Showing posts with label candi. Show all posts
Showing posts with label candi. Show all posts

Sejarah Candi Penataran - Blitar

Candi Penataran terletak di desa Penataran, kecamatan Nglegok, kabupaten Blitar, Jawa Timur, Indonesia. Koordinat GPS : 8° 00’59.06″ S 112° 12’34.90″ E. Lokasinya yang terletak di kaki gunung Kelud, menjadikan area Candi Penataran berhawa sejuk. Candi Penataran adalah kompleks percandian terbesar dan paling terawat di provinsi Jawa Timur, Indonesia.



Candi Penataran merupakan candi yang kaya dengan berbagai macam corak relief, arca, dan struktur bangunan yang bergaya Hindu. Adanya pahatan Kala (raksasa menyeringai), arca Ganesya (dewa ilmu pengetahuan dalam mitologi Hindu), arca Dwarapala (patung raksasa penjaga pintu gerbang), dan juga relief Ramayana adalah bukti tidak terbantahkan bahwa Candi Penataran adalah candi Hindu.


Prasasti Palah yang terdapat di area Candi Penataran mengabarkan bahwa candi ini mulai dibangun sekitar tahun 1194, pada masa pemerintahan raja Syrenggra yang memerintah kerajaan Kadiri, dan selesai pada masa kerajaan Majapahit. Dengan demikian candi ini melewati masa tiga kerajaan besar Nusantara yaitu Kadiri, Singasari, dan Majapahit. Candi Penataran memegang peranan cukup penting bagi kerajaan-kerajaan tersebut, yaitu sebagai tempat pengangkatan para raja dan tempat untuk upacara pemujaan terhadap Sang Pencipta.


Berbagai kajian oleh para sejarawan terhadap teks-teks kuno, kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca, misalnya, dijelaskan bahwa Candi Penataran sangat dihormati oleh para raja dan petinggi kerajaan besar di JawaTimur. Candi Penataran pernah menyimpan abu dari raja Rajasa (Ken Arok) pendiri kerajaan Singasari, dan juga abu dari raja Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) pendiri kerajaan Majapahit. Bahkan konon, menurut legenda rakyat setempat, sumpah sakral Mahapatih Gajah Mada untuk menyatukan seluruh Nusantara dalam kekuasaan Majapahit, yang dikenal dengan nama “Sumpah Palapa”, diucapkan di Candi Penataran.


MISTERI YANG TERSIMPAN DI CANDI PENATARAN MENGUAK FAKTA BAHWA INDONESIA MERUPAKAN ASAL PERADABAN DUNIA

Candi Penataran yang terletak di Desa Penataran Kec. Nglegok ternyata menyimpan banyak misteri diantaranya bahwa Indonesia merupakan asal peradaban dunia. Hal ini terungkap dari gambar relief yang ada di setiap sudut candi. Misteri dibalik Candi Penataran terungkap dari investigasi relief oleh Yayasan Turangga Seta yang dimulai sejak tahun lalu.



Dalam pahatan relief terkuak sejarah jika nenek moyang kita pernah melakukan infasi hingga  Benua Amerika dengan mengalahkan bangsa Indian dan sempat berperang dengan prajurit Bangsa Maya. Mereka kemudian menguasai wilayah tersebut hingga diangkat sebagai penguasa. Tidak hanya itu pada salah satu relief juga digambarkan beberapa bangsa lain seperti Bangsa Han (China), Bangsa Campa, Bangsa Maya, Bangsa Yahudi dan Bangsa Mesir tunduk pada leluhur kita. Demikian seperti diungkapkan Ketua Yayasan Turangga Seta, Agung Bimo Sutejo. Ia menambahkan dalam pahatan lain terungkap jika pada waktu itu terdapat 3 species yang sudah mempunyai peradaban yakni ras manusia kera, ras raksasa dan manusia biasa. Mereka pun hidup saling berdampingan.

Gambaran pada relief ini sekaligus membantah teori Darwin yang menyatakan manusia berasal dari evolusi kera. Dalam tata cara kematian manusia jaman dulu mereka yang meninggal jasadnya akan diperabukan sehingga fosilnya tidak akan ditemukan. Sedangkan ras manusia kera dan raksasa dengan cara dikubur sehingga fosil yang banyak ditemukan arkreolog tersebut adalah fosil ras manusia kera yang berbeda dengan species kita saat ini dan dimungkinkan ras manusia kera telah punah.

Sementara dari penelitian yang dilakukan Yayasan Turangga Seta, juga terkuak misteri jika keberadaan Candi Penataran di Blitar yang merupakan Candi terbesar di Jawa Timur itu terkait dengan berdirinya kerajaan besar di Blitar kala itu yang justru wilayah kekuasaannya lebih besar dari Kerajaan Majapahit. Namun sayang misteri ini belum akan diungkapkan pada publik.

Sumber :
http://www.purnamaserulingpenataran.com/sejarah-candi-penataran/
https://ahmadsamantho.wordpress.com/2011/04/01/misteri-yang-tersimpan-di-candi-penataran-menguak-fakta-bahwa-indonesia-merupakan-asal-peradaban-dunia/
CANDI SEWU - JAWA TENGAH

CANDI SEWU - JAWA TENGAH

Candi Sewu terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah. Dari kota Yogyakarta jaraknya sekitar 17 km ke arah Solo. Candi Sewu merupakan gugus candi yang letaknya berdekatan dengan Candi Prambanan, yaitu kurang lebih 800 meter di sebelah selatan arca Rara Jongrang.



Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-8, atas perintah penguasa Kerajaan Mataram pada masa itu, yaitu Rakai Panangkaran (746-784 M) dan Rakai Pikatan yang beragama Hindu. Walaupun rajanya beragama Hindu, Kerajaan Mataram pada masa mendapat pengaruh kuat dari Wangsa Syailendra yang beragama Buddha. Para ahli menduga bahwa Candi Sewu merupakan pusat kegiatan keagamaan masyarakat beragama Buddha. Dugaan tersebut didasarkan pada isi prasasti batu andesit yang ditemukan di salah satu candi perwara. Prasasti yang ditulis dalam bahasa Melayu Kuno dan berangka tahun 792 Saka tersebut dikenal dengan nama Prasasti Manjusrigrta. Dalam prasasti tersebut diceritakan tentang kegiatan penyempurnaan prasada yang bernama Wajrasana Manjusrigrha pada tahun 714 Saka (792 Masehi). Nama Manjusri juga disebut dalam Prasasti Kelurak tahun 782 Masehi yang ditemukan di dekat Candi Lumbung.

Candi Sewu terletak berdampingan dengan Candi Prambanan, sehingga saat ini Candi Sewu termasuk dalam kawasan wisata Candi Prambanan. Di lingkungan kawasan wisata tersebut juga terdapat Candi Lumbung dan Candi Bubrah. Tidak jauh dari kawasan tersebut terdapat juga beberapa candi lain, yaitu: Candi Gana, sekitar 300 m di sebelah timur, Candi Kulon sekitar 300 m di sebelah barat, dan Candi Lor sekitar 200 m di sebelah utara. Letak candi Sewu, candi Buddha terbesar setelah candi Borobudur, dengan candi Prambanan, yang merupakan candi Hindu, menunjukan bahwa pada masa itu masyarakat beragama Hindu dan masyarakat beragama Buddha hidup berdampingan secara harmonis.

Nama Sewu, yang dalam bahasa Jawa berarti seribu, menunjukkan bahwa candi yang tergabung dalam gugusan Candi Sewu tersebut jumlahnya cukup besar, walaupun sesungguhnya tidak mencapai 1000 buah. Tepatnya, gugusan Candi Sewu terdiri atas 249 buah candi, terdiri atas 1 candi utama, 8 candi pengapit atau candi antara, dan 240 candi perwara. Candi utama terletak di tengah, di ke empat sisinya dikelilingi oleh candi pengapit dan candi perwara dalam susunan yang simetris.

Candi Sewu mempunyai 4 pintu gerbang menuju pelataran luar, yaitu di sisi timur, utara, barat, dan selatan, yang masing-masing dijaga oleh sepasang arca Dwarapala yang saling berhadapan. Dari pelataran luar ke pelataran dalam juga terdapat 4 pintu masuk yang dijaga oleh sepasang arca Dwarapala, serupa dengan yang terdapat di gerbang luar.

Arca Dwarapala yang terbuat dari batu utuh tersebut ditempatkan di atas lapik persegi setinggi sekitar 1,2 m dalam posisi satu kaki berlutut, kaki lainnya ditekuk, dan satu tangan memegang gada. Tinggi arca Dwarapala ini mencapai sekitar 2,3 m.

Candi utama atau candi induk terletak di pelataran persegi seluas 40 m2, yang dikelilingi pagar dari susunan batu setinggi 0,85 m. Bangunan candi berbentuk poligon bersudut 20 dengan diameter 29 m. Tinggi bangunan mencapai 30 m dengan 9 atap yang masing-masing mempunyai stupa di puncaknya.

Tubuh candi berdiri di atas batur setinggi sekitar 2,5 m. Kaki candi dihiasi pahatan bermotif bunga dalam jambangan. Untuk mencapai permukaan batur yang membentuk selasar, terdapat tangga selebar sekitar 2 m yang dilengkapi dengan pipi tangga. Pangkal pipi tangga dihiasi makara, kepala naga dengan mulut menganga lebar, dengan arca Buddha di dalamnya. Dinding luar pipi tangga dihiasi pahatan berwujud raksasa Kalpawreksa.

Di atas ambang pintu tidak terdapat Kalamakara, namun dinding di kiri dan kanan ambang pintu dihiasi pahatan kepala naga dengan mulut menganga. Berbeda dari yang terdapat di pangkal pipi tangga, bukan Buddha yang terdapat dalam mulut naga, melainkan seekor singa.

Candi utama yang dibangun dari batu andesit ini mempunyai pintu utama di sebelah timur, sehingga dapat dikatakan bahwa candi utama ini menghadap ke timur. Selain pintu utama, terdapat 3 pintu lain, yaitu yang menghadap ke utara, barat dan selatan. Semua pintu masuk dilengkapi dengan bilik penampil. Ruang dalam tubuh candi berbentuk kubus dengan dinding terbuat dari susunan bata merah. Di dalam ruangan ini terdapat sebuah 'asana'. Pada dinding luar tubuh dan kaki atap candi terdapat relung-relung berisi arca Buddha dalam berbagai posisi.

Candi perwara dan candi apit seluruhnya terletak di pelataran luar. Di setiap sisi terdapat sepasang candi apit yang berada di antara candi utama dengan deretan dalam candi perwara. Setiap pasangan candi apit berhadapan mengapit jalan yang membelah halaman menuju ke candi utama.

Candi apit berdiri di atas batur setinggi sekitar 1 m, dilengkapi dengan tangga selebar sekitar 1 m menuju ke selasar di permukaan kaki candi. Di atas ambang pintu bukan dihiasi pahatan Kalamakara, melainkan beberapa panil relief. Atap candi berbentuk stupa dengan deretan stupa kecil menghiasi pangkalnya. Dinding tubuh candi apit dihiasi dengan sosok-sosok pria berbusana kebesaran, nampak seperti dewa, dalam posisi berdiri memegang setangaki teratai di tangannya.

Candi perwara dibangun masing-masing dalam empat deret di sisi terluar mengelilingi candi utama dan candi apit. Pada deret terdalam terdapat 28 bangunan, deretan kedua terdapat 44 bangunan, deretan ketiga terdapat 80 bangunan, dan deretan ke empat 88 bangunan. Semua candi perwara, kecuali yang berada dalam deretan ketiga, menghadap ke luar atau membelakangi candi utama. Hanya yang berada dalam deretan ketiga yang menghadap ke dalam. Sebagian besar candi perwara dalam keadan rusak, tinggal berupa onggokan batu.

Sumber : http://fatawisata.com/

CANDI MUARA TAKUS - RIAU

Candi Muara Takus terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan Tigabelas Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Jaraknya dari Pekanbaru, Ibukota Provinsi Riau, sekitar 128 km. Perjalanan menuju Desa Muara Takus hanya dapat dilakukan melalui jalan darat, yaitu dari Pekanbaru ke arah Bukittinggi sampai di Muara Mahat. Dari Muara Mahat melalui jalan kecil menuju ke Desa Muara Takus.


Kompleks Candi Muara Takus adalah satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi bernuansa Buddhistis ini merupakan bukti bahwa Buddha pernah berkembang di kawasan ini. Kendati demikian, para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan candi ini didirikan.



Ada dua pendapat mengenai nama Muara Takus. Yang pertama mengatakan bahwa nama tersebut diambil dari nama sebuah anak sungai kecil bernama Takus yang bermuara ke Sungai Kampar Kanan. Pendapat lain mengatakan bahwa Muara Takus terdiri dari dua kata, yaitu “Muara” dan “Takus”. Kata “Muara” memunyai pengertian yang sudah jelas, yaitu suatu tempat sebuah sungai mengakhiri alirannya ke laut atau ke sungai yang lebih besar, sedangkan kata “Takus” berasal dari bahasa Cina, Ta berarti besar, Ku berarti tua, dan Se berarti candi atau kuil. Jadi arti keseluruhan kata Muara Takus adalah candi tua yang besar yang terletak di muara sungai. 

Candi Muara Takus merupakan candi Buddha, terlihat dari adanya stupa, yang merupakan lambang Buddha Gautama. Ada pendapat yang mengatakan bahwa candi ini merupakan campuran dari bentuk candi Buddha dan Siwa. Pendapat tersebut didasarkan pada bentuk bentuk Candi Mahligai, salah satu bangunan di kompleks Candi Muara takus, yang menyerupai bentuk lingga (kelamin laki-laki) dan yoni (kelamin perempuan). Arsitektur candi ini juga memunyai kemiripan dengan arsitektur candi-candi di Myanmar. Candi Muara Takus merupakan sebuah kompleks yang terdiri atas beberapa bangunan. 

Bangunan yang utama adalah yang disebut Candi Tuo. Candi ini berukuran 32,80 m x 21,80 m dan merupakan candi bangunan terbesar di antara bangunan yang ada. Letaknya di sebelah utara Candi Bungsu. Pada sisi sebelah timur dan barat terdapat tangga, yang menurut perkiraan aslinya dihiasi stupa, sedangkan pada bagian bawah dihiasi patung singa dalam posisi duduk. Bangunan ini memunyai sisi 36 buah dan terdiri dari bagian kaki I, kaki II, tubuh dan puncak. Bagian puncaknya telah rusak dan batu-batunya telah banyak yang hilang. 

Candi Tuo dibangun dari campuran batu bata yang dicetak dan batu pasir (tuff). Pemugaran Candi Tuo dilaksanakan secara bertahap akibat keterbatasan anggaran yang tersedia. Pada 1990, selesai dikerjakan bagian kaki I di sisi timur. Selama tahun anggaran 1992/1993 pemugaran dilanjutkan dengan bagian sisi sebelah barat (kaki I dan II). Volume bangunan keseluruhan mencapai 2.235 m3, terdiri dari : kaki: 2.028 m3, tubuh: 150 m3, dan puncak: 57 m3. Tinggi bangunan mencapai 8,50 m.

Bangunan kedua dinamakan Candi Mahligai. Bangunan ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10,44 m x 10,60 m. Tingginya sampai ke puncak 14,30 m berdiri diatas pondamen segi delapan (astakoma) dan bersisikan sebanyak 28 buah. Pada alasnya terdapat teratai berganda dan di tengahnya menjulang sebuah menara yang bentuknya mirip phallus (yoni). 

Pada 1860, seorang arkeolog Belanda bernama Cornel de Groot berkunjung ke Muara Takus. Pada waktu itu di setiap sisi ia masih menemukan patung singa dalam posisi duduk. Saat ini patung-patung tersebut sudah tidak ada bekasnya. Di sebelah timur, terdapat teras bujur sangkar dengan ukuran 5,10 x 5,10 m dengan tangga di bagian depannya. Volume bangunan Candi Mahligai 423,20 m3 yang terdiri dari volume bagian kaki 275,3 m3, tubuh 66,6 m3 dan puncak 81,3 m3. Candi Mahligai mulai dipugar pada 1978 dan selesai pada 1983. 

Bangunan ketiga disebut Candi Palangka, yang terletak 3,85 m sebelah timur Candi Mahligai. Bangunan ini terdiri dari batu bata merah yang tidak dicetak. Candi Palangka merupakan candi yang terkecil, relung-relung penyusunan batu tidak sama dengan dinding Candi Mahligai. Dulu sebelum dipugar bagian kakinya terbenam sekitar satu meter. Candi Palangka mulai dipugar pada 1987 dan selesai pada 1989. Pemugaran dilaksanakan hanya pada bagian kaki dan tubuh candi, karena bagian puncaknya yang masih ditemukan pada 1860 sudah tidak ada lagi. Di bagian sebelah utara terdapat tangga yang telah rusak, sehingga tidak dapat diketahui bentuk aslinya. Kaki candi berbentuk segi delapan dengan sudut banyak, berukuran panjang 6,60 m, lebar 5,85 m, serta tingginya 1,45 m dari permukaan tanah dengan volume 52,9 m3. 

Bangunan keempat dinamakan Candi Bungsu. Candi Bungsu terletak di sebelah barat Candi Mahligai. Bangunannya terbuat dari dua jenis batu, yaitu batu pasir (tuff) terdapat pada bagian depan, sedangkan batu bata terdapat pada bagian belakang. Pemugaran candi ini dimulai pada 1988 dan selesai dikerjakan pada 1990. Melalu pemugaran tersebut candi ini dikembalikan ke bentuk aslinya, yaitu empat persegi panjang dengan ukuran 7,50 m x 16,28 m. Bagian puncak tidak dapat dipugar, karena tidak diketahui bentuk sebenarnya. Tinggi setelah dipugar 6,20 m dari permukaan tanah, dan volumenya 365,8 m3.

Menurut gambar yang dibuat oleh J.W. Yzerman bersama-sama dengan TH. A.F. Delprat dan Opziter (Sinder) H.L. Leijdie Melvile, di atas bangunan yang terbuat dari bata merah terdapat 8 buah stupa kecil yang mengelilingi sebuah stupa besar. Di atas bangunan yang terbuat dari batu pasir (tuff) terdapat sebuah tupa besar. Di bagian sebelah timur terdapat sebuah tangga yang terbuat dari batu pasir.

Selain bangunan-bangunan di atas, di sebelah utara, atau tepat di depan gerbang Candi Tuo terdapat onggokan tanah yang mempunyai dua lobang. Tempat ini diperkirakan tempat pembakaran jenazah. Lobang yang satu untuk memasukkan jenazah dan yang satunya lagi untuk mengeluarkan abunya. Tempat pembakaran jenazah ini, termasuk dalam pemeliharaan karena berada dalam kompleks percandian. Di dalam onggokan tanah tersebut terdapat batu-batu kerikil yang berasal dari Sungai Kampar. Di di luar kompleks Candi Muara Takus, yaitu di beberapa tempat di sekitar Desa Muarata Takus, juga diketemukan beberapa bangunan yang diduga masih erat kaitannya dengan candi ini.

Sumber : http://unikboss.blogspot.com/

PESONA CANDI SUKUH - JAWA TENGAH

Di lereng Gunung Lawu di Desa Berjo Kabupaten Karanganyar, Jateng, terdapat sebuah candi yang memiliki struktur bangunan yang unik karena bentuknya mirip bangunan piramid bangsa Maya. Menurut promosi Dinas Pariwisata Karanganyar, candi yang dibangun masyarakat Hindu Tantrayana tahun 1437 itu selain merupakan candi berusia paling muda di Bumi Nusantara juga candi paling erotis.


Ditilik dari latar belakang sejarahnya, kompleks candi Sukuh merupakan candi berlatar belakang agama Hindu, hal ini diketahui dari ditemukannya lingga dalam bentuk naturalis berukuran besar di kompleks tersebut. Berdasarkan prasasti yang terdapat pada bangunan, arca, dan relief, yang berkisar antara tahun 1359 Saka atau 1437 Masehi – 1378 Saka atau 1456 Masehi diperkirakan candi didirikan pada abad XV M.




Meskipun berlatar belakang agama Hindu namun terlihat bahwa bentuk bangunannya cenderung kembali pada masa prasejarah, terutama bentuk punden berundak. Sobat tentunya masih ingat dengan pelajaran sejarah SMP kelas 1 tentang manusia purba dan peninggalannya kan? Nah, sekarang adalah waktunya untuk berkunjung ke tempat-tempat bersejarah itu. Semoga bisa me-refresh jiwa dan raga kita untuk kembali berkarya atau setidaknya berkenalan dengan nenek moyang kita melalui peninggalannya. Berdasarkan relief yang terdapat di Kompleks Candi Sukuh yang menceritakan tentang Garudeya dan Sudhamala, diperkirakan candi tersebut berhubungan dengan upacara pelepasan atau ruwatan. Upacara pelepasan atau ruwatan berhubungan dengan kepercayaan arwah leluhur yang tampak pada susunan bangunan dalam bentuk teras berundak pada Masa Prasejarah.

Kompleks Candi Sukuh ditemukan kembali dalam keadaan runtuh pada tahun 1815 oleh Residen Surakarta, Johnson. Tahun 1842 Van der Vills mengadakan penelitian terhadap sisa-sisa bangunan di Candi Sukuh, Hoepermans tahun 1864-1867 menulis tentang Sukuh. Wuah, semangat kita untuk mengunjungi dan mempublikasikan candi sukuh ini jangan sampai kalah dengan para pendahulu kita ya! Semoga saja dengan gaya bahasa kita yang khas dan lebih atraktif mampu menarik para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk mengunjungi candi Sukuh. Tentunya sobat memiliki kemampuan tersebut.

Kemampuan untuk menulis atau pun menarik perhatian khalayak ramai untuk mengunjungi candi Sukuh dengan gaya dan cara masing-masing. Inventarisasi dilakukan oleh Knebel tahun 1910, dan beberapa literatur yang memuat tentang Sukuh. Baru pada tahun 1917 dilakukan penanganan oleh pemerintah RI, melalui Dinas Purbakala. Pemugaran dilakukan pada tahun 1928 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah. beberapa kegiatan penelitian arkeologis juga dilakukan oleh para ahli dari Indonesia seperti Ph. Soebroto, Riboet Darmosoetopo, J. Padmopuspito, dll. Sedangkan penelitian secara geologis juga pernah dilakukan oleh BSKB Borobudur. Wow, wow, jadi semangat kan untuk senantiasa menjaga dan melestarikan warisan nusantara? Candi Sukuh ini dibagi dalam 3 Teras unik, yaitu:


Teras I
Pada teras pertama ini disambut dengan arsitektur gapura berbentuk trapesium yang memiliki relief berupa seseorang yang sedang dimakan raksasa dan diperkirakan merupakan sengkalan yang berbunyi gapura buta aban wong atau sama dengan tahun 1359 Saka atau 1437 Masehi. Relief lain berbunyi gapura butha anahut buntut atau 1359 Saka atau sama dengan 1437 Masehi. Pada bagian lantai pintu gerbang terdapat relief phallus dan vagina yang dipahatkan secara naturalis. Candi Sukuh ini terkenal dengan kevulgarannya. Mulai dari relief maupun suguhan cerita reliefnya. Nah, terbukti kan dari teras pertama saja, kita sudah disuguhkan dengan relief phallus dan vagina. Nah, kejutan selanjutnya pasti akan kalian temui di teras berikutnya.

Tapi, berlatar belakang sejarah dan ceritanya, relief-relief ini jangan hanya dipandang sebagai relief candi yang vulgar ya. Karena, walau bagaimana pun, tetap sarat makna. Kita bisa belajar tentang penciptaan manusia dari candi Sukuh ini. Tentu, dalam versi nenek moyang kita pada zaman prasejarah dulu. Temuan lepas pada halaman I berupa batu berbentuk umpak dan beberapa relief seperti relief empat ekor sapi dan relief seorang penunggang kuda dengan payung besar. Nah, relief empat ekor sapi inilah yang menceritakan bagaimana proses penyempurnaan pembentukan sapi. Tentunya, kalian penasaran kan, bagaimana bentuk awal seekor sapi sebelum menjadi sapi seperti yang kita lihat sekarang ini? Nah, ayo, berkunjung ke candi Sukuh untuk melihat relief sapi yang sesungguhnya versi nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu.

Teras II
Masuk halaman II akan membawa kita ke dunia kerajaan di mana di segala sisi terdapat penjaga yang sangar muka dan penampilannya. Nah, begitu juga di candi Sukuh ini, kita akan disambut oleh dua arca penjaga pintu berwajah mengerikan, selain itu juga terdapat talud yang sekarang sudah tidak utuh lagi dan beberapa relief yang salah satu diantaranya merupakan sengkalan berbunyi gajah wiku anahut buntut atau 1378 Saka atau 1456 Masehi. Pastinya sobat semakin penasaran kan dengan kompleks candi Sukuh yang megah ini. Emm..kalau belum, lihat-lihat aja dulu fotonya, siapa tahu rasa ingin tahu kalian tumbuh dan akhirnya ada ketertarikan untuk berkunjung.

Teras III
Untuk masuk ke halaman III kita juga harus melewati gapura yang kondisinya hanya tersisa sebagian, halaman ini juga memiliki talud dan sebagian besar telah hilang. Sangat disayangkan, ada beberapa benda yang hilang dari kompleks candi Sukuh ini? Kalau dari hari ke hari kondisi kompleks candi Sukuh kita abaikan, tidak diragukan lagi kalau suatu saat kompleks candi ini yang akan hilang। Oleh karena itu, mumpung masih ada waktu, marilah kita senantiasa menjaga dan merawat warisan budaya kita tercinta ini. Halaman III merupakan halaman paling suci karena didalamnya terdapat candi utama. Candi tersebut mengarah ke barat dan berbentuk seperti piramid terpancung, dan di bagian atas bangunan tersebut terdapat altar. Di depan candi utama terdapat tiga arca kura-kura, soubasement yang berisi relief Sudamala dan Garudeya, serta temuan lepas berupa arca dan relief. Cerita Sudamala dan Garudeya dapat diketahui sebagai berikut:

Nama Suddhamala adalah sebutan bagi salah satu tokoh Pandawa yang kelima, yaitu Sahadewa, yang berarti bersih dari dosa, atau juga dapat berarti “pelepasan” atau disebut juga ruwat. Menurut cerita, nama Suddhamala diberikan kepada Sahadewa karena ia telah berhasil membebaskan Dewi Durga dari kutuk Dewa Siwa. Dewi Durga dikutuk menjadi raksasa oleh Dewa Siwa karena ia telah berbuat salah kepada suaminya dan harus turun ke dunia. Ia dapat bebas dari kutukan jika diruwat oleh Sahadewa, anak Kunti. Durga kemudian menemui Kunti agar Sahadewa meruwatnya. Kunti menolak, kemudian Durga menyuruh Kalika untuk merasuk ke jasad Kunti agar Kunti mau menerimanya. Namun, Sahadewa tetap menolak permintaan Durga. Ia kemudian diikat pada sebatang pohon dan ditakut-takuti. Akhirnya Sahadewa berhasil meruwat Durga, sebagai hadiah ia dikawinkan dengan Ni Padapa, anak Pertapa dari Parangalas bernama Tambapetra.

Sedangkan cerita Garudeya bermula dari pertaruhan antara Winata dan Kadru (para istri Ksyapa) tentang warna ekor Kuda Uchchaicrawa yang keluar selama pengadukan lautan susu. Sang Kadru menang taruhan karean ekor Kuda Uchchaicrawa telah diberi bisa oleh para naga (anak-anak Kadru) sehingga berubah warna menjadi hitam. Winata yang kalah bertaruh menjadi budak Kadru, ia dipenjarakan di dunia paling bawah dan dapat terbebas dari perbudakan jika ia menyerahkan air penghidupan (amerta) kepada para naga. Garuda mencoba membebaskan ibunya dari perbudakan. Garuda menuju ke gunung tempat amerta disimpan. Di tempatnya, amera dikelilingi oleh api yang menyala-nyala. Namun, Garuda dengan tubuh keemasannya yang bersinar bagai matahari minum air dari sungai-sungai dan memadamkan apinya. Dewa Indra tahu kemudian mengejarnya. Mereka berkelahi, Indra kalah vajranya terlempar. Garuda melanjutkan perjalanannya hingga mencapai tempat tinggal para naga. Dengan kedatangannya membawa amerta, ibunya dapat dibebaskan dari perbudakan.

Sumber : http://goexperience.gonla.com/
CANDI LUMBUNG - SURAKARTA

CANDI LUMBUNG - SURAKARTA

Candi Lumbung terletak beberapa ratus meter di sebelah Selatan Candi Sewu. Candi ini sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Klaten, Surakarta. Tidak jelas apakah nama Lumbung memang merupakan nama  candi ini atau nama itu hanya merupakan sebutan masyarakat di sekitarnya karena bentuknya yang mirip lumbung (bangunan tempat penyimpanan padi). Bangunan suci Buddha ini merupakan gugus candi yang terdiri atas 17 bangunan, yaitu satu candi utama yang terletak di pusat, dikelilingi oleh 16 candi perwara. Halaman komples Candi Lumbung ini ditutup hamparan batu andesit.


Candi utama, yang sendiri saat ini sudah tinggal reruntuhan, berbentuk poligon bersisi 20 dengan denah dasar seluas 350 m2. Tubuh candi berdiri di atas batur setinggi sekitar 2,5 m. Tangga dan pintu masuk terletak di sisi timur. Pintu masuk dilengkapi bilik penampil dan lorong menuju ruang dalam tubuh candi. Bagian luar dinding di keempat sisi dihiasi pahatan-pahatan gambar lelaki dan perempuan dalam ukuran yang hampir sama dengan kenyataan. Gambar pada dinding yang mengapit pintu masuk adalah Kuwera dan Hariti.

Pada dinding luar di sisi utara, barat dan selatan terdapat relung tempat meletakkan arca Dhyani Buddha. Jumlah relung pada masing-masing sisi adalah 3 buah, sehingga jumlah keseluruhan adalah 9 buah, Saat ini tak satupun relung yang berisi arca. Atap candi utama sudah hancur, namun diperkirakan berbentuk stupa dengan ujung runcing, mirip atap candi perwara. Di sekeliling halaman candi utama terdapat pagar yang saat ini tinggal reruntuhan. 
Candi perwara yang berjumlah 16 buah berbaris mengelilingi candi utama. Seluruh candi perwara menghadap ke arah candi utama. Masing-masing candi perwara berdiri di atas batur setinggi sekitar 1 m dengan denah dasar sekitar 3 m2. Dinding tubuh candi polos tanpa hiasan. Di sisi timur, tepat di depan pintu, terdapat tangga yang dilengkapi dengan pipi tangga. Di atas ambang pintu terdapat Kalamakara tanpa rahang bawah.

Atap candi perwara berbentuk kubus bersusun dengan puncak stupa. Setiap sudut kubus dihiasi dengan stupa kecil. Di ruang dalam tubuh candi perwara terdapat batu mirip tatakan arca yang disusun berjajar.

CANDI CETHO DI KARANGANYAR - JAWA TENGAH


Candi Cetho, Kompleks bangunan candi cetho yang berlokasi di lereng barat Gunung Lawu, tepatnya di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah ini memiliki ukuran panjang 190M dan Lebar 30M dan berada di ketinggian 1496M dari Permukaan air laut. 


Candi Cetho berlatar belakang agama Hindu, Pola halamanya berteras dengan susunan 13 teras meninggi ke arah puncak, bentuk bangunan berteras mirip dengan bentuk pundene berundak masa prasejarah.

Singkatan memet (angka tahun yang di gambarkan dengan bentuk binatang, tumbuhan, dan sebagainya), arca berupa tiga ekor katak, mimi, ketam, seekor belut dan tiga ekor kadal, menurut Bernet Kempres arca ketem, belut dan mimi merupakan sangkalan yang berbunyi welut (3) wiku (7) anahut (3) iku=mimi sehingga di temukan angka tahun 1373 saka atau 1451 M

Tahun Pendirian Dan Fungsi Candi Cetho
Prasasti dengan huruf Jawa kuno pada dinding gapura teras ke VII berbunyi "Pelling padamel irikang buku, tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397", yang dapat di tafsirkan peringatan pendirian tempat peruwatan atau tempat untuk membebaskan dari kutukan dan didirikan tahun 1397 saka (1475 M).



Fungsi candi Cetho sebagai tempat ruwatan juga dapat dilihat melalui simbol-simbol dan mitologi yang ditampilkan oleh arca-arcanya. Mitologi yang disampaikan berupa cerita Samudramanthana dan Garudeya. sedangkan simbol penggambaran phallus dan Vagina dapat ditafsirkan sebagai lambang penciptaan atau dalam hal ini adalah kelahiran kembali setelah di bebaskan dari kutukan.

Potret Candi Cetho tahun 1928 







Riwayat Penelitian & Pemugaran
  • Candi Cetho pertama kali dikenal dari laporan penelitian Van der Vilis pada tahun 1942 yang kemudian penelitian dan pendokumentasian di lanjutkan oleh W.F Stuterheim, K,C. Crucq dan A.J. Bernet Kempers.

  • Riboet Darmosoetopo dkk pada tahun 1972 telah melengkapi hasil penelitian sebelumnya. 

  • Tahun 1975/1976 Sudjono Humardani melakukan pemugaran terhadap komles candi cetho dengan dasar "perkiraan" bukan pada kondisi asli. Dengan kata lain pemugaran tersebut tidak mengikuti ketentuan pemugaran cagar budaya yang benar.

  • 1982 Dinas Purbakala (sekarang Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) meneliti dalam rangka rekonstruksi.

Sumber : http://nortgren.blogspot.com/2013/04/candi-cetho-desa-gumeng-kec-jenawi.html

TAMAN PURBAKALA PUGUNG RAHARJO - LAMPUNG

TAMAN PURBAKALA PUGUNG RAHARJO - LAMPUNG


Taman Purbakala Pugung Raharjo merupakan peninggalan sejarah yang terletak di Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur. Situs arkeologi seluas 30 hektar ini merupakan peninggalan zaman Hindu dan Budha. Di taman purbakala ini, terdapat Punden Berundak, Arca, Prasasti, Batu Mayat atau Batu Kandang, Altar Batu, Batu Berlubang, Benteng Parit Primitif sepanjang 1,2 kilometer, dan Dolmen. Selain itu, beberapa keramik peninggalan dinasti Han, Sung, dan Ming masih bisa ditemukan di taman purbakala ini. Untuk mencapai Taman Purbakala Pugung Raharjo, Anda harus menempuh perjalanan 52 kilometer ke arah Timur dari Kota Bandar Lampung. Selama perjalanan, Anda bisa menikmati pemandangan perkebunan karet yang sangat luas.


Taman Purbakala Pugung Raharjo terletak di daerah datar berketinggian 80 meter dan dikelilingi oleh tanggul bekas peninggalan perang zaman dahulu. Selain itu, rimbunnya pohon-pohon membuat suasana di sekitar taman purbakala ini semakin nyaman. Anda bisa berkeliling dengan berjalan kaki melalui jalan setapak yang akan mengantarkan Anda melihat berbagai situs prasejarah ini. Selain itu, Anda dapat menikmati air kolam yang sejuk dari sumber mata air di sebelah timur Taman Purbakala Pugung Raharjo. Konon bila Anda mandi di kolam itu, Anda akan awet muda.


Pada tahun 1957, Taman Purbakala Pugung Raharjo pertama kali ditemukan oleh penduduk secara tidak sengaja. Dahulu, kawasan situs arkeologi Taman Purbakala Pugung Raharjo belum dihuni penduduk. Awalnya penduduk menganggap kawasan hutan itu angker. Hingga akhirnya pada tahun 1954, para transmigran membuka Hutan Pugung untuk dijadikan pemukiman penduduk. Ketika itu, para transmigran menemukan susunan batu besar, gundukan tanah berbentuk persegi, dan arca batu Putri Badhariah. Penemuan situs bersejarah itu kemudian dilaporkan ke Dinas Purbakala Jakarta. Pada tahun 1968 dilakukan penelitian awal yang menyimpulkan bahwa Taman Purbakala Pugung Raharjo merupakan peninggalan zaman megalitik-klasik.

Taman Purbakala Pugung Raharjo menjadi cukup unik karena situs arkeologi semcam ini jarang ditemukan di tempat lain. Di Taman Purbakala Pugung Raharjo, Anda dapat menemukan alat-alat yang digunakan oleh manusia purbakala berupa batu-batu besar. Anda bisa melihat batu tegak atau Menhir, meja batu atau Dolmen, dan kubur batu yang dulunya digunakan oleh manusia purbakala sebagai tempat pemujaan, tempat musyawarah, dan tempat penguburan. Selain itu, benda-benda peninggalan kebudayaan Budha dan Hindu dapat ditemukan di Taman Purbakala Pugung Raharjo, antara lain keramik yang berasal dari Dinasti Han, Sung, dan Ming serta sebuah arca Polynesia yang diperkirakan berasal dari abad ke-6 sampai abad ke-15.

Di Taman Purbakala Pugung Raharjo terdapat dua benteng, satu di sebelah Timur dan satunya lagi di sebelah Barat. Kedua benteng itu berupa gundukan tanah yang berbentuk melingkar dengan ketinggian gundukan 2-3,5 meter dan di bagian luarnya terdapat parit sedalam 3-5 meter. Benteng sebelah Timur memiliki panjang sekitar 1.200 meter, sedangkan benteng sebelah Barat hanya 300 meter. Pada beberapa bagian terdapat jalan yang menghubungkan bagian dalam dan bagian luar benteng. Konon kedua benteng ini digunakan sebagai pelindung dari musuh dan hewan buas.

Di areal Taman Purbakala Pugung Raharjo juga terdapat 13 buah punden berundak, dalam ukuran besar dan dalam ukuran kecil. Awalnya punden berundak ini terlihat seperti gundukan tanah yang tertutupi ilalang, namun setelah dibersihkan ternyata berupa teras yang bertingkat. Punden berundak tersebut ada yang memiliki dua dan tiga tingkat, konon itu sesuai dengan status sosial ketika itu. Batu mayat yang ditemukan di Taman Purbakala Pugung Raharjo memiliki ukuran panjang 205 cm dan garis tengah 40 cm. Batu mayat itu tertanam di tengah-tengah batu lain yang melingkarinya dalam bentuk segi empat. Batu-batu yang melingkari itu antara lain batu altar, menhir-menhir kecil, dan baru berbentuk lempengan bergores seperti huruf “T” pada kedua sisinya.

Anda juga bisa menemukan batu berlubang yang jumlah dan letak lubangnya tidak beraturan. Batu berlubang yang terletak di dekat mata air itu terbuat dari batu kali berwarna hitam keabu-abuan. Pada bagian permukaan terdapat 4 buah lubang yang cukup luas. Jumlah keseluruhan batu berlubang itu adalah 19 buah. Selain batu berlubang, di Taman Purbakala Pugung Raharjo Anda juga bisa menemukan lumpang batu. Batu dengan satu lubang ini memiliki dua tipe, satu batu tak berbentuk seperti yang terdapat di pinggir kali sebelah kolam dan satunya lagi batu yang dibentuk persegi panjang. Ada juga empat batu bergores yang diduga digunakan sebagai alat untuk mengasah senjata.

Sumber : http://www.jalanjalanyuk.com/
KEINDAHAN ISTANA RATU BOKO - YOGYAKARTA

KEINDAHAN ISTANA RATU BOKO - YOGYAKARTA


Tidak ada yang mengelak keelokan sisa Istana Ratu Boko. Barangkali inilah candi kedua paling populer di Yogyakarta setelah Candi Prambanan. Kendati hingga kini sejarah tentang Istana Ratu Boko masih simpang siur, namun tidak menyurutkan jumlah wisatawan yang berkunjung. Baik yang ingin melihat dari dekat peradaban Dinasti Syailendra abad IX ataupun mereka yang ingin melakukan photo hunting.

Konon, Istana Ratu Boko adalah benteng pertahanan terhadap Rakai Pikatan. Namun ada juga yang menyebutkan bahwa istana ini dibangun oleh Rakai Panangkaran saat lengser dari kepemimpinanya untuk menemukan kedamaian spritual dan lebih berkonsentrasi pada hal-hal keagamaan. Itu sebabnya, pada awalnya Istana Ratu Boko ini identik dengan nama Abhayagiri Wihara. Abhayagiri Wihara  adalah nama bukit dimana Istana Ratu Boko berdiri yang mempunyai arti “biara Budha yang damai”. Ya, Istana Ratu Boko memang berada di sebuah bukit berketinggian 196 meter diatas permukaan laut. Dari tempat inilah kita bisa melihat hamparan tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan. Sinar matahari menerjang dengan bebasnya menerangi siapapun yang datang mengunjungi Istana Ratu Boko. Di kawasan seluas 160.898 meter persegi inilah jejak-jejak sejarah terajut kembali.

Selain jejak sejarah, jejak keagamaan juga terpatri kuat. Peninggalan Budhisme terlihat dari beberapa stupa, arca Dhyani Buddha dan stupika. Sedangkan corak Hindu terlihat dari arca Durga, ganesa, miniatur candi, yoni dan prasasti lempengan emas. Hal itu tak mengherankan karena nama situs ini mengalami  perubahan menjadi Walaing Kraton tatkala Raja Rakai Walaing Pu Kumbhayoni memerintah pada tahun 856 – 863 sesudah Masehi. Ia adalah raja yang beragama Hindu.

Keindahan Istana Ratu Boko memang tak dipungkiri lagi. Berada 3 km ke arah selatan Candi Prambanan, Anda tidak perlu heran jika menemui banyak muda-mudi memanfaatkan sisa kemegahan istana ini sebagai tempat berfoto. Dengan tiket masuk seharga Rp. 25 ribu, Istana Ratu Boko bisa diakses melalui dua pintu, yakni depan dan belakang. Jika dari depan (tingkungan pertama menuju Ratu Boko), Anda harus menaiki ratusan anak tangga untuk sampai ke pintu masuk utama. Tiket yang Anda bayar akan ditukar oleh penjaganya dengan sebotol air mineral. Sedangkan jika masuk dari arah belakang, Anda bisa langsung sampai di depan pintu masuk utama. Dari jalur ini pulalah para pengunjung yang membeli tiket terusan Prambanan-Boko akan lewat menggunakan mobil yang sudah disediakan oleh pengelola.

Mendekati areal Istana Ratu Boko yang terlihat adalah gapura megah yang mempunyai 3 pintu. Dari sisi ini, hamparan luas alam menunjukkan benar bahwa istana ini berada di ketinggian. Gapura kedua yang jaraknya tak jauh dari gapura pertama mempunyai desain yang agak berbeda. Bangunan ini mempunyai lima pintu. Pintu yang berada tepat di tengah berbentuk persegi, sedangkan dua pintu lainnya berbentuk segitiga di bagian atasnya. Tiga pintu yang berada di tengah tersebut dilengkapi dengan tangga berundak. Inilah spot paling terkenal yang banyak dijadikan latar belakang foto para fotografer yang sedang melakukan photo session di Istana Ratu Boko. Selain dua gapura utama ini, masih ada beberapa sudut yang menunjukkan sisa kemegahan istana Ratu Boko.

Jika tidak sedang musim penghujan, pesona Istana Ratu Boko yang banyak diburu oleh para pecinta senja adalah suasana sunsetnya yang memesona. Siluet dua gapura tersebut dengan indahnya berpadu dengan guratan matahari yang meluncur ke peraduan.

Oya, jika ingin lebih mudah, Anda bisa membeli tiket terusan Candi Prambanan dan Istana Ratu Boko di loket Prambanan dengan harga Rp. 45 ribu. Dengan begitu Anda tidak akan kehilangan momen mengesankan dua candi ini.

Sumber : http://yogyakarta.panduanwisata.com
CANDI IJO DAN CANDI BANYUNIBO - YOGYAKARTA

CANDI IJO DAN CANDI BANYUNIBO - YOGYAKARTA


Yogyakarta tak hanya mempunyai Candi Prambanan dan Istana Ratu Boko yang sering disebutkan banyak orang. Ada dua candi lainnya yang juga tak kalah indah yakni Candi Banyunibo dan Candi Ijo. Keduanya terselip diantara keriuhan kota namun hingga kini masih gagah berdiri dan senantiasa menyapa siapapun yang singgah.

Candi Banyunibo berada tak jauh dari Istana Ratu Boko. Ia berdiri diantara persawahan Dusun Cepit, Bokoharjo, Prambanan, Sleman. Keberadaannya dilindungi dan menjadi bagian dari benda cagar budaya. Suasana asri dan hijau di sekeliling candi ini memberikan efek suasana yang menentramkan. Bayangkan, di seluas mata memandang kita akan melihat persawahan dan candi ini berdiri kokoh menjadi satu-satunya bangunan yang mencuri perhatian.

Dalam bahasa Jawa, ‘Banyunibo” berarti air yang jatuh. Beberapa keterangan yang ditempelkan oleh pengelola setempat menunjukkan bahwa pada relief candi ini menampilkan seorang tokoh wanita yang disebut dengan Dewi Hariti. Dalam agama Budha Dewi Hariti dianggap sebagai manifestasi dari Dewi Kesuburan. Ada juga yang menganggapnya sebagai Dewi Ibu dan Dewi Kekayaan. Candi ini ditemukan kembali dalam kondisi runtuh pada tahun 1940 dan mengalami rehabilitasi hingga tahun 1978.

Yang kini bisa kita lihat adalah satu buah candi induk yang ukurannya cukup mungil. Bagian depannya berupa undakan yang akan mengantar kita ke pintu gerbang utama. Dinding-dinding candi terdapat jendela-jendela kecil yang dari sini terlihat hamparan sawah milik penduduk. Masuklah ke bagian dalam candi, niscaya hawa sejuk akan Anda rasakan. Lingkungan sekitar candi juga masih sangat bersih dan lekat dengan suasana pedesaan. Untuk masuk ke areal candi, Anda hanya harus membayar tiket seharga Rp. 2 ribu saja.

Selepas dari Candi Banyunibo, arahkan kendaraan Anda menaiki jalanan naik yang bolong di sana-sini ke Candi Ijo. Berada di Dusun Groyokan, Sambirejo, Prambanan, Sleman. Akses menuju candi yang berada di ketinggian 357,402 meter diatas permukaan laut ini memang tidak bisa dikatakan baik. Namun sabarlah, karena sesampainya disana Anda mungkin akan enggan untuk pulang.

Menginjakkan kaki di Candi ijo yang berdiri diatas Bukit Ijo ini, Anda akan melihat hamparan kota Yogyakarta dari kejauhan. Selimut kabut tipis tetap membuat kita bisa melihat deretan rumah, ladang dan pepohonan di kejauhan. Candi tertinggi di Yogyakarta ini memang istimewa. Dibangun pada abad IX, kompleks Candi Ijo terdiri atas 17 struktur bangunan pada 11 teras. Di dalam candi induk terdapat bilik lingga yoni yang melambangkan Dewa Siwa yang menyatu dengan Dewi Parwati.

Anda tidak akan dipungut biaya saat masuk ke Candi Ijo. Hanya perlu menuliskan nama di buku tamu selanjutnya bisa menikmati sepuasnya pesona sejarah yang tak banyak dibicarakan orang. Duduklah dulu bersantai sambil menikmati daerah-daerah yang lebih rendah dan rasakan seakan waktu terhenti di Candi Ijo.

Sumber : http://yogyakarta.panduanwisata.com

MISTERI DANAU PURBA DI CANDI BOROBUDUR


Dua gelar kini melekat pada Candi Borobudur, sebagai Warisan Dunia UNESCO dan Guinness World Records sebagai situs arkeologi candi Budha terbesar di dunia.

Terlepas dari kemegahan dan keindahan Borobudur, lengkap dengan relief yang penuh kisah dalam agama Budha, sejumlah misteri masih melingkupi candi ini.

Pada tahun 1814, atas jasa Gubernur Jenderal Britania Raya, Thomas Stamford Rafffles, candi yang selama berabad-abad terkubur di bawah gundukan tanah, menjadi serupa bukit penuh semak belukar dan ditumbuhi pohon, mulai jadi perhatian pemerintah kolonial. Raffles juga lah yang pertama kali menuliskan nama “Borobudur” dalam bukunya, History of Java. Tak jelas asal mula nama itu.

Borobudur yang misterius itu diakui oleh Direktur Utama Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur Prambanan Ratu Boko (Persero), Purnomo Siswoprasetjo.

Salah satunya, bagaimana cara Borobudur itu dibangun. Dari mana asal batu-batu besar material candi dan teknologi apa yang digunakan untuk mengangkat dan menyusunnya dengan presisi dan desain arsitektur yang mengagumkan.

“Apakah batu itu berasal dari Gunung Merapi, terus bagaimana membawanya dari Merapi menuju lokasi candi masih misteri,” kata Purnomo kepada VIVAnews, Kamis, 5 Juli 2012.

Tak hanya asal batu, di mana pembuat Borobudur mengukir dan memahat batu juga masih belum diketahui. Para arkeolog masih mencari dimana bengkel para seniman. “Mengukir dan memahat batu sedemikian besar ukurannya dan jumlahnya banyak, belum diketahui di mana tempatnya,” terang dia.

Letak Borobudur yang tak biasa, berada di atas bukit, dikelilingi dua pasang gunung kembar — Sindoro-Sumbing dan Merbabu-Merapi, sementara candi lain dibangun di tanah datar juga menjadi teka-teki yang belum terjawab.

Pada tahun 1931, seniman dan pakar arsitektur Hindu Buddha, W.O.J. Nieuwenkamp, mengajukan teori bahwa Daratan Kedu — lokasi Borobudur menurut legenda Jawa, dulunya adalah sebuah danau purba. Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Ini sebuah hipotesa yang menjadi perdebatan hangat di kalangan para ilmuwan saat itu.

Van Bemmelen dalam bukunya “The Geology of Indonesia” menyebutkan bahwa piroklastika Merapi pada letusan besar tahun 1006 telah menutupi danau Borobudur menjadi kering dan sekaligus menutupi candi ini hingga lenyap dari sejarah.

Fakta geologi juga memberi dukungan pada pendapat itu. “Di sekitar candi terdapat sumur yang airnya asin. Tapi yang sumurnya asin tidak di semua daerah, hanya di titik tertentu,” tutur Purnomo soal dugaan Borobudur dibangun di tengah danau purba.

Dia menambahkan, pertanyaan itu juga yang menarik banyak ilmuwan asing berdatangan, untuk melakukan penelitian. “Banyak para ahli dari luar negeri seperti dari Jepang yang datang ke Candi Borobudur khusus untuk meneliti danau purba itu. Mereka biasa tinggal selama satu minggu hingga dua minggu,” kata dia.

Salah satu cara untuk mengungkap misteri danau purba itu dengan meneliti sungai-sungai yang berada di sekitar Borobudur, termasuk Sungai Progo dan Elo. Juga pada masyarakat yang tinggal di sekitar candi.

“Semua pertanyaan-pertanyaan itu masih tersimpan semua. Kita menunggu kajian dari arkeolog untuk mengungkap misteri itu,” ucap dia. 

WAE REBO - SEBUAH KAMPUNG DI ATAS AWAN

WAE REBO - SEBUAH KAMPUNG DI ATAS AWAN


Wae Rebo merupakan sebuah kampung tradisional disebuah dusun terpencil di desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai Propinsi Nusa Tenggara Timur. Terletak di ketinggian 1000 diatas permukaan laut, dikelilingi bukit-bukit dan hutan-hutan asri, kampung ini sering diselimuti kabut jika dilihat dari kejauhan.  Pantaslah jika disebut kampung di atas awan.

Untuk mencapai Wae Rebo, harus melintasi kawasan hutan yang masih asli. Hutan rimbun disertai dengan satwanya yang lengkap. Ketika anda memasuki hutan, akan disambut dengan kicauan burung Pacycepal yang seolah turut mengiringi langkah anda.

Rumah adat Wae Rebo ini dikenal dengan sebutan ‘ Mbaru Niang ‘ (rumah bundar berbentuk kerucut ). Mbaru niang terdiri dari 5 tingkatan. Masing-masing tingkatan memiliki fungsinya sendiri. Tingkat pertama adalah ‘Lutur‘ yang berarti tenda. Tingkatan ini digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat. Tingkat kedua adalah ‘Lobo’ yakni loteng yang berfungsi menyimpan bahan makanan dan barang – barang lainnya. Tingkat ketiga adalah ‘lentar’ yang digunakan untuk menyimpan benih – benih seperti jagung, padi dan kacang – kacangan, dan lain-lain. Tingkat keempat ‘Lempa Rae’ sebagai tempat stok makanan cadangan yang digunakan ketika terjadi gagal panen atau musim kemarau berkepanjangan. Tingkat kelima adalah ‘Hekang Kode ‘ yang digunakan untuk menyimpan langkar, yakni semacam anyaman dari bambu berbentuk persegi guna menyimpan sesajian untuk dipersembahkan pada leluhur.

Menuju Wae Rebo melalui Ruteng

Wae Rebo Manggarai, Kampung Diatas AwanDari Ruteng, perjalanan dengan kendaraan selama 4 jam yang berkelok sehingga penumpang tak henti bergoyang. Sampailah di sebuah desa pesisir bernama Dintor. Jalan terus dilanjutkan menuju tanjakan ke pedalaman pulau menempuh pematang sawah dan jalan setapak di Sebu sebelum sampai di Denge. Dari Denge langkah terus dihentakkan melalui hutan kecil, melalui Sungai Wae Lomba. Setelah mengatur kerja paru-paru di sepanjang jalan setapak, dari Ponto Nao, terlihat pusat Wae Rebo, sebuah dusun yang mengepul asap dari kerucut-kerucut aneh yang berkumpul di sebuah lapang hijau. Itulah sisa-sia mbaru niang yang hampir punah.

Wae Rebo merupakan negeri diatas awan tempat dimana masyarakat hidup harmoni dengan alam dan gemanya ditiupkan keseluruh penjuru daerahnya. Masyarakat hidup rukun dan harmonis meskipun dengan kondisi sederhana. Wae Rebo menjadi salah satu tempat untuk menjaga dan melestarikan salah satu kekayaan bumi nusantara ini.

7 CANDI DENGAN PANORAMA TERCANTIK DAN TERINDAH DI YOGYAKARTA


Sudah menjadi rahasia umum, kalau Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta punya banyak candi. Tidak hanya sejarahnya bentuk arsitektur candi-candi tersebut sangat memesona. Inilah 7 candi dengan panorama tercantik di Yoyakarta.

Keberadaan sebuah candi tidak cukup hanya dengan cerita sejarahnya. Keajaiban bentuk sebuah candi yang tersusun dari batu-batu alam membuat situs ini sangat menarik. Tak pernah terbayangkan bagaimana orang-orang zaman dahulu membuat bangunan-bangunan cantik ini dengan peralatan seadanya. Padahal bahan dasar pembuatannya menggunakan batu-batu alam yang sangat berat.

Berikut 7 candi dengan panorama tercantik di Yogyakarta yang dikumpulkan.

1. Candi Plaosan

Candi Plaosan yang berada di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten ini menjadi salah satu destinasi yang tak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Yogyakarta. Tidak hanya cantik dari bentuknya, Candi Plaosan terlihat semakin anggun saat matahari terbit.

Mencari spot asyik menikmati sunrise di Yogyakarta, Candi Plaosan bisa jadi pilihan yang pas. Candi Buddha ini siap menampilkan siluet tercantik yang bermandikan sinar mentari pagi bisa membuat kagum siapapun yang melihatnya.


Candi Plaosan punya dua kompleks, yaitu Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Relief atau ukiran yang berada di Plaosan Kidul menggambarkan tentang laki-laki sedangkan Plaosan Lor menggambarkan tentang wanita. Keistimewaan lain yang dimiliki Candi Plaosan yaitu, di bagian belakang candi ini terdapat pohon bodhi dan semacam altar yang dikelilingi patung Buddha. Altar ini masih digunakan untuk ritual keagamaan umat Buddha. 

2. Candi Kalasan

Satu lagi candi sarat sejarah dengan bentuk yang sangat memukau yaitu Candi Kalasan. Candi Kalasan terletak di Desa Kalibening, Tirtamani, Kabupaten Sleman. Candi ini punya tiga bagian, bagian bawah atau kaki candi, tubuh candi, dan atap candi.


Candi Kalasan merupakan salah satu candi Buddha yang ada di Yogyakarta. Bagian kaki candi berdiri di sebuah alas batu yang berbentuk bujur sangkar. Pada bagian ini terdapat tangga masuk berhiaskan makara di bagian ujung tangga.

Cantiknya, di setiap pintu masuk dari sisi utara dan selatan terdapat hiasan kala. Di bagian jengger candi terdapat kuncup-kuncup bunga, daun-daunan, dan sulur-suluran. Sedangan di bagian atas terdapat pohon dewata dan lukisan awan beserta penghuni khayangan sedang memainkan alat musik seperti gendang, rebab, kerang, dan camara. Bagian atap Kalasan terdapat kubus yang dianggap sebagai kemuncak Gunung Semeru, tertulis dalam situs Temples of Indonesia.

3. Candi Sewu

Bila melihat sekilas bentuk Candi Sewu hampir sama dengan Candi Prambanan. Namun, Candi Sewu merupakan candi Buddha terbesar kedua di Indonesia setelah Borobudur.


Melihat dari namanya saja, Anda pasti mengira kompleks ini memiliki seribu candi. Tapi nyatanya, kompleks ini hanya memiliki sekitar 257 candi dengan satu candi utama, 8 candi pengapit, dan sisanya merupakan candi pewarta.

Candi ini berada di lembah Prambanan yang membentang dari lereng selatan Gunung Merapi di utara sampai pegunungan Sewu di sekitar perbatasan Yogyakarta dengan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Namun sayang, akibat gempa tahun 2006 Candi Sewu mengalami kerusakan. Meskipun begitu, candi ini tetap terlihat menawan.

4. Candi Prambanan

Setelah tiga candi Buddha, Yogyakarta terkenal memiliki kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Ya, Candi Prambanan menjadi primadona wisatawan saat berlibur ke Yogyakarta.

Banyak wisatawan mengenal Candi Prambanan sebagai Candi Roro Jonggrang. Hal ini dikarenakan asal-muasal candi yang berkaitan dengan kisah cinta Bandung Bondowoso terhadap Roro Jonggrang yang bertepuk sebelah tangan.


Kompleks Candi yang berada di Desa Prambanan ini mempunyai 3 candi utama, yaitu Candi Wisnu, Candi Brahma, dan Candi Siwa. Ketiga candi ini pun dikelilingi oleh 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sehingga total dari seluruh candi yang ada di kompleks ini berjumlah sekitar 224 buah. 

Saat berada di kompleks ini, wisatawan akan merasa seperti berada dalam sebuah kerajaan. Candi yang sudah dibangun sejak 850 masehi ini, memiliki bentuk yang menjulang ke atas dan menggambarkan kepercayaan agama Hindu.

5. Candi Ratu Boko

Berada di sebelah selatan Candi Prambanan, bertengger dengan anggun Candi Ratu Boko. Kompleks candi ini memiliki luas sekitar 25 hektar. Bentuk Candi Ratu Boko terlihat berbeda dengan candi-candi lainnya. Candi ini lebih mirip seperti bekas bangunan keraton.


Tidak hanya untuk melihat keindhan asitektur alami Ratu Boko, di lokasi ini wisatawan bisa menyaksikan sunset yang menawan. Di sini pelancong akan ditawarkan paket untuk melihat sunset mulai pukul 16.00 sampai matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat.

Untuk mengikuti paket ini, wisatawan asing akan dikenakan biaya sekitar Rp 75 ribu per orang dan wisatawan lokal sekitar Rp 35 ribu per orang. Dalam satu paket ini bisa diikuti oleh 10 orang dalam satu kelompoknya.

6. Candi Sambisari

Candi Sambisari yang berada di sekitar 12 km ke timur Kota Yogyakarta atau 4 km sebelum tiba di Candi Prambanan. Candi yang satu ini merupakan situs yang berada sekitar 6,5 meter di bawah tanah. Selain candi utama, pelancong juga bisa melihat 3 candi pendamping dan di bagian luar candi terdapat tembok dengan keliling 50 m x 48 m.


Fisik candi yang berada di dalam tanah, membuat Sambisari punya keunikan tersendiri. pelancong bisa masuk ke dalam dan menyusuri setiap detil candi yang awalnya terkubur di dalam tanah. konon, Candi Sambisari sudah dibangun antara tahun 812-838 M, jelas situs Temple of Indonesia. 

Tidak puas bila hanya melihat bentuk candinya? Tidak perlu khawatir Anda bisa berkunjung ke ruang informasi yang berada tidak jauh dari lokasi candi. Di dalam ruang informasi ini, pelancong bisa melihat foto-foto proses penggalian, rekonstruksi, dan peninggalan candi berupa arca dan perunggu yang kini berada di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala.

7. Candi Ijo

Mendengar namanya saja, wisatawan pasti menganggap candi ini berwarna ijo atau hijau. Tapi ternyata, sama seperti lainnya Candi Ijo berwarna hitam yang berasal dari batu-batuannya.

Berjalan sekitar 18 km ke sebelah timur Yogyakarta, Anda akan menemukan sebuah candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Ya, Candi Ijo menjadi nama untuk kompleks candi yang terletak di atas bukit Gumuk Ijo, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Sleman dengan ketinggian sekitar 410 mdpl. Dari keterangan ini terjawab, kata "Ijo" berasal dari nama bukit tempat candi ini berdiri.


Panorama cantik nan megah mengelilingi bangunan candi Hindu ini. Saat memasuki pintu gerbang candi ini, Anda akan melihat ukiran berupa mulut raksasa berbadan naga. Kompleks candi ini juga memiliki 17 bangunan yang terdapat dalam 11 teras berundak.

Bila Anda berlibur ke Yogyakarta, jangan sampai melewatkan kecantikan panorama dari candi-candi nan menawan ini. Pagi, siang, sore sampai malam, candi-candi ini punya daya tarik yang beragam di mata wisatawannya.
CANDI GUNUNG KAWI - BUKTI KEHEBATAN WARISAN LELUHUR

CANDI GUNUNG KAWI - BUKTI KEHEBATAN WARISAN LELUHUR


Berbeda dengan candi-candi lainnya, di Kabupaten Gianyar, Bali sebuah candi tidak dibuat dari susunan batu layaknya candi pada umumnya. Candi yang bernama Candi Gunung Kawi atau Candi Tebing Kawi ini terdapat di dinding batu padas di tepi sungai sebagai rumah ibadat masyarakat Hindu.


Candi unik yang satu ini memang merupakan salah satu peninggalan purbakala yang ada di Indonesia. Dibuat dengan cara dipahat dan dibentuk menyerupai dinding, candi ini memang unik dan berbeda dengan candi lain yang pernah ada di bumi nusantara.

Nama Gunung Kawi pada dasarnya berasal dari bentuk candi tersebut. Kata Kawi berasal dari kata pahatan, sehingga nama Gunung Kawi memang menyiratkan bentuk candi yang unik. Candi Gunung Kawi sendiri pertama kali ditemukan oleh peneliti Belanda sekitar tahun 1920. Menurut ahli arkeologi, candi ini telah dibuat dari abad ke-11 masehi yang diperkirakan sejak pemerintahan Raja Udayana hingga pemerintahan Anak Wungsu.

Candi Gunung Kawi memang memiliki pesonanya tersendiri. Dari tubir Sungai Pakerisan disekitaran candi, pengunjung harus menuruni sejumlah anak tangga yang berjumlah 300-an. Jalan tersebut diselimuti dengan suasana asri yang nampak dari pepohonan rimbun di tepi sungai. Selain itu, gemericik air sungai seolah menyambut pengunjung menuju ke Candi Gunung Kawi ini.

Terdapat dua komplek percandian yang dipisahkan oleh aliran Sungai Pakerisan. Komplek candi pertama terletak di sebelah barat sungai yang menghadap ke timur. Komplek ini memiliki empat buah candi. Sementara komplek candi kedua berada di sebelah timur sungai dan menghadap ke barat. Komplek candi kedua memiliki 5 buah candi yang dilengkapi dengan kolam pemandian serta pancuran air.

Mengunjungi Candi Gunung Kawi, pengunjung akan dibuat takjub dengan pemandangan dinding-dinding batu cadas yang terpahat rapi membentuk candi-candi yang unik. Beragam ruang serta lengkungan tertata rapi di dinding batu seolah menjadi bukti kepiawaian para leluhur.

Keunikan juga terdapat di komplek candi sebelah barat. Terdapat semacam ruangan pertapaan yang dipahat di dalam tebing kokoh. Di dalamnya juga dilengkapi dengan pelataran, ruangan kecil seperti kamar serta jendela dan lubang sirkulasi udara dan sinar matahari. Hal ini membuktikan betapa para leluhur telah memiliki pemikiran dan kemampuan yang luar biasa. Ruangan-ruangan tersebut seringkali digunakan untuk meditasi para pendeta dan tokoh kerajaan.

Selain sebagai tempat peribadatan, komplek Candi Gunung Kawi juga dibuat sebagai tempat persemayaman Raja Udayana dan anak-anaknya. Namun dalam hal ini makna persemayaman hanya berarti simbolis karena makan Raja Udayana dan anak-anaknya tidak benar-benar ada di komplek candi ini. Tidak heran jika suasana candi begitu hening dan hikmat serta sejuk. Hal ini dimaksudkan agar para pengunjung mendapatkan ketenangan batin yang mendalam.

sumber : http://palingindonesia.com/candi-gunung-kawi-bukti-kehebatan-warisan-leluhur/
RORO JONGGRANG - KISAH MAGIS DI BALIK CANDI PRAMBANAN

RORO JONGGRANG - KISAH MAGIS DI BALIK CANDI PRAMBANAN


Menyimak kemegahan bangunan candi yang banyak tersebar di Indonesia seolah memiliki daya magis untuk menelusuri kisah, cerita atau hikayat legendaris di belakangnya. Kisah dan cerita terkait dengan sejarah pembuatan candi biasanya tertoreh pada relief-relief yang ada di dinding candi. Seperti yang ada pada Candi Prambanan. Bangunan bersejarah yang terletak di Desa Jogosetran Kabupaten Klaten Propinsi Jawa Tengah ini banyak menyimpan berbagai kisah legendaris. Salah satunya adalah kisah tentang Roro Jonggrang yang bertemu dengaan pemuda yang kuat dan kejam, Bandung Bondowoso.


Alkisah pada zaman dahulu kala di Jawa Tengah terdapat dua kerajaan yang bertetangga, Kerajaan Pengging dan Kerajaan Baka. Pengging adalah kerajaan yang subur dan makmur, dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Prabu Damar Maya. Prabu Damar Maya memiliki putra bernama Raden Bandung Bondowoso, seorang ksatria yang gagah perkasa dan sakti. Sedangkan kerajaan Baka dipimpin oleh raja denawa (raksasa) pemakan manusia yang kejam bernama Prabu Baka. Dalam memerintah kerajaannya, Prabu Baka dibantu oleh seorang Patih bernama Patih Gupala yang juga adalah raksasa. Akan tetapi meskipun berasal dari bangsa raksasa, Prabu Baka memiliki putri yang sangat cantik jelita  bernama Rara Jonggrang. Prabu Baka berhasrat memperluas kerajaannya dan merebut kerajaan Pengging.

Setelah persiapan matang, Prabu Baka beserta balatentaranya menyerbu kerajaan Pengging. Pertempuran hebat meletus di kerajaan Pengging antara tentara kerajaan Baka dan tentara kerajaan Pengging. Banyak korban jatuh dari kedua belah pihak. Dengan kesaktian Bandung Bondowoso, kerjajaan Baka dikalahkan.Pangeran Bandung Bondowoso mengejar Patih Gupolo hingga kembali ke kerajaan Baka. Ketika Patih Gupolo tiba di Keraton Baka, ia segera melaporkan kabar kematian Prabu Baka kepada Putri Rara Jongrang. Mendengar kabar duka ini sang putri bersedih dan meratapi kematian ayahandanya.

Lepas Kerajaan Baka jatuh ke tangan balatentara Pengging, Pangeran Bandung Bondowoso menyerbu masuk ke dalam Keraton (istana) Baka. Ketika pertama kali melihat Putri Rara Jonggrang, seketika Bandung Bondowoso terpikat, terpesona kecantikan sang putri yang luar biasa. Saat itu juga Bandung Bondowoso jatuh cinta dan melamar Rara Jonggrang untuk menjadi istrinya. Akan tetapi sang putri menolak lamaran itu, tentu saja karena ia tidak mau menikahi pembunuh ayahandanya dan penjajah negaranya. Bandung Bondowoso terus membujuk dan memaksa agar sang putri bersedia dipersunting.

Akhirnya Rara Jonggrang bersedia dinikahi oleh Bandung Bondowoso, tetapi sebelumnya ia mengajukan dua syarat yang mustahil untuk dikabulkan. Syarat pertama adalah ia meminta dibuatkan sumur yang dinamakan sumur Jalatunda, syarat kedua adalah sang putri minta Bandung Bondowoso untuk membangun seribu candi untuknya. Meskipun syarat-syarat itu teramat berat dan mustahil untuk dipenuhi, Bandung Bondowoso menyanggupinya.

Segera dengan kesaktiannya sang pangeran berhasil menyelesaikan sumur Jalatunda. Setelah sumur selesai, dengan bangga sang Pangeran menunjukkan hasil karyanya. Putri Rara Jonggrang berusaha memperdaya sang pangeran dengan membujuknya untuk turun ke dalam sumur dan memeriksanya. Setelang Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur, sang putri memerintahkan Patih Gupolo untuk menutup dan menimbun sumur dengan batu, mengubur Bondowoso hidup-hidup. Akan tetapi Bandung Bondowoso yang sakti dan kuat gagah perkasa berhasil keluar dengan mendobrak timbunan batu itu. Sang pangeran sempat dibakar kemarahan akibat tipu daya sang putri, akan tetapi berkat kecantikan dan bujuk rayunya, sang putri berhasil memadamkan kemarahan sang pangeran.

Untuk mewujudkan syarat kedua, sang pangeran bersemadi dan memanggil makhluk halus, jin, setan, dan dedemit dari dalam bumi. Dengan bantuan makhluk halus ini sang pangeran berhasil menyelesaikan 999 candi. Ketika Rara Jonggrang mendengar kabar bahwa seribu candi sudah hampir rampung, sang putri berusaha menggagalkan tugas Bondowoso. Ia membangunkan dayang-dayang istana dan perempuan-perempuan desa untuk mulai menumbuk padi. Ia kemudian memerintahkan agar membakar jerami di sisi timur. Mengira bahwa pagi telah tiba dan sebentar lagi matahari akan terbit, para makhluk halus lari ketakutan bersembunyi masuk kembali ke dalam bumi. Akibatnya hanya 999 candi yang berhasil dibangun dan Bandung Bondowoso telah gagal memenuhi syarat yang diajukan Rara Jonggrang. Ketika mengetahui bahwa semua itu adalah hasil kecurangan dan tipu muslihat Rara Jonggrang, Bandung Bondowoso amat murka dan mengutuk Rara Jonggrang menjadi batu. Maka sang putri pun berubah menjadi arca yang terindah untuk menggenapi candi terakhir.

Menurut kisah ini situs Keraton Ratu Baka di dekat Prambanan adalah istana Prabu Baka, sedangkan 999 candi yang tidak rampung kini dikenal sebagai Candi Sewu, dan arca Durga di ruang utara candi utama di Prambanan adalah perwujudan sang putri yang dikutuk menjadi batu dan tetap dikenang sebagai Lara Jonggrang yang berarti “gadis yang ramping”.

sumber : http://palingindonesia.com/roro-jonggrang-kisah-magis-di-balik-candi-prambanan/