Showing posts with label candi. Show all posts
Showing posts with label candi. Show all posts

Sejarah Candi Penataran - Blitar

Candi Penataran terletak di desa Penataran, kecamatan Nglegok, kabupaten Blitar, Jawa Timur, Indonesia. Koordinat GPS : 8° 00’59.06″ S 112° 12’34.90″ E. Lokasinya yang terletak di kaki gunung Kelud, menjadikan area Candi Penataran berhawa sejuk. Candi Penataran adalah kompleks percandian terbesar dan paling terawat di provinsi Jawa Timur, Indonesia.



Candi Penataran merupakan candi yang kaya dengan berbagai macam corak relief, arca, dan struktur bangunan yang bergaya Hindu. Adanya pahatan Kala (raksasa menyeringai), arca Ganesya (dewa ilmu pengetahuan dalam mitologi Hindu), arca Dwarapala (patung raksasa penjaga pintu gerbang), dan juga relief Ramayana adalah bukti tidak terbantahkan bahwa Candi Penataran adalah candi Hindu.


Prasasti Palah yang terdapat di area Candi Penataran mengabarkan bahwa candi ini mulai dibangun sekitar tahun 1194, pada masa pemerintahan raja Syrenggra yang memerintah kerajaan Kadiri, dan selesai pada masa kerajaan Majapahit. Dengan demikian candi ini melewati masa tiga kerajaan besar Nusantara yaitu Kadiri, Singasari, dan Majapahit. Candi Penataran memegang peranan cukup penting bagi kerajaan-kerajaan tersebut, yaitu sebagai tempat pengangkatan para raja dan tempat untuk upacara pemujaan terhadap Sang Pencipta.


Berbagai kajian oleh para sejarawan terhadap teks-teks kuno, kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca, misalnya, dijelaskan bahwa Candi Penataran sangat dihormati oleh para raja dan petinggi kerajaan besar di JawaTimur. Candi Penataran pernah menyimpan abu dari raja Rajasa (Ken Arok) pendiri kerajaan Singasari, dan juga abu dari raja Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) pendiri kerajaan Majapahit. Bahkan konon, menurut legenda rakyat setempat, sumpah sakral Mahapatih Gajah Mada untuk menyatukan seluruh Nusantara dalam kekuasaan Majapahit, yang dikenal dengan nama “Sumpah Palapa”, diucapkan di Candi Penataran.


MISTERI YANG TERSIMPAN DI CANDI PENATARAN MENGUAK FAKTA BAHWA INDONESIA MERUPAKAN ASAL PERADABAN DUNIA

Candi Penataran yang terletak di Desa Penataran Kec. Nglegok ternyata menyimpan banyak misteri diantaranya bahwa Indonesia merupakan asal peradaban dunia. Hal ini terungkap dari gambar relief yang ada di setiap sudut candi. Misteri dibalik Candi Penataran terungkap dari investigasi relief oleh Yayasan Turangga Seta yang dimulai sejak tahun lalu.



Dalam pahatan relief terkuak sejarah jika nenek moyang kita pernah melakukan infasi hingga  Benua Amerika dengan mengalahkan bangsa Indian dan sempat berperang dengan prajurit Bangsa Maya. Mereka kemudian menguasai wilayah tersebut hingga diangkat sebagai penguasa. Tidak hanya itu pada salah satu relief juga digambarkan beberapa bangsa lain seperti Bangsa Han (China), Bangsa Campa, Bangsa Maya, Bangsa Yahudi dan Bangsa Mesir tunduk pada leluhur kita. Demikian seperti diungkapkan Ketua Yayasan Turangga Seta, Agung Bimo Sutejo. Ia menambahkan dalam pahatan lain terungkap jika pada waktu itu terdapat 3 species yang sudah mempunyai peradaban yakni ras manusia kera, ras raksasa dan manusia biasa. Mereka pun hidup saling berdampingan.

Gambaran pada relief ini sekaligus membantah teori Darwin yang menyatakan manusia berasal dari evolusi kera. Dalam tata cara kematian manusia jaman dulu mereka yang meninggal jasadnya akan diperabukan sehingga fosilnya tidak akan ditemukan. Sedangkan ras manusia kera dan raksasa dengan cara dikubur sehingga fosil yang banyak ditemukan arkreolog tersebut adalah fosil ras manusia kera yang berbeda dengan species kita saat ini dan dimungkinkan ras manusia kera telah punah.

Sementara dari penelitian yang dilakukan Yayasan Turangga Seta, juga terkuak misteri jika keberadaan Candi Penataran di Blitar yang merupakan Candi terbesar di Jawa Timur itu terkait dengan berdirinya kerajaan besar di Blitar kala itu yang justru wilayah kekuasaannya lebih besar dari Kerajaan Majapahit. Namun sayang misteri ini belum akan diungkapkan pada publik.

Sumber :
http://www.purnamaserulingpenataran.com/sejarah-candi-penataran/
https://ahmadsamantho.wordpress.com/2011/04/01/misteri-yang-tersimpan-di-candi-penataran-menguak-fakta-bahwa-indonesia-merupakan-asal-peradaban-dunia/
CANDI SEWU - JAWA TENGAH

CANDI SEWU - JAWA TENGAH

Candi Sewu terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah. Dari kota Yogyakarta jaraknya sekitar 17 km ke arah Solo. Candi Sewu merupakan gugus candi yang letaknya berdekatan dengan Candi Prambanan, yaitu kurang lebih 800 meter di sebelah selatan arca Rara Jongrang.



Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-8, atas perintah penguasa Kerajaan Mataram pada masa itu, yaitu Rakai Panangkaran (746-784 M) dan Rakai Pikatan yang beragama Hindu. Walaupun rajanya beragama Hindu, Kerajaan Mataram pada masa mendapat pengaruh kuat dari Wangsa Syailendra yang beragama Buddha. Para ahli menduga bahwa Candi Sewu merupakan pusat kegiatan keagamaan masyarakat beragama Buddha. Dugaan tersebut didasarkan pada isi prasasti batu andesit yang ditemukan di salah satu candi perwara. Prasasti yang ditulis dalam bahasa Melayu Kuno dan berangka tahun 792 Saka tersebut dikenal dengan nama Prasasti Manjusrigrta. Dalam prasasti tersebut diceritakan tentang kegiatan penyempurnaan prasada yang bernama Wajrasana Manjusrigrha pada tahun 714 Saka (792 Masehi). Nama Manjusri juga disebut dalam Prasasti Kelurak tahun 782 Masehi yang ditemukan di dekat Candi Lumbung.

Candi Sewu terletak berdampingan dengan Candi Prambanan, sehingga saat ini Candi Sewu termasuk dalam kawasan wisata Candi Prambanan. Di lingkungan kawasan wisata tersebut juga terdapat Candi Lumbung dan Candi Bubrah. Tidak jauh dari kawasan tersebut terdapat juga beberapa candi lain, yaitu: Candi Gana, sekitar 300 m di sebelah timur, Candi Kulon sekitar 300 m di sebelah barat, dan Candi Lor sekitar 200 m di sebelah utara. Letak candi Sewu, candi Buddha terbesar setelah candi Borobudur, dengan candi Prambanan, yang merupakan candi Hindu, menunjukan bahwa pada masa itu masyarakat beragama Hindu dan masyarakat beragama Buddha hidup berdampingan secara harmonis.

Nama Sewu, yang dalam bahasa Jawa berarti seribu, menunjukkan bahwa candi yang tergabung dalam gugusan Candi Sewu tersebut jumlahnya cukup besar, walaupun sesungguhnya tidak mencapai 1000 buah. Tepatnya, gugusan Candi Sewu terdiri atas 249 buah candi, terdiri atas 1 candi utama, 8 candi pengapit atau candi antara, dan 240 candi perwara. Candi utama terletak di tengah, di ke empat sisinya dikelilingi oleh candi pengapit dan candi perwara dalam susunan yang simetris.

Candi Sewu mempunyai 4 pintu gerbang menuju pelataran luar, yaitu di sisi timur, utara, barat, dan selatan, yang masing-masing dijaga oleh sepasang arca Dwarapala yang saling berhadapan. Dari pelataran luar ke pelataran dalam juga terdapat 4 pintu masuk yang dijaga oleh sepasang arca Dwarapala, serupa dengan yang terdapat di gerbang luar.

Arca Dwarapala yang terbuat dari batu utuh tersebut ditempatkan di atas lapik persegi setinggi sekitar 1,2 m dalam posisi satu kaki berlutut, kaki lainnya ditekuk, dan satu tangan memegang gada. Tinggi arca Dwarapala ini mencapai sekitar 2,3 m.

Candi utama atau candi induk terletak di pelataran persegi seluas 40 m2, yang dikelilingi pagar dari susunan batu setinggi 0,85 m. Bangunan candi berbentuk poligon bersudut 20 dengan diameter 29 m. Tinggi bangunan mencapai 30 m dengan 9 atap yang masing-masing mempunyai stupa di puncaknya.

Tubuh candi berdiri di atas batur setinggi sekitar 2,5 m. Kaki candi dihiasi pahatan bermotif bunga dalam jambangan. Untuk mencapai permukaan batur yang membentuk selasar, terdapat tangga selebar sekitar 2 m yang dilengkapi dengan pipi tangga. Pangkal pipi tangga dihiasi makara, kepala naga dengan mulut menganga lebar, dengan arca Buddha di dalamnya. Dinding luar pipi tangga dihiasi pahatan berwujud raksasa Kalpawreksa.

Di atas ambang pintu tidak terdapat Kalamakara, namun dinding di kiri dan kanan ambang pintu dihiasi pahatan kepala naga dengan mulut menganga. Berbeda dari yang terdapat di pangkal pipi tangga, bukan Buddha yang terdapat dalam mulut naga, melainkan seekor singa.

Candi utama yang dibangun dari batu andesit ini mempunyai pintu utama di sebelah timur, sehingga dapat dikatakan bahwa candi utama ini menghadap ke timur. Selain pintu utama, terdapat 3 pintu lain, yaitu yang menghadap ke utara, barat dan selatan. Semua pintu masuk dilengkapi dengan bilik penampil. Ruang dalam tubuh candi berbentuk kubus dengan dinding terbuat dari susunan bata merah. Di dalam ruangan ini terdapat sebuah 'asana'. Pada dinding luar tubuh dan kaki atap candi terdapat relung-relung berisi arca Buddha dalam berbagai posisi.

Candi perwara dan candi apit seluruhnya terletak di pelataran luar. Di setiap sisi terdapat sepasang candi apit yang berada di antara candi utama dengan deretan dalam candi perwara. Setiap pasangan candi apit berhadapan mengapit jalan yang membelah halaman menuju ke candi utama.

Candi apit berdiri di atas batur setinggi sekitar 1 m, dilengkapi dengan tangga selebar sekitar 1 m menuju ke selasar di permukaan kaki candi. Di atas ambang pintu bukan dihiasi pahatan Kalamakara, melainkan beberapa panil relief. Atap candi berbentuk stupa dengan deretan stupa kecil menghiasi pangkalnya. Dinding tubuh candi apit dihiasi dengan sosok-sosok pria berbusana kebesaran, nampak seperti dewa, dalam posisi berdiri memegang setangaki teratai di tangannya.

Candi perwara dibangun masing-masing dalam empat deret di sisi terluar mengelilingi candi utama dan candi apit. Pada deret terdalam terdapat 28 bangunan, deretan kedua terdapat 44 bangunan, deretan ketiga terdapat 80 bangunan, dan deretan ke empat 88 bangunan. Semua candi perwara, kecuali yang berada dalam deretan ketiga, menghadap ke luar atau membelakangi candi utama. Hanya yang berada dalam deretan ketiga yang menghadap ke dalam. Sebagian besar candi perwara dalam keadan rusak, tinggal berupa onggokan batu.

Sumber : http://fatawisata.com/

CANDI MUARA TAKUS - RIAU

Candi Muara Takus terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan Tigabelas Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Jaraknya dari Pekanbaru, Ibukota Provinsi Riau, sekitar 128 km. Perjalanan menuju Desa Muara Takus hanya dapat dilakukan melalui jalan darat, yaitu dari Pekanbaru ke arah Bukittinggi sampai di Muara Mahat. Dari Muara Mahat melalui jalan kecil menuju ke Desa Muara Takus.


Kompleks Candi Muara Takus adalah satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi bernuansa Buddhistis ini merupakan bukti bahwa Buddha pernah berkembang di kawasan ini. Kendati demikian, para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan candi ini didirikan.



Ada dua pendapat mengenai nama Muara Takus. Yang pertama mengatakan bahwa nama tersebut diambil dari nama sebuah anak sungai kecil bernama Takus yang bermuara ke Sungai Kampar Kanan. Pendapat lain mengatakan bahwa Muara Takus terdiri dari dua kata, yaitu “Muara” dan “Takus”. Kata “Muara” memunyai pengertian yang sudah jelas, yaitu suatu tempat sebuah sungai mengakhiri alirannya ke laut atau ke sungai yang lebih besar, sedangkan kata “Takus” berasal dari bahasa Cina, Ta berarti besar, Ku berarti tua, dan Se berarti candi atau kuil. Jadi arti keseluruhan kata Muara Takus adalah candi tua yang besar yang terletak di muara sungai. 

Candi Muara Takus merupakan candi Buddha, terlihat dari adanya stupa, yang merupakan lambang Buddha Gautama. Ada pendapat yang mengatakan bahwa candi ini merupakan campuran dari bentuk candi Buddha dan Siwa. Pendapat tersebut didasarkan pada bentuk bentuk Candi Mahligai, salah satu bangunan di kompleks Candi Muara takus, yang menyerupai bentuk lingga (kelamin laki-laki) dan yoni (kelamin perempuan). Arsitektur candi ini juga memunyai kemiripan dengan arsitektur candi-candi di Myanmar. Candi Muara Takus merupakan sebuah kompleks yang terdiri atas beberapa bangunan. 

Bangunan yang utama adalah yang disebut Candi Tuo. Candi ini berukuran 32,80 m x 21,80 m dan merupakan candi bangunan terbesar di antara bangunan yang ada. Letaknya di sebelah utara Candi Bungsu. Pada sisi sebelah timur dan barat terdapat tangga, yang menurut perkiraan aslinya dihiasi stupa, sedangkan pada bagian bawah dihiasi patung singa dalam posisi duduk. Bangunan ini memunyai sisi 36 buah dan terdiri dari bagian kaki I, kaki II, tubuh dan puncak. Bagian puncaknya telah rusak dan batu-batunya telah banyak yang hilang. 

Candi Tuo dibangun dari campuran batu bata yang dicetak dan batu pasir (tuff). Pemugaran Candi Tuo dilaksanakan secara bertahap akibat keterbatasan anggaran yang tersedia. Pada 1990, selesai dikerjakan bagian kaki I di sisi timur. Selama tahun anggaran 1992/1993 pemugaran dilanjutkan dengan bagian sisi sebelah barat (kaki I dan II). Volume bangunan keseluruhan mencapai 2.235 m3, terdiri dari : kaki: 2.028 m3, tubuh: 150 m3, dan puncak: 57 m3. Tinggi bangunan mencapai 8,50 m.

Bangunan kedua dinamakan Candi Mahligai. Bangunan ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10,44 m x 10,60 m. Tingginya sampai ke puncak 14,30 m berdiri diatas pondamen segi delapan (astakoma) dan bersisikan sebanyak 28 buah. Pada alasnya terdapat teratai berganda dan di tengahnya menjulang sebuah menara yang bentuknya mirip phallus (yoni). 

Pada 1860, seorang arkeolog Belanda bernama Cornel de Groot berkunjung ke Muara Takus. Pada waktu itu di setiap sisi ia masih menemukan patung singa dalam posisi duduk. Saat ini patung-patung tersebut sudah tidak ada bekasnya. Di sebelah timur, terdapat teras bujur sangkar dengan ukuran 5,10 x 5,10 m dengan tangga di bagian depannya. Volume bangunan Candi Mahligai 423,20 m3 yang terdiri dari volume bagian kaki 275,3 m3, tubuh 66,6 m3 dan puncak 81,3 m3. Candi Mahligai mulai dipugar pada 1978 dan selesai pada 1983. 

Bangunan ketiga disebut Candi Palangka, yang terletak 3,85 m sebelah timur Candi Mahligai. Bangunan ini terdiri dari batu bata merah yang tidak dicetak. Candi Palangka merupakan candi yang terkecil, relung-relung penyusunan batu tidak sama dengan dinding Candi Mahligai. Dulu sebelum dipugar bagian kakinya terbenam sekitar satu meter. Candi Palangka mulai dipugar pada 1987 dan selesai pada 1989. Pemugaran dilaksanakan hanya pada bagian kaki dan tubuh candi, karena bagian puncaknya yang masih ditemukan pada 1860 sudah tidak ada lagi. Di bagian sebelah utara terdapat tangga yang telah rusak, sehingga tidak dapat diketahui bentuk aslinya. Kaki candi berbentuk segi delapan dengan sudut banyak, berukuran panjang 6,60 m, lebar 5,85 m, serta tingginya 1,45 m dari permukaan tanah dengan volume 52,9 m3. 

Bangunan keempat dinamakan Candi Bungsu. Candi Bungsu terletak di sebelah barat Candi Mahligai. Bangunannya terbuat dari dua jenis batu, yaitu batu pasir (tuff) terdapat pada bagian depan, sedangkan batu bata terdapat pada bagian belakang. Pemugaran candi ini dimulai pada 1988 dan selesai dikerjakan pada 1990. Melalu pemugaran tersebut candi ini dikembalikan ke bentuk aslinya, yaitu empat persegi panjang dengan ukuran 7,50 m x 16,28 m. Bagian puncak tidak dapat dipugar, karena tidak diketahui bentuk sebenarnya. Tinggi setelah dipugar 6,20 m dari permukaan tanah, dan volumenya 365,8 m3.

Menurut gambar yang dibuat oleh J.W. Yzerman bersama-sama dengan TH. A.F. Delprat dan Opziter (Sinder) H.L. Leijdie Melvile, di atas bangunan yang terbuat dari bata merah terdapat 8 buah stupa kecil yang mengelilingi sebuah stupa besar. Di atas bangunan yang terbuat dari batu pasir (tuff) terdapat sebuah tupa besar. Di bagian sebelah timur terdapat sebuah tangga yang terbuat dari batu pasir.

Selain bangunan-bangunan di atas, di sebelah utara, atau tepat di depan gerbang Candi Tuo terdapat onggokan tanah yang mempunyai dua lobang. Tempat ini diperkirakan tempat pembakaran jenazah. Lobang yang satu untuk memasukkan jenazah dan yang satunya lagi untuk mengeluarkan abunya. Tempat pembakaran jenazah ini, termasuk dalam pemeliharaan karena berada dalam kompleks percandian. Di dalam onggokan tanah tersebut terdapat batu-batu kerikil yang berasal dari Sungai Kampar. Di di luar kompleks Candi Muara Takus, yaitu di beberapa tempat di sekitar Desa Muarata Takus, juga diketemukan beberapa bangunan yang diduga masih erat kaitannya dengan candi ini.

Sumber : http://unikboss.blogspot.com/

PESONA CANDI SUKUH - JAWA TENGAH

Di lereng Gunung Lawu di Desa Berjo Kabupaten Karanganyar, Jateng, terdapat sebuah candi yang memiliki struktur bangunan yang unik karena bentuknya mirip bangunan piramid bangsa Maya. Menurut promosi Dinas Pariwisata Karanganyar, candi yang dibangun masyarakat Hindu Tantrayana tahun 1437 itu selain merupakan candi berusia paling muda di Bumi Nusantara juga candi paling erotis.


Ditilik dari latar belakang sejarahnya, kompleks candi Sukuh merupakan candi berlatar belakang agama Hindu, hal ini diketahui dari ditemukannya lingga dalam bentuk naturalis berukuran besar di kompleks tersebut. Berdasarkan prasasti yang terdapat pada bangunan, arca, dan relief, yang berkisar antara tahun 1359 Saka atau 1437 Masehi – 1378 Saka atau 1456 Masehi diperkirakan candi didirikan pada abad XV M.




Meskipun berlatar belakang agama Hindu namun terlihat bahwa bentuk bangunannya cenderung kembali pada masa prasejarah, terutama bentuk punden berundak. Sobat tentunya masih ingat dengan pelajaran sejarah SMP kelas 1 tentang manusia purba dan peninggalannya kan? Nah, sekarang adalah waktunya untuk berkunjung ke tempat-tempat bersejarah itu. Semoga bisa me-refresh jiwa dan raga kita untuk kembali berkarya atau setidaknya berkenalan dengan nenek moyang kita melalui peninggalannya. Berdasarkan relief yang terdapat di Kompleks Candi Sukuh yang menceritakan tentang Garudeya dan Sudhamala, diperkirakan candi tersebut berhubungan dengan upacara pelepasan atau ruwatan. Upacara pelepasan atau ruwatan berhubungan dengan kepercayaan arwah leluhur yang tampak pada susunan bangunan dalam bentuk teras berundak pada Masa Prasejarah.

Kompleks Candi Sukuh ditemukan kembali dalam keadaan runtuh pada tahun 1815 oleh Residen Surakarta, Johnson. Tahun 1842 Van der Vills mengadakan penelitian terhadap sisa-sisa bangunan di Candi Sukuh, Hoepermans tahun 1864-1867 menulis tentang Sukuh. Wuah, semangat kita untuk mengunjungi dan mempublikasikan candi sukuh ini jangan sampai kalah dengan para pendahulu kita ya! Semoga saja dengan gaya bahasa kita yang khas dan lebih atraktif mampu menarik para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk mengunjungi candi Sukuh. Tentunya sobat memiliki kemampuan tersebut.

Kemampuan untuk menulis atau pun menarik perhatian khalayak ramai untuk mengunjungi candi Sukuh dengan gaya dan cara masing-masing. Inventarisasi dilakukan oleh Knebel tahun 1910, dan beberapa literatur yang memuat tentang Sukuh. Baru pada tahun 1917 dilakukan penanganan oleh pemerintah RI, melalui Dinas Purbakala. Pemugaran dilakukan pada tahun 1928 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah. beberapa kegiatan penelitian arkeologis juga dilakukan oleh para ahli dari Indonesia seperti Ph. Soebroto, Riboet Darmosoetopo, J. Padmopuspito, dll. Sedangkan penelitian secara geologis juga pernah dilakukan oleh BSKB Borobudur. Wow, wow, jadi semangat kan untuk senantiasa menjaga dan melestarikan warisan nusantara? Candi Sukuh ini dibagi dalam 3 Teras unik, yaitu:


Teras I
Pada teras pertama ini disambut dengan arsitektur gapura berbentuk trapesium yang memiliki relief berupa seseorang yang sedang dimakan raksasa dan diperkirakan merupakan sengkalan yang berbunyi gapura buta aban wong atau sama dengan tahun 1359 Saka atau 1437 Masehi. Relief lain berbunyi gapura butha anahut buntut atau 1359 Saka atau sama dengan 1437 Masehi. Pada bagian lantai pintu gerbang terdapat relief phallus dan vagina yang dipahatkan secara naturalis. Candi Sukuh ini terkenal dengan kevulgarannya. Mulai dari relief maupun suguhan cerita reliefnya. Nah, terbukti kan dari teras pertama saja, kita sudah disuguhkan dengan relief phallus dan vagina. Nah, kejutan selanjutnya pasti akan kalian temui di teras berikutnya.

Tapi, berlatar belakang sejarah dan ceritanya, relief-relief ini jangan hanya dipandang sebagai relief candi yang vulgar ya. Karena, walau bagaimana pun, tetap sarat makna. Kita bisa belajar tentang penciptaan manusia dari candi Sukuh ini. Tentu, dalam versi nenek moyang kita pada zaman prasejarah dulu. Temuan lepas pada halaman I berupa batu berbentuk umpak dan beberapa relief seperti relief empat ekor sapi dan relief seorang penunggang kuda dengan payung besar. Nah, relief empat ekor sapi inilah yang menceritakan bagaimana proses penyempurnaan pembentukan sapi. Tentunya, kalian penasaran kan, bagaimana bentuk awal seekor sapi sebelum menjadi sapi seperti yang kita lihat sekarang ini? Nah, ayo, berkunjung ke candi Sukuh untuk melihat relief sapi yang sesungguhnya versi nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu.

Teras II
Masuk halaman II akan membawa kita ke dunia kerajaan di mana di segala sisi terdapat penjaga yang sangar muka dan penampilannya. Nah, begitu juga di candi Sukuh ini, kita akan disambut oleh dua arca penjaga pintu berwajah mengerikan, selain itu juga terdapat talud yang sekarang sudah tidak utuh lagi dan beberapa relief yang salah satu diantaranya merupakan sengkalan berbunyi gajah wiku anahut buntut atau 1378 Saka atau 1456 Masehi. Pastinya sobat semakin penasaran kan dengan kompleks candi Sukuh yang megah ini. Emm..kalau belum, lihat-lihat aja dulu fotonya, siapa tahu rasa ingin tahu kalian tumbuh dan akhirnya ada ketertarikan untuk berkunjung.

Teras III
Untuk masuk ke halaman III kita juga harus melewati gapura yang kondisinya hanya tersisa sebagian, halaman ini juga memiliki talud dan sebagian besar telah hilang. Sangat disayangkan, ada beberapa benda yang hilang dari kompleks candi Sukuh ini? Kalau dari hari ke hari kondisi kompleks candi Sukuh kita abaikan, tidak diragukan lagi kalau suatu saat kompleks candi ini yang akan hilang। Oleh karena itu, mumpung masih ada waktu, marilah kita senantiasa menjaga dan merawat warisan budaya kita tercinta ini. Halaman III merupakan halaman paling suci karena didalamnya terdapat candi utama. Candi tersebut mengarah ke barat dan berbentuk seperti piramid terpancung, dan di bagian atas bangunan tersebut terdapat altar. Di depan candi utama terdapat tiga arca kura-kura, soubasement yang berisi relief Sudamala dan Garudeya, serta temuan lepas berupa arca dan relief. Cerita Sudamala dan Garudeya dapat diketahui sebagai berikut:

Nama Suddhamala adalah sebutan bagi salah satu tokoh Pandawa yang kelima, yaitu Sahadewa, yang berarti bersih dari dosa, atau juga dapat berarti “pelepasan” atau disebut juga ruwat. Menurut cerita, nama Suddhamala diberikan kepada Sahadewa karena ia telah berhasil membebaskan Dewi Durga dari kutuk Dewa Siwa. Dewi Durga dikutuk menjadi raksasa oleh Dewa Siwa karena ia telah berbuat salah kepada suaminya dan harus turun ke dunia. Ia dapat bebas dari kutukan jika diruwat oleh Sahadewa, anak Kunti. Durga kemudian menemui Kunti agar Sahadewa meruwatnya. Kunti menolak, kemudian Durga menyuruh Kalika untuk merasuk ke jasad Kunti agar Kunti mau menerimanya. Namun, Sahadewa tetap menolak permintaan Durga. Ia kemudian diikat pada sebatang pohon dan ditakut-takuti. Akhirnya Sahadewa berhasil meruwat Durga, sebagai hadiah ia dikawinkan dengan Ni Padapa, anak Pertapa dari Parangalas bernama Tambapetra.

Sedangkan cerita Garudeya bermula dari pertaruhan antara Winata dan Kadru (para istri Ksyapa) tentang warna ekor Kuda Uchchaicrawa yang keluar selama pengadukan lautan susu. Sang Kadru menang taruhan karean ekor Kuda Uchchaicrawa telah diberi bisa oleh para naga (anak-anak Kadru) sehingga berubah warna menjadi hitam. Winata yang kalah bertaruh menjadi budak Kadru, ia dipenjarakan di dunia paling bawah dan dapat terbebas dari perbudakan jika ia menyerahkan air penghidupan (amerta) kepada para naga. Garuda mencoba membebaskan ibunya dari perbudakan. Garuda menuju ke gunung tempat amerta disimpan. Di tempatnya, amera dikelilingi oleh api yang menyala-nyala. Namun, Garuda dengan tubuh keemasannya yang bersinar bagai matahari minum air dari sungai-sungai dan memadamkan apinya. Dewa Indra tahu kemudian mengejarnya. Mereka berkelahi, Indra kalah vajranya terlempar. Garuda melanjutkan perjalanannya hingga mencapai tempat tinggal para naga. Dengan kedatangannya membawa amerta, ibunya dapat dibebaskan dari perbudakan.

Sumber : http://goexperience.gonla.com/
CANDI LUMBUNG - SURAKARTA

CANDI LUMBUNG - SURAKARTA

Candi Lumbung terletak beberapa ratus meter di sebelah Selatan Candi Sewu. Candi ini sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Klaten, Surakarta. Tidak jelas apakah nama Lumbung memang merupakan nama  candi ini atau nama itu hanya merupakan sebutan masyarakat di sekitarnya karena bentuknya yang mirip lumbung (bangunan tempat penyimpanan padi). Bangunan suci Buddha ini merupakan gugus candi yang terdiri atas 17 bangunan, yaitu satu candi utama yang terletak di pusat, dikelilingi oleh 16 candi perwara. Halaman komples Candi Lumbung ini ditutup hamparan batu andesit.


Candi utama, yang sendiri saat ini sudah tinggal reruntuhan, berbentuk poligon bersisi 20 dengan denah dasar seluas 350 m2. Tubuh candi berdiri di atas batur setinggi sekitar 2,5 m. Tangga dan pintu masuk terletak di sisi timur. Pintu masuk dilengkapi bilik penampil dan lorong menuju ruang dalam tubuh candi. Bagian luar dinding di keempat sisi dihiasi pahatan-pahatan gambar lelaki dan perempuan dalam ukuran yang hampir sama dengan kenyataan. Gambar pada dinding yang mengapit pintu masuk adalah Kuwera dan Hariti.

Pada dinding luar di sisi utara, barat dan selatan terdapat relung tempat meletakkan arca Dhyani Buddha. Jumlah relung pada masing-masing sisi adalah 3 buah, sehingga jumlah keseluruhan adalah 9 buah, Saat ini tak satupun relung yang berisi arca. Atap candi utama sudah hancur, namun diperkirakan berbentuk stupa dengan ujung runcing, mirip atap candi perwara. Di sekeliling halaman candi utama terdapat pagar yang saat ini tinggal reruntuhan. 
Candi perwara yang berjumlah 16 buah berbaris mengelilingi candi utama. Seluruh candi perwara menghadap ke arah candi utama. Masing-masing candi perwara berdiri di atas batur setinggi sekitar 1 m dengan denah dasar sekitar 3 m2. Dinding tubuh candi polos tanpa hiasan. Di sisi timur, tepat di depan pintu, terdapat tangga yang dilengkapi dengan pipi tangga. Di atas ambang pintu terdapat Kalamakara tanpa rahang bawah.

Atap candi perwara berbentuk kubus bersusun dengan puncak stupa. Setiap sudut kubus dihiasi dengan stupa kecil. Di ruang dalam tubuh candi perwara terdapat batu mirip tatakan arca yang disusun berjajar.

CANDI CETHO DI KARANGANYAR - JAWA TENGAH


Candi Cetho, Kompleks bangunan candi cetho yang berlokasi di lereng barat Gunung Lawu, tepatnya di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah ini memiliki ukuran panjang 190M dan Lebar 30M dan berada di ketinggian 1496M dari Permukaan air laut. 


Candi Cetho berlatar belakang agama Hindu, Pola halamanya berteras dengan susunan 13 teras meninggi ke arah puncak, bentuk bangunan berteras mirip dengan bentuk pundene berundak masa prasejarah.

Singkatan memet (angka tahun yang di gambarkan dengan bentuk binatang, tumbuhan, dan sebagainya), arca berupa tiga ekor katak, mimi, ketam, seekor belut dan tiga ekor kadal, menurut Bernet Kempres arca ketem, belut dan mimi merupakan sangkalan yang berbunyi welut (3) wiku (7) anahut (3) iku=mimi sehingga di temukan angka tahun 1373 saka atau 1451 M

Tahun Pendirian Dan Fungsi Candi Cetho
Prasasti dengan huruf Jawa kuno pada dinding gapura teras ke VII berbunyi "Pelling padamel irikang buku, tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397", yang dapat di tafsirkan peringatan pendirian tempat peruwatan atau tempat untuk membebaskan dari kutukan dan didirikan tahun 1397 saka (1475 M).



Fungsi candi Cetho sebagai tempat ruwatan juga dapat dilihat melalui simbol-simbol dan mitologi yang ditampilkan oleh arca-arcanya. Mitologi yang disampaikan berupa cerita Samudramanthana dan Garudeya. sedangkan simbol penggambaran phallus dan Vagina dapat ditafsirkan sebagai lambang penciptaan atau dalam hal ini adalah kelahiran kembali setelah di bebaskan dari kutukan.

Potret Candi Cetho tahun 1928 







Riwayat Penelitian & Pemugaran
  • Candi Cetho pertama kali dikenal dari laporan penelitian Van der Vilis pada tahun 1942 yang kemudian penelitian dan pendokumentasian di lanjutkan oleh W.F Stuterheim, K,C. Crucq dan A.J. Bernet Kempers.

  • Riboet Darmosoetopo dkk pada tahun 1972 telah melengkapi hasil penelitian sebelumnya. 

  • Tahun 1975/1976 Sudjono Humardani melakukan pemugaran terhadap komles candi cetho dengan dasar "perkiraan" bukan pada kondisi asli. Dengan kata lain pemugaran tersebut tidak mengikuti ketentuan pemugaran cagar budaya yang benar.

  • 1982 Dinas Purbakala (sekarang Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) meneliti dalam rangka rekonstruksi.

Sumber : http://nortgren.blogspot.com/2013/04/candi-cetho-desa-gumeng-kec-jenawi.html