Showing posts with label Surabaya. Show all posts
Showing posts with label Surabaya. Show all posts

Masjid Cheng Ho Surabaya

Masjid Cheng Hoo Surabaya merupakan sebuah Masjid bercorak Muslim Tionghoa, terletak di jalan Gading, Ketabang – Genteng Surabaya, kurang lebih sekitar 1km sebelah utara Gedung Balaikota Surabaya.


Masjid bernuansa Tionghoa ini didirikan atas prakarsa dan usaha sesepuh, penasehat, pengurus PITI dan juga pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia Jawa Timur serta tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya. 


Peletakan batu pertama pada tanggal 15 Oktober 2001 yang bertepatan dengan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW namun pembangunannya sendiri baru dimulai pada tanggal 10 Maret 2002 yang kemudian di resmikan pada 13 Oktober 2002. 



Masjid Cheng Ho Surabaya ini bangunannya menyerupai kelenteng (rumah ibadah umat Tri Dharma) dan berada di area komplek gedung serba guna Pembina Imam Tauhid Islam (PITI) Jatim Jalan Gading No.2 (Belakang Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa) Surabaya. 



Cat Masjid ini sangat dominan oleh warna merah, hijau, dan kuning. Sedangkan Ornamen baik didalam maupun luar sangatlah kental dengan nuanta Tiongkok lama. Pintu masuknya mirip dengan bentuk pagoda, ditambah lagi dengan adanya relief naga dan patung singa dari lilin dengan lafaz Alloh dalam huruf Arab di puncak pagoda. Disebelah kiri bangunan dilengkapi dengan sebuah beduk sebagai pelengkap bangunan masjid. 



Disamping kental dengan arsitektur khas Cina, namun juga merupakan penggabungan dari bangunan "Joglo" Jawa. Hal ini pula menunjukkan adanya percampuran budaya antara budaya Cina dan budaya Jawa yang telah terjalin sejak dahulu kala. Nama Masjid Cheng Ho diambil dari nama Laksamana Cheng Ho, yaitu seorang panglima besar muslim dari Cina. 



Kenapa dinamakan Masjid Cheng Ho? 



Dinamakan seperti ini adalah sebagai bentuk penghormatan warga Tionghoa pada Laksamana Cheng Ho, seorang panglima besar asal Cina yang beragama Islam. Dalam perjalanannya di kawasan Asia Tenggara, si panglima ini bukan hanya sekedar berdagang, namun juga menjalin persahabatan untuk menyebarkan agama Islam. 



Sekitar abad ke 15 pada masa Dinasti Ming (1368 – 1643), pedagang pedagang Tionghoa Tionghoa dari daerah Yunnan berdatangan untuk berdagang sekaligus menyebarkan agama Islam terutama di pulau jawa. Kemudian Laksamana Cheng Ho atau Admiral Zhang Hee atau yang dikenal pula dengan nama Sam Poo Kong atau Pompu Awang lengkap dengan armada kebesarannya datang ke pulau jawa pada tahun 1410 dan tahun 1416 mendarat di pantai Simongan Semarang. Disamping itu, dia datang ke pulau jawa adalah sebagai utusan Kaisar Yung Lo untuk mengunjungi raja majapahit sekaligus bertujuan untuk menyebarkan agama Islam. 



Nah untuk mengenang perjuangan dan dakwah Laksamana Cheng Hoo, disamping warga Tionghoa muslim juga ingin memiliki sebuah masjid dengan gaya Tionghoa, maka diresmikanlah masjid ini pada tanggal 13 Oktober 2002. 



Masjid Cheng Hoo ini bisa menampung kurang lebih 200 jama'ah, dengan luas banyungan utama 11 x 9 meter persegi. Masjid Muhammad Cheng Hoo juga memiliki 8 sisi dibagian atas bangunan utama. Ketiga ukuran atau angka itu ada maksudnya. Sebagai mana layaknya etnis Tionghoa, maka pemilihan angka diatas adalah bertujuan untuk memberi makna yakni angka 11 untuk ukuran Ka’bah saat baru dibangun, angka 9 merupakan lambang Walisongo, dan angka 8 melambangkan Pat Kwa atau keberuntungan/ kejayaan dalam bahasa Tionghoa. 



Sangat menarik kan Masjid Cheng Ho ini? silahkan anda kunjungi bila berkesempatan ke surabaya.



sumber : http://www.yousaytoo.com/masjid-cheng-ho-surabaya-sejarah-dan-terjadinya/3146742

Sejarah Tugu Pahlawan Surabaya

Monumen Tugu Pahlawan tentu banyak yang tahu dan mengenalnya sebagai  bangunan untuk mengenang jejak sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya yang terjadi di Kota Surabaya. Namun mungkin banyak yang belum tahu tentang  sejarah dan sisi lain tentang Monumen Tugu Pahlawan.Baik ketika awal dibangun atau dalam perkembangan selanjutnya.


Monumen  Tugu Pahlawan yang menjadi ikon dan land mark Kota Surabaya ini setinggi 45 yard (40.5 meter)  dan berbentuk Lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk  Canalures atau lengkungan-lengkungan  sebanyak 10 lengkungan  dan terbagi atas 11 ruas. 


Tinggi, ruas, dan canalures itu ternyata bermakna simbolis  tanggal 10, bulan 11 , tahun 1945 yang berarti tgl 10 November 1945 yang merupakan saat terjadinya pertempuran hebat antara arek-arek  Pejuang Surabaya melawan tentara  Sekutu dan Belanda yang hendak menjajah kembali bangsa Indonesia. Pada setiap tahunnya tgl  10 November kemudian diperingati oleh bangsa Indoensia sebagai  Hari Pahlawan. 


Pada masa kolonial , di kawasan Monumen Tugu Pahlawan ini terdapat gedung Raad Van Justitie yang digunakan sebagai markas Kenpetai pada masa pendudukan penjajah Jepang. Sesuai SK Walikota Surabaya No 188.45/251/402.1.04/1996 no urut 45, kawasan Monumen Tugu Pahlawan ditetapkan sebgai Bangunan Cagar Budaya.


Ada dua pendapat mengenai siapa yang menjadi pemrakarsa, sekaligus arsitek monumen yang dibangun pada tahun 1951 dan terletak di Jalan Pahlawan Surabaya ini.  Gatot Barnowo berpendapat  bahwa pembangunan monumen ini diprakarsai oleh Doel Arnowo, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Daerah Kota Besar Surabaya. 

Kemudian ia meminta Ir. Tan untuk merancang gambar monumen yang dimaksud yang kemudian  diajukan kepada Presiden Soekarno.

  
Sedangkan menurut Ir. Soendjasmono, pemrakarsa monumen ini adalah Ir. Soekarno sendiri. Ide itu kemudian mendapat perhatian khusus dari  Doel Arnowo. Tentang  perencanaan dan gambar Monumen Tugu Pahlawan itu diserahkan kepada Ir. R. Soeratmoko, yang telah mengalahkan beberapa arsitektur lainnya dalam sayembara pemilihan arsitek untuk membangun monumen ini.


Pada awalnya pekerjaan pembangunan Monumen Tugu Pahlawan ditangani Balai Kota Surabaya sendiri. Pembangunan kemudian dilanjutkan oleh Indonesian Engineering Corporation, yang diteruskan oleh Pemborong Saroja.


Monumen yang dibangun selama sepuluh bulan ini akhirnya diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 10 Nopember 1952.


Di bagian bawah monumen terdapat bangunan  Museum Perjuangan 10 November Surabaya yang menyimpan benda-benda yeng berkaitan dengan sejarah dan perjuangan arek-arek Surabaya.Ada juga foto-foto dokumentasi pembangunan Monumen Tugu Pahlawan. Pada tahun 1991-1996 dilakukan pembenahan kawasan Tugu Pahlawan dan Museum Perjuangan 10 November Surabaya yang dipimpin oleh arsitek Ir. Sugeng Gunadi, MLA dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Wisata dengan Nuansa Unik dan Horor di Museum Kesehatan Surabaya

Museum Kesehatan dr. Adyatama, museum kesehatan yang berada di Jalan Indrapura no.17, Surabaya ini awalnya museum adalah Rumah Sakit Kelamin. Namun atas kebijakan pemerintah berganti menjadi museum kesehatan. Didalamnya menyimpan berbagai peralatan kesehatan tempo dulu serta benda-benda terkait supranatural. Oleh karena itu museum ini sering dijuluki museum santet.



Dikelola oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) dan Kebijakan Kesehatan, Departemen Kesehatan. Museum yang selesai dibangun pada tahun 2004 ini diresmikan oleh Dr. Ahmad Sujudi selaku Menteri Kesehatan pada masa itu. Awalnya museum ini dirintis oleh Dr.dr. Haryadi Suparto yang kemudian mengambil penamaan museum dari dr. Adhyatma yang pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan pada tahun 1988 hingga 1993.

Apa yang menarik dari museum ini? Di museum ini terdokumentasi dengan baik cara –cara pengobatan tradisional dan santet. Terdapat benda yang sering dipakai untuk urusan mistik tersebut. Seperti kayu pohon telor, kayu santen, kayu kengkeng, kayu kelor dan bambu. Terdapat pula boneka santet yang ditusuk jarum, foto seseorang yang ditusuk paku dalam kain merah kemudian rokok kelobot yang dibentuk menyerupai boneka orang yang pada bagian tubuhnya tertancap kayu. Tak hanya itu museum ini juga menyimpan tanah kuburan yang diyakini akan membawa sial sesorang yang membawanya pulang. Semua benda tersebut kerap dipercayai dan dijadikan sarana untuk melakukan kegiatan supranatural.



Beberapa benda lain terkait dengan adanya santet juga disimpan di museum ini. Benda seperti potongan usus dari pasien terkena santet, paku bengkok yang dikeluarkan dari tubuh seorang pasien, serta beberapa helai ijuk yang keluar dari tubuh seorang pasien. Pengelola museum mendapatkan benda-benda tersebut dari dukun santet. Benda-benda mistik lainnya juga bisa Anda temukan di ruang ini. Dari kain bertuliskan rajah, batu, kain hingga obat-obatan dari dukun. Yang menarik di sini adalah boneka Jalangkung dan Nini Thowok yang disimpan di lemari kaca.

Tempat ini juga mengoleksi benda yang seringkali dianggap memiliki khasiat atau mitos tertentu misalnya air dari paranormal Ki Kusumo, air dari dukun cilik Ponari, hingga rumput Fatimah yang diambil dari Arafah yang dipercaya dapat menguatkan kandungan seseorang setelah melahirkan.

Tak hanya benda-benda supranatural dan medis, museum ini juga mengoleksi benda-benda yang unik. Seperti celana anti perkosaan dan alat perangsang seks untuk pria dan wanita. Ada pula benda berupa vacuum yang berfungsi untuk membesarkan alat kelamin pria.

Anda dapat pula menyaksikan proses penyantetan yang terdokumentasi dengan baik lewat foto-foto yang terdapat di museum ini. Dari foto itu, wisatawan dapat mengetahui bagaimana ritual penyantetan berlangsung. Tak hanya itu bulu kuduk Anda akan semakin dibuat merinding tatkala menyaksikan video yang ditayangkan. Video tersebut merekam proses pembedahan otak seorang pasien dan anehnya darah yang keluar adalah darah ayam.



Museum ini buka buka setiap hari dari hari Senin hingga Jum’at dan tutup pada hari libur nasional. Buka mulai pukul 8.00 wib pagi hingga pukul 15.00 wib. Pada hari Sabtu dan Minggu buka pada pukul 09.00 wib sampai pukul 14.00 wib.

Menjelajahi isi Museum Kesehatan dr Adhyatma ini bukan saja akan menambah wawasan Anda mengenai dunia kesehatan, namun kita dapat melihat realita masyarakat yang hingga kini masih mempercayai hal-hal mistik.

Ruangan Dunia Lain

Di museum kesehatan terdapat ruangan yang dikunci rapat oleh penjaga museum. Ruangan ini dinamakan "DUNIA LAIN". Untuk bisa memasuki ruangan tersebut, kalian harus meminta izin oleh penjaganya untuk bisa memasuki ruangan tersebut, agar tidak terjadi apa-apa. Ruangan tersebut merupakan ruangan kamar mandi yang dibiarkan kotor. Namun pada ruangan ini juga terdapat 1 kotak tengkorak , 1 kotak abu jenazah , 2 peti mati besar dan kecil yang bekas dikubur. 





Sumber : http://surabaya.panduanwisata.id/wisata-sejarah-dan-budaya/isi-museum-kesehatan-dr-adyatma-di-surabaya/
Melihat Surabaya Tempo Dulu di Museum Surabaya

Melihat Surabaya Tempo Dulu di Museum Surabaya



Saat ini Surabaya telah memiliki museum baru, yaitu Museum Surabaya yang baru saja diresmikan pada 3 Mei 2015 oleh Ibu Tri Rismaharini selaku Wali Kota Surabaya. Museum ini jadi destinasi wisata baru bagi para pelancong yang wajib untuk dikunjungi, sebab di dalamnya berisi ribuan artefak dan barang-barang bersejarah milik Kota Surabaya yang ada di masa lalu. Berbeda dengan Museum Tugu Pahlawan atau Museum House of Sampoerna, museum ini mengisahkan tentang Kota Surabaya sepenuhnya.


Museum Surabaya terletak di lantai dasar bekas Gedung Siola (Cagar Budaya) di Jalan Tunjungan. Ibu Risma mengatakan bahwa museum ini merupakan media edukasi untuk masyarakat Surabaya, terutama yang ingin mengetahui berbagai sejarah yang pernah ada di kota pahlawan tersebut. Museum ini berisi semua hal tentang Kota Surabaya di masa lalu. Ia menilai bahwa mungkin banyak warga yang masih belum mengerti mengenai sejarah atau benda-benda antik tersebut. Padahal benda-benda tersebut merupakan bagian dari perjalanan pembangunan Kota Surabaya. Museum ini menampilkan sebuah perpaduan masa lalu dan masa kini yang ada di Kota Surabaya.

Berbagai penghargaan yang pernah diraih Kota Surabaya

Gedung Siola berlantai tiga itu kini telah disulap menjadi lebih bersih. Sebelum masuk ke dalam museum, Anda akan menjumpai kereta kuno yang dipamerkan di samping gedung. Di dalam Museum Surabaya ada berbagai macam koleksi benda-benda bersejarah meliputi dua buah meriam kuno, foto seluruh wali kota Surabaya yang pernah menjabat, bemo (becak motor) yang terkenal sebagai alat transportasi tahun 1970-an, becak, mata uang kuno, piano, bangku sekolah mesin ketik, peralatan pemadam kebakaran, alat kesehatan, piala serta tropi penghargaan yang diperoleh Kota Surabaya, furnitur, berbagai macam baju dinas dari segala profesi, peta Surabaya, komputer server, alat komunikasi, buku catatan kelahiran warga Surabaya, buku catatan perkawinan warga Surabaya, hingga buku catatan pemakaman warga Surabaya yang ada di Makam Kembang Kuning Surabaya.

Koleksi benda-benda historis yang ada merupakan sumbangan dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Beberapa dinas menyumbangkan benda historis yang mereka miliki untuk dipajang di Museum Surabaya ini. Misalnya, Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) yang menyumbangkan pakaian lengkap para petugas PMK mulai dari zaman Belanda, Jepang, awal kemerdekaan, sampai sekarang. Pakaian tersebut lengkap dari topi sampai sepatu. Selain itu, beberapa benda seperti lonceng tanda terjadinya kebakaran dan alat penyemprot juga turut dipajang museum ini.

Deretan foto Wali Kota Surabaya

Dinas Perhubungan (Dishub) juga ikut menyumbang benda-benda historis miliknya menjadi koleksi Museum Surabaya. Benda-benda antik itu seperti komputer server yang dulu digunakan untuk operasional Area Traffic Control System (ATCS). Kemudian Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan (DPPK) memberikan dua mesin proporsi manual yang dulu digunakan sebagi alat pengesahan karcis maupun retribusi oleh Pemkot Surabaya.

Memang saat ini koleksi yang ada di Museum Surabaya belum sempurna, namun Pemerintah Kota Surabaya akan terus berupaya untuk menambah koleksinya lagi. Selain area etalase benda-benda bersejarah, di Museum Surabaya juga ada panggung live performance dari para seniman, area makanan khas Surabaya, sentra usaha kecil menengah (UKM), hingga pameran lukisan. Selain itu juga ada pelayanan masyarakat yang dibuka mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB. Pelayanan tersebut meliputi BKPM, DPBT, serta Dispendukcapil. Museum ini dibuka untuk umum. Bagi pengunjung yang ingin memasuki Museum Surabaya tidak dipungut biaya sama sekali. Pengunjung hanya akan disuruh petugas untuk mengisi data diri di buku catatan yang telah disediakan.

Sumber : http://ulinulin.com/news/tempat-wisata-museum-surabaya-melihat-surabaya-tempo-dulu
6 TAMAN KOTA HIJAUKAN SURABAYA

6 TAMAN KOTA HIJAUKAN SURABAYA

Surabaya baru-baru ini mendapat beberapa penghargaan, diantaranya Adipura Kencana, Adiwiyata dan Kalpataru. Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya menerima penghargaan Adipura Kencana untuk kategori Kota Metro dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu.

Ini bukan pertam kalinya Surabaya mendapatkan penghargaan di bidang lingkungan. Setiap tahun Surabaya selalu mendapatkan penghagaan, tidak hanya dari dalam negeri, penghargaan juga didapat dari luar negeri. PBB di bidang lingkungan pernah menganugerahi award of excellent bidang pengelolaan lingkungan. 

Tahun 2012 lalu, Surabaya juga mendapatkan penghargaan internasional kategori partisipasi terbaik se-Asia Pasifik yang tergabung dalam organisasi Citynet. Sebab, Kota Surabaya merupakan salah satu kota yang seluruh elemen warganya terlibat dalam mewujudkan lingkungan yang bersih.

Penghargaan untuk kategori lingkungan di Surabaya, tak terlepas dari adanya taman-taman kota yang ikut menjadikan Surabaya terlihat lebih hijau. Surabaya saat ini mempunyai Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebanyak 22,26 persen atau 171,68 hektar dari total luas wilayah kota.

Upaya pelayanan Ruang Terbuka Hijau (RTH), juga sedang digencarkan oleh dinas Kebersihan dan pertamanan Kota Surabaya saat ini. Banyaknya lahan-lahan kosong di tengah kota, kini dijadikan taman kota dan hutan kota. Ada puluhan taman kota yang dimiliki Kota Surabaya, tapi kali ini akan dibahas 6 saja yang paling banyak diminati. 6 Taman kota yang paling terkenal di antara puluhan taman kota yang dimiliki Surabaya.

Berikut 6 taman kota yang menghijaukan Kota Surabaya:

1. Taman Bungkul


Taman yang paling banyak dikjunjungi oleh masayarakat Surabaya ini berada di Jalan Protokol Raya Darmo. Taman yang mempunyai luas 900 m2 ini punya konsep sport, education, dan entertainment. Taman ini juga dilengkapi berbagai fasilitas, seperti skateboard dan sepeda track, jogging track, plaza (sebuah open stage yang bisa digunakan untuk live performance berbagai jenis entertainment), akses internet nirkabel (Wi-Fi atau Hotspot), telepon umum, arena green park seperti kolam air mancur, dan area pujasera.

Diresmikan sejak 21 Maret 2007, Taman Bungkul menjadi tempat kumpul-kumpul favorit warga Surabaya, mulai dari anak muda sampai orang-orang tua yang telah keluarga. Setiap malamnya, taman yang diambil dari nama Mbah Bungkul (di area taman terdapat makam Mbah Bungkul) ini tidak pernah sepi. 

2. Taman Flora


Asri, hijau, teduh seperti itulah kata yang tepat untuk menggambarkan taman yang berlokasi tak jauh dari Terminal Bratang Surabaya ini. Taman Flora ini memiliki luas 2,4 Hektar yang terletak di eks Kebon Bibit, Bratang Surabaya. 

Tak hanya rindang dan hijau, taman yang diresmikan Agustus 2007 ini memang banyak terdapat ratusan jenis pohon. Tak hanya tanaman, taman yang disebut juga dengan Tekno Park ini juga terdapat beberapa kandang fauna, sebut saja kandang rusa Tutul, rusa Bawean, sangkar burung berukuran cukup besar dan kolam ikan beserta air mancur.

3. Taman Prestasi


Di Taman seluas 6.000 m2 ini kita dapat menyaksikan replika penghargaan yang pernah diraih Kota Surabaya, seperti Wahana Tata Nugraha, Adipura Kencana, dan lain-lain. Maka itu taman ini mendapat sebutan taman Prestasi.

Taman yang berada di jalan Ketabang kali Surabaya ini dihiasi sekitar 21 jenis tanaman sehingga terasa nyaman untuk melepas penat. Hal ini menjadi cocok buat anak-anak karena dapat bermain sambil belajar mengenal lingkungannya. Taman Prestasi juga dilengkapi panggung terbuka, panggung teater, dan sarana permainan anak. Tak hanya itu, karena letaknya berada di pinggir Kalimas, pengunjung bisa menikmati petualangan menyusuri Kalimas dengan perahu naga atau perahu dayung.

4. Taman Apsari


Taman Apsari adalah taman yang letaknya depan kantor Gubernur Jawa Timur, Gedung Grahadi. Memiliki luas 5.300 meter persegi, taman yang di dalamnya terdapat terdapat Patung Suryo dan Joko Dolog ini dilengkapi dengan kurang lebih 20 jenis bunga. 

Karena letaknya yang berada di tengah kota, taman ini tak pernah sepi di malam hari dan banyak anak muda menjadikan taman peninggalan Belanda ini sebagai tempat berkumpul yang asyik. 

5. Taman Pelangi


Jika melewati jalan A Yani Surabaya, sempatkan beristirahat sejenak di area ini. Taman yang sangat menarik dengan air mancurnya ini tak bisa kita lewatkan ketika melewati jalan A Yani Surabaya. Taman yang tepat berada di depan Kantor Bulog ini akan lebih cantik ketika malam hari. Lampu-lampu berwarna-warni menyerupai pelangi ini indah dengan gemericik air mancur.

6. Taman Lansia


Taman bekas sebuah SPBU di Jalan Kalimantan Surabaya ini memang unik. Dari namanya saja kita mengenal dengan Taman Lansia. Taman yang memang diperuntukkan untuk para lanjut usia. 

Beragam tanaman dan bunga cantik menghiasi taman ini. Selain itu juga tersedia track yang khusus dibuat untuk kenyamanan kursi roda para lansia. Ada pula tempat duduk untuk pengantar saat menemani para lansia menikmati suasana kota di pagi atau sore hari. Kesejukan suasana di taman ini kian segar oleh keberadaan air mancur di tengah taman seluas 2.000 m2 ini. (Ibnu Anshari)

*Ibnu Anshari adalah pewarta warga dari Surabaya.
Sumber : http://news.liputan6.com/

SEJARAH BERDIRINYA BANDARA JUANDA SURABAYA

Bandara Juanda Surabaya,berada sekitar 20 kilometer selatan surabaya menuju sidoarjo yang secara administratif berada di wilayah kecamatan kedati,Kab.sidoarjo.Suarabaya yang penduduknya sekitar 2,6 jta orang adalah ibukota propinsi jawa timur dan merupakan kota terbesar kedua setelah jakarta.


Dengan klarifikasi bandara kelas 1,bandara juanda sanggup didarati pesawat boeing 747 dengan landasan mencapai 3000 M,peran bandara juanda akan semakin penting dengan meningkatnya peranan surabaya berkaitan dengan peningkatan kegiatan ekonomi.oleh karena itu pengembangan bandara juanda sangat diperlukan guna untuk dapat memberikan jasa pelayanan sesuai dengan tututan masa kini.

Sejarah singkat Bandara Juanda


Bandara udara juanda di bangun sejak tahun 1959 dan diresmikan penggunanya oleh Presiden Pertama Republik Indonesia pada tanggal 12 Agustus 1964 dengan sebutan pangkalan udara TNI-AL ( Lanundal Juanda ).pada awalnya dipergunakan untuk keperluan militer,namun sejalan dengan perkembangan jaman dan meningkatnya kebutuhan maka bandara ini berkembang pula untuk penerbangan sipil.

perkembangan penerbangan sipil yang semakin meningkat menyebabkan meningkatnya kesibukan TNI-AL.Tahun 1981 penerbangan sipil di lanudal juanda di alihkan pengelolaanya dari Dephamkam Kepada Dephub,dengan pengolahan bandara juanda diserahkan pada Direktorat Perhubungan Udara sampai tahun 1984.

Sejak tanggal 1 januari 1985 pengolahan bandara diserahkan kepada Perum Angkasa Pura.Tahun 1986 Perum Angkasa Pura berubah menjadi Perum Angkasa Pura I.

Dibawah pengolahan Pt.Angkasa Pura I bandara juanda telah melakukan perubahan -perubahan dan mengalami perkembangan di antaranya, tanggal 26 juli 1985 ditetapkan sebagai bandara Ekspor/Impor.pada tanggal 12 desember 1987 di buka pelayanan penerbangan internasional seperti singapura,Hongkong,Taipe dan Manila dengan Transit bandara soekarno-Hatta.

Setahun berikutnya pada tanggal 1 Oktober 1988 dilayani kedatangan Internasional Khusus custum.Pada tahun 1988 bandara juanda dinyatakan sebagai pintu masuk bebas visa bagi wisata asing.pada tanggal 26 mei 1990 dilakukan peresmian VIP Room oleh bapak Sudharmono,SH. 24 desember 1990 Menteri Perhubungan Ir.Aswar Anas meresmikan terminal Internasional oleh sekaligus pembukaan penerbangan Internasional perdana.pada bulan desember 1991 Singapura Airlines dan China Sounthern Air membuka jalur pernerbangan ke singapura dan Canto( China ).

Terminal Bandara Juanda

Secara keseluruhan terminal bandara juanda mencapai 28.088 m2 dengan kapasitas total 5,4 juta penumpang/tahun.bandara juanda memiliki 3 terminal yaitu terminal domestik, Internasional dan terminal Cargo.

  1. Untuk terminal domestik terminal seluas 20.131 M2. Ini dapat melayani hingga 4 juta penumpang/tahun.
  2. Untuk terminal Internasional, yang berkapasitas 1,4 juta penumpang/tahun,mencakup bangunan seluas 7.957 M2.
  3. Untuk terminal Cargo terletak di sebelah barat banda dengan luas 9.200 M2.

Selain Terminal-terminal di atas, bandara juanda juga memliki terminal VIP yang terletak di sebelah timur terminal Internasional.Terminal ini Khusus di gunakan Untuk kedatangan maupun keberangkatan Tamu Khusus atau Tamu bandara.

Sekilas Sejarah Bandara Juanda International

Bandar Udara Juanda semula dibangun sebagai pangkalan udara TNI Angkatan Laut. Namun dalam perkembangannya juga melayani jalur penerbangan sipil. Sejalan dengan pertumbuhan penerbangan sipil, maka pengelolaan Bandar Udara Juanda dialihkan dari Departemen Hankam ke Departemen Perhubungan dan kemudian diserahkan kembali ke Perum Angkasa Pura I.

1964 - 07 Februari
Diresmikan sebagai Pangkalan Udara TNI Angkatan Laut

1981 - 07 Desember
Pengelolaan penerbangan sipil diserahkan dari Departemen Hankam ke Departemen Perhubungan.

1985 - 01 Januari
Pengelolaan Bandara Juanda diserahkan ke Perum Angkasa Pura I.

1987 - 12 Desember
Dibuka penerbangan internasional ke Singapore, Hongkong, Taipei dan Manila via Jakarta.

1990 - 24 Desember
Penerbangan Internasional langsung. Peresmian Terminal Penumpang Internasional.

2006-1 s/d 15 Nopember
Rencana pemindahan dan pengoperasian terminal baru di sisi utara landasan pacu.

2006-15 Nopember
Awal pengoperasian Terminal baru sisi utara landasan pacu yang diresmikan langsung oleh Bapak Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Bandar Udara Juanda berada dibawah manajemen PT. (Persero) Angkasa Pura I, yaitu BUMN yang ditugasi pemerintah untuk mengelola jasa kebandarudaraan di wilayah Tengah dan Timur Indonesia. Dengan mengutamakan keselamatan penerbangan dan pelayanan prima, bandar udara ini terus berkembang menjadi pintu gerbang ke pusat pertumbuhan wilayah Tengah dan Timur Indonesia.

Sumber : http://info-bandara.blogspot.com/
MONUMEN BAMBU RUNCING - SIMBOL PERJUANGAN AREK-AREK SUROBOYO

MONUMEN BAMBU RUNCING - SIMBOL PERJUANGAN AREK-AREK SUROBOYO


Bambu Runcing adalah salah satu senjata tradisional yang digunakan oleh tentara Indonesia dalam pertempuran melawan kolonialisme Belanda. Bambu runcing dipakai untuk melawan para penjajah dihampir seluruh penjuru nusantara, termasuk pada saat pertempuran hebat pada 10 November1945 di kota Surabaya. Bambu runcing dimanfaatkan salah satunya untuk membalas serangan mush, karena keterbatasan peralatan perang modern saat itu. Selain Keberanian melawan penjajah memanfaatkan bambu runcing, hal iniditujukan untuk memperlihatkan betapa tinggi semangat para prajurit ataupun warga sipil Indonesia nilai nasionalisme dan patriotisme.

Di Surabaya, untuk memperingati nilai juang dan patriotisme itulah, maka Monumen Bambu Runcing dibangun. Terletak di jalan Panglima Sudirman, monumen ini berada tepat di jantung kota Surabaya. Di tengah ramainya lalu lintas kota, monumen bambu runcing menjadi ikon pariwisata kota Surabaya yang berhubungan dengan situs sejarah perjuangan bangsa. Monumen Bambu Runcing terdiri dari 5 pilar dengan tinggi masing masing tidak sama serta dibentuk menyerupai bambu runcing. Pada saat tertentu, terdapat air yang mengalir keluar dari bambu runcing bagaikan air mancur. Disamping itu sekitar area monumen ini dikelilingi oleh taman kecil yang penuh dengan aneka ragam tumbuhan hias. Taman hias tersebut berfungsi ganda, tak sekedar sebagai tempat bagi warga Surabaya untuk bisa rileks menikmati suasana taman, namun fungsi lain taman yang dibuat antaran tahun 1900-an juga berfungsi sebagai penyerap polusi udara.

Pada masa penjajahan Belanda, jalan Panglima Sudirman ini awalnya bernama Palmenlaan. Palm-berarti pohon palm, dan laan-berarti jalan yang lebar. Saat itu di sepanjang Jalan Panglima Sudirman pada sisi kiri dan kanan jalannya telah ditanami pohon-pohon palm untuk peneduh jalan.

Selain melihat monumen Bambu Runcing, wisatawan dapat melihat gardu PLN yang terletak tak jauh dari monumen tersebut, yaitu Gardu listrik kuno yang merupakan peninggalan zaman Belanda. Selain itu disepanjang jalan panglima Sudirman wisatawan dapat menikmati suasana taman tengah kota dengan berjalan-jalan disekitarnya.

Pada malam hari, di sekitar kawasan Monumen Bambu Runcing banyak dikunjungi anak-anak muda. Selain mereka yang tergabung dalam klub motor, sebagian menikmati bersama teman atau keluarga sekedar menghabiskan waktu untuk mengbrol atau minum kopi.

Sementara pada minggu pagi, tempat di sekitaran Bambu Runcing ini kerap dijadikan tempat berolahraga, sekedar joging atau meng-gowes sepeda.

Di seputaran kawasan jalan Panglima Sudirman, tepat Monumen bambu Runcing ini berada, selain sebagai destinasi wisata, kawasan ini merupakan daerah sibuk, deretan bank-bank, hotel, restauran, toko dan kantor-kantor berdiri di tepi jalan ini. Hal ini merupakan  buah besar kemerdekaan yang telah dicapai. Perjuangan para pendahulu bangsa yang berjuang demi kemerdekaan, berbuah menjadi pembangunan Kota Surabaya seperti sekarang ini. Monumen Bambu Runcing ini sendiri merupakan pengingat bagaimana perjuangan itu dulu dicapai dengan keringat, darah, dan air mata.

Sumber : http://panduanwisata.com

WATERPARK CIPUTRA - KOLAM RENANG TERBESAR DI INDONESIA


Inilah tempat rekreasi yang sangat cocok untuk memanjakan putra dan putri anda selama liburan. Jangankan anak kecil, anda saja bila berada di kolam renang ini saya jamin akan betah dan tak ingin cepat-cepat untuk pulang.

Waterpark Ciputra Surabaya
Waterpark Ciputra mengklaim dirinya sebagai waterpark terbesar di Indonesia yang berdiri diatas lahan seluas 5 hektar. Lokasi waterpark ini berada di kawasan perumahan elit Citraland di Surabaya barat. Saking besar dan luasnya, dari kejauhan bisa terlihat wahana permainan yang berdiri tinggi menjulang, membuat siapa saja yang melihatnya akan tertarik untuk masuk ke waterpark ini.

Kolam Ombak
Dengan luas wilayah seperti itu bisa dibayangkan, apa saja jenis permainan dan besar kolam renang di dalamnya. Terdapat kolam ombak bernama Syracuse Beach dengan luas 1800 meter persegi  dengan kedalaman 120 cm yang akan membuat anda seakan berenang di laut dengan diombang-ambing oleh ombak buatan. 

Permainan Air
Selain kolam ombak ada juga kolam berbentuk sungai buatan bernama Sirens River dengan panjang total 480 meter. Gunakan ban pelampung untuk menyusuri kolam ini dengan santai dan tenang. Yang menjadi favorit di waterpark ini adalah menara seluncuran bernama Roc Tower yang memiliki ketinggian 15 meter dengan jalur seluncur yang berkelok-kelok. Gunakanlah ban pelampung bila berseluncur, dijamin kecepatannya akan semakin meningkat dan akan memacu adrenalin anda.

Selain menara Roc Tower, ada juga menara seluncur warna-warni bernama Racer Slide setinggi 10 meter. Untuk anak-anak terdapat kolam berukuran cukup luas dengan kedalaman maksimal 40 cm yang diberi nama Marina Lagoon yang dilengkapi dengan sarana permainan seperti seluncuran mini.

Kolam Anak
Sedangkan bagi anda yang membawa bayi dan ingin bermain air dengannya, jangan kuatir di Waterpark Ciputra ini tersedia kolam air Chimera Pool dengan kedalaman hanya 20 cm yang tentunya aman bagi buah hati anda. Sebagai kolam renang terbesar di Indonesia, tentunya pihak waterpark sangat peduli akan keamanan dan keselamatan pengunjungnya. Itu terlihat adanya puluhan life guard atau penjaga kolam yang siaga di tempat setiap saat. 

Indah Di Malam Hari
Selain kolam renang, disini juga terdapat beberapa permainan pendukung seperti flying fox dan trampoline. Untuk permainan diatas pengunjung harus mengeluarkan biaya tambahan. 

Berikut daftar harga tiket dan sewa perlengkapan renang serta permainan di Waterpark Ciputra :

  • Tiket Masuk : Rp 70 ribu (selasa-kamis) dan Rp 90 ribu (jumat-minggu dan hari libur)
  • Sewa Loker : Rp 10 ribu
  • Ban Pelampung : Rp 10 ribu (single) dan Rp 15 ribu (double)
  • Jaket pelampung : Rp 10 ribu (+ deposit Rp 15 ribu)
  • Flying Fox : Rp 20 ribu
  • Trampoline : Rp 25 ribu

Untuk jam buka kolam renang ini adalah mulai pukul 13.00 - 19.00 WIB untuk hari biasa dan 10.00 - 19.00 untuk akhir pekan dan hari libur, sedangkan khusus hari Senin, waterpark ini tutup.

SEJARAH JEMBATAN MERAH SURABAYA


Ada satu kesamaan kenapa jembatan-jembatan di bawah ini dikatakan sebagai jembatan merah, ya jembatan merah ini ternyata tidak hanya ada di kota pahlawan saja tetapi juga berada di wilayah lain Indonesia, misalnya di Bogor, Balikpapan, dan Kerinci walaupun tidak merah warnanya tapi masyrakat sekitar menyebutnya sebagai jembatan merah.

Merahnya sebutan bagi jembatan-jembatan itu karena sejarahnya yang kelam. Pasalnya, di jembatan itu dulunya pernah terjadi peristiwa pertumpahan darah antara pejuang Indonesia melawan penjajah di zaman revolusi fisik. Nah, dari saking banyaknya darah  para pejuang dan lawannya yang tumpah di jembatan itu, maka jembatan itu pun dinamakan Jembatan Merah.

Yang pertama seperti yang kita ketahui adalah Jembatan Merah di Surabaya. Jembatan yang melintasi sungai Kalimas ini sungguh melegenda dan sepertinya tak ada satu pun orang Surabaya yang tidak mengenal jembatan ini.  Dibangun beratus-ratus tahun yang lalu, awalnya jembatan adalah jembatan kayu dan dibuat karena kesepakatan Pakubowono II dari Mataram dengan VOC tahun  11 November 1743. Dalam perjanjian disebutkan bahwa beberapa daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan ke VOC, termasuk Surabaya yang berada di bawah kolonialisme Belanda. 



Sejak saat itu daerah Jembatan Merah menjadi kawasan komersial dan menjadi jalan vital yang menghubungkan Kalimas dan Gedung Residensi Surabaya. Dengan kata lain, Jembatan Merah merupakan fasilitator yang sangat penting pada era itu.  Tak heran jika gedung keresidenan Surabaya saat itu dibangun tepat di ujung barat jembatan, agar pemerintah bisa langsung mengawasi kebersihan, keamanan dan ketertiban di sekitarnya.
Dalam perkembangannya, Jembatan Merah ini berubah secara fisik sekitar tahun 1890-an, ketika pagar pembatas diubah dari kayu menjadi besi. Saat ini, kondisi jembatan yang menghubungkan jalan Rajawali dan Kembang Jepun di sisi utara Surabaya ini hampir sama seperti jembatan lainnya, dengan warna merah tertentu.

Nah, kenapa dimakan jembatan merah? Ya karena dilokasi tersebut pernah terjadi pertumpahan darah antara pejuang dengan penjajah.  Di tempat ini juga Brigadir A.W.S Mallaby, pemimpin angkatan bersenjata Inggris yang telah menguasai Gedung Internationale Crediet en Verening Rotterdam atau Internatio tewas terbunuh di tangan arek-arek Suroboyo. Jembatan Merah ini pun menjadi saksi bisu betapa gigih dan beraninya arek-arek Suroboyo dalam perang 10 November Surabaya melawan tentara Sekutu dan NICA-Belanda yang hendak menguasai kembali Surabaya.

Kedua ada Jembatan Merah di Balikpapan, masih di zaman perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1945-1947, Jembatan Merah ini juga menjadi saksi bisu  pertempuran para pejuang Balikpapan.

Saat itu para pejuang Balikpapan menggunakan taktik gerilya untuk melawan Belanda yang mencoba menguasai kembali Balikpapan. Nah, di jembatan ini kerap kali pecah pertempuran antara pejuang dan tentara Belanda. Tak pelak, jatuh korban dari pihak pejuang yang gugur dalam pertempuran dengan tentara Belanda di jembatan ini.
Setiap usai pertempuran, jembatan ini selalu penuh dangan bercak darah dari tentara Belanda dan pejuang yang terluka. Karena itu oleh para pejuang jembatan ini dikenal dengan nama Jembatan Merah. Jembatan Merah tersebut kini masih ada. Dan setiap harinya dilewati kendaraan yang melintas dari dan ke kebon sayur.

Ketiga, Jembatan merah yang berada di Desa Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci ini. Akan tetapi walaupun jembatan itu dibilang sebagai jembatan merah, namun warna jembatan ini bukanlah  merah melainkan kuning.

Penamaan jembatannya sendiri sebagai jembatan merah karena dulunya, seperti kedua jembatan merah di atas jembatan ini dahulunya juga merupakan tempat pertumpahan darah dari pahlawan Kerinci dengan para penjajah.

Di jembatan itu banyak terjadi pertempuran karena pada Agresi Militer II tahun 1949, Belanda masuk ke desa Pulau Tengah dan membuat camp sekitar 50 meter berjarak dari jembatan. Nah, dengan adanya camp tentara Belanda di dekat jembatan tersebut membuat para petinggi Belanda menjadikan jembatan itu sebagai tempat untuk mengeksekusi penduduk Indonesia yang pro dengan republik.

Tentara Belanda tidak memberikan sedikit keringanan bagi warga Kerinci saat itu, setiap warga yang mau membayar “Tebus Nyawo”, maka tidak akan dibunuh. Selain sebagai tempat menghabisi nyawa rakyat Indonesia, jembatan ini juga dimanfaatkan oleh warga dan tentara perlawanan untuk mengintai para penjajah pada malam hari. Tak sedikit tentara belanda yang berhasil dibunuh oleh warga di bawah jembatan itu.

Hampir setiap harinya terjadi pertumpahan darah di jembatan tersebut, sehingga setelah kemerdekaan pada tahun 1950-an, saat jembatan tersebut dibuat dengan besi, jembatan ini pun dinamakan jembatan merah. (berbagai sumber)

WISATA MONUMEN JALESVEVA JAYAMAHE SURABAYA


 
Monumen Jalesveva Jayamahe (Monjaya) merupakan bukti besar dan karya yang sangat memukau. Sebuah penghargaan atas nilai sejarah yang tinggi, sebagai refleksi dari bangsa Indonesia sebagai satu bangsa maritim. Makna lain dari sosok patung ini adalah sebagai simbol kesiapan untuk menerima pengabdian dari generasi ke generasi berikutnya.

Monumen ini berupa patung setinggi 30,6 meter, yang ditopang oleh sebuah bangunan setinggi 30 meter. Patung ini menggambarkan Komandan Pasukan Angkatan Laut Indonesia lengkap dengan pedang kehormatan yang menatap ke arah laut penuh keyakinan dan kesungguhan dan siap untuk melawan gelombang dan pergi menentang badai, yang menunjukkan bahwa itu adalah aspirasi bangsa Indonesia.

Monumen yang dibangun oleh inisiatif Komandan Staf Angkatan Laut Indonesia saat itu, Laksamana TNI Muhamad Arifin dan dirancang oleh Nyoman Nuarta dapat berfungsi juga sebagai menara Lampu Pemandu (Mercusuar) untuk kapal berlayar di sekitarnya. Ada gong raksasa Kyai Tentrem dibawah monumen, yang memiliki diameter 6 meter dan berat lebih dari 2 ton.

Monumen Jalesveva Jayamahe diambil dari semboyan TNI AL yang berarti, "Di Laut Kita Jaya" memiliki ketinggian 60 meter. Bangunan ini terdiri dari bangunan beton berkubah empat lantai setinggi 30 meter yang dipakai sebagai tumpuan patung tembaga setinggi 30 meter. Pada bagian dinding bangunan terdapat diorama sejarah prajurit laut (TNI AL) sejak jaman revolusi fisik hingga tahun 90-an.

Awalnya bangunan ini berfungsi sebagai Museum TNI AL dan juga sebagai "Eksekutif Meeting Room". Patungnya ini menggambarkan Kolonel Angkatan Laut Marinir Indonesia dengan pakaian upacara (PDU 1). Tangan kanannya bertolak dan tangan kirinya memegang pedang komando. Mata sang kolonel menatap ke laut luas. Pada lantai dasar bangunan bundar, ada gong Kyai Tentrem.

Menurut mantan Kepala Staf TNI AL Laksamana Madya Arief Kushariadi, patung heroik ini sengaja diberi pangkat kolonel. "Karena kolonel adalah pemimpin heroik yang memasuki fase matang dan siap untuk memasuki posisi teras," katanya Mengapa melihat ke laut? "Karena masa depan kita di laut," ulangnya. Sisi Angkatan Laut, kata Arief, "Kami juga berharap monumen ini akan menjadi lokasi wisata bahari di Surabaya ".

Monumen ini dibangun sejak 1990 dan dibuka pada Desember 1996 yang bertepatan dengan hari TNI Republik Indonesia pada tanggal 5 Decembers 1996 oleh Presiden Soeharto, dengan biaya Rp. 27 miliar. Patung ini disebut sebagai yang tertinggi kedua di dunia setelah Patung Liberty, 85 meter, berada di mulut pelabuhan New York. Patung Kolonel ini memiliki kulit tembaga.

Desainernya, Nyoman Nuarta adalah pembuat patung terkenal dari Bandung yang juga membuat patung tembaga Garuda Wishnu Kencana di Jimbaran, Bali. Nyoman mencetak tubuh patung di bengkelnya di Bandung dalam bentuk potongan modul. Setelah itu selesai, dibawa ke Surabaya dan direkatkan satu sama lain. Untuk membuat patung itu, Nyoman Nuarta mendapatkan 3000 ton tembaga dari PLN, 60 ton dari Departemen Telekomunikasi, dan sejumlah tembaga bekas luruhan peluru.

Alasan dibangunnya Monjaya adalah karena ide, bagaimanapun kemajuan suatu bangsa masih harus melangkah berdasar pada sejarah. Artinya, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawan". Dari berbagai jenis pahlawan yang berjasa yang telah gugur di medan pertempuran, menegakkan dan mengisi kemerdekaan bangsa dan NKRI, termasuk di dalamnya para prajurit dari Angkatan Laut Indonesia. Ini adalah pengorbanan yang tak terhitung jumlahnya yang telah mereka berikan. Bahkan mereka memberikan jiwa mereka. Hanya sebagian kecil dari mereka yang kita kenal dan namanya telah diabadikan menjadi nama kapal perang Republik Indonesia.
Selain sebagai tanda penghargaan dan kenangan dari generasi yang masih hidup, juga diharapkan mampu memberikan motivasi untuk melanjutkan perjuangan mereka menuju tercapainya cita-cita Angkatan Laut yang besar, kuat dan profesional di negeri NKRI yang adil dan makmur.

Tanpa mengecilkan peristiwa bersejarah yang terjadi di Sibolga, Tegal, Pasuruan, Bali atau tidak peduli dalam peristiwa sejarah Indonesia yang terjadi di Ujung sebagai bagian dari wilayah kota Surabaya tentu saja tidak dapat dipisahkan dari sejarah Angkatan Laut Indonesia, yang berjuang dalam barisan peristiwa Kaigun SE 21/24 Butai, pada 3 Oktober 1945, apa yang ditandai dengan sumpah 'Bahariwan Penataran Angkatan Laut' (PAL) yang berbunyi : "Aku rela dan jujur ​​untuk mengorbankan tubuh dan harta benda dan jiwa raga untuk Negara dan Bangsa".



Dalam peristiwa selanjutnya dari Angkatan Laut Indonesia, Ujung memiliki peran sangat penting, yang merupakan dasar (Home Base) dari keberadaan kapal perang terbesar Angkatan Laut Indonesia sampai sekarang, sehingga bukanlah lelucon ketika beberapa orang awam menamakan Surabaya sebagai kota kota pelaut atau kota Angkatan Laut.

Karena konsekuensi kompetensinya maka Monumen Jalesveva Jayamahe dibangun di Ujung Surabaya. Selain itu, juga diharapkan pembentukan monumen ini dapat menambah kejayaan Ujung Surabaya yang berarti menambah kehormatan Surabaya sebagai kota pahlawan dan sebagai kota Indarmadi (Industri, Perdagangan, Maritim dan Pendidikan).

sumber

SEJARAH MASJID NASIONAL AL AKBAR SURABAYA


Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) didirikan diatas tanah seluas 11,2 hektar, memiliki luas bangunan 28.509 m2 dengan kapasitas 59 .000 jamaah, berlokasi di kawasan Pagesangan jalan Masjid Al Akbar Timur No. 1 Surabaya, tepatnya di tepi jalan tol Surabaya – Malang.

Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) diproyeksikan untuk mewujudkan konsep masjid dalam arti luas, sebagai Islamic Center dengan peran multidimensi dengan misi religius, cultural dan edukatif termasuk wisata religi, untuk membangun dunia Islam yang rahmatan al amien.



Secara lahiriyahnya, MAS akan menjadi Landmark kota Surabaya, dan secara simbolik memperkaya peta dunia Islam, yang tentunya mengangkat citra kota Surabaya di mancanegara.

MAS dibangun atas gagasan Walikota Surabaya saat itu, H. Soenarto Soemoprawiro (Alm) dengan peletakkan batu pertama oleh Wakil Presiden RI H. Try Sutrisno pada bulan Agustus 1995, sedangkan pembangunannya dimulai sejak September 1996. Pada 10 Nopember 2000 MAS diresmikan oleh Presiden RI, KH. Abdurrahman Wahid.

Tanah untuk membangun Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) disediakan oleh Pemda Surabaya (Pemkot Surabaya), dari tanah peruntukkan fasilitas umum ditambah lahan sawah penduduk yang telah dibebaskan hingga luasnya mencapai kurang lebih 11,2 ha yang lokasinya terletak di kawasan Pagesangan Surabaya Selatan, di tepi jalan tol Surabaya – Malang. Keberadaan masjid ini juga sangat khas sebagai gerbang kota Surabaya dari arah Bandara Internasional Juanda.

Dari desain arsitektur yang dikerjakan oleh Tim Institut Teknologi Surabaya (Tim ITS) dengan konsultan ahli yang telah berpengalaman banyak membangun masjid-masjid besar di Indonesia maupun luar negeri. Pelaksanaan mulai dilakukan dengan loading test untuk mengetahui kekuatan beban tanah, kemudian langkah selanjutnya adalah menentukan arah kiblat yang berita acaranya dihadiri dan disahkan oleh pemuka-pemuka agama dari Departemen Agama, Dewan Masjid dan lain-lain.

Untuk kelancaran pembangunan, berdasar rekomendasi dari Departemen Perhubungan dan Departemen Pekerjaan Umum membuka jalan tol menuju masjid, untuk mengangkat alat-alat berat yang tidak mungkin bisa melalui akses jalan pemukiman penduduk.

Mengingat posisi tanah labil dengan tingkat kekerasan yang minim, maka pembuatan pondasi dilakukan dengan system pondasi dalam atau pakubumi, dengan menancapkan tiang pancang. Sempat terjadi kekurangan stok tiang pancang sehingga harus dipasok dari Jawa Tengah. Tiang pancang yang diperlukan untuk berdirinya masjid ini sebanyak tidak kurang dari 2000 tiang pancang. Proses pemancangan tiang pondasi ini menghabiskan waktu kurang lebih tiga bulan.

Lantai dirancang dengan ketinggian 3 meter dari permukaan jalan sekitar lokasi, berarti diperlukan tanah pengurugan setinggi itu pula. Namun dalam pelaksanaan selanjutnya mengalami perubahan, ruang urugan dijadikan basement, lantai diatas basement (lantai 1) disangga dengan tiang-tiang (sistem flooting floor).

Pengerjaan lantai dibuat dengan sistem pengecoran ditempat dan beton precast, terdiri dari plat lantai empat persegi panjang dengan lebar 3 x 3 meter dan tebal 15 cm. Sampai dengan tahap penyelesaian lantai yang memakan waktu kurang lebih 3 bulan, lokasi pembangunan masjid juga pernah digunakan untuk sholat Idul Fitri.

Sedangkan pengerjaan kolom memakan waktu cukup lama, sekitar 3 bulan. Kolom berbentuk sentrifugal (bulat) dengan diameter 110 cm, 70 cm dan 60 cm sedangkan kolom-kolom basement didominasi diameter 40 cm. Karena kolom ini akan tetap tampak ketika bangunan sudah selesai, maka posisinya diperhitungkan dengan cermat dan estetikanya sangat diperhatikan.

Untuk dudukan struktur atap disiapkan, balok beton (ringbalk) dengan sistem vierendeel yang menghubungkan kolom-kolom struktur pada ketinggian 20 m dari atas lantai dasar (lantai 1). Ringbalk ini membentang 30 m tanpa kolom, sehingga bidang lantai tidak terpisah oleh sekat maupun kolom, dengan demikian dijamin bahwa jamaah tidak saling terpisah oleh sekat maupun kolom pada waktu sholat.



Rangka kubah dibuat dengan sistem space frame, menggunakan bahan besi baja dengan sistem chremona atau struktur segitiga yang disambung-sambung. Selanjutnya kubah dibentuk di atas rangka atap dengan bentangan utama berukuran 54 x 54 meter, tanpa ada tiang penyangga. Bobot kubah tersebut hampir mencapai 200 ton. Keunikan bentuk kubah ini ditunjang dengan bentuk kubah yang menyerupai setengah telur dengan 1,5 layer memiliki tinggi sekitar 27 meter. Kubah ini menumpu pada atap piramida terpancung dalam 2 layer setinggi kurang lebih 11 meter.



Penutup struktur rangka atap dan kubah terdiri dari tiga lapis yaitu Atap Kedap Air (AKA), ESP sebagai cover atap terluar, dan penutup plafon. AKA ini adalah dalam bentuk segmen-segmen yang menumpu pada konstruksi space frame yang ada dibawahnya. Sedangkan ESP adalah Enamel Sheet Panel merupakan plat baja yang dicoating atau diwarnai, kemudian dipanaskan hingga 800 derajat Celcius, selanjutnya plat dipotong-potong dengan ukuran tertentu dan berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan ukurannya yang pada akhirnya berfungsi sebagai cover penutup atap. ESP ini didesain khusus untuk atap Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dengan kemampuan tahan panas dan hujan serta tahan karat, diharapkan akan mampu berfungsi sampai 50 tahun lebih. Kemudian penutup rangka bawah yang berfungsi sebagai plafon ditutup dengan bahan kedap suara, sehingga akustik pada bangunan ini didesain dengan sangat memadai. Kesemuanya elemen penutup rangka atap tersebut telah teradopsi dari Masjid Raya Selangor di Syah Alam, Malaysia.

Masjid ini memiliki 45 pintu dengan daun pintu (bukaan) ganda yang berarti dibutuhkan 90 daun pintu dengan ukuran masing-masing : lebar 1,5 m dan tinggi 4,5 m. Pintu terbuat dari kayu jati yang didatangkan khusus dari Perhutani dan dibuat oleh para pengrajin dari Surabaya. Kusen terbuat dari rangka besi dilapisi kayu yang dihubungkan ke engsel maupun slot yang telah diselaraskan dengan struktur dan estetika masjid. Karena berat daun pintu ini lebih dari 250 kg, maka engsel didesain dan dibuat secara khusus.

Untuk memenuhi kenyamanan, estetika serta keserasian keseluruhan bangunan masjid, maka marmer dari Lampung dipilih untuk pelapis dinding dan lantai ruang dalam masjid, sehingga dukungan dari lantai terasa sekali ruangan menjadi sejuk dan kusuk.

Kaligrafi merupakan unsur penting dalam desain masjid ini, karena sentuhan kaligrafi inilah yang memberi sentuhan nuansa Islami. Bahan yang digunakan untuk kaligrafi tersebut terbuat dari kayu jati dengan finishing cat sistem ducco. Sedangkan perancangnya adalah seorang ahli kaligrafi nasional yaitu Bapak Faiz dari Bangil.

Mimbar dibuat dengan ketinggian 3 meter untuk mendukung kemantapan khotbah. Agar tercipta suasana khas, mimbar diberi sentuhan etnis dengan hiasan ornamen Madura yang digarap para pengrajin dari Madura.

Dalam rancangannya menara tadinya berjumlah 6 buah, namun karena pertimbangan-pertimbangan yang bersifat teknis maupun biaya, maka menara hanya dibuat satu. Untuk membangun menara masjid ini digunakan teknologi Slip Form dari Singapura yang memerlukan waktu sekitar 2 bulan dalam pengecorannya. Menara ini memiliki ketinggian 99 meter yang puncaknya dilengkapi dengan view tower pada ketinggian 68 meter yang dapat memuat sekitar 30 orang dan pencapainnya dengan menggunakan lift untuk melihat pemandangan kota Surabaya.

Plaza dibangun dengan konsep kesatuan antara estetika lingkungan dan fungsi plaza sebagai lapangan ibadah, untuk ibadah tertentu seperti sholat Ied dan lain-lain. Luas plaza kurang lebih 520 m2, dengan bahan lantai paving stone, yang didesain khusus untuk Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, motif desain dibuat sesuai dengan ornamen arsitektur masjid, garis motif dibuat sejajar dengan garis shof di halaman masjid.

Elemen arsitektur MAS juga didesain sedemikian rupa, untuk mencapai keindahan, kemewahan serta keanggunan. Antara lain elemen hiasan kaca patri (steined glass). Hiasan kaca patri yang digunakan masjid ini dibuat dengan sistem triple glazed unit. Yaitu pelapisan panel kaca patri atau panel bevel dengan kaca tempered yang menggunakan bahan dan mesin-mesin buatan Amerika. Triple glazed unit ini selain menghemat biaya, juga sangat baik untuk keperluan peredam suara bising.

sumber

WISATA MONUMEN KAPAL SELAM (MONKASEL) SURABAYA



Kapal selam yang dijadikan Monumen di Surabaya ini adalah KRI Pasopati 410. KRI Pasopati 410 merupakan kapal selam jenis SS tipe Whiskey Class buatan Rusia tahun 1952, dan mulai bergabung dengan TNI Angkatan Laut pada tahun 1962, ketika masa Operasi Trikora untuk merebut kembali Irian Barat dari Belanda. Kapal selam tipe Whiskey Class merupakan salah satu kapal selam terbaik di masanya, sehingga pada masa itu kekuatan TNI AL cukup disegani di mata dunia. KRI Pasopati memiliki panjang 76 meter dan lebar 6,3 meter, dengan bobot penuh 1300 ton, membuat kapal selam ini menjadi monumen kapal selam terbesar di Asia. Mesin penggerak utama adalah mesin diesel untuk bergerak di permukaan laut, dan motor listrik untuk bergerak dalam posisi menyelam. Jumlah awak yang bisa diangkut adalah 63 orang.

Walaupun berbentuk monumen, bagian dalam KRI Pasopati bisa dimasuki pengunjung yang ingin melihat-lihat. Pengunjung masuk dari bagian depan, dan keluar di bagian belakang kapal selam. Bagian kabin kapal selam terbagi menjadi 7 ruangan dan dipertahankan tetap seperti aslinya, sehingga sangat menarik untuk dilihat. Masing-masing ruangan dipisahkan oleh pintu bundar, di mana dalam kondisi bertempur pintu tersebut harus dalam keadaan tertutup. Ketika kami berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain di dalam kapal selam, rupanya agak sulit untuk melewati pintu tersebut, karena posisinya yang rendah dan diameter yang tidak terlalu besar. Di dalam kabin kita juga bisa melihat ruangan yang digunakan untuk tidur dan bekerja, termasuk WC yang digunakan oleh awak kapal. Saat ini di kabin kapal selam sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan, namun ketika kami datang ke sana sedang musim liburan, maka monumen ini penuh dikunjungi terutama oleh anak-anak, membuat pendingin ruangan seperti tidak berfungsi.



Salah satu hal menarik yang perlu dilihat adalah torpedo dan peluncurnya. KRI Pasopati dilengkapi dengan 6 peluncur torpedo, 4 di bagian depan dan 2 bagian belakang. Torpedo yang digunakan memiliki panjang 7 meter, dengan total jumlah yang bisa diangkut kapal ini 12 buah torpedo. Hal menari lain yang juga patut dilihat adalah periskop, atau alat yang digunakan untuk melihat kondisi di permukaan ketika kapal sedang menyelam. Panjang periskop di KRI Pasopati ini 9 meter, dan ketika saya mencoba mengintip di tempat melihat, rupanya periskop ini masih berfungsi. Yang terlihat tentu saja bukan kondisi laut, melainkan gedung pertokoan Surabaya Plaza yang terletak di sebelah Monkasel.

Di bagian belakang monumen terdapat Video Rama, yaitu ruangan tempat pemutaran film yang mengisahkan sejarah dan peran kapal selam di Indonesia, sejarah KRI Pasopati, keterlibatannya di pertempuran Laut Aru, serta bagaimana proses pembangunan dan pemindahan KRI Pasopati untuk menjadi monumen di tempat yang sekarang. Pemutaran film berlangsung setiap jam, dan di musim liburan tempat ini penuh sesak oleh pengunjung. Selain itu terdapat juga kafe, stan suvenir dan fasilitas rekreasi air di Sungai Kalimas.

Ide mendirikan Monkasel diawali keinginan untuk mengenang mereka yang berjuang mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia di laut, sekaligus sebagai warisan nilai sejarah yang mencerminkan Indonesia sebagai Negara Maritim. Konstruksi monumen dimulai pada bulan Juli 1995. Pada saat bersamaan, KRI Pasopati 410 “diiris” menjadi 16 bagian di PT PAL Indonesia, kemudian bagian per bagian dibawa ke lokasi monumen dan dirangkai kembali di atas pondasi monumen. Monkasel diresmikan oleh KSAL Laksamana Arief Kushariadi pada tanggal 27 Juni 1998, dan dibuka untuk umum pada tanggal 15 Juli 1998. Saat ini Monkasel telah menjadi salah satu obyek wisata favorit di Surabaya.

sumber