Showing posts with label Suku. Show all posts
Showing posts with label Suku. Show all posts
Tato Tertua di Dunia Ternyata Berasal dari Suku Mentawai

Tato Tertua di Dunia Ternyata Berasal dari Suku Mentawai

Seni rajah tubuh atau seni tato di dunia diduga berasal dari wilayah Indonesia, tepatnya dari tradisi suku Mentawai, Sumatera Barat. Inilah hal menarik lainnya dari Kepulauan Mentawai, yang selama ini juga termahsyur dengan pantai cantik dan ombak laut favorit para surfer dunia.


Menurut penelitian, suku Mentawai sudah menjalani tradisi merajah tubuh sejak awal kedatangan mereka di pantai barat Sumatera pada tahun 1500 SM – 500 SM. Sementara, bangsa Mesir, yang seringkali diduga sebagai pembuat tato tertua di dunia baru memulai tradisi tato pada tahun 1300 SM.

Tato, atau istilahnya dalam suku Mentawai yakni‘titi’ memiliki berbagai fungsi, salah satunya adalah sebagai simbol kesimbangan alam. Bagi suku Mentawai semua objek di alam termasuk hewan, tumbuhan, bahkan batu dipercaya memiliki jiwanya masing-masing. Maka objek-objek tersebut harus diabadikan di tubuh mereka. Selain itu tato juga menunjukkan identitas dan status sosial. Pemburu, misalnya, memiliki tato dengan ciri tersendiri yang berbeda dengan dukun, dan sebagainya. Namun ciri-ciri tersebut dapat dikreasikan sendiri sesuai keinginan sebagai bentuk seni.

Suku Mentawai menato tubuhnya sebanyak tiga tahap dalam hidupnya, yakni pada masa pubertas yakni usia 11-12 tahun, masa remaja akhir atau sekitar usia 18-19 tahun, dan masa dewasa. Pembuatan tato juga tidak asal-asalan. Diperlukan diskusi khusus antara para tetua dan kepala suku untuk menentukan hari dan bulan terbaik untuk menato serta penyelenggaraan upacara ritual.

Pembuatan tato pada Suku Mentawai menggunakan bahan-bahan tradisional, seperti kayu karai yang diruncingkan ujungnya serta pewarna yang terbuat dari campuran daun pisang dan arang tempurung kelapa. Sementara orang yang menato atau si tattoo artist disebut ‘Sipatiti’. Seorang sipatiti dibayar dengan seekor babi untuk jasa pembuatan tatonya.

Seni tato Mentawai memang diduga sebagai yang tertua di dunia, namun bukan berarti seluruh bentuk tato di dunia berasal dari suku Mentawai. Suku Dayak di Kalimantan dan suku Apache di Amerika juga sudah menjalani tradisi rajah tubuh sejak dahulu kala. Yang membedakan tato Mentawai dengan tato dari suku-suku lainnya adalah ciri khas garis lengkung memanjang yang selalu ada, baik di bagian dada, punggung, lengan, atau paha.

Sumber : http://tourismnews.co.id/category/art-culture/tato-tertua-diduga-berasal-dari-suku-mentawai
Suku Mentawai

Suku Mentawai

Di provinsi Sumatera Barat terdapat satu suku yang memiliki banyak kekhasan. Suku tersebut adalah suku Mentawai. Suku Mentawai terdapat di kepulauan Mentawai yang terdiri dari pulau-pulau yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Dalam beberapa pandangan tentang asal usul masyarakat Mentawai, ada yang mengatakan bahwa masyarakat Mentawai berada dalam garis orang polisenia. Menurut kepercayaan masyarakat Siberut, nenek moyang masyarakat Mentawai berasal dari satu suku/uma dari daerah Simatalu yang terletak di Pantai Barat Pulau Siberut yang kemudian menyebar ke seluruh pulau dan terpecah menjadi beberapa uma/suku.


Secara geografis, letak kepulauan Mentawai berhadapan dengan Samudera Hindia. Jarak kepulauan Mentawai dari Pantai Padang lebih kurang 100 kilometer. Secara turun temurun, suku Mentawai hidup sederhana di dalam sebuah Uma. Uma merupakan rumah yang terbuat dari kayu pohon. Arsitektur bangunan rumah Mentawai berbentuk panggung.


Masyarakat Mentawai banyak tinggal di kampung-kampung. Kampung yang terletak di pinggir sungai pedalaman meski ada yang berada di pinggir pantai. Tiap kampung terdiri dari tiga sampai lima wilayah yang disebut perumaan, yang berpusat pada satu rumah adat yang besar atau Uma. Suatu Uma merupakan bangunan yang besar dan megah. Panjang Uma mencapai hingga 25 meter dan lebarnya berkisar 10 meter. Kerangka Uma terbuat dari kayu bakau, lantainya dari batang nibung, dinding rumahnya dari kulit kayu, sedangkan atapnya dari daun sagu. Fungsi dari Uma sendiri adalah sebagai balai pertemuan umum untuk upacara dan pesta adat bagi anggota-anggotanya yang semuanya masih terikat hubungan kekerabatan menurut adat

Agama/kepercayaan masyarakat Mentawai adalah Arat Sabulungan. Arat berartiadat dan Sabulungan berarti bulu. Agama ini memiliki pandangan bahwa segala sesuatu yang ada, benda mati atau hidup memiliki roh yang terpisah dari jasad dan bebas berkeliaran di alam luas. Saat ini agama masyarakat Mentawai sudah bervariasi. Hal ini mengingat sudah banyak yang memeluk agama Islam atau Kristen. Dalam pemahaman masyarakat Mentawai bukan manusia saja yang memiliki jiwa. Hewan, tumbuh-tumbuhan, batu, air terjun sampai pelangi, dan juga kerangka suatu benda memiliki jiwa. Selain jiwa, ada berbagai macam ruh yang menempati seluruh alam semesta, seperti di laut, udara, dan hutan belantara.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Mentawai menerapkan prinsip kesederhanaan. Hal itu terlihat dari cara berpakaian tradisional masyarakat Mentawai. Para lelaki mengenakan Kabit yakni penutup bagian tubuh bawah yang hanya terbuat dari kulit kayu. Sementara bagian tubuh atas dibiarkan telanjang. Untuk para wanita, mereka menutup tubuh bagian bawah dengan memakai untaian pelepah daun pisang hingga berbentuk seperti rok. Sementara untuk tubuh bagian atas, mereka merajut daun rumbia hingga berbentuk seperti baju.

Dalam hukum adat masyarakat Mentawai terdapat pandangan mengenai hutan. Masyarakat Mentawai memiliki kepercayaan bahwa kawasan seperti hutan, sungai, gunung, perbukitan, hutan, laut, dan rawa memiliki penjaga yaitu mahluk halus isebut lakokaina. Mereka yakin lakokaina ini sangat berperan dalam mendatangkan, sekaligus menahan rezeki.

Dalam melakukan kegiatan beerburu, pembuatan sampan, merambah/membuka lahan untuk ladang atau membangun sebuah uma maka biasanya dilakukan secara bersama oleh seluruh anggota uma dan pembagian kerja dibagi atas jenis kelamin. Setiap keluarga dalam satu uma membawa makanan (ayam, sagu, dll) yang kemudian dikumpulkan dan dimakan bersama-sama oleh seluruh anggota uma setelah selesai melaksanakan kegiatan/upacara.

Masyarakat Mentawai bersifat patrinial dan kehidupan sosialnya dalam suku disebut "uma". Struktur sosial tradisional adalah kebersamaan, mereka tinggal di rumah besar yang disebut juga "uma" yang berada di tanah-tanah suku. Seluruh makanan, hasil hutan dan pekerjaan dibagi dalam satu uma. Kelompok-kelompok patrilinial ini terdiri dari keluarga-keluarga yang hidup di tempat-tempat yang sempit di sepanjang sungai-sungai besar. Walaupun telah terjadi hubungan perkawinan antara kelompok-kelompok uma yang tinggal di lembah sungai yang sama, akan tetapi kesatuan-kesatuan politik tidak pernah terbentuk karena peristiwa ini. Struktur sosial itu juga bersifat egalitarian, yaitu setiap anggota dewasa dalam uma mempunyai kedudukan yang sama kecuali "sikerei" (atau dukun) yang mempunyai hak lebih tinggi karena dapat menyembuhkan penyakit dan memimpin upacara keagamaan.

Masyarakat Mentawai memiliki dua mata pencaharian utama, yaitu berburu dan berladang. Dimana dalam berburu mereka menggunakan peralatan seperti busur dan panah, dimana alat-alat tersebut dibuat sendiri dari kayu-kayu yang ada di hutan dengan cara-cara yang tradisional dan dilumuri dengan racun buatan mereka sendiri. Dalam berladang, khususnya dalam berladang sagu, suku Mentawai juga menggunakan peralatan-peralatan tertentu. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, dalam menanam sagu harus disertai dengan tahapan-tahapan tertentu. Seorang warga sedang berburu dengan busur dan panah, sambil mencoba mendengarkan suara buruan. Alat-alat serta sistem teknologi mereka pun dalam berladang dapat dikatakan masih tradisional seperti: tegle, suki, lading, kampak.

KAMPUNG NAGA - TASIKMALAYA

Di beberapa wilayah di Indonesia, ada beberapa tempat yang konon angker. Dan salah satunya adalah Kampung Naga yang berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kampung Naga adalah perkampungan yang dihuni oleh sekolompok masyarakat yang berpegang teguh mengenai adat istiadat peninggalan leluhurnya.


http://anisavitri.files.wordpress.com/2009/05/kampungnaga.jpg

Hal ini bisa terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar. Lingkungan masyarakat Kampung Naga ini hidup dalam suatu tatanan yang kondisinya dalam suasana kesahajaan, kesederhanaan dan didalam lingkungan kearifan tradisional yang lekat dan turun temurun dari leluhurnya.

Kampung Naga ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat dikarenakan di dalam hutan itu terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Menurut data-data yang diperoleh dari Desa Neglasari, relief tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur.

http://anisavitri.files.wordpress.com/2009/05/kampungnaga.jpg

Kampung Naga ini memiliki luas tanah satu hektar setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan bagi penduduk, pekarangan atau kebun, kolam tambak, dan selebihnya dipergunakan untuk pertanian sawah yang dipanen setiap tahunnya 2 kali panen.

Kepercayaan di kampung naga adalah bahwa segala sesuatunya yang bukan dari ajaran para leluhur dianggap sesuatu yang tabu. Dengan menjalankan adat istiadat warisan dari para leluhur itu berarti menghormati para leluhur. Kepercayaan seperti ini apabila dilanggar oleh penduduk kampunga naga diyakini akan menimbulkan malapetaka dimana pelanggaran yang dilakukan sama artinya dengan penduduk tidak menghormati karuhun, tidak menghormati adat istiadat.

Penduduk kampong Naga sangat kental dengan kepercayaan pada mahluk halus (jurig cai), yakni penunggu air atau sungai, khususnya sungai yang dalam. Lalu percaya dengan adanya ririwa, mahluk halus yang suka menganggu manusia. Kemudian ada yang disebut kuntil anak, hantu perempuan yang berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia, hantu ini biasanya suka mengganggu wanita yang sedang hamil atau akan melahirkan.

Penduduk kampung Naga percaya tempat tinggal para hantu disebut dengan tempat angker atau sanget, dan masjid adalah tempat yang dianggap suci bagi penduduk kampung naga.

Adanya pantangan,pamali atau hal-hal yang dianggap tabu bagi masyarakat kampung naga masih dipercaya dan diyakini dengan taat, terutama dalam hal yang menyangkut kehidupan atau aktivitas kehidupan sehari-hari yang walaupun bukan merupakan ketentuan yang tertulis tetap mereka junjung tinggi dan dipatuhi oleh setiap orang di kampong naga tersebut.

Contohnya adalah tata cara dalam membangun dan membebtuk rumah, letaknya, arah dari rumah tersebut, pakaian yang digunakan dalam upacara, kesenian yang ada di masyarakat kampong naga, dan masih banyak hal lainnya.

http://fc01.deviantart.com/fs39/f/2008/357/0/1/Indonesian_Village_Woman_by_putrabangsa.jpg

Berikut adalah sistem kepercayaan penduduk kampung naga terhadap ruang diwujudkan pada kepercayaan bahwa ruang atau tempat-tempat yang memiliki batas-batas tertentu dikuasai oleh suatu kekuatan tertentu pula. Batas disini bisa ditemukan di kategori yang berbeda yakni, di sungai, pekarangan rumah bagian depan dengan jalan, pesawahan dengan selokan, tempat air masuk yang sering disebut dengan huluwotan, tempat lereng bukit, adalah tempat-tempat yang didiami oleh kekuatan-kekuatan tertentu.

Daerah yang memiliki batas-batas tertentu tersebut yang didiami mahluk halus tersebut dianggap angker, oleh sebab itu penduduk kampong naga suka menyimpan “sasajen” atau lebih dikenal dengan sesaji.

http://farm4.static.flickr.com/3082/3149556187_ce0cef4a92.jpg

Selain terhadap ruang, mayarakat kampong jawa memiliki kepercayaan terhadap waktu atau disebut dengan palintangan. Adanya waktu atau bulan yang dianggap buruk, merupakan suatu pantangan atau hal yang tabu untuk melaksanakan suatu rangkaian upacara atau ritual, atau pekerjaan-pekerjaan yang amat penting.

Waktu yang dianggap tabu disini disebut dengan larangan bulan, yang jatuhnya pada bulan sapar dan bulan ramadhan.

Sumber:http://terkonyol.blogspot.com/2012/04/misteri-kampung-naga-di-tasikmalaya.html?m=1 
SUKU ARFAK - PAPUA

SUKU ARFAK - PAPUA


Suku Arfak adalah Masyarakat Pegunungan Arfak yang tinggal di sekitar kota Manokwari, Provinsi Papua Barat. Suku Arfak terdiri dari 4 sub suku antara lain:
  1. Suku Hatam.
  2. Suku Moilei.
  3. Suku Meihag.
  4. Suku Sohug.

Setiap suku ada Kepala Sukunya, dalam satu suku terdapat beraneka ragam marga, misalnya Suku Moilei, ada marga Sayori, Ullo, Ayok, Indow, Wonggor dan masih banyak marga lainnya. 5 suku 5 Bahasa artinya bahwa setiap suku terdapat 1 bahasa dan budaya yang berbeda-beda.

Rumah Kaki Seribu- Suku Arfak

Masyarakat Arfak adalah komunitas asli terbesar di kabupaten Manokwari, sebagian besar berdiam di bagian tengah kepala burung pulau papua. Suku Besar Arfak terdiri dari beberapa sub suku yaitu, Suogb, Hatam dan Meyah yang memiliki adat dan budaya yang sama namun berbeda bahasa. Uniknya adalah walaupun berbeda bahasa, masyarakat sub suku dapat saling mengerti dan berkomunikasi langsung.

Kampung-kampung orang Arfak terletak di sekitar Kawasan Cagar Alam Pegunungan Arfak. Luas Cagar Alam Pegunungan Arfak mencapai 68.325 Ha. Dalam kawasan ini dapat dijumpai 333 Jenis Burung, 4 jenis diantaranya adalah endemik Pegunungan Arfak, 110 jenis mamalia dan juga merupakan pusat keanekaragaman kupu-kupu sayap burung Ornithopera Sp.

Secara tradisional orang atau suku Arfak tinggal di rumah tertutup yang hanya memiliki dua pintu, depan dan belakang tanpa jendela. Bentuknya unik, dibangun dengan konstruksi rumah panggung yang seluruhnya terbuat dari bahan kayu dan rumput ilalang sebagai atap. Mod Aki Aksa atau Igkojei adalah nama asli rumah tradisional suku besar Arfak; tiang penyangga ini begitu banyak sehingga orang awam menyebutnya Rumah Kaki Seribu. Saat ini populasinya semakin berkurang dan hanya bisa ditemui di kampung-kampung, pinggiran distrik pedalaman di bagian tengah Pegunungan Arfak.

Mengenal Tarian Tumbuk Tanah suku Arfak 

Dalam Kebudayaan Papua Buah Merah merupakan sebuah Simbol tumbuhan yang sangat dikenal baik oleh hampir semua seuku-suku yang ada di Tanah Papua, salah satunya adalah Orang Arfak atau suku Arfak yang tinggal di bagian Wilayah Manokwari. Orang Arfak sangat dikenal sejak dulu sebagai perantara dalam ekspansi belanda dan portugis dalam bekomunikasi dengan dengan suku-suku lain di tanah Papua. berdasarkan sejarah di masa lalu orang Arfak dikenal sangat lihai dalam berburu dan mengenal berbagai macam tumbuhan untuk magis dan pengobatan tradisional ataupun sangat sulit dijumpai karena wilayah geografis daerah pengunungan dan aliran sungai sebagai karateristik yang sulit untuk di pelajari oleh Belanda dan Portugis pada masa itu. berikut ini salah satu tarian buah merah yang dimainkan oleh para pemuda Arfak dengan kemampuan koreografi yang unik dan sangat natural serta memiliki nuansa tradsional yang kuat dan kental. dengan pementasan ini kiranya menggugah kita untuk lebih yakin lagi bahwa memang Papua punya eksotika tersendiri yang tak kalah dengan kebudayaan-kebudayaan lain didunia saat ini.
SUKU ARU - MALUKU

SUKU ARU - MALUKU


Membicarakan suku-suku di Indonesia sudah seperti mengeringkan air laut menggunakan cawan, tidak ada habis-habisnya. Seperti halnya air di lautan, Indonesia pun terdiri dari puluhan bahkan ratusan suku yang tersebar di kepulauan Indonesia. Setiap dari mereka memiliki ciri dan keunikan maupun tradisi tersendiri, dari keunikan dan keberagaman inilah Indonesia menjadi begitu kaya akan bahasa daerah dan kebudayaan, tidak heran jika Indonesia terkenal dimata dunia karena ragam kultur dan budayanya.

Salah satu suku di Indonesia yang tidak kalah menarik untuk dibahas adalah suku Aru yang mendiami kepulauan Aru di Maluku. Sejarah panjang orang aru dimulai dari Pulau Eno-Karang, dimana orang aru mulai tersebar keseluruh kawasan kepulauna Aru.  Secra social dan budaya Suku Aru termasuk rumpun Melanesia pasific dan terdiri daari 16 suku asli orang Aru dan berbagai suku lainnya dari maluku, jawa, dan tionghoa. Oleh karena itu orang suku aru tidak berbeda jauh dengan orang-orang yang mendiami kepulauan seperti jawa, sumatra, kalimantan dan kepulauan lainnya yang umunnya juga merupakan rumpun Melanesia pasific. Orang Aru sendiri memiliki 14 bahasa lokal sebagai alat komunikasi mereka. Ragam bahasa lokal tersebut diantaranya, Barakai, Batuley, Doubel Language, Karey, Koba, Kompane, Lola, Larong, Manombai, Mariri Language, East Tarangan, West Tarangan, dan Ujir.

Secara geomorphology dan ecology letak kepulauan Aru sangat menguntungkan, kepulauan Aru terletak di lempeng sahul berdampingan dengan pulau Papua dan benua Australia, terdiri dari 5 pulau besar meliputi, pulau Kola, Pulau Wokam, pulau Kobror, pulau Maekor dan pulau Trangan. Serat dikelilingi 182 pulau kecil dan sangat kecil, dengan total luas 8.563 km².

Selain itu, keragamaman suku dan bahasa Aru asli searta kekayaan Sumber Daya Alam telah membuat kepulauan Aru begitu istimewa dibandingkan kepulauan yang ada di Maluku lainnya. Tercatat pada tahun 1600-an  bangsa Tionghoa menginjakan kaki di kepulauan Aru untuk berniaga.  kemudian bergabung dengan orang Aru asli dan membentuk komunitas masyarakat Aru modern, diketahui terjadi perpaduan yang baik dalam tatanan kehidupan sosial budaya, agama, ekonomi, dan pendidikan antara orang Aru asli dengan masyarakat pendatang. Selain itu kekayaan sumber daya alam di kepulauan Aru juga mengundang negara-negara lain untuk menguasainya, terbukti bangsa Belanda satang ke kepulauan Aru pada tahun 1623, disusul bangsa Inggis pada tahun 1857. Diketahui, Alfred R. Wallace seorang penjelajah dan peneliti berkebangsaan Inggris juga singgah di Dobo, yang pada akhirnya mendapatkan “tanah yang dijanjikan” di kepulauan Aru, dengan tulisan yang berjudul “The Malay Archipelago”, yang diterbitkan Oxford Universitas, tahun 1986.

Dan pada tahun 1968 pemerintah Indonesia mulai memberi perhatian lewat sentralisasi pembangunan pada era orde baru hingga tahun 1998, tercatat mulai berakhirnya era orde baru perbaikan dan pembangunan kepulauan Aru tetap dilanjutkan pada era revormasi tahun 1998 hingga saat ini. Dan pada tahun 2003 mulai dengan pembentukan kabupaten kepulauan Aru, sebagai wujud otonomi daerah dan disentralisasi daerah. Maka dengan demikian kepulauan Aru dapat mengembangkan Sumber Daya Alam.

Meskipun sejarah mencatat kepulauan Aru begitu mengesankan, sangat disadari bahwa perpaduan yang terjadi antara orang Aru asli dan para pendatang yang memang menetap di kepulauan Aru, telah menghadirkan kesalahan-kesalahan kompleks yang berdampak pada tertinggalnya Orang Aru, orang-arang Aru hanya terkesan berjalan di tempat tanpa mengalami perubahan yang signifikan. Namun demikian juga harus kita akui bahwa perpaduan ini juga membawa dampak positif bagi kebaikan bersama, misalnya saja perkembangan agama, pendidikan, serta budaya telah terjadi perpaduan budaya dengan adanya perkawinan antara orang Aru dan pendatang misalnya.

SUKU BUTON - SULAWESI


Suku Buton adalah suatu suku yang berada di Sulawesi Tenggara. Suku Buton mendiami beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara diantaranya kota Baubau, kabupaten Buton, kabupaten Buton Utara, kabupaten Wakatobi, kabupaten Bombana dan kabupaten Muna.

Khusus untuk orang Buton yang berdiam di kabupaten Muna, saat ini lebih suka menyebut diri mereka sebagai orang Muna dari pada sebutan orang Buton yang selama ini disandang mereka.

Suku Buton adalah suku yang menyukai kehidupan laut. Sejak beberapa abad yang lalu orang Buton juga melanglangbuana di laut menjelajah ke berbagai daerah. Mereka menggunaan perahu mulai dari yang berukuran kecil yang bermuatan 5 orang hingga yang berukuran besar yang dapat memuat barang sampai seberat 150 ton.

Pada masa lalu orang Buton adalah orang-orang yang mendiami wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Daerah kekuasaan Kesultanan Buton sejak tahun 1945 telah bergabung dengan Indonesia dan menjadi beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara diantaranya kota Baubau, kabupaten Buton, kabupaten Buton Utara, kabupaten Wakatobi, kabupaten Bombana dan kabupaten Muna.

Orang Buton memiliki sejarah masa lalu dengan beberapa peninggalannya yang terdapat di wilayah Kesultanan Buton, yaitu:
  1. Benteng Keraton Buton, yang merupakan benteng terbesar di dunia
  2. Istana Malige, yang merupakan rumah adat tradisional Buton yang berdiri kokoh setinggi empat tingkat tanpa menggunakan sebatang paku pun
  3. mata uang Kesultanan Buton, yang bernama Kampua dan banyak lagi.

Masyarakat suku Buton sebagian besar hidup pada bidang pertanian. Selain menjadi pelaut dan nelayan, kegiatan pertanian menjadi kegiatan utama mereka saat ini. Mereka menanam padi ladang, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kapas, kelapa, sirih, nanas, pisang dan lain-lain termasuk beberapa jenis sayuran. 

Sumber : http://protomalayans.blogspot.com

7 TRADISI YANG ADA DI SUKU MANDAR


1. KALINDAQDAQ

Dalam masyarakat mandar terdapat tradisi yang sangat unik. Sejak dahulu kala, menelisik keunikan tradisi mandar, salah satunya tercermin pada kegemaran penduduknya yang bila berinteraksi dengan sesama, senang menggunakan perumpamaan ketika hendak menyampaikan keinginannya dan bahkan sering juga di lantunkan dalam acara kegiatan mappatammaq/to messawe. Yang dimana berupa sindiran – sindiran yang bisa membuat para setiap to messawe tersipu malu dengan mendengar lantunan kalindaqdaq. Kalindaqdaq ini terkadang bernuansa sebuah puisi, rayuan kepada wanita, dan bahkan terkadang juga berisikan motivasi atau semangat kepada pejuang ketika dalam masa masa perjuangan di jaman perebutan kekuasaan atau wilayah kerajaan  para raja – raja di mandar.

2. SAYYANG PATTU’DU

Ia berupa seekor kuda yang menari turut sebuah irama yang di perdengarkan dalam acara, seperti acara Khataman Qur’an(mappatammaq), acara pernikahan (tokaweng),dll. Sayyang pattu’du (kuda menari), begitulah masyarakat suku mandar menyebut acara yang diadakan dalam rangka untuk mensyukuri anak – anak yang khatam (tamat) Al – Qur’an. Bagi warga suku mandar, tamatnya anak –anak mereka membaca 30 jus Al – Qur’an merupakan sesuatu yang sangat istimewa, sehingga perlu disyukuri secara khusus dengan mengadakan pesta adat sayyang pattu’du. Pesta ini diadakan sekali setahun, bertepatan dengan bulan Maulid/Rabiul awwal ( kalender hijriyah).pesta tersebut menampilkan atraksi kuda berhias yang menari sembari ditunggangi anak – anak yang mengikuti acara tersebut. Bagi masyarakat mandar, khatam Al – qur’an dan acara adat sayyang pattu’du memiliki pertalian erat antara satu dengan yang lainnya. Acara ini tetap mereka lestarikan dengan baik, bahkan masyarakat suku mandar yang berdiam di luar sulawesi barat dengan sukarela akan kembali ke kampung halamannya demi mengikuti acara tersebut.  

3. SOKKOL LEMEAJU

Sokkol lameaju merupakan sebuah makanan khas masyarakat suku mandar. Sokkol lameaju ini biasanya dibuat ketika masyarakat mandar lagi mengadakan acara keluarga,bahkan juga dalam keseharian ketika lagi dalam kesulitan mendapatkan beras. Bahan yang digunakan dalam membuat sokkol lameaju tersebut yaitu: lameaju/ubi.kacang ijo,kelapa. Dan cara pembuatannya sangat simpel.ubinya diparut kemudian di kukus bersama dengan kacang ijonya dan diberikan kelapa parut sedikit kemudian di kasi sedikit garam biar terasa nikmat rasa asinnya. Sokkol lameaju ini sangat bermanfaat kepada orang yang mempunyai penyakit gula dan juga sebagai pengganti beras.

4. PERAHU SANDEQ

Suku Mandar memiliki sebuah model perahu khas yang menjadi ciri mereka sendiri. Namanya adalah perahu Sandeq. Biasanya mereka menggunakannya dalam kegiatan sebagai nelayan. Dan saat ini Sandeq banyak digunakan untuk kegiatan balapan dalam event – event tertentu saja, seperti dalam perayaan 17 agustus hari kemerdekaan kita. Perahu sandeq ini sangat disukai banyak kalangan dan bahkan  banyak menarik simpati para wisatawan asing. Karena perahu ini sangat trdisional dan bahkan bisa mengarungi benua, dan juga perahu sandeq ini tidak menggunakan mesin melainkan hanya menggunakan tenaga angin saja. Sungguh luar biasa. Inilah yang membuat para wisatawan asing tertarik melihat perahu sandek ketika perayaan hari kemerdekaan kita karena keunikannya dalam menaklukkan lautan yang hanya menggunakan tenaga angin saja.

5. LOKA ANJOROI

Loka anjoroi juga merupakan makanan khas suku mandar. Yang dimana makanan tersebut merupakan bisa menjadi pengganti beras ketika masyaraakat dalam masa – masa susahnya mendapatkan beras atau dengan kata lain gagal panen. Loka anjoroi terbuat dari pisang mentah yang di kukus lalu di campur dengan santan kelapa. 

6. PARRAWANA/REBANA

Dalam masyarakat Mandar banyak sekali tradisi – tradisi yang sangat unik. Salah satunya tercermin pada kegemaran penduduk masyarakat mandar adalah marrawana atau main rebana. Didalam mempermainkan alat musik tersebut biasanya di mainkan pada saat – saat  ada kegiatan pesta perkawinan dan bahkan yang paling populer sekarang ini yaitu adalah di acara mappatammaq/tomissawe. Dimana rawana tersebut dimainkan dengan atraksi kuda berhias  yang menari ketika mendengar lantunan suara rawana/rebana tersebut. Inilah keunikan masyarakat kita yang dimana bisa mebuat kuda menari dengan hanya mendengar suara rawana yang telah di mainkan oleh mansyarakat suku mandar

7. JEPA

Jepa merupakan makanan khas mandar yang menjadi pengganti beras ketika masyarakat suku mandar mengalami gagal panen. Jepa juga sangat paling di cari ketika ada seseorang mengalami penyakit gula. Jepa sangat bermanfaat bagi kalangan suku mandar terutama kepada para nelayan mandar yang biasa pergi melaut sampai berbulan – bulan lamanya. Karena jepa bisa bertahan sampai  berbulan bulan,sedangkan beras terkadang busuk ketika sudah berbulan – bulan di simpan. sehingga para nelayan mandar sangat mengutamakan jepa ketimbang membawa beras. Jepa ini terbuat dari ubi kayu yang di parut lalu d peras agar airnya biasa keluar semua. Lalu kemudian di olah menjadi makanan dengan dimasak di atas Panjepangan. Panjepangan ini Semacam tanah liat yang di buat khusus menyerupai piring.  

Sumber : http://dzulmarz.blogspot.com/2012/07/7-tujuh-tradisi-yang-ada-di-suku-mandar.html
7 ( TUJUH) TRADISI YANG ADA DI SUKU MANDAR (POLEWALI MANDAR) Oleh : IBRAHIM

7 SISTEM KEBUDAYAAN SUKU MANDAR

7 SISTEM KEBUDAYAAN SUKU MANDAR


Suku Mandar adalah salah satu suku yang menetap di Pulau Sulawesi bagian barat dan selatan . Suku ini menetap di wilayah Kabupaten  Polewali, Mandar dan Majene.

1. Sistem Peralatan dan Perlengkapan Hidup :
  • Perahu layar penisi
  • Sandeq (Perahu Khas Suku Mandar)
  • Rumah adat boyang

2. Sistem Mata Pencaharian

Mereka ini tinggal di kota-kota terutama di Makassar.Adapun mereka yang tinggal di desa-desa di daerah pantai, mencari ikan merupakan suatu mata pencarian hidup yang amat penting. Dalam hal ini orang Mandar menangkap ikan dengan perahu-perahu layar sampai jauh di laut. Orang Mandar  terkenal sebagai suku-bangsa pelaut di Indonesia yang telah mengembangkan suatu kebudayaan maritim sejak beberapa abad lamanya. Perahu-perahu layar mereka telah mengarungi perairan Nusantara dan lebih jauh dari itu telah berlayar sampai ke Srilangka dan Filipina untuk berdagang.Bakat berlayar yang rupa-rupanya telah ada pada orang Mandar,  akibat kebudayaan maritim dari abad-abad yang telah lampau itu. Sebelum Perang Dunia ke-II, daerah Sulawesi Selatan merupakan daerah surplus bahan makanan, yang mengekspor beras dan jagung ke tempat-tempat lain di Indonesia. Adapun kerajinan rumah-tangga yang khas dari Sulawesi Selatan adalah tenunan sarung sutera dari Mandar.

3. Sistem kemasyarakatan

Masyarakat Mandar mengenal pelapisan sosial. Sebagai masyarakat yang pernah berbentuk kerajaan, mereka mengenal tiga lapisan sosial, yakni lapisan atas yang terdiri atas golongan bangsawan (Todiang Laiyana), golongan orang kebanyakan (Tau Maradika), dan lapisan budak (Batua). Golongan bangsawan memiliki gelar kebangsawanan yaitu Daeng bagi "bangsawan raja" dan Puang bagi "bangsawan adat".

Sistem kekerabatan orang Mandar ditandai oleh beberapa periode, antara lain : periode Tomakala, ketika pemerintahan belum teratur dan hukum belum ada; periode transisi (Pappuangang), ketika hubungan sosial dalam masyrakat mulai menampakkan polanya: periode penuh tata cara, aturan, nilai yaitu periode Arajang.

Pada jaman ini raja tidak lagi berkuasa secara turun temurun akan tetapi dipilih oleh lembaga adat (hadat). Dalam tradisi Mandar, destar yang miring ke kiri bermakna isyrat bahwa raja harus mengoreksi diri dan kebijaksanaannya. Menurut pandangan orang Mandar, raja dianggap buruk (sikap/perilaku maupun kepemimpinannya) bila raja ditinggalkan rakyat.

4. Bahasa

Bahasa Mandar, Bahasa Bugis dan Bahasa Indonesia.
Bahasa yang dipakai orang Mandar adalah bahasa Mandar dengan 5 dialek, yaitu : Balanipa, Majene, Pamboang, Koneq-koneqe dan Awok Sumakengu

5. Kesenian
  1. Sandeq (Perahu Khas Suku Mandar)
  2. kerajinan rumah-tangga yang khas dari Sulawesi Selatan adalah tenunan sarung sutera dari Mandar.
  3. Kuda Pattuddu" (Kuda Menari) Budaya Suku Mandar. Seekor kuda akan di hias sedemikian rupa layaknya kuda tunggangan seorang raja. Sementara untuk penunggangnya adalah warga suku Mandar yang sudah tamat dalam membaca Alquran, dihiasi memakai baju adat (baju 'bodo') lengkap dengan aksesorisnya serta dipayungi payung kehormatan kerajaan yang disebut 'Lallang Totamma'.
  4. Upacara adat suku Mandar di Kecamatan Pulau Laut Selatan, Kabupaten Kota Baru, yaitu "mappando'esasi" (bermandikan air laut).

6. Sistem pengetahuan

Asal-usul kesatuan Lita atau Tana Mandar,di jelaskan bahwa Pitu Ulunna Salu (Tujuh Hulu Sungai) dan Pitu Ba, Bana Binanga (Tujuh Muara Sungai), adalah Negara Wilayah (Kesatuan) Mandar. Orang -orang dari wilayah permukiman itu, merasa bersaudara semuanya. Orang Mandar percaya bahwa mereka berasal dari satu nenek moyang (Leluhur), yaitu Ulu Sa’ dan yang bernama  Tokombong di Wura, (Laki-laki) dan Towisse di Tallang (Perempuan). Mereka itu di sebut juga To-Manurung di Langi.

Suku Mandar selama ini di kenal  sangat kuat dengan budayanya.Mereka menjunjung tinggi  tradisi, bahasa dan adat istiadatnya. Filosofi hidup mereka berbeda dengan suku Bugis, Makassar, Toraja dan suku lainnya yang berdekatan dengan lingkungan kehidupan mereka di Sulawesi. Suku Mandar di kenal teguh dengan prinsip hidupnya.Pada abad ke-20 karena banyak gerakan-gerakan pemurnian ajaran islam seperti Muhammadiyah, maka ada kecondongan untuk menganggap banyak bagian-bagian dari panngaderreng itu sebagai syirik, tindakan yang Taik sesuai dengan ajaran Islam, dan karena itu sebaiknya ditinggalkan. Demikian Islam di Sulawesi Selatan telah juga mengalami proses pemurnian.

7. Sistem religi

Sekitar 90% dari Suku Mandar adalah pemeluk agama Islam, sedangkan hanya 10% memeluk agama Kristen Protestan atau Katolik. Umat Kristen atau Katolik umumnya terdiri dari pendatang-pendatang orang Maluku, Minahasa, dan lain-lain atau dari orang Toraja.
SUKU MANDAR - SULAWESI

SUKU MANDAR - SULAWESI


Manusia Mandar adalah salah satu suku yang menetap di Pulau Sulawesi bagian barat. Suku ini menetap di wilayah Kabupaten  Polewali, Mandar dan Majene.

Asal-usul kesatuan Lita atau Tana Mandar,di jelaskan bahwa Pitu Ulunna Salu (Tujuh Hulu Sungai) dan Pitu Ba, Bana Binanga (Tujuh Muara Sungai), adalah Negara Wilayah (Kesatuan) Mandar. Orang -orang dari wilayah permukiman itu, merasa bersaudara semuanya. Orang Mandar percaya bahwa mereka berasal dari satu nenek moyang (Leluhur), yaitu Ulu Sa’ dan yang bernama  Tokombong di Wura, (Laki-laki) dan Towisse di Tallang (Perempuan). Mereka itu di sebut juga To-Manurung di Langi.

Suku Mandar selama ini di kenal  sangat kuat dengan budayanya.Mereka menjunjung tinggi  tradisi, bahasa dan adat istiadatnya. Filosofi hidup mereka berbeda dengan suku Bugis, Makassar, Toraja dan suku lainnya yang berdekatan dengan lingkungan kehidupan mereka di Sulawesi. Suku Mandar di kenal teguh dengan prinsip hidupnya.Pada abad ke-20 karena banyak gerakan-gerakan pemurnian ajaran islam seperti Muhammadiyah, maka ada kecondongan untuk menganggap banyak bagian-bagian dari panngaderreng itu sebagai syirik, tindakan yang Taik sesuai dengan ajaran Islam, dan karena itu sebaiknya ditinggalkan. Demikian Islam di Sulawesi Selatan telah juga mengalami proses pemurnian.

Sekitar 90% dari Suku Mandar adalah pemeluk agama Islam, sedangkan hanya 10% memeluk agama Kristen Protestan atau Katolik. Umat Kristen atau Katolik umumnya terdiri dari pendatang-pendatang orang Maluku, Minahasa, dan lain-lain atau dari orang Toraja. Mereka ini tinggal di kota-kota terutama di Makassar.Adapun mereka yang tinggal di desa-desa di daerah pantai, mencari ikan merupakan suatu mata pencarian hidup yang amat penting. Dalam hal ini orang Mandar menangkap ikan dengan perahu-perahu layar sampai jauh di laut. Orang Mandar  terkenal sebagai suku-bangsa pelaut di Indonesia yang telah mengembangkan suatu kebudayaan maritim sejak beberapa abad lamanya. Perahu-perahu layar mereka telah mengarungi perairan Nusantara dan lebih jauh dari itu telah berlayar sampai ke Srilangka dan Filipina untuk berdagang.Bakat berlayar yang rupa-rupanya telah ada pada orang Mandar,  akibat kebudayaan maritim dari abad-abad yang telah lampau itu. Sebelum Perang Dunia ke-II, daerah Sulawesi Selatan merupakan daerah surplus bahan makanan, yang mengekspor beras dan jagung ke tempat-tempat lain di Indonesia. Adapun kerajinan rumah-tangga yang khas dari Sulawesi Selatan adalah tenunan sarung sutera dari Mandar.

Sumber : http://www.arytasman.com/
TARI KATRILI DARI MINAHASA

TARI KATRILI DARI MINAHASA

Menurut legenda rakyat Minahasa, tari katrili adalah salah satu tari yang dibawa oleh Bangsa Spanyol pada waktu mereka datang dengan maksud untuk membeli hasil bumi yang ada di Tanah Minahasa. Karena mendapatkan hasil yang banyak, mereka menari-nari tarian katrili.

Donny D - Katrili #2

Donny D - Katrili


Lama-kelamaan mereka mengundang seluruh rakyat Minahasa yang akan menjual hasil bumi mereka didalam menari bersama-sama sambil mengikuti irama musik dan aba-aba. Ternyata tarian ini boleh juga dibawakan pada waktu acara pesta perkawinan di tanah Minahasa. 

Sekembalinya Bangsa Spanyol kenegaranya dengan membawa hasil bumi yang dibeli di Minahasa, maka tarian ini sudah mulai digemari Rakyat Minahasa pada umumnya. Tari katrili termasuk tari modern yang sifatnya kerakyatan.
SEJARAH PANJANG MUMMI TANAH PAPUA

SEJARAH PANJANG MUMMI TANAH PAPUA

Kebanyakan orang di dunia mengidentikkan Mumi dengan Mesir karena sejarah Mumi para Firaun di Mesir. Namun demikian, sejarah panjang mumi ternyata ada juga dalam hidup orang Papua.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada akhir tahun 1980-an sampai awal tahun 1990-an, telah ditemukan tujuh mumi di Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Yahukimo. Ketujuh Mumi tersebut berada di:
  1. Kecamatan Kurulu, utara Kota Wamena sebanyak sebanyak 3 mumi;
  2. Kecamatan Assologaima, barat Kota Wamena sebanyak 3 mumi;
  3. serta satu mumi di Kecamatan Kurima Kab. Yahokimo adalah satu-satunya mumi perempuan.

Dari ketujuh mumi tersebut, hanya mumi Werupak Elosak di Desa Aikima dan mumi Wimontok Mabel di Desa Yiwika – Kecamatan Kurulu – Kabupaten Jayawijaya yang sudah dikenal para wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang mengunjungi kabupaten Jayawijaya karena masyarakat pribumi membuka peluang kepada masyarakat di luar untuk menyaksikannya. Namun untuk melihat mumi-mumi tersebut, para wisatawan harus membayar.

Mumi Werupak Elosak(nama ketika masih hidup) berumur sekitar 230 tahun. Pakaian tradisional yang dikenakan, seperti koteka, masih utuh. Ia adalah panglima perang dan meninggal akibat luka tusukan sege (tombak). Lukanya pun masih terlihat jelas hingga kini. Jasad Werupak dijadikan mumi, selain untuk menghormati jasa semasa hidupnya, juga karena Werupak sendiri yang meminta. Ia ingin supaya mayatnya diawetkan.

Hal ini berbeda dengan mumi Wimontok Mabel. Ia adalah seorang kepala suku. Wimontok mempunyai arti perang terus. Karena semasa hidupnya ia kepala suku perang yang ahli strategi. Wimontok meninggal akibat usia tua dan memberi wasiat kepada keluarganya agar jasadnya diawetkan. Dari segi ukuran, mumi ini lebih kecil ketimbang Weropak. Namun, kondisinya masih lebih bagus.

Setiap lima tahun sekali diadakan upacara adat untuk melingkarkan semacam kalung di leher Wimontok. Upacara tersebut disertai pemotongan babi. Lalu lemak dari babi itu dioleskan ke seluruh tubuh mumi. Dari kalung tersebutlah perkiraan umur mumi didapat, yaitu sekitar 382 tahun.

Mumi Wamena-Papua

Para mumi ini dibuat dengan menggelar upacara sakral. Dilanjutkan dengan pengasapan jenazah selama tiga bulan terus-menerus. Setelah menjadi mumi, perawatan selanjutnya ditangani kaum laki-laki saja. Karena menurut adat setempat, sentuhan wanita akan membuat mumi menjadi rusak serta mendatangkan malapetaka bagi wanita tersebut dan lingkungan sekitar. Mumi-mumi ini hanya diletakkan di dalam sebuah kotak kayu dan disimpan dalam pilamo, rumah adat khusus laki-laki.

Tidak semua mayat/ jasad yang diperbolehkan menjadi atau dijadikan mumi. Hanya yang mempunyai jasa besar terhadap suku seperti kepala suku atau panglima perang yang secara adat diizinkan menjadi mumi.

Setiap wisatawan yang hendak melihat dikenai biaya 30.000 per orang dan yang hendak berfoto dengan mumi ini dikenai biaya Rp 20.000 sekali foto. Di pojok halaman, dekat dengan honai yang menjadi tempat mumi bersemayam ada kios kecil yang menjual suvenir.

SUKU KERINCI DI JAMBI

Suku Kerinci adalah suku bangsa yang mendiami wilayah kabupaten Kerinci provinsi Jambi. Populasi suku Kerinci pada sensus tahun 1996 berjumlah sekitar 300.000 orang.

Suku Kerinci adalah suatu bangsa yang tergolong dalam kelompok Melayu, tetapi menurut dugaan para peneliti sejarah, bahwa suku Kerinci ini justru lebih tua dari suku-suku Melayu lainnya yang pada umumnya mendominasi wilayah Sumatra mulai dari provinsi Riau hingga Sumatra bagian selatan. Naskah Melayu tertua ditemukan di Kerinci, dan pada abad ke-14 Kerinci menjadi bagian dari kerajaan Malayu dengan Dharmasraya sebagai ibu kota. Setelah Adityawarman menjadi maharaja maka ibu kota dipindahkan ke Saruaso dekat Pagaruyung di Tanah Datar.

Suku Kerinci berbicara dalam bahasa Kerinci yang masihberkerabat erat dengan bahasa Minangkabau dan bahasa Melayu Jambi. Bahasa Kerinci memiliki banyak dialek tersebar di beberapa tempat di Kerinci dalam wilayah kabupaten Kerinci. Hanya dalam berkomunikasi dengan orang luar, mereka menggunakan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia (yang mereka sebut bahasa Melayu Tinggi). Dalam budaya suku Kerinci juga dikenal tulisan yang disebut aksara Incung, yang merupakan salah satu variasi surat ulu.

Asal usul suku Kerinci sendiri tidak diketahui secara pasti darimana berasal, beberapa cerita mengatakan bahwa suku Kerinci adalah dahulunya para perantau Minangkabau, yang membuka pemukiman di daerah Kerinci, hidup sekian lama dan terbentuklah suku Kerinci seperti sekarang.

Pendapat lain, mengatakan bahwa suku Kerinci justru lebih tua dari suku-suku Melayu yang ada, termasuk lebih tua dari suku Minangkabau. Kedatangan suku Kerinci diduga berasal dari daratan Indochina, yang pada masa ribuan tahun yang lalu memasuki wilayah pulau Sumatra, dan menetap di dataran tinggi sekitar gunung Kerinci. Melihat kebiasaan mereka yang hidup di dataran tinggi dan di sekitar danau, kemungkinan mereka dahulunya satu rumpun dengan bangsa-bangsa Proto Malayo yang memang menyukai daerah dataran tinggi dan mengisolasi diri di pedalaman.

Adanya penemuan artefak purbakala di wilayah Kerinci, menjelaskan bahwa sebelum orang Kerinci hadir di wilayah ini, telah ada manusia lain yang pernah hidup di wilayah Kerinci, tapi diduga penemuan artefak purbakala tersebut adalah sisa-sisa dari bangsa weddoid atau melanosoid yang pernah hidup di wilayah Sumatra ini, jauh ribuan tahun sebelum hadirnya bangsa-bangsa Proto Malayo dan Deutro Malayo. Beberapa keturunan bangsa weddoid yang masih tersisa bisa ditemukan di Sumatra adalah suku Lubu dan suku Kubu, hanya saja selama ribuan tahun telah terjadi percampuran ras, sehingga ras weddoid pada suku Lubu dan Kubu, sudah tercampur dengan ras Melayu yang pada umumnya memiliki ras Mongoloid.

Van Vollenhoven, seorang penulis dari Belanda memasukkan suku Kerinci ke dalam wilayah adat Sumatera Selatan. Tetapi kalau dilihat dari kedekatan adat-istiadat serta bahasa, sepertinya suku Kerinci masih lebih dekat dan berkerabat dengan orang-orang Minangkabau. Kemungkinan pada masa dahulu terjadi hubungan kekerabatan antara kedua suku bangsa ini. Selain itu sistem keturunan dalam masyarakat Kerinci memakai sistem matrilineal seperti pada masyarakat suku Minangkabau.

Pada awal keberadaan suku Kerinci, hidup dalam kelompok kecil yang menetap di pemukiman yang mereka sebut “duseung” (dusun). Sebuah dusun dihuni oleh masyarakat dari satu akar kelompok keturunan yang satu keturunan berdasarkan garis keturunan matrilineal.

Pada setiap “duseoung” atau dusun terdapat beberapa “Laheik Jajou/ Larik” atau Rumah Panjang yang dibangun secara menempel yang dihubungkan dengan pintu dari satu rumah ke rumah yang lain. Setiap larik dibangun dalam ciri khas budaya Kerinci. Setiap Larik memiliki Tetua Suku, dan setap Larik diberi nama sesuai dengan suku (marga) yang tinggal di Larik tersebut. Dalam Larik terdapat beberapa Tumbi. Tumbi adalah kelompok kecil masyarakat di dalam Larik.

Selanjutnya kelompok terpenting diantara Tumbu Tumbi yang ada di sebut Kalbu, dalam Kalbu terdapat Pemangku Adat yang mengatur jalannya kehidupan masyarakat dalam kalbu. Gabungan dari beberapa Duseoung (Dusun) dan kelompok masyarakat adat di sebut Kemendapoan yang dipimpin oleh Mendapo.

Status dusun sebenarnya geogragis saja, petunjuk atau lantak adanya suatu negeri, mendirikan dusun erat dengan faktor air yaitu di tepi sungai atau danau. Bagi masyarakat Kerinci, negeri adalah semacam desa/ kelurahan yang memiliki pemerintahan adat.

Sumber : http://protomalayans.blogspot.com/2012/09/suku-kerinci.html
WARUGA - MAKAM BATU SUKU MINAHASA

WARUGA - MAKAM BATU SUKU MINAHASA


Kebudayaan dan ciri khas masyarakat Indonesia memang beraneka ragam. Waruga, makam leluhur yang terbuat dari batu menjadi keunikan tersendiri untuk Suku Minahasa, Sulawesi Utara. 

Berkunjung ke Sulawesi Utara, belum lengkap rasanya kalau belum ke Waruga. Waruga merupakan kuburan batu yang terletak di Desa Sawangan, Kabupaten Minahasa Utara.

Suku Minahasa mulai menggunakan Waruga untuk menguburkan orang yang meninggal sejak abad IX. Orang yang telah meninggal diletakkan menghadap ke utara. Kemudian jenazah didudukkan dengan posisi tumit kaki menempel pada pantat dan kepala mencium lutut. Tujuan dihadapkan ke bagian utara menandakan bahwa nenek moyang Suku Minahasa berasal dari bagian Utara.

Sekitar tahun 1860, sebenarnya pemerintah Belanda melarang Waruga digunakan sebagai makam. Seiring dengan penyebaran agama Kristen di Minahasa maka Waruga pun mulai ditinggalkan.

Waruga sendiri terdiri dari dua bagian. Bagian atasnya berbentuk segitiga seperti bubungan rumah, bagian bawah berbentuk kotak, dan bagian tengahnya ada ruang. Waruga memiliki ukiran dan relief yang menggambarkan berapa jasad yang tersimpan di dalamnya. Selain itu, relief tersebut juga menggambarkan mata pencarian atau pekerjaan semasa hidupnya.

Jadi, bila mempunyai waktu berlibur ke Sulawesi Utara pastikan Anda berkunjung ke tempat ini. Perlu diketahui, kini situs ini telah dicalonkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1995.

Sumber : http://www.griyawisata.com

SUKU KOROWAI PAPUA


Suku Korowai adalah suku yang baru ditemukan keberadaannya sekitar 30 tahun yang lalu di pedalaman Papua dan berpopulasi sekitar 3000 orang. Suku terasing ini hidup di rumah yang dibangun di atas pohon yang disebut Rumah Tinggi. Beberapa rumah mereka bahkan bisa mencapai ketinggian sampai 50 meter dari permukaan tanah.Mereka membangun rumah di atas pohon tersebut agar terhindar dari serangan binatang.

Suku Korowai adalah salah satu suku di daratan Papua yang tidak menggunakan koteka. Pria Korowai menggunakan semacam dedaunan untuk menutupi kemaluan mereka. Sedangkan Wanita Korowai menggunakan semacam rok pendek yang terbuat dari pohon sagu,yang juga merupakan makanan pokok mereka. Suku Korowai termasuk salah satu suku paling terbelakang di dunia. Sampai tahun 1970, mereka tidak mengetahui keberadaan setiap orang selain kelompok mereka. Bahasa mereka termasuk dalam keluarga Awyu-Dumut (Papua tenggara) dan merupakan bagian dari filum Trans-Nugini.

artikel-populer.blogspot.com - Seputar Suku Korowai Yang Aneh Di Dunia

artikel-populer.blogspot.com - Seputar Suku Korowai Yang Aneh Di Dunia

artikel-populer.blogspot.com - Seputar Suku Korowai Yang Aneh Di Dunia

artikel-populer.blogspot.com - Seputar Suku Korowai Yang Aneh Di Dunia

Sejak tahun 1980 sebagian anggota suku Korowai  telah pindah ke desa-desa yang baru dibuka dari Yaniruma di tepi Sungai Becking (area Kombai-Korowai), Mu, dan Basman (daerah Korowai-Citak). Pada tahun 1987, desa dibuka di Manggรฉl, di Yafufla (1988), Mabรผl di tepi Sungai Eilanden (1989), dan Khaiflambolรผp (1998).

Dalam memenuhi kebutuhannya, suku Korowai biasa berburu dan melakukan sistem  pertanian ladang berpindah. Suku Korowai merupakan salah satu suku yang memiliki kemampuan berburu yang sangat baik.  

Suku Korowai juga dikenal karena adanya perilaku kanibalisme di dalam budaya mereka. Namun,mereka hanya mempraktekkan kanibalisme pada orang tertentu saja, seperti orang yang diduga sebagai dukun atau khakhua. Hal ini dilakukan sebagai semacam hukuman bagi para khakhua yang melakukan sihir dan dipercaya dapat menyebabkan kematian anggota suku lainnya. Bagi beberapa suku Korowai yang tinggal di tepi hutan, budaya kanibalisme ini sudah mulai ditinggalkan diantaranya karena adanya kontak dengan dunia luar.

SEJARAH DAN BUDAYA SUKU MINANGKABAU


Suku Minangkabau atau Minang adalah kelompok etnik Nusantara yang berbahasa dan menjunjung adat  Minangkabau. Wilayah penganut kebudayaannya meliputi Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, bagian selatan Sumatera  Utara, barat daya Aceh, dan juga Negeri Sembilandi Malaysia. Dalam percakapan awam, orang Minang sering kali disamakan sebagai orang Padang, merujuk kepada nama ibukota propinsi Sumatera Barat yaitu kota Padang. Hal ini dapat dikaitkan dengan kenyataan bahwa beberapa literatur Belanda juga telah menyebut masyarakat suku ini sebagai Padangsche Bovenlanden.

Suku ini mempunyai sifat merantau yang boleh dikatakan telah menyatu dalam pola hidup mereka sehingga banyak di antara mereka pindah ke pulau-pulau lain di Indonesia. Suku Minangkabau merupakan suku terbesar ke 4 di Indonesia yang tersebar luas dan sangat berpengaruh.

SOSIAL BUDAYA
Nama Minangkabau mencerminkan kecerdasan yang tinggi dan panjang akal. Secara harafiah, nama Minangkabau berarti "menang kerbau." Menurut dongeng, kata Minangkabau berasal dari kemenangan orang Minangkabau - di bawah pimpinan Datuk Parpatih Nan Sebatang dan Datuk Katumanggungan dalam adu kerbau dengan orang-orang kerajaan Majapahit. Konon, anak kerbau orang Minangkabau berhasil membunuh kerbau besar Majapahit karena pada moncongnya diikatkan sebuah taji (minang) yang tajam. Kini, kerbau merupakan figur yang sangat kuat melekat pada mitos, budaya dan arsitektur suku Minang (atap rumah tradisional Minang bergonjong seperti tanduk kerbau).

Suku ini terkenal di seluruh Indonesia dengan kesuksesan mereka dalam bisnis, makanan yang pedas dan kebanggaan mereka akan adat istiadat. Dalam kebudayaan suku Minangkabau, harta kekayaan dan nama keluarga diwariskan kepada kaum wanita (matrilineal). Tanggung jawab dalam rumah tangga istri lebih banyak di tangan ninik mamak (saudara laki-laki ibu). Ia wajib mengurusi kemenakannya dan mengawasi segala sesuatu yang berhubungan dengan segala harta pusaka dan warisan. Hal yang sama juga menjadi peranan seorang suami di dalam keluarganya sendiri, yaitu mengawasi saudara perempuan dan kemenakan-kemenakannya. Namun pada masa sekarang, peranan ninik mamak semakin kecil karena ia lebih cenderung untuk mengurusi istri dan anak-anaknya sendiri dan seorang suami pun lebih banyak berperan dalam rumah tangganya. Perubahan ini terutama terlihat pada keluarga Minangkabau di perantauan.

AGAMA/KEPERCAYAAN
Suku Minangkabau merupakan kaum muslim yang taat menjalankan ke 5 rukun Islam di Indonesia. Ada satu pepatah Minangkabau yang berkata "Menjadi orang Minangkabau adalah menjadi Islam." Mereka yang beralih ke agama lain akan diusir dan kehilangan mata pencaharian.

KEBUTUHAN
Di bidang pendidikan maupun pekerjaan, suku ini relatif lebih maju daripada propinsi lain di luar Pulau Jawa. Namun demikian mereka masih membutuhkan peningkatan di bidang pendidikan maupun di bidang industri, khususnya kerajinan rakyat yaitu jahit, sulam dan anyam-anyaman. Di samping itu Kepulauan Mentawai, Danau Maninjau, Danau Singkarak dan Bukittinggi merupakan daerah pariwisata yang masih dapat dikembangkan dan mempunyai potensi untuk pengembangan tenaga pembangkit listrik.

Sumber : http://halindshop.blogspot.com/2012/12/menelisik-sejarah-budaya-suku.html

SUKU AMUNGME DARI PAPUA


Suku Amungme adalah salah satu suku yang tinggal di dataran tinggi Papua. Suku Amungme mendiami beberapa lembah luas di kabupaten Mimika dan Kabupaten Puncak Jaya antara gunung-gunung tinggi yaitu lembah Tsinga, lembah Hoeya, dan lembah Noema serta lembah-lembah kecil seperti lembah Bella, Alama, Aroanop, dan Wa. Sebagian lagi menetap di lembah Beoga (disebut suku Damal, sesuai panggilan suku Dani) serta dataran rendah di Agimuga dan kota Timika.

Amungme terdiri dari dua kata "amung" yang artinya utama dan "mee" yang artinya manusia. Menurut legenda orang Amungme berasal dari derah Pagema (lembah baleim) Wamena. Hal ini dapat ditelusuri dari kata kurima yang artinya tempat orang berkumpul dan hitigima yang artinya tempat pertama kali para nenek moyang orang-orang Amungme mendirikan honey dari alang-alang.

Suku Amungme memiliki kepercayaan bahwa mereka adalah anak pertama dari anak sulung bangsa manusia, mereka hidup disebelah utara dan selatan pegunungan tengah yang selalu diselimuti salju yang dalam bahasa Amungme disebut nemangkawi (anak panah putih). Suku Amungme menggangap bahwa mereka adalah penakluk, pengusa serta pewaris alam amungsa dari tangan Nagawan Into (Tuhan). Kerasnya alam pegunungan membuat karakter masyarakat amungme menjadi keras, tidak kenal kompromi, adil dan jantan.

Suku Amungme memiliki dua bahasa, yaitu Amung-kal yang dituturkan oleh penduduk yang hidup disebelah selatan dan Damal-kal untuk suku yang menetap di utara. Suku Amungme juga memiliki bahasa simbol yakni Aro-a-kal. Bahasa ini adalah bahasa simbol yang paling sulit dimengerti dan dikomunikasikan, serta Tebo-a-kal, bahasa simbol yang hanya diucapkan saat berada di wilayah yang dianggap keramat.

Konsep mengenai tanah, manusia dan lingkungan alam mempunyai arti yang intergral dalam kehidupan sehari-hari. Tanah digambarkan sebagai figure seorang ibu yang memberi makan, memelihara, mendidik dan membesarkan dari bayi hingga lanjut usia dan akhirnya mati. Tanah dengan lingkungan hidup habitatnya dipandang sebagai tempat tinggal, berkebun, berburu dan pemakaman juga tempat kediaman roh halus dan arwah para leluhur sehingga ada beberapa lokasi tanah seperti gua, gunung, air terjun dan kuburan dianggap sebagai tempat keramat.

Mata pencaharian suku Amungme umumnya berburu karena ditunjang faktor alam dengan berbagai jenis flora yang tumbuh lebat dan terdapat berbagai jenis fauna seperti babi hutan, burung kasuari, burung mambruk, kakaktua dan lain-lain, bertani dan bercocok tanam serta beternak, banyak di antara mereka telah bekerja di kota sebagai pedagang, pegawai maupun karyawan swasta.

Banyak senjata yang digunakan oleh masyarakat Amungme dalam bertahan hidup, seperti halnya pisau belati yang merupakan senjata tradisional. Selain itu mereka juga sering menggunakan tombak serta panah untuk berburu. Umumnya suku Amungme telah menggunakan uang tukar resmi (rupiah) sebagai alat jual-beli, sedangkan sistem barter atau eral sudah hampir tidak dipergunakan lagi.

Salah satu keunikan suku Amungme adalah dengan adanya upacara tradisional yang dinamakan dengan Bakar Batu. Tradisi ini merupakan salah satu tradisi terpenting masyarakat suku amungme yang berfungsi sebagai tanda rasa syukur, menyambut kebahagiaan atas kelahiran, kematian, atau untuk mengumpulkan prajurit untuk berperang. Persiapan awal tradisi ini masing - masing kelompok menyerahkan hewan babi sebagai persembahan, sebagain ada yang menari, lalu ada yang menyiapkan batu dan kayu untuk dibakar. Proses ini awalnya dengan cara menumpuk batu sedemikian rupa lalu mulai dibakar sampai kayu habis terbakar dan batu menjadi panas. Setelah itu, babi yang telah di persiapkan tadi dipanah terkebih dahulu. Biasanya yang memanah adalah kepala suku dan dilakukan secara bergantian. pada Tradisi ini ada pemandangan yang cukup unik dalam ritual memanah babi. Ketika semua kepala suku sudah memanah babi dan langsung mati, pertanda acara akan sukses dan bila tidak babi yang di panah tadi tidak langsung mati, diyakini acara tidak akan sukses.

UPACARA KASODO SUKU TENGGER


Suku Tengger adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar gunung Bromo, Jawa Timur, menempati sebagian wilayah kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang. Menurut legenda, asal-usul suku tersebut dari kerajaan Majapahit yang mengasingkan diri.

Seorang suku Tengger, bapak Suyatno mengatakan bahwa, masyarakat Tengger umumnya hidup sebagai petani ladang. Prinsip mereka adalah tidak mau menjual tanah (ladang) pada orang lain. Hasil pertaniannya yaitu, kentang, kubis, semen (bunga Kubis), wortel, tembakau dan jagung. Jagung merupakan makanan pokok suku yang memeluk agama Hindu ini.

“Selain bertani, masyarakat di sini berprofesi sebagai porter (pengangkut barang) di gunung Semeru dan pemandu wisatawan di gunung Bromo dengan menawarkan kuda yang mereka miliki untuk disewakan kepada wisatawan,” imbuh laki-laki yang berprofesi sebagai porter ini.

Suku yang berdiam di Bromo ini sangat mudah dikenali karena selalu menggenakan sarung, dalam istilah mereka disebut kawengan. Sarung digunakan sebagai baju atau jaket penghangat dari serangan angin dingin yang menusuk tulang, selain harganya murah, sarung mudah didapat dibandingkan pakaian hangat lainnya.

Mayoritas masyarakatnya memeluk agama Hindu, namun agama Hindu yang dianut berbeda dengan agama Hindu di Bali, yaitu Hindu Dharma. Hindu yang berkembang di masyarakat Tengger adalah Hindu Mahayana. Selain agama Hindu, agama lain yang dipeluk adalah agama Islam, Protestan, Katolik.

Berdasarkan ajaran agama Hindu yang dianut, setiap tahun mereka melakukan upacara Kasodo. Selain Kasodo, upacara lain yaitu upacara Karo, Kapat, Kapitu, Kawulo, Kasanga. Sesaji dan mantra amat kental pengaruhnya dalam masyarakat suku keturunan Joko Seger dan Roro Anteng ini.

Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan adat juga agama dan meyakini bahwa mereka keturunan langsung dari Majapahit. Nama Tengger berasal dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal-usul nama Tengger.

Bagi suku Tengger, gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung tersebut.

“Prosesinya diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa” tutur pria yang biasa disapa pak Yatno ini.

Upacara Kasodo diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Rara Anteng-Jaka Seger di panggung terbuka desa Ngadisari. Kemudian tepat tengah malam diadakan pelantikan dukun (sesepuh agama) dan pemberkatan umat di lautan pasir gunung Bromo.

Dukun bagi masyarakat Tengger merupakan pemimpin umat dalam bidang keagamaan dan memimpin upacara-upacara ritual. Sebelum dilantik para dukun harus lulus ujian dengan cara menghafal dan membacakan mantra-mantra. Mereka percaya bahwa mantra-mantra yang mereka pergunakan merupakan mantra putih bukan mantra hitam yang sifatnya merugikan.

Setelah Upacara selesai, ongkek – ongkek (wadah) yang berisi sesaji dibawa dari kaki gunung Bromo menuju sisi kawah. Sesaji dilemparkan ke dalam kawah sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka.

Di sisi bagian dalam kawah banyak terdapat pengemis dan penduduk Tengger yang tinggal di pedalaman, mereka jauh-jauh datang ke gunung Bromo dengan harapan mereka mendapatkan sesaji yang dilempar.

Penduduk melempar sesaji berbagai macam hasil bumi dan ternak, mereka menganggapnya sebagai kaul atau terima kasih terhadap Tuhan atas hasil pertanian dan ternak yang melimpah.

“Aktifitas ritual yang berada dikawah gunung Bromo dapat kita lihat dari malam sampai siang pada hari Kasodo Bromo,” Tandas pak Suyatno.

Sumber: HIMPALAUNAS.COM - MALANG