SEJARAH BENTENG FORT ROTTERDAM - MAKASSAR


Benteng Fort Rotterdam yang merupakan salah satu peninggalan sejarah penting dan berdiri megah di tengah kota Makassar. Benteng yang dibangun pada masa pemerintahan kerajaan Gowa tahun 1545 oleh Raja Gowa ke X I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna dengan nama Benteng Ujung Pandang.

Didalam benteng ini terdapat rumah panggung khas Gowa yang merupakan kediaman Raja Gowa berserta keluarganya. Setelah Belanda berhasil menaklukan area Banda dan Maluku, Belanda pun mulai menyerang Makassar dengan dalih ingin memperluas perdangan atau VOC hingga akhirnya benteng ini pun diambil alih oleh Belanda. Setelah benteng ini jatuh ke  tangan Belanda, mereka pun menata ulang dengan arsitektur Belanda dan diberi nama “Fort Rotterdam”. Selanjutnya, Fort Rotterda digunakan untuk menampung rempah-rempah dan sebagai pusat pemerintahan Belanda untuk wilayah Indonesia bagian timur. Dimasa pemerintahan Jepang benteng ini digunakan untuk pusat pertanian dan bahasa. Setelah Indonesia merdeka benteng ini pun diambil alih oleh TNI dan dijadikan sebagai pusat komando. Kini, Fort Rotterdam menjadi pusat kebudayaan dan seni.

Benteng yang mempunyai tinggi 5 meter dengan ketebalan dinding mencapai 2 meter ini apabila dilihat dari udara akan tampak seperti penyu. Tak heran jika Fort Rotterdam juga disebut dengan nama “Benteng Panynyua”. Benteng ini memiliki pintu yang kecil dengan posisi sudut benteng yang lebih kokoh dan tinggi, di bagian atas terdapatmeriam. Dari segi filosofi, bentuk penyu ini sebagai simbol bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut, begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang mampu berjaya di daratan maupun di lautan.

Fort Rotterdam memiliki beberapa ruang tahanan atau penjara yang salah satunya digunakan untuk menahan Pangeran Diponegoro pada tahun 1834. Selain itu, terdapat sebuah gereja peninggalan Belanda dan Museum La Galigo yang menyimpan kurang lebih 4.999 koleksi. Koleksi tersebut meliputi benda prasejarah, numismatic, keramik asing, sejarah, naskah dan etnografi. Koleksi etnografi ini terdiri dari berbagai jenis hasil teknologi, kesenian, peralatan hidup dan benda lain yang dibuat dan digunakan oleh suku Bugis, Makassar, Mandar, da Toraja. Saat ini, selain sebagai tempat wisata bersejarah, Fort Rotterdam ini menjadi pusat kebudayaan Sulawesi Selatan.

Benteng yang merupakan warisan dari generasi ke generasi itu, kini telah menjadi salah satu ikon wisata sejarah kota Makassar yang paling sering dikunjungi oleh para pelancong baik dalam dan luar negeri. Hampir setiap hari ratusan orang berkunjung ke benteng ini. Pada malam hari para pengunjung disuguhi berbagai macam hidangan laut khas kota Makassar.

Sumber : http://panduanwisata.com/