Showing posts with label tokoh pahlawan. Show all posts
Showing posts with label tokoh pahlawan. Show all posts

Tokoh Superhero Asli Indonesia

Selama ini kata Superhero bagi kita sudah sangat lekat dan identik dengan Tokoh-tokoh Marvel seperti Superman, Batman, Spiderman, dan tokoh-tokoh berakhiran nama -man lainnya. Tapi tahukah anda bahwa Indonesia sejatinya juga punya tokoh Superhero keren yang tak kalah garang dengan superhero seperti Spiderman dan kawan-kawan.


Dan inilah daftar 10 Superhero Jadul asli Indonesia :



1. Gundala Putera Petir




Gundala adalah tokoh komik ciptaan Hasmi yang muncul pertama kali dalam komik Gundala Putra Petir pada tahun 1969. Jelas tampak pengaruh komik superhero Amerika pada desain karakter maupun jenis kekuatannya, meskipun alur ceritanya bergaya Indonesia. Lokasi cerita sering digambarkan di kota Yogyakarta meskipun dalam filmnya pada tahun 1982 diceritakan berada di Jakarta.



Berawal dari seorang peneliti jenius bernama Sancaka menemukan serum anti petir. Tenggelam dalam ambisinya sebagai seorang ilmuwan, dia melupakan hari ulang tahun Minarti, kekasihnya, yang berakibat putusnya hubungan mereka. Sancaka yang patah hati berlari dengan hati galau di tengah hujan deras. Tiba-tiba sebuah petir menyambarnya. Dalam keadaan koma ia ditarik oleh suatu kekuatan dari planet lain dan diangkat anak oleh raja Kerajaan Petir yang bergelar Kaisar Kronz, sekaligus diberkati kemampuan super, yaitu bisa memancarkan geledek dari telapak tangannya. Raja Taifun dari kerajaan Bayu memberinya kekuatan lari secepat angin. Sejak itulah, pada waktu-waktu tertentu, ia tampil sebagai jagoan penumpas kejahatan berpakaian hitam ketat dengan sepatu dan cawat berwarna merah. Wajahnya tertutup topeng, hanya tampak mata dan mulutnya, di sisi topengnya terdapat hiasan seperti sayap burung.



2. Godam Manusia Besi




Godam adalah tokoh komik ciptaan Wid NS. Muncul pertama kali dalam judul Memburu Doktor Setan pada tahun 1969. Godam berasal dari dimensi lain yang terdapat negeri yang bernama Godam. Dikarenakan perlawanannya terhadap kekejaman Ratu Candalani, Godam yang masih bayi putra bangsawan negeri Godam menjadi buronan sebagaimana kedua orang tuanya yang dianggap memberontak terhadap kekuasaan Candalani.



3. Aquanus




Aquanus adalah tokoh komik ciptaan Wid NS. Muncul pertama kali dalam judul Aquanus di Planet Vibhy pada tahun 1968. Ketika terjadi penyerangan bangsa Burbur ke planet Zyba, putra angkat raja Sving yang masih bayi dilarikan dengan sebuah roket ke luar angkasa. Roket tersebut jatuh ke lautan di planet bumi. Keluarga pemburu paus memelihara anak yang bernama Dhanus itu.



Bangsa Zyba adalah bangsa yang mampu hidup di darat dan di air, sehingga Dhanus dapat dengan mudah bermain-main ke dasar lautan. Suatu ketika saat menyelam di dasar laut, seseorang yang mengaku berasal dari Zyba menolongnya dari serangan gurita raksasa. Orang itu tewas ditembak para penyelam. Sebelumnya ia memberikan sabuk sinar pelangi kepada Dhanus. Sabuk ini menjadi senjata andalan Aquanus. Nama Aquanus berasal dari Aqua yang berarti air, dan Nus dari Dhanus.



4. Pangeran Mlaar




Pangeran Mlaar adalah tokoh komik ciptaan Hasmi. Mlaar adalah Putra Mahkota suatu kerajaan di planet Covox. Setelah terbunuhnya ayah Mlaar oleh komplotan Menteri Telern dan Putri Kepala Perak, Mlaar dilarikan oleh pamannya yang seorang ilmuwan jenius. Berkat suatu rekayasa oleh pamannya, Mlaar mempunyai kemampuan elastisitas yang bisa membuatnya mulur dalam batas tertentu.



5. Caroq




Caroq adalah seorang karakter superhero Indonesia karya Ahmad Thoriq. Caroq diciptakan pada tahun 1992. Nama aslinya adalah Ongko yang berprofesi sebagai sopir taksi. Ia memiliki kekuatan magis untuk mengubah dirinya menjadi seorang superhero. Caroq memiliki 2 bilah celurit sakti yang panjang. Musuh bebuyutannya adalah Si Tangan Empat dan Si Bengis.



6. Jin Kartubi



Jin Kartubi adalah tokoh komik ciptaan Hasmi pada tahun 1968. Kartubi adalah jin raksasa hamba Maza. Apabila Maza memerlukannya, ia tinggal menggosok pisau belatinya. Kartubi akan segera muncul dengan tertawa terbahak-bahak.



Kartubi sebenarnya adalah pangeran di negeri jin yang disebut kerajaan Mbegadud. Ayahnya adalah raja Mansuk Lezus. Saudara-saudaranya yang jahat memasukannya ke dalam botol dan membuangnya. Ia memasuki mimpi Kanigara (alter ego Maza) bahwa ia akan mengabdi kepadanya dan masuk ke dalam belatinya. Wujud raksasa Kartubi sering dipergunakan Maza dalam menghadapi ancaman raksasa seperti Xephros dan siluman-siluman raksasa di pulau hantu. Kemampuannya untuk terbang sangat dimanfaatkan para superhero yang tidak dapat terbang untuk transportasi udara.



7. Kalong




Kalong atau Calong adalah tokoh komik ciptaan Hasmi. Muncul pertama kali pada tahun 1972 dalam Calong Anak Kelelawar. Agus Supriyadi bersembunyi dalam sebuah peti supaya bisa ikut dalam rombongan ekspedisi arkeologi ke pegunungan Dieng yang dipimpin oleh ayahnya. Agus yang sebetulnya tidak boleh ikut oleh orangtuanya terpaksa harus tinggal di sekitar tenda bersama seorang pegawai ayahnya. Seorang anak buah Isman yang lain ikut dalam komplotan yang akan memeras ayahnya. Menyadari bahaya dari orang yang kemudian mengejarnya, Agus berlari dan terperosok ke sebuah jurang dan pingsan.



Agus yang bangun dari pingsannya tersesat sampai ke sebuah gua. Di dalam gua yang penuh dengan kelelawar itu, Agus bertemu dengan bangsa manusia kelelawar dari kerajaan Laksa Bantala di ujung gua. Rajanya yang bernama Xamfereet memberinya sebuah benda ajaib yang bila ditempelkan di kening akan merubahnya menjadi superhero cilik yang disebut Kalong. Kalong kemudian menggagalkan usaha pemerasan anak buah ayahnya. Kalong dapat terbang seperti kelelawar, kebal senjata. Ujung jarinya bisa memancarkan sinar pemaham. Apabila sinar itu dikenakan pada hewan, maka hewan itu bisa mengerti dan berbicara untuk memberi keterangan yang jujur.



8. Sembrani




Sembrani adalah tokoh komik ciptaan Hasmi. Muncul pertama kali dalam serial Gundala 1000 Pendekar tahun 1974. Tangguh sedang berada di tepi kawah gas beracun di Dieng, ketika ada sesuatu yang membuatnya tertarik turun ke kawah. Sebuah pesawat angkasa ternyata telah jatuh ke dalam kawah. Kehadiran benda itu rupanya menetralisir racun gas. Lewat proyeksi 3 dimensi, Otohrb, seorang panglima perang yang telah lama mati dalam pertempuran di sistem bintang Ristuty berbicara padanya. Dia memberi Tangguh sebuah kalung yang dapat merubahnya menjadi seorang superhero yang bernama Sembrani. Sembrani mempunyai kemampuan untuk menetralisir medan magnet maupun medan listrik, menetralisir racun dan dapat terbang.



9. Zantoro




Zantoro berasal dari keluarga yang kurang harmonis, adiknya yang bernama Mantoro tinggal bersama sang ibu, sedangkan Zantoro tinggal bersama sang ayah. Sang ayah merupakan seorang pedagang dan ahli dalam pembuatan senjata tajam. Zantoro juga mewarisi kemampuan sang ayah dalam membuat senjata tajam dan juga ahli dalam memainkannya. Zantoro amat benci dengan kejahatan, ia akan merasa sangat geram jika melihat tindak kejahatan di depannya, dan tak sedikit penjahat kelas teri dan kelas kakap yang berhasil diringkus oleh Zantoro.



10. Merpati




Sedhah adalah seorang wartawati yang sedang menolong ayahnya yang diculik terjatuh ke dalam sebuah jurang dan ditolong oleh segerombolan merpati yang kemudian membawanya ke Ratu Merpati. Ratu Merpati memasukkan Sedhah kedalam suatu ramuan ajaib yang membuat Sedhah memiliki kekuatan super dan dikenal dengan sebutan "Merpati."


Sejarah Berdirinya Kota Solo

Siapapun mengetahui bahwa hidup dalam penjajahan itu selain terhina, tidak memiliki kebebasan juga sengsara. Kiranya demikianlah yang dialami oleh Raja Keraton Kasunanan di Kartasura, Sri Susuhunan Paku Buwana II. Sang Raja tidak memiliki kebebasan sama sekali. Sampai-sampai untuk memilih calon putra mahkota raja harus terlebih dahulu meminta persetujuan dari pemerintah penjajah, VOC Belanda. Pemerintah Belanda dan VOC Belanda dengan politik ‘pecah belah’ terhadap Karaton Mataram itu berhasil menguasai seluruh kekuasaan raja jajahannya.



Sementara intrik perebutan kekuasaan kerajaan melanda Karaton Kasunanan di Kartasura, yang dilakukan dari dalam keluarga keraton keturunan Mataram, telah menimbulkan kemelut berkepanjangan dan bermusuhan. Di sisi lain pelarian orang-orang orang-orang Cina yang tertindas oleh kompeni VOC Belanda di Jakarta, mereka melarikan diri ke Jawa Tengah. Kemarahan orang-orang Cina tertindas itu ditumpahkannya dalam bentuk pemberontakan orang-orang Cina yang dipimpin oleh Sunan Kuning alias Mas Garendi di tahun 1742 itu juga memperoleh dukungan dari Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said yang memanfaatkan momentum itu. Raden Mas Said sangat marah dan kecewa terhadap kebijaksanaan Karaton Kartasura yang memangkas daerah Sukowati yang dulu diberikan oleh Karaton Kartasura kepada Ayahandanya.



Serangan gencar prajurit pemberontakan Cina berhasil menjebol benteng pertahanan Keraton Kartasura dengan menimbulkan banyak korban jiwa. Menghadapi ancaman itu Paku Buwana II memerintahkan kerabat keraton dan para abdi dalem untuk segera mengungsi ke ke wilayah jawa Timur bagian barat daya, yaitu pacitan hingga ke Ponorogo. Sementara itu prajurit pemberontakan Cina menghancurkan keraton Kartasura dan menjarah kekayaan karaton yang tertinggal.



Pemimpin Prajurit Kompeni VOC Belanda, Mayor Baron Van Hohendorff segera minta bantuan minta bantuan prajurit Kompeni Belanda di Surabaya. Sementara itu adipati Bagus Suroto dari kadipaten Ponorogo yang merasa benci terhadap pemberontakan orang-orang Cina terhadap Keraton Kartasura, lalu menyediakan prajuritnya untuk segera menumpas prajurit pemberontak orang-orang Cina itu.



Peperangan menumpas pemberontakan orang-orang Cina pimpinan Mas Garendi atau Sunan Kuning berlangsung dengan seru. Akhirnya pemberontakan orang-orang Cina berhasil ditumpas. Setelah tertumpasnya pemberontakan orang-orang Cina maka Pangeran Sambernyawa alis Raden Said berjuang sendiri melawan Kompeni Belanda dan Karaton Kartasura.



Ketika kerabat Keraton Kartasura kembali ke keratonnya, keraton sudah hancur. Maka Sri Susuhunan Paku Buwana II memerintahkan para abdi dalemnya untuk membangun karaton yang baru. Untuk itu Paku Buwana II mengutus petinggi keraton yang terdiri dari Tumenggung Tirtowiguna, Pangeran Wijil, Tumenggug Honggowongsono dan abdi dalem lainnya untuk mencari tempat baru untuk lokasi pembangunan Keraton Kasunanan itu. Mereka memanjatkan doa kepada ALLAH SWT untuk memohon petunjukNya.



Rombongan utusan keraton disertai oleh seekor gajah putih berjalan ke timur. Suatu kali mereka mencium bau wangi di tanah Kadipolo. DesaTalang Wangi itu sebenarnya cocok untuk lokasi pembangunan baru, tetapi tanahnya banyak bukitnya. Lalu rombongan menuju kearah timur lagi. Mereka menyebrabgi  sungan Begawan Sala. Mereka tiba di Sonosewu. Tanahnya datar dan dapat menggunakan sungan Begawan Sala sebagai lau lintas. Namun secara spiritual Desa Sonosewu banyak dihuni setan prayangan sehingga tidak baik untuk keraton baru.



Rombongan menuju arah barat, tiba-tiba gajah putih milik keraton berhanti istirahat di dekat daerah berawa. Para petinggi dan abdi dalem keraton kembali memanjatkan doa kepada Allah. Dikeheningan malam mereka mendengar ‘suara tanpa rupa’: “Hai...Engkau yang sedang bertirakat. Kalau Engkau menginginkan sebuah tempat untuk ibukota kerajaan, pergilah ke Desa Sala. Sebab itu dikehendaki Allah dan nantinya akan menjadi kota yang besar dan makmur,........”



Tumenggung Tirtowiguna dan Pangeran Wijil kemudian menemui Kepala desa Dusun, bernama Kyai Sala. Saat pertemuan itu Kyai Sala bercerita , kalau ia mimpi ada utusan keraton yang mencari tempat untuk membangun keraton. Ia juga menerima wisik bahwa dusun itu baik, untuk tempat pembangunan keraton. Herannya kok ada persamaan mimpi, maka Tumenggung Tirtowiguna dan Pangeran Wijil segera melaporkan penemua desa Sala untuk lokasi pembangunan Keraton pindahan dari Kartasura, dan sang raja menyetujuinya.

Sri susuhunan Paku Buwana II merasa sudah cocok apabila desa Sala yang penuh dengan rawa itu untuk ibukota keraton maka disuruhnya para bupati pesisir agar menimbuni rawa itu dengan tanaman lumbu, dengan maksud untuk menyumbat sumber air besar yang terus mengalir. Kepala dusun Kyai Sala menyampaikan usul agar dapat menyumbat sumber air besar didaerah rawa, dengan gong sekar delima. Ketika sang raja dilapori tentang wisik gaib dari Kyai Sala yang bunyinya “untuk menghentikan mengalirnya sumber air, engkau harus menutupnya dengan gong merah delima dan kepala penari serta daum lumbu. Maka oleh Sri Sunan diartikan bahwa gong itu suara paling seru dalam karawitan, maknanya adalah Kyai Sala sikepala dusun yang menghendaki sadangkan kepala penari terkait dengan wayang atau ringgit (bahasa jawa) yang berarti uang. 


Jelaslah sudah bahwa Kyai Sala menghendaki uang atas tanah halk miliknya, yang akan digunakan untuk karaton. Maka Sri Sunan Paku Buwana II memberinya uang sebanyak 10.000 gulden Belanda (1744) untuk tanah milik Kyai Sala yang akan digunakan untuk mendirikan bangunan karaton baru itu.



Pindahnya Karaton Kasunanan warisan Mataram dari Kartasura ke desa Sala itu merupakan bedol keraton secara total atau menyeluruh, Perpindahan itu dilaksanakan dalam suasana sedih karena keraton Kartasura dirusak oleh pemerintah Cina. Untuk pindahnya karaton itu terlebih dahulu para abdi dalem karaton kasunanan harus membabat hutan belukar , menimbuni rawa digedung lumbu dengan tanah galian dari Tanah Wangi di Kadipolo. Lubang tanah bekas galian itu membentik danau kecil yang setelah ratusan tahun dijadikan Balai Kambang Sriwedari. Seluruh bangunan inti karaton kasunanan kartasura diboyong pindah untuk didirikan kembali di desa Sala.Pada waktu itu pagar kompleks karaton dibuat dari bambu, secara bertahap bagian-bagian karaton lainnya seperti Masjid Agung di alun-alun utara pun dibangun oleh generasi Pemerintahan Paku Buwono selanjutnnya, karena keberadaan bangunan tersebut sangat erat kaitannya dengan kehidupan Karaton Surakarta



MASA REVOLOSI / SERANGAN 4 HARI KOTA SALA





Para pejuang kemerdekaan Kota Solo dengan keberanian luar biasa, dapat mengakhiri kekuasaan Pemerintah Militer Jepang yang keji dan kejam tak berperikemanusiaan terhadap rakyat dan pejuang Indonesia, meskipun persenjataan sangat terbatas dan sederhana. Puncaknya dengan penaklukan terhadap pasukan militer Jepang di timuran ( sekarang Hotel Cakra di jl. Birg Jend Slamet Riyadi ). Hal tersebut karena keterpaduan perjuangan antara Tentara Nasional Indonesia, Tentara Pelajar, bersama rakyat. 



Bukan hanya perjuangan bersenjata, tetapi diperlukan perjuangan diplomasi seperti dilakukan oleh tokoh pejuang Soemodiningrat yang kebetulan salah satu bangsawan dari Keraton Kasunanan Surakarta. Ketika menaklukan Pimpinan Militer Jepang Watanabe dalam perundingan di Balai Kota Sala. Namun setelah terusirnya kekuasaan Pemerintah Fasis Jepang dari bumi Republik Indonesia ternyata pasukan Belanda datang dengan menunggangi Sekutu / PBB ke Indonesia. Belanda berusaha untuk mencengkeramkan kembali kekuasaannya di bumi nusantara, dan para pejuang kemerdekaan Indonesia melakukan perlawanan bersenjata dengan penuh keberanian untuk mengusir Tentara dan Pemerintahan Penjajahan Belanda.




Katika Pasukan Belanda menyerbu Ibukota Republik Indonesia yang dipindahkan sementara di Yogyakarta pada tanggal, 19 Desember 1948, kemudian pasukan Belanda pun menyerbu kota Sala dua hari kemudian. Maka rakyat bersama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia melakukan perlawanan bersenjata untuk mengusir kekuasaan penjajah Belanda. Dalam kemelut perang kemerdekaan untuk menghindari pasukan militer Belanda menguasai tempat-tempat penting,maka para pejuang kemerdekaan Indonesia melakukan politik bumi hangus termasuk gedung balai kota Sala yang merupakan pusat pemerintahan juga dibakar. Sementara itu rakyat dan para pejuang kemerdekaan republik Indonesia di kota Sala mengungsi keluar kota, perjuangan itu dilakukan dengan begerilya.



Ada peristiwa penting yang patut dicatat ialah saat terhadap pasukan militer jepang yang bertahan disebelah barat gedung koperasi Batari ( oktober 1945 ). Saat itu gugur pejuang Indonesia yang bernama afirin yang ditembak oleh serdadu Jepang yang sedang terkepung. Jenazah Arifin dalam peti yang diselimuti kain merah putih, lebih dulu diusung ramai-ramai di keraton Surkarta. Dalam hal ini Karaton menyediakan kereta berkuda untuk mengangkut jenazah Arifin ke pemakaman di Sekar Pace ( makam pahlawan kusuma bakti ) – Jurug.



Atas perintah panglima Jendral Sudirman maka komandan brigade V divisi II Letkol Slamet Riyadi mengkonsolidasi dengan membentuk komando pertahanan atau Wehrekreise wilayah Solo, lalu dibentuk komando pertempuran Panembahan Senapati yang meliputi daerah karisidenan Sala, Semarang Selatan dan Pacitan. Untuk daerah Solo diberi nama Wehrekreise Arjuna dipimpin oleh Ahmadi, yang terdiri dari lima rayon masing-masing dipimpin oleh Kapten Suhendra, Lettu Sumarto, Kapten Prakoso,( pernah menjadi rektor UNS ) Kapten Abdul Latief, yang ilegal dipimpin oleh Lettu Hartono dengan melakukan gerilya terhadap Belanda.



Di bidang pemerintahan sipil juga dibentuk pemerintahan kota solo yang wali kotannya RM. Suharyo Suryopranoto, hasil persetujuan Room Royen direalisasikan dalam Pemerintahan Penghentian Tembak Menembak oleh Presiden Soekarno tanggal ,3 Agustus 1949, dan ditindak lanjuti oleh Jendral Sudirman dan komando dibawahnya.



Serta Wakil Tinggi Mahkota Belanda di Indonesia AHJ. Lovink ( 11 Agustu 1949 ) dari pengalaman sejarah membuktikan pemerintah Belanda sering ingkar janji, tipu muslihat sehingga para pejuang selalu waspada serta melakukan perluasan daerah kekuasaan di Solo dengan melakukan serangan 4 hari, pada tanggal. 7 – 10 agustus 1949 pada saatitu Belanda bermarkas di Benteng, mendapat bantuan dari batalyon Yogyakarta untuk menyerbu ke Solo, dan memaksa agar Slamet Riyadi menyerah. Dalam pertempuran ini Belanda mengerahkan pesawat tempur dengan menyerang pasar nongko, kampung petangpuluhan, srambatan, pasar kembang yang dianggap kantong pejuang.



150 serdadu Belanda tewas tertembak, sebuah tank milik Belanda berhasil direbut di kampung Purwo Diningratan. Setelah kewalahan menghadapi pejuang, Belanda menyetujui Gencatan Senjata, tanggal 11 Agustu 1949 pukul 00.00. walaupun gencatan senjata ditanda tangani serdadu Belanda ( KNIL ) malah membabi buta menumpahkan kemarahannya dengan menembaki penduduk sipil di Pasar Kembang dengan menewaskan 23 orang, dimana 13 onggota PMI Surakarta dibantai di markas PMI Padmo Negaran Gading serta 9 orang sipil juga tertembak, sedangkan Belanda sebanyak 7 orang serdadunya juga tewas.



Selagi perjuangan Indonesia lagi memuncak, September 1948 Partai Komunis ( PKI ) di bawah Muso cs dari Madiun melakukan pemberontakan di dalam, namun pemerintah Indonesia pada waktu itu berhasil menumpasnya dengan korban Kolonel Sutarto yang tertembak di sebuah gang Kampung Timuran, pada saat itu kota Solo sedang menyelenggarakan PON I bulan September 1948 yang dibuka oleh presiden Soekarno di stadion Sriwedari.






Untuk memperingati pejuang kemerdekaan 4 hari di kota Solo, telah dibangun monumen berupa tugu dihalaman Makorem 74 / Wirastratama Surakarta dan monumen perjuangan 45 di Banjasari. Wong Solo berhutang budi pada pejuang-pejuang tersebut.

Tokoh Pahlawan : Ki Hajar Dewantara

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun; selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa,suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.



Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun emisi 1998.



Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Soekarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959)



A. Masa muda dan awal karier

Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.


B. Aktivitas pergerakan

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.


Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.



C. Taman Siswa

Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922: Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.


Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. ("di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang mendukung"). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.



Sumber: wikipedia.org 
Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro adalah pahlawan nasional,pejuang kemerdekaan, juga seorang tokoh agama Islam terkemuka di Pulau Jawa. Nama besarnya hingga kini masih melekat sebagai nama Universitas negeri di Semarang (Universitas Diponegoro) dan jalan-jalan protokol di berbagai kota besar Indonesia. Perjuangan beliau populer dengan sebutan Perang Diponegoro atau perang Jawa yang berlangsung antara tahun 1825 sampai 1830. Perang Diponegoro adalah perlewanan terbesar di Pulau Jawa semasa kolonial Belanda. Perang Jawa sangat menguras keuangan dan energi kolonial Belanda. Kerugian di pihak Belanda mencapai 15.000 tentara dan biaya perang mencapai 50.000 gulden, sementara dipihak rakyat korban meninggal mencapai 200.000.


Biografi Pangeran Diponegoro :

  • Nama Kecil : Raden Mas Ontowiryo
  • Gelar Sultan : Abdul Hamid Herucokro Amirul Mukminin Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawi
  • Nama populer : Pangeran Diponegoro
  • Tanggal Lahir : 11 November 1785
  • Wafat : 8 Januari 1855 Di pengasingan Benteng Rotterdam (Makassar)
  • Makam : Kampung Jawa Makassar Sulawesi Selatan
  • Silsilah keluarga : Putra sulung Sultan Hamengkubuwana III dari istri selir dari daerah Pacitan bernama R.A. Mangkarawati
  • Basis Perjuangan : Tegal Rejo Jawa Tengah
Kepribadian

Pangeran Diponegoro di kenal memiliki kepribadian yang tegas dan amat taat beribadah. Beliau lebih memilih menekuni kehidupan beragama daripada menjadi raja. Minat inilah yang menyebabkan beliau memutuskan menetap di Desa Tegal Rejo (Sekarang wilayah Purworejo Jawa Tengah), tempat para leluhurnya. Beliau menolak permintaan Sultan untuk menjadi raja karena menyadari bahwa beliau putra dari seorang selir. Sejak Muda dalam jiwa Pangeran Diponegoro telah tertanam kebencian terhadap Pemerintah Kolonial Belanda yang telah mencampuri urusan Keraton Yogyakarta dan melakukan penindasan terhadap rakyat dengan membebani rakyat pajak yang terlalu besar. Ketegasan jiwanya menyebabkan ia berseberangan pendapat dengan kesultanan Yogyakarta semasa dipimpin Sultan Hamangkubuono V tahun 1822. Saat itu Kesultanan Yogyakarta dipimpin raja yang baru berusia 3 tahun sehingga kepemimpinan diserahkan kepada patih Danurejo bersama Residen Belanda. Akibatnya Kesultanan Yogyakarta tunduk di bawah pengaruh Belanda. 

Latar Belakang Perlawanan Pangeran Diponegoro 

Perang Diponegoro terhadap Belanda disebabkan faktor (1) Kekuasaan Raja Mataram semakin lemah, wilayahnya dipecahpecah; (2) Belanda ikut campur tangan dalam urusan pemerintahan dan pengangkatan raja pengganti; (3) Kaum bangsawan sangat dirugikan karena sebagian besar sumber penghasilannya diambil alih oleh Belanda. Mereka dilarang menyewakan tanah bahkan diambil alih haknya (4) Adat istiadat keraton menjadi rusak dan kehidupan beragama menjadi merosot (5) Penderitaan rakyat yang berkepanjangan sebagai akibat dari berbagai macam pajak, seperti pajak hasil bumi, pajak jembatan, pajak jalan, pajak pasar, pajak ternak, pajak dagangan, pajak kepala, dan pajak tanah. 

Puncak kemarahan Pangeran Diponegoro terjadi saat kolonial Belanda berencana membangun jalan dari Yogyakarta ke Magelang. Pembangunan Jalan ini ternyata melintasi makam leluhur Pangeran Diponegoro. Ini yang membuat Pangeran Diponegoro semakin marah dan mengadakan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Beliau kemudian memerintahkan pengikutnya mencabut patok-patok yang melewati makam tersebut. 

Sejak itulah perang jawa berkobar, Pangeran Diponegoro membuat basis perlawanan di gua Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. Istri setianya RA. Retnaningsih juga menemaninya bergerilya. Selama perang, sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Pangeran Diponegoro. Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan. 

Agar tidak mudah diketahui oleh pihak Belanda, tempat markas berpindah-pindah, dari Selarong ke Plered kemudian ke Dekso dan ke Pengasih. Perang Diponegoro menggunakan siasat perang gerilya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Berbagai upaya untuk mematahkan perlawanan Pangeran Diponegoro telah dilakukan Belanda, namun masih gagal. Siasat Benteng stelsel (sistem Benteng) yang banyak menguras biaya diterapkan juga. Namun sistem benteng ini juga kurang efektif untuk mematahkan perlawanan Diponegoro. Puncak peperangan terjadi saat Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang tentara. Ini adalah kekuatan militer terbesar yang pernah diterj unkan. Dari segi militer, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode perang modern. Baik metode perang terbuka maupun metoda perang gerilya yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan. Perang juga melibatkan semua taktik militer mulai dari spionase, penghasutan dan intimidasi. Belanda terbukti sangat kesulitan meredam perlawanan Pangeran Diponegoro serta pengikutnya.

Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya menyerah kepada Belanda. 

Jenderal De Kock akhirnya menggunakan siasat tipu muslihat melalui perundingan. Pada tanggal 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro bersedia hadir untuk berunding di rumah Residen Kedu di Magelang. Dalam perundingan tersebut, Pangeran Diponegoro ditangkap dan ditawan di Semarang dan dipindah ke Batavia. Selanjutnya pada tanggal 3 Mei 1830 dipindah lagi ke Manado. Pada tahun 1834 pengasingannya dipindah lagi ke Makassar sampai meninggal dunia pada usia 70 tahun tepatnya tanggal 8 Januari 1855. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855. Untuk menghormati jasa-jasa beliau, pemerintah RI memberikan gelar pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden RI Mo 087/TK/1973.

Sumber: http://www.biografitokohdunia.com/2011/03/pangeran-diponegoro.html