yang sedemikian tampan dan masih muda mau menyerahkan jiwa raganya untuk menjadi santapannya. Ajisaka mengatakan, ia rela dijadikan santapan sang Prabu asalkan dihadiahi tanah seluas ikat kepala yang dikenakannya. Di samping itu, harus Sang rabu sendiri yang mengukur wilayah yang akan dihadiahkan tersebut. Sang Prabu menyanggupi permintaannya.

Ajisaka kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya. Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa mundur dan semakin mundur, sehingga akhirnya tiba ditepi laut Selatan. Ikat kepala tersebut kemudian dikibaskan Ajisaka sehingga Sang Prabu terlempar jatuh ke laut. Seketika wujudnya berubah menjadi buaya putih. Ajisaka kemudian menjadi raja di Medhangkamulan.

Setelah dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus Dora pergi kembali ke Pulo Majethi menggambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setibanya di Pulau Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka Ajisaka. Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut karena ia berpegang pada perintah Ajisaka ketika meninggalkan Majethi. Sembada yang juga melaksanakan perintah Sang Prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya. Akhirnya kedua punggawa itu bertempur. Karena keduanya sama-sama sakti, peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai keduanya sama-sama tewas.

Kabar mengenai tewasnya Dora dan Sembada terdengar oleh Sang Prabu Ajisaka. Ia sangat menyesal mengingat kesetiaan kedua punggawa kesayangannya itu. Kesedihannya mendorongnya untuk menciptakan aksara untuk mengabadikan kedua orang yang dikasihinya itu.

Aksara tersebut berbunyi :

Ha Na Ca Ra Ka = yang berarti Ana utusan (ada utusan)
Da Ta Sa Wa La = Padha kekerengan (saling berselisih pendapat)
Pa Dha Ja Ya Nya = Padha digdayané (sama-sama sakti)
Ma Ga Ba Tha Nga = Padha dadi bathangé (sama-sama menjadi mayat)

TRADISI POTONG JARI - SUKU DANI PAPUA


Mungkin ini merupakan salah satu tradisi paling ekstrim yang pernah saya tahu, tradisi potong jari ini dilakukan oleh suku dani di papua, tradisi potong jari ini dilakukan sebagai perwujudan kesedihan masyarakat suku dani pada acara pemakaman, selain memotong jari, mereka juga melumuri wajah mereka dengan abu dan tanah liat, sebagai ungkapan kesedihan.

Perlu diketahui tradisi ekstrim potong jari pada suku dani ini lebih banyak dilakukan oleh kaum wanita nya sebagai perwujudan rasa sedih dan penyesalan mereka.. Menurut Keyakinan suku dani. Jika orang yang meninggal dianggap kuat, diyakini bahwa roh-roh mereka akan mengandung kekuatan sama juga. Dalam rangka untuk menenangkan dan mengusir roh-roh, beberapa praktek mengejutkan diikuti. Gadis yang terkait dengan si mayat memiliki bagian atas jari-jari mereka dipotong. Sebelum dipotong, jari-jari akan terikat dengan string untuk lebih dari 30 menit. Setelah amputasi, ujung jari diizinkan untuk kering, sebelum mereka dibakar dan abunya dikuburkan dalam sebuah area khusus.

Penjelasan lain yang ditawarkan untuk ritual pemotongan jari adalah bahwa rasa sakit fisik melambangkan penderitaan dan rasa sakit karena kehilangan orang yang dicintai. Dalam kasus seperti itu, jari akan dipotong oleh anggota keluarga terdekat, seperti ibu, ayah atau saudara. Dalam ritual aneh yang sama, ujung jari kelingking bayi juga digigit oleh ibu mereka. Ini mungkin berasal dari waktu ketika bayi baru lahir kebanyakan meninggal, dari beberapa penyebab. Harapannya adalah bahwa dengan menggigit ujung jari, bayi akan berbeda dari yang lain, dan mungkin akan, hidup lebih lama.

Praktek ini telah dilarang dalam beberapa tahun terakhir. Namun, wanita tua dari suku dani papua ini banyak yang terlihat memiliki jari yang telah terpotong karena tradisi ekstrim ini.

JAMU, OBAT TRADISIONAL KHAS INDONESIA


[Gambar: jamu+tradisional1.jpg]Jamu adalah sebutan untuk obat tradisional dari Indonesia. Belakangan populer dengan sebutan herba atau herbal.

Jamu dibuat dari bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan dan kulit batang, buah. Ada juga menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing atau tangkur buaya.

Jamu biasanya terasa pahit sehingga perlu ditambah madu sebagai pemanis agar rasanya lebih dapat ditoleransi peminumnya.

Di berbagai kota besar terdapat profesi penjual jamu gendong yang berkeliling menjajakan jamu sebagai minuman yang sehat dan menyegarkan. Selain itu jamu juga diproduksi di pabrik-pabrik jamu oleh perusahaan besar seperti Jamu Air Mancur, Nyonya Meneer atau Djamu Djago, dan dijual di berbagai toko obat dalam kemasan sachet. Jamu seperti ini harus dilarutkan dalam air panas terlebih dahulu sebelum diminum. Pada perkembangan selanjutnya jamu juga dijual dalam bentuk tablet, kaplet dan kapsul.


Asal-Usul Istilah Jamu dari Jampi-Jampi

Tidak banyak yang mengetahui bahwa asal muasal istilah jamu berasal dari istilah 'jampi-jampi'. Presiden Direktur PT Martina Berto Martha Tilaar mengatakan, jampi-jampi berarti formula yang berbau magis.

"Dulu dukun atau balian memberikan ramuan-ramuan dengan mengucapkan jampi-jampi yang dimohonkan kepada Tuhan untuk menyembuhkan penyakit tertentu," tutur Martha dalam lokakarya pembukaan program studi herbal Indonesia Universitas Indonesia (UI) di Wisma Makara UI Depok.

Oleh karena asal muasal istilahnya yang dinilai berbau magis inilah, pengembangan produk jamu berbasis warisan leluhur mendapatkan respons negatif sejak tahun 1970. Namun, Martha mengaku tetap serius dalam menggarap bisnis jamunya.

Menurut Martha, pengertian jamu di masa kini tidak lagi terpaku pada pengertian di zaman dulu. Formula jamu di masa sekarang pun semata-mata hanya diberikan untuk bahan atau ramuan tradisional yang berasal dari tumbuhan, hewan atau mineral untuk pengobatan. Untuk meninggalkan kesan lama pun, dalam beberapa forum, istilah jamu sering diganti dengan Traditional Indonesian Medicine (TIM).

Ketua Kelompok Kerja Pelayanan Komplementer dan Alternatif Departemen Kesehatan Merdias Almatsier mengatakan, jamu dikategorikan dalam cara pengobatan herbal, yaitu pengobatan dengan menggunakan bagian tanaman atau ekstraknya yang mengandung bahan berkhasiat untuk tubuh, pencegahan penyembuhan atau peningkatan kesehatan.

Berbeda dengan herbal terstandar dan fitofarmaka yang juga tergolong pengobatan herbal, pada dasarnya jamu tidak melalui uji praklinik atau uji klinik dan bahan bakunya tidak terstandardisasi.


Penjualan jamu gendong

Penjualan jenis dan jumlah jamu gendong sangat bervariasi untuk setiap penjaja. Hal tersebut tergantung pada kebiasaan yang mereka pelajari dari pengalaman tentang jamu apa yang diminati serta pesanan yang diminta oleh pelanggan. Setiap hari jumlah dan jenis jamu yang dijajakan tidak selalu sama, tergantung kebiasaan dan kebutuhan konsumen. Setelah dilakukan pendataan, diperoleh informasi bahwa jenis jamu yang dijual ada delapan, yaitu beras kencur, cabe puyang, kudu laos, kunci suruh, uyup-uyup/gepyokan, kunir asam, pahitan, dan sinom.

Hampir semua penjual jamu menyediakan seluruh jenis jamu ini meskipun jumlah yang dibawa berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan konsumen. Masing-masing jenis jamu disajikan untuk diminum tunggal atau dicampur satu jenis jamu dengan jenis yang lain. Beberapa di antara responden, selain menyediakan jamu gendong juga menyediakan jamu serbuk atau pil hasil produksi industri jamu.

Jamu tersebut diminum dengan cara diseduh air panas, kadang-kadang dicampur jeruk nipis, madu, kuning telor, dan selanjutnya minum jamu sinom atau kunir asam sebagai penyegar rasa.


Jenis Jamu dan Khasiatnya

Jamu beras kencur
Jamu beras kencur dipercaya dapat menghilangkan pegal-pegal pada tubuh. Dengan membiasakan minum jamu beras kencur, tubuh akan terhindar dari pegal-pegal dan linu yang biasa timbul bila bekerja terlalu payah. Selain itu, banyak pula yang berpendapat bahwa jamu beras kencur dapat merangsang nafsu makan, sehingga selera makan meningkat dan tubuh menjadi lebih sehat.

Jamu Kunir Asam
Jamu kunir asam dikatakan oleh sebagian besar penjual jamu sebagai jamu 'adem-ademan atau seger-segeran' yang dapat diartikan sebagai jamu untuk menyegarkan tubuh atau dapat membuat tubuh menjadi dingin. Ada pula yang mengatakan bermanfaat untuk menghindarkan dari panas dalam atau sariawan, serta membuat perut menjadi dingin. Seorang penjual jamu mengatakan bahwa jamu jenis ini tidak baik dikonsumsi oleh ibu yang sedang hamil muda sehubungan dengan sifatnya yang memperlancar haid. Ada pula penjual jamu yang menganjurkan minum jamu kunir asam untuk melancarkan haid.

Jamu Sinom
Manfaat, bahan penyusun, serta cara pembuatan jamu sinom tidak banyak berbeda dengan jamu kunir asam. Perbedaan hanya terletak pada tambahan bahan sinom. Bahkan, beberapa penjual tidak menambahkan sinom, tetapi dengan cara mengencerkan jamu kunir asam dengan mengurangi jumlah bahan baku yang selanjutnya ditambahkan gula secukupnya.

Jamu Cabe Puyang
Jamu cabe puyang dikatakan oleh sebagian besar penjual jamu sebagai jamu 'pegal linu'. Artinya, untuk menghilangkan cikalen, pegal, dan linu-linu di tubuh, terutama pegal-pegal di pinggang. Namun, ada pula yang mengatakan untuk menghilangkan dan menghindarkan kesemutan, menghilangkan keluhan badan panas dingin atau demam. Seorang penjual mengatakan minuman ini baik diminum oleh ibu yang sedang hamil tua dan bayi yang lahir jika minum jamu cabe puyang secara teratur tiap hari bayi akan bersih dan bau tidak amis. Jamu cabe puyang banyak mengandung zat besi dan berkasiat untuk menambah butiran darah merah bagi yang kurang darah atau anemia.

Jamu Pahitan
Jamu pahitan dimanfaatkan untuk berbagai masalah kesehatan. Penjual jamu memberikan jawaban yang bervariasi tentang manfaat jamu ini, namun utamanya adalah untuk gatal-gatal dan kencing manis. Penjual yang lain mengatakan manfaatnya untuk 'cuci darah', kurang nafsu makan, menghilangkan bau badan, menurunkan kolesterol, perut kembung/sebah, jerawat, pegal, dan pusing.

Jamu Kunci Suruh
Jamu kunci suruh dimanfaatkan oleh wanita, terutama ibu-ibu untuk mengobati keluhan keputihan (fluor albus). Sedangkan manfaat lain yaitu untuk merapatkan bagian intim wanita (vagina), menghilangkan bau badan, mengecilkan rahim dan perut, serta dikatakan dapat menguatkan gigi.

Jamu Kudu Laos
Menurut sebagian besar penjual jamu, khasiat jamu kudu laos adalah untuk menurunkan tekanan darah. Tetapi, ada pula yang mengatakan untuk melancarkan peredaran darah, menghangatkan badan, membuat perut terasa nyaman, menambah nafsu makan, melancarkan haid, dan menyegarkan badan.

Jamu Uyup-uyup/Gepyokan
Jamu uyup-uyup atau gepyokan adalah jamu yang digunakan untuk meningkatkan produksi air susu ibu pada ibu yang sedang menyusui. Hanya seorang penjual jamu yang mengatakan bahwa ada khasiat lain, yaitu untuk menghilangkan bau badan yang kurang sedap, baik pada ibu maupun anak dan 'mendinginkan' perut.



BUAH MERAH PAPUA


Buah merah merupakan sejenis buah tradisional berasal dari Papua. Masyarakat Wamena, Papua menyebut buah ini dengan sebutan ‘kuansu’. Nama ilmiahnya ‘pandanus conoideus lam’. Tanaman buah merah termasuk tanaman keluarga pandan-pandanan. Pohonnya menyerupai tanaman pandan.

Tinggi tanaman ini hanya mencapai 16 meter dengan tinggi batang bebas cabang sendiri setinggi 5-8 meter dan yang diperkokoh adalah akar-akar tunjang pada batang sebelah bawah.

Kultivar buah berbentuk lonjong dengan kuncup tertutup daun buah. Buah merah memiliki panjang buah mencapai 55 sentimeter, diameter 10-15 sentimeter, dan bobot 2-3 kilogram. Buah matang berwarna merah marun terang. Tetapi ada juga jenis tanaman ini yang berbuah berwarna coklat dan coklat kekuningan.

Masyarakat Wamena bisanya menyajikan buah merah ini untuk makanan pada acara pesta adat bakar batu. Tetapi ada juga yang memanfaatkannya sebagai obat. Secara tradisional, buah merah dari zaman dahulu secara turun temurun sudah dikonsumsi karena berkhasiat banyak menyembuhkan berbagai penyakit seperti mencegah penyakit mata, cacingan, kulit, dan meningkatkan stamina.

Budidaya tanaman ini dipelopori oleh seorang warga lokal Nicolaas Maniagasi pada tahun 1983. Atas jerih payahnya itu, Nicolaas mendapat penghargaan lingkungan hidup Kehati Award 2002. Buah ini banyak terdapat di Jayapura, Manokwari, Nabire, dan Wamena.

Buah yang terdapat di hutan pedalaman Papua terdapat buah merah yang insya Allah dipercaya dapat mengatasi penyakit kanker. Buah ini  masih satu famili dengan tanaman pandan, buah merah berbentuk panjang lonjong dengan diameter 10 hingga 25 sentimeter. Dan tumbuhan buah merah  ini biasa hidup di dataran rendah dekat pantai sampai dataran tinggi, bahkan sering juga ditemui di lereng pegunungan Jayawijaya.

Apa yang dikandung oleh buah merah? Buah merah memiliki kandungan tokoferol dan betakaroten yang sangat membantu menyembuhkan kanker . Dan kedua senyawa kimia ini bekerja sama sebagai antioksidan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.


“Sebagai antioksidan, kedua senyawa ini berperan untuk mencegah dan menekan pembiakan se-sel kanker . Dan juga Omega3 yang terkandung di dalam buah merah juga bisa berfungsi memperbaiki jaringan sel yang rusak, sehingga sangat disarankan bagi penderita kanker .

Tak harus ke Papua untuk mendapatkan buah berkhasiat ini. Saat ini buah merah telah diproduksi dalam bentuk kemasan oleh UD Fira Papua dan beberapa perusahaan lainnya. Produk tersebut diolah secara higienis, dan bisa dipesan ditempat kami.

“Penderita kanker disarankan sebelum mengonsumsi sari buah merah, berkonsultasi dengan dokter atau herbalis yang ahli. Bagi yang baru pertama mengonsumsi herbal ini akan mengalami proses detoksifikasi.

Detoksifikasi adalah pengeluaran zat racun dari dalam tubuh dan setiap orang mengalami gejala yang berbeda-beda. Ada yang merasakan pusing atau mual, namun hal ini hanya berlangsung satu hingga dua hari.

“Bagi pasien yang sudah membaik biasanya minum sari buah merah sebanyak satu sendok teh dua kali sehari. Jika sudah meminum sari buah ini, disarankan tidak mengonsumsi suplemen yang mengandung vitamin E karena vitamin E yang terkandung dalam sari buah merah sudah tinggi.

WAE REBO - SEBUAH KAMPUNG DI ATAS AWAN

WAE REBO - SEBUAH KAMPUNG DI ATAS AWAN


Wae Rebo merupakan sebuah kampung tradisional disebuah dusun terpencil di desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai Propinsi Nusa Tenggara Timur. Terletak di ketinggian 1000 diatas permukaan laut, dikelilingi bukit-bukit dan hutan-hutan asri, kampung ini sering diselimuti kabut jika dilihat dari kejauhan.  Pantaslah jika disebut kampung di atas awan.

Untuk mencapai Wae Rebo, harus melintasi kawasan hutan yang masih asli. Hutan rimbun disertai dengan satwanya yang lengkap. Ketika anda memasuki hutan, akan disambut dengan kicauan burung Pacycepal yang seolah turut mengiringi langkah anda.

Rumah adat Wae Rebo ini dikenal dengan sebutan ‘ Mbaru Niang ‘ (rumah bundar berbentuk kerucut ). Mbaru niang terdiri dari 5 tingkatan. Masing-masing tingkatan memiliki fungsinya sendiri. Tingkat pertama adalah ‘Lutur‘ yang berarti tenda. Tingkatan ini digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat. Tingkat kedua adalah ‘Lobo’ yakni loteng yang berfungsi menyimpan bahan makanan dan barang – barang lainnya. Tingkat ketiga adalah ‘lentar’ yang digunakan untuk menyimpan benih – benih seperti jagung, padi dan kacang – kacangan, dan lain-lain. Tingkat keempat ‘Lempa Rae’ sebagai tempat stok makanan cadangan yang digunakan ketika terjadi gagal panen atau musim kemarau berkepanjangan. Tingkat kelima adalah ‘Hekang Kode ‘ yang digunakan untuk menyimpan langkar, yakni semacam anyaman dari bambu berbentuk persegi guna menyimpan sesajian untuk dipersembahkan pada leluhur.

Menuju Wae Rebo melalui Ruteng

Wae Rebo Manggarai, Kampung Diatas AwanDari Ruteng, perjalanan dengan kendaraan selama 4 jam yang berkelok sehingga penumpang tak henti bergoyang. Sampailah di sebuah desa pesisir bernama Dintor. Jalan terus dilanjutkan menuju tanjakan ke pedalaman pulau menempuh pematang sawah dan jalan setapak di Sebu sebelum sampai di Denge. Dari Denge langkah terus dihentakkan melalui hutan kecil, melalui Sungai Wae Lomba. Setelah mengatur kerja paru-paru di sepanjang jalan setapak, dari Ponto Nao, terlihat pusat Wae Rebo, sebuah dusun yang mengepul asap dari kerucut-kerucut aneh yang berkumpul di sebuah lapang hijau. Itulah sisa-sia mbaru niang yang hampir punah.

Wae Rebo merupakan negeri diatas awan tempat dimana masyarakat hidup harmoni dengan alam dan gemanya ditiupkan keseluruh penjuru daerahnya. Masyarakat hidup rukun dan harmonis meskipun dengan kondisi sederhana. Wae Rebo menjadi salah satu tempat untuk menjaga dan melestarikan salah satu kekayaan bumi nusantara ini.
KEBO-KEBOAN - TRADISI UNIK DARI BANYUWANGI

KEBO-KEBOAN - TRADISI UNIK DARI BANYUWANGI


Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat khususnya yang mendiami beberapa daerah di Indonesia sebagai wujud rasa syukur, lantaran telah diberikan keselamatan dan kesejahteraan dengan melimpahnya hasil panen. Seperti yang dilakukan oleh penduduk Kabupaten Banyuwangi, khususnya Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi dan Dusun Krajan, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh yang rutin menggelar tradisi Kebo-Keboan.

Tradisi yang awalnya bertujuan untuk memohon datangnya hujan saat musim kemarau agar penduduk bisa bercocok tanam ini bermula saat Dusun Krajan didera oleh masalah yang salah satunya adalah serbuan berbagai macam hama yang berimbas pada matinya tanaman (pagebluk). Seorang tokoh masyarakat bernama Buyut Karti mengadakan ritual dengan cara menirukan perilaku seekor kerbau yang sedang membajak sawah. Ritual tersebut berhasil mengusir hama dan menghasilkan panen yang melimpah. Sejak saat itulah ritual Kebo-Keboan dilakukan setiap tahun.

Lepas menyulap jalan kampung layaknya lahan pertanian dengan ditanami beragam hasil panen seperti tanaman palawija, padi, pisang hingga mangga yang melambangkan kesuburan dan kesejahteraan, masyarakat pun mulai menyemut di penjuru kampung. Proses sosialisasi lewat sistem getok tular alias dari mulut ke mulut memang sangat efektif di pedesaan. Tradisi ini diawali dengan ritual selamatan yang dilakukan ditengah jalan pada pagi hari dengan dipimpin oleh seorang Kyai. Kyai tersebut juga mendoakan sesaji yang terdiri dari tumpeng, peras, air kendi, kinang ayu, aneka jenang hingga inkung ayam, serta kue, dan nasi tumpeng yang nantinya dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

Setelah visualisasi Dewi Sri lewat, perlahan muncul puluhan pria yang sekujur tubuhnya dibaluri arang, rambut dan tanduk palsu serta bertingkah laku layaknyanya kerbau dengan halauan petani yang membopong hasil panen. Rombongan peserta ritual berjuluk Ider Bumi ini selanjutnya berjalan menuju bendungan diiringi oleh lantunan gending. Kemudian bendungan tersebut dibuka sehingga air mengaliri jalanan yang telah ditanami palawija. Aroma kemenyan sontak menyeruak sesaat lepas dupa dibakar setia menemani hingga proses ritual selesai.

Kemudian rombongan menuju ke area persawahan milik warga Dusun Krajan. Disana, para “kerbau” tadi berkubang, membajak sawah seperti pada umumnya yang diikuti oleh beberapa orang pemuda yang menanami benih padi. Puncaknya adalah ketika warga berebut benih padi yang ditanam tadi. Namun tidaklah mudah, karena “kerbau-kerbau” yang sudah diberi mantra akan secara beringas menghadang bahkan menyeruduk warga yang berusaha mengambil benih padi tadi. Benih padi tersebut dipercaya sebagai penolak bala, mendatangkan keberuntungan dan membawa berkah. Tradisi ini diakhiri dengan pagelaran wayang kulit malam harinya. Selain dipercaya dapat membawa berkah dan menolak bala, Tradisi Kebo-Keboan ini sarat akan nilai kebersamaan, ketelitian, gotong royong, dan religious. Tak heran jika Tradisi Kebo-Keboan masih dijalani hingga sekarang, sekaligus ngleluri (memelihara) warisan nenek moyang.