Showing posts with label Bandung. Show all posts
Showing posts with label Bandung. Show all posts

5 WISATA SEJARAH DAN ARSITEKTUR DI BANDUNG


Kota kembang Bandung merupakan sebutan lain untuk kota yang pada zaman dulu, dinilai sangat cantik dengan banyaknya pohon-pohon dan bunga-bunga yang tumbuh. Selain itu, Bandung dahulunya disebut juga dengan Parijs van Java karena keindahannya. Bandung juga dikenal sebagai kota belanja, dengan mall dan factory outlet yang banyak tersebar, dan saat ini berangsur-angsur kota Bandung juga menjadi kota wisata kuliner. Dan pada tahun 2007, British Council menjadikan kota Bandung sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia Timur. Saat ini kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan utama pariwisata dan pendidikan. Berikut beberapa 5 Wisata Sejarah dan Arsitektur di Bandung :

1. Gedung Bank Indonesia

Lokasi:  Jalan Braga No. 108, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung

Gedung Bank Indonesia ini dahulu bernama Javanche Bank, dibangun tahun 1915-1918 oleh arsitek Hulswit, Fermont dan Ed. Cuypers dengan gaya arsitektur Neo Klasik (Electicism,) yang memiliki keindahan dengan menara yang tinggi, sehingga mudah dilihat dari jarak jauh. Bangunan ini lebih indah dan apik daripada bangunan sejenis di Eropa. Gedung mempunyai peran besar dalam pembentukkan ruang kota yang baik.

Bank Indonesia dapat dijadikan sebagai salah satu objek wisata heritage, karena bentuk bangunan indah, megah dan simetris, serta lokasinya satu kawasan dengan bangunan-bangunan kuno lainnya (Gedung Indonesia Mengunggat/Landraad, Gereja Santo Petrus Katedral, Gereja Bethel, Gedung Balaikota Bandung, Sekolah Dasar Merdeka, Mapolwiltabes Bandung dan sebagainya).

2. Gedung SMUN 3 dan 5

Lokasi:  Jalan Belitung No. 8

Sekolah Menengah Umum (SMA) Negeri 3 dan 5 Bandung dirancang oleh seorang arsitek Belanda, C.P. Schoemaker pada tahun 1916 masa Pemerintahan Hindia Belanda. Kondisi sekolah terawat baik dan kini dibawah pengelolaan Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat. Sekolah berdiri di atas tanah seluas 14.240 m² , dengan luas bangunan 8.220 m².

Sekolah ini menjadi sekolah favorit dan bergengsi di Kota Bandung, sejak dahulu fungsinya tetap sama untuk gedung sekolah dan almarhum Sri Sultan Hamengkubuwono IX sempat menuntut ilmu di sini.  Gedung ini digunakan sebagai sekolah HBS (Hoogere Burgerschool) tahun 1916 – 1942. Pada masa penjajahan Jepang (1942 – 1945) yang ingin berperang melawan tentara sekutu, gedung digunakan sebagai Markas Tentara Jepang (Kompetai).

Gedung SMU Negeri 3 dan 5,  terletak berdampingan dengan kolam renang masa Hindia Belanda, Tirtamerta/Pemandian Centrum (1920),  dapat dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata dan bahan kajian arsitektur Eropa (Belanda) untuk pelajar/mahasiswa, serta letaknya yang strategis di tengah Kota Bandung dan dapat dengan mudah dijangkau.

3. Museum Pos Indonesia

Lokasi:  Jalan Asia Afrika No. 49, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung

Museum ini dibangun masa Hindia-Belanda pada 27 Juli 1920 dengan nama Museum Pos, Telegraph dan Telepon (PTT) dan dibuka tahun 1931. Pada 19 Juni 1995 Museum berganti nama menjadi Museum Pos dan Giro disesuaikan dengan perusahaan yang menanganinya. Pada waktu Perusahaan berganti nama menjadi PT Pos Indonesia maka terjadi pula perubahan nama museum ini menjadi Museum Pos Indonesia. Museum memiliki luas gedung 700 m², dan berdiri tegak di atas lahan tanah seluas ±  706 m². Gedung Museum dibangun oleh Ir. J. Berger dari Landsgebouwdienst dengan gaya arsitektur Italia masa Renaissance.

Pada masa revolusi dan perang kemerdekaan, keberadaan museum ini tidak mendapat perhatian sebagaimana mestinya, bahkan nyaris terlupakan. Kemudian baru tanggal 18 Desember 1980 Direksi Perum Pos dan Giro membentuk Panitia Persiapan Pendirian Museum Pos dan Giro untuk menghidupkan kembali museum. Menginggat banyaknya koleksi perangko, foto, peralatan pos yang bernilai sejarah yang perlu diketahui oleh masyarakat luas dan museum sebagai sarana pendidikan, informasi dan rekreasi untuk generasi muda dimasa sekarang dan mendatang. Tugas utama panitia tersebut adalah melakukan inventarisasi dan pengumpulan benda-benda bersejarah yang patut dijadikan sebagai koleksi museum. Pada 27 September 1983 bersamaan dengan hari bakti Postel ke-38 Museum ini secara resmi dibuka oleh Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Acmad Tahir dan diberi nama Museum Pos dan Giro, sebagai museum untuk umum.

Museum Pos dan Giro di Jawa Barat ini,  merupakan satu-satunya museum perangko yang koleksinya tidak lagi hanya sebatas pada perangko-perangko dari berbagai negara, tetapi telah dilengkapi dengan benda-benda pos bersejarah. Museum Pos dan Giro dapat dikembangkan sebagai objek wisata budaya, khusunya para filatelis (orang yang hobi mengumpulkan perangko) maupun masyarakat yang ingin meningkatkan wawasan sejarah perkembangan perangko.

4. Pendopo Bandung

Lokasi:  Jalan Dalem Kaum No. 1, Kelurahan Balong Gede, Kecamatan Regol

Pendopo Kabupaten terletak di Jalan Dalem Kaum No. 1, Kelurahan Balong Gede, Kecamatan Regol. Pendopo Kabupaten dibangun pada masa Bupati Wiranatakusumah II (1810 M), setelah memilih dan menentukan wilayah alun-alun kota yang terletak di dekat jalan Raya Pos sebagai ibukota baru selanjutnya dibangun beberapa fasilitas sebagai kelengkapan suatu ibukota kabupaten.

Pembangunan kota Bandung terdiri atas unsur tradisional dan unsur kolonial. Unsur tradisional dengan pembangunan alun-alun, bangunan pusat pemerintahan atau pendopo, mesjid Agung, pasar yang dibangun di sebelah barat laut alu-alun.  Inti dari kota Bandung adalah bangunan Kabupaten Bandung yang oleh masyarakat Kota Bandung disebut dengan Pendopo. Pendopo merupakan bangunan berarsitektur tradisional Jawa, beratap joglo tumpang tiga, dibangun pada awalnya dari bahan kayu dan beratap ijuk, dan pada tahun 1850 diganti tembok dan atap genteng. Pendopo sisi selatan dibangun pada tahun 1867. Komplek Pendopo ini dipugar kembali tahun 1993, sebagai tempat kediaman resmi dari Bupati Bandung.

Tata kota Bandung masih mengikuti pola umum tradisional yang berlaku di Indonesia pada umumnya, meskipun unsur kolonial telah mewarnai wajah Kota Bandung. Tata kota yang berimbas pada arah hadap atau orientasi pusat pemerintahan atau inti dari Kota bandung yaitu pendopo dipengaruhi oleh usaha penyelarasan terhadap lingkungan. Arah hadap pendopo ke arah utara kota Bandung sebagai penghormatan kepada gunung-gunung (Gunung Sunda, Gunung Tangkuban Perahu) juga berhubungan erat dengan kesinambungan pandangan hidup manusia yang sudah berlangsung sejak masa prasejarah, yaitu tentang kesucian dari gunung.

5. Gedung Nies Compotomy

Lokasi:  Jalan Asia Afrika No, 51, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung

Gedung Nies Compotomy atau Gedung Bank Mandiri terletak di lingkungan kota tua yaitu berada di selatan alun-alun Kota Bandung. Gedung Bank Mandiri, bersebelahan dengan kantor Pos Besar namun terpisah oleh Jalan Banceuy. Kini kawasan telah menjadi kawasan perkantoran dan pusat perdagangan.

Gedung ini dibangun pada tahun 1915 oleh arsitek Belanda terkenal, R. L. A. Schoemaker memiliki gaya arsitektur khas, yaitu neo klasik (ArtDeco ornamental) yang langka dan unik dengan ornamen sebagai penghias bangunan. Gedung Bank ini luasnya 1212 m² dan berdiri pada tanah seluas 8432 m². Semula dibangun sebagai Escomplo Bank, lalu sebagai Kantor PT. (Persero) Bank Dagang Negara dan sejak tanggal 2 Oktober 1998 sebagai Bank Mandiri (gabungan Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Exim, dan Bank Bapindo). Kondisi bangunan terpelihara baik dan tidak mengalami perubahan pada fisik bangunan serta diupayakan tetap dipertahankan keaslian bentuknya.

Bangunan ini terletak di bagian sudut persimpangan Jalan Asia Afrika, Jalan Banceuy, dan Jalan Masjid Agung. Posisi bangunan terletak tidak jauh dari jalan raya serta memiliki pintu masuk pada bagian sudut bangunan. Bangunan memiliki menara jam yang berfungsi sebagai penangkap perhatian (vocal point) dan menjadi ciri bangunan yang terletak di sudut jalan. Arah hadap bangunan ini ke selatan-barat, yaitu ke Jl. Asia Afika dan Jl. Banceuy.

sumber : uniknya.com

SEJARAH BANDUNG LAUTAN API


Suatu hari di Bulan Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota Bandung menuju pegunungan di selatan. Beberapa tahun kemudian, lagu "Halo-Halo Bandung" ditulis untuk melambangkan emosi mereka, seiring janji akan kembali ke kota tercinta, yang telah menjadi lautan api. 


Insiden Perobekan Bendera 

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan harus dicapai sedikit demi sedikit melalui perjuangan rakyat yang rela mengorbankan segalanya. Setelah Jepang kalah, tentara Inggris datang untuk melucuti tentara Jepang. Mereka berkomplot dengan Belanda (tentara NICA) dan memperalat Jepang untuk menjajah kembali Indonesia. 

Berita pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan dari Jakarta diterima di Bandung melalui Kantor Berita DOMEI pada hari Jumat pagi, 17 Agustus 1945. Esoknya, 18 Agustus 1945, cetakan teks tersebut telah tersebar. Dicetak dengan tinta merah oleh Percetakan Siliwangi. Di Gedung DENIS, Jalan Braga (sekarang Gedung Bank Jabar), terjadi insiden perobekan warna biru bendera Belanda, sehingga warnanya tinggal merah dan putih menjadi bendera Indonesia. Perobekan dengan bayonet tersebut dilakukan oleh seorang pemuda Indonesia bernama Mohammad Endang Karmas, dibantu oleh Moeljono. 

Tanggal 27 Agustus 1945, dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), disusul oleh terbentuknya Laskar Wanita Indonesia (LASWI) pada tanggal 12 Oktober 1945. Jumlah anggotanya 300 orang, terdiri dari bagian pasukan tempur, Palang Merah, penyelidikan dan perbekalan. 

Peristiwa yang memperburuk keadaan terjadi pada tanggal 25 November 1945. Selain menghadapi serangan musuh, rakyat menghadapi banjir besar meluapnya Sungai Cikapundung. Ratusan korban terbawa hanyut dan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Keadaan ini dimanfaatkan musuh untuk menyerang rakyat yang tengah menghadapi musibah. 

Berbagai tekanan dan serangan terus dilakukan oleh pihak Inggris dan Belanda. Tanggal 5 Desember 1945, beberapa pesawat terbang Inggris membom daerah Lengkong Besar. Pada tanggal 21 Desember 1945, pihak Inggris menjatuhkan bom dan rentetan tembakan membabi buta di Cicadas. Korban makin banyak berjatuhan. 

Bandoeng Laoetan Api 

Ultimatum agar Tentara Republik Indonesia (TRI) meninggalkan kota dan rakyat, melahirkan politik "bumihangus". Rakyat tidak rela Kota Bandung dimanfaatkan oleh musuh. Mereka mengungsi ke arah selatan bersama para pejuang. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan, pada tanggal 24 Maret 1946. 

Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Komandan Divisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan rakyat untuk meninggalkan Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota. 

Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakannya lagi. Di sana-sini asap hitam mengepul membubung tinggi di udara. Semua listrik mati. Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat pabrik mesiu yang besar milik Sekutu. TRI bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Untuk itu diutuslah pemuda Muhammad Toha dan Ramdan. Kedua pemuda itu berhasil meledakkan gudang tersebut dengan granat tangan. Gudang besar itu meledak dan terbakar, tetapi kedua pemuda itu pun ikut terbakar di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan maka pada jam 21.00 itu juga ikut keluar kota. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota. Dan Bandung pun berubah menjadi lautan api. 

Pembumihangusan Bandung tersebut merupakan tindakan yang tepat, karena kekuatan TRI dan rakyat tidak akan sanggup melawan pihak musuh yang berkekuatan besar. Selanjutnya TRI bersama rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini melahirkan lagu "Halo-Halo Bandung" yang bersemangat membakar daya juang rakyat Indonesia. 

Bandung Lautan Api kemudian menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembakaran itu. Banyak yang bertanya-tanya darimana istilah ini berawal. Almarhum Jenderal Besar A.H Nasution teringat saat melakukan pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, untuk memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris. 

Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.” Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air” 
A.H Nasution, 1 Mei 1997

Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi. 

Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judulBandoeng Djadi Laoetan Api. Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi Bandoeng Laoetan Api. 

4 KEBUN RAYA TERBESAR DI INDONESIA


Kebun Raya atau Kebun Botani atau Taman Botani adalah suatu lahan yang ditanami berbagai jenis tumbuhan yang ditujukan untuk keperluan koleksi, penelitian, dan konservasi. Selain itu biasanya kebun raya dijadikan sarana wisata alternatif bagi sebagian besar warga yang ingin menikmati keindahan dan rimbunnya pohon-pohon besar yang semakin langka di tengah perkotaan.

Indonesia sendiri memiliki beberapa kebun raya yang tersebar di seluruh penjuru negeri, mulai yang terkecil hingga terluas. Kebun raya sangat berguna bagi bumi ini, karena semakin sedikitnya jumlah pohon di perkotaan dan semakin banyaknya polusi yang di hasilkan oleh manusia. Berikut 4 kebun raya terbesar yang ada di Indonesia :

1. Kebun Raya Eka Karya, Bali

Kebun Raya Eka Karya

Kebun raya ini memiliki luas 157 hektar. Kebun raya ini terletak di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Bedugul, Bali, sekitar 90 km dari Kota Denpasar. Kebun raya yang berada pada ketinggian 1.250-1.400 meter dpl ini sudah berumur sekitar 52 tahun. Kebun raya ini memiliki koleksi tumbuhan sebanyak 16.000 tanaman koleksi dengan 1.500 jenis, 320 marga, 155 suku tanaman. Tiket masuk sebesar Rp 7.000/orang.

2. Kebun Raya Cibodas, Cianjur

Kebun Raya Cibodas

Kebun Raya ini memiliki luas 125 hektar. Kebun raya ini terletak di kompleks hutan Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan, Pacet, Cianjur. Kebun raya ini berada pada ketinggian 1.275 meter dpl dengan suhu udara 17-27 derajat Celcius. Kebun raya ini berdiri tahun 1852 oleh Johannes Elias Teijsmann. Koleksi yang paling khas di Kebun Raya Cibodas ini adalah Taman Lumut Cibodas yang memiliki 216 jenis.

3. Kebun Raya Bogor

Kebun Raya Bogor

Kebun Raya Bogor memiliki luas 87 hektar. Terletak di Jl. Ir H Juanda No 13 Bogor. Kebun Raya ini diresmikan pada tahun 1817 oleh Gubernur Jenderal G.A.G.Ph Van Der Capellen. Koleksi tanaman yang paling terkenal di kebun raya ini adalah Bunga Bangkai yaitu bunga terbesar di dunia yang tingginya bisa mencapai 2 meter. Tiket masuk sebesar Rp 10.000/orang.

4. Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan

Kebun Raya Purwodadi

Kebun raya ini memiliki luas 85 hektar, terletak di jalan raya Surabaya - Malang, Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur. Kebun raya ini didirikan pada tahun 1941 oleh Dr. Lourens Gerhard Marinus Baas Becking. Pengelolaan kebun raya ini berada di bawah tanggung jawab Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Kebun raya ini memiliki 10.000 jenis koleksi pohon dan tumbuhan.

sumber
5 PESONA BANDUNG

5 PESONA BANDUNG


Sejak dibukanya Jalan Tol Cipularang, kota Bandung telah menjadi tujuan utama dalam menikmati liburan akhir pekan terutama dari masyarakat yang berasal dari Jakarta sekitarnya. Selain menjadi kota wisata belanja, kota Bandung juga dikenal dengan sejumlah besar bangunan lama berarsitektur peninggalan Belanda, diantaranya Gedung Sate, Gedung Pakuan, Gedung Merdeka samapai  Villa Isola yang begitu terkenal. Berikut 5 pesona Bandung di mata warga Jakarta:

1. Kuliner

Kota Bandung memang dikenal sebagai Surga Kuliner bagi para penikmat kuliner Jakarta. Hal ini bukanlah kondisi menguntungkan yang terjadi belakangan ini. Jauh sedari baheulapun, Bandung memang sudah menawarkan cita rasa kuliner yang menggoda bagi para pendatang. Berbagai aneka jajanan khas Bandung mulai dari bajigur, bandrek, yogurt, cireng dan surabi, sampai lotek, batagor, mie baso, hingga hidangan kelas wahid lainnya, tumplek semua ada di Bandung. Masih ingat dengan fenomena molen keju, brownis kukus sampai kripik super pedas beberapa tahun lalu? Semuanya adalah sebagian kecil jajanan kuliner Bandung yang begitu terkenal dikalangan warga Jakarta.



2. Shoping

Sejarah mencatat, kawasan Jalan Braga Bandung semasa jaman kolonial lalu, sudah menjadi lokasi belanja fashion paling kesohor se-Nusantara. Makanya tak heran, jika hal seperti itu terjadi pula kini. Lihatlah puluhan Factory Outlet yang berderet rapih di ruas-ruas jalan ternama Bandung, belum lagi pilihan Distro yang menawarkan gaya busana muda nan trendy karya desainer muda Bandung. Selain itu butik-butik, hingga pasar tradisional seperti “cimol” dan tentunya Pasar Baru yang begitu digandrungi warga sebrang dari negeri Jiran Malaysia dan Singapura, semuanya mencerminkan Bandung sebagai lokasi tujuan shoping yang cukup menggiurkan pastinya.



3. Panorama

Konon katanya, tanah Priangan nan jelita, diciptakan ketika Tuhan tersenyum. Berangkat dari situ, janganlah heran jika tatar Parahyangan memiliki panorama indah yang memikat. Begitupun dengan Kota Bandung. Kota yang berjuluk Kota Kembang ini, dikelilingi deretan gunung terkenal. Begitu banyak tujuan lokasi wisata alam yang bisa ditawarkan pada para pengunjung di Bandung. Ke arah utara, kita bisa dengan cepat menemui kota satelit Bandung (Lembang) sambil menikmati Maribaya, Gunung Tangkuban Perahu sampai pemandian Air panas Ciater. Lain halnya kearah selatan. Hamparan perkebunan teh dan strawbery, juga panorama kawah putih, danau Patengan sampai Pangalengan bisa menjadi lokasi favorit para warga Ibukota.



4. Suasana

Orang Belanda, menyebut Bandung sebagai Parijs van Java. Alasannya, karena Bandung memiliki tata kota dan juga cuaca yang mirip  dengan Kota Paris Selatan di musim panas. Kota Bandung merupakan kota peninggalan kolonial yang paling banyak menyimpan taman-taman kota yang indah. Belum lagi deretan pepohonan tua yang “memagari” jalanan Bandung, ditambah kontur berbukit yang menjadikan Bandung sebagai kota yang tidak membosankan. Memang sih, jangan disamakan keadaan Bandung dulu dengan dijaman sekarang. Tapi setidaknya, sisa-sisa keemasan Parijs van Java masih bisa dinikmati warga pendatang terutama dari Jakarta yang tiap akhir pekan doyan mengunjungi Bandung.



5. Muda-Mudi

Barudak Bandung memang terkenal kreatif. Coba deh Anda mulai menghitung. Berapa banyak artis papan atas Indonesia, yang berasal dari Kota Bandung. Hal itu setidaknya membuktikan betapa kreatifnya muda-mudi Bandung dalam beratifitas. Satu lagi yang enggak kalah penting, Bandung juga dikenal karena mudi-mudinya yang terkenal cantik-cantik. Wow!



sumber berita

SEJARAH KOTA BANDUNG


Era Pajajaran
Daerah yang sekarang dikenal dengan nama Bandung semula adalah ibukota Kerajaan Padjajaran (tahun 1488). Namun dari penemuan arkeologi kuno, kota tersebut adalah rumah bagi Australopithecus, Manusia Jawa. Mereka tinggal di pinggiran sungai Cikapundung sebelah Utara Bandung, dan di pesisir Danau Bandung. Gambar dan fragmen dari sisa tengkorak dan artifak Batu Api, dapat dilihat di Museum Geologi Jl. Diponegoro 57. Bandung.

Era Kolonial Belanda
Pada tahun 1786 mulailah dibangun jalan yang menghubungkan Jakarta, Bogor, Cianjur dan Bandung. Arus pendatang dari Eropa meningkat pada tahun 1809 saat Louis Napoleon, penguasa Belanda, memerintahkan Gubernur Jendral H.W. Daendels, untuk meningkatkan pertahanan di Jawa melawan Inggris. Untuk mengirimkan logistik mereka memerlukan jalan. Karena daerah pantai banyak terdapat rawa-rawa, akhirnya mereka membangun jalan ke arah selatan, melewati dataran tinggi Priangan.

The Groote Postweg (Jalur Pos Terhebat) dibangun 11 mil ke arah utara sampai ke jantung kota Bandung. Seperti biasa dengan kecekatannya, Daendels memerintahkan bahwa ibukota direlokasikan ke jalan tersebut. Bupati Wiranatakusumah II memilih sebuah tempat di bagian selatan jalan dari sisi sungai sebelah barat Cikapundung, dekat sepasang sumur keramat, Sumur Bandung, yang menurut rumor di lindungi oleh dewi Nyi Kentring Manik. Di daerah ini dia membangun dalemnya (istananya) dan alun-alun (pusat kota). Mengikuti orientasi tradisional, Mesjid Agung di tempatkan di sisi selatan, dan pasar tradisional di sisi timur. Rumahnya dan Pendopo (tempat pertemuan) terletak di bagian selatan menghadap gunung keramat Tangkuban Perahu. Saat itulah Kota Kembang lahir.

Sekitar pertengahan abad ke 19, Amerika Selatan cinchona (quinine), teh Assam, dan kopi diperkenalkan pada para dataran tinggi. Pada akhir abad itu Priangan terdaftar sebagai daerah pertanian paling menguntungkan se-propinsi. Pada tahun 1880 rel kereta api menghubungkan Jakarta dan Bandung telah selesai, dan menjanjikan perjalanan selama 2 1/2 jam dari keramaian ibukota Jakarta ke Bandung.



Dengan perubahan gaya hidup di Bandung, hotel, cafe, pertokoan muncul untuk melayani para petani yang entah datang dari dataran tinggi atau dari ibukota sampai daerah pesiar di Bandung. Kalangan masyarakat Concordia terbentuk dan dengan ruang tarinya yang besar merupakan magnet yang menarik orang untuk menghabiskan akhir pekan di kota. Hotel Preanger dan Savoy Homann adalah hotel-hotel pilihan. Braga di sepanjang trotoarnya terdapat toko-toko eksklusive Eropa.

Dengan adanya rel kereta api, cahaya perindustrian berkembang. Begitu panen tanaman mentah telah dapat langsung dikirimkan ke Jakarta untuk pengiriman lewat laut ke Eropa, sekarang proses utama dapat dilakukan secara efisien di Bandung. Orang Cina yang tidak pernah tinggal di Bandung berangsur-angsur datang untuk membantu menjalankan beberapa fasilitas dan mesin dan pelayanan bagi industri-industri baru. 
Pecinan muncul pada masa ini.

Pada masa awal abad ini, Pax Neerlandica di proklamasikan, menghasilkan perubahan dari pemerintahan militer menjadi sipil. Dengan ini muncul polis tentang desentralisasi untuk meringankan beban administrasi dari pemerintahan pusat. Dan demikianlah Bandung menjadi kotamadya pada tahun 1906.

Perubahan ini memberikan dampak besar pada kota. Balai kota dibangun di ujung utara Braga untuk mengakomodasi pemerintahan yang baru, terpisah dari sistem masyarakat yang asli. Ini kemudian di ikuti oleh pengembangan yang jauh lebih besar saat markas besar militer dipindahkan dari Batavia ke Bandung sekitar tahun 1920. Tempat yang dipilih adalah di bagian timur Balai Kota, dan yang didalamnya terdapat tempat tinggal bagi Panglima perang, kantor, barak, dan gudang persenjataan.

Pada awal abad ke-20 kebutuhan untuk mempunyai seorang profesional yang memiliki kemampuan khusus menggerakan pendirian sekolah tinggi teknik yang disponsori oleh warga kota Bandung. Pada saat yang sama rencana untuk memindahkan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung sudah matang, kota ini di perluas ke utara. Distrik ibukota ditempatkan di bagian timur laut, daerah yang tadinya adalah persawahan, dan sebuah jalan raya direncanakan untuk dibuat sepanjang 2.5 kilometer menghadap Gunung Tangkuban Perahu dengan Gedung Sate di ujung selatan, dan sebuah monumen kolosal disisi lainnya. Pada kedua sisi dari gedung yang megah ini akan terdapat permukiman bagi kantor-kantor milik permerintahan kolonial.

Sepanjang bantaran sungai Cikapundung diantara pemandangan alam terdapat Kampus Technische Hoogeschool, asrama dan bagian pengurus. Bangunan tua kampus ini dan pemandangannya mencerminkan arsiteknya yang genius Henri Maclain Pont. Di bagian barat daya disediakan untuk rumah sakit dan institute Pasteur, di lingkungan pabrik kina yang tua. Pembangunan ini direncanakan dengan sangat teliti mulai dari arsitekturnya dan perawatan secara detail. Tahun sebelumnya tidak lama sebelum pecahnya perang dunia ke 2 merupakan tahun keemasan bagi Bandung dan dikenang sebagai Bandung Tempoe Doeloe.

Tonggak-Era Kemerdekaan



Setelah Indonesia merdeka, Bandung menjadi ibukota provinsi Jawa Barat. Bandung merupakan tempat terjadinya konferensi Bandung pada tanggal 18 April – 24 April 1955 dengan tujuan untuk promosi ekonomi dan kerjasama budaya antara negara Afrika dan Asia, dan untuk melawan ancaman kolonialisme dan neokolonialisme oleh Amerika Serikat, Uni Soviet atau negara-negara imperialis lainnya.

Sumber : Wikipedia.org