9 DESA TRADISIONAL FAVORIT DI INDONESIA


Sebagai negara dengan lebih dari 350 kelompok etnik, keanekaragaman budaya Indonesia layak untuk dijelajahi. Temukan kebudayaan unik dan saksikan kehidupan tradisional di Indonesia dengan mengunjungi salah satu desa tradisional dimana penduduknya masih mempertahankan kebudayaan asli, hidup layaknya nenek moyang mereka. Tersebar ke seluruh Indonesia, desa tradisional menawarkan kesempatan untuk merasakan hal yang unik khas Indonesia, tempat dimana kepercayaan kuno dan ritual masih mendominasi kehidupan sehari-hari. Komunitas tradisional dan kelompok budaya yang tinggal di desa tradisional ini masih melakukan ritual, adat istiadat, menghasilkan kesenian dan kerajinan tangan yang eksotik serta masih mengenakan pakaian tradisional. Daya tarik utama desa-desa ini adalah kesempatan untuk melihat dan merasakan perbedaan budaya yang masih asli, bebas dari pengaruh modernisasi. Mengunjungi desa tradisional merupakan pengalaman yang tak terlupakan dan menawarkan kesempatan langka untuk memeluk suasana pedesaan yang masih belum terjamah.

Dan berikut ini adalah 9 Desa Tradisional tujuan wisata terfaforit yang tersebar di Nusantara. Yang ane rangkum berdasarkan jumlah Voter dari web Indonesia Travel :


1. Kampung Naga


Jika Anda bosan dengan kehidupan kota metropolitan yang dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit, Anda harus mengambil cuti beberapa hari untuk tinggal di kampung Naga di desa Neglasari, kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.


Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya, dalam hal ini adalah adat Sunda. Seperti permukiman Badui, Kampung Naga menjadi objek kajian antropologi mengenai kehidupan masyarakat pedesaan Sunda di masa peralihan dari pengaruh Hindu menuju pengaruh Islam di Jawa Barat.

Kampung yang memiliki luas 1,5 hektar ini masih sangat terlihat 'hijau' dan sama sekali belum dipengaruhi oleh modernisasi. Sekitar 311 orang tinggal di desa ini. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya.


Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Setibanya di kampung ini, Anda akan melihat ratusan pohon-pohon yang tumbuh tinggi, sawah hijau dan sungai Ciwulang panjang. Selain itu, Anda akan menghirup udara sejuk dan suara gemericik air sungai di kejauhan.

2. Desa Suku Dayak


Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang suku Dayak, belajar tarian tradisional Dayak dan instrumen musiknya. Tempat inilah yang paling tepat. Suku Dayak Ngaju, merupakan suku Dayak yang paling populer, menduduki sekitar Kahayan dan Sungai Kapuas yang terkenal dengan keseniannya. Terutama peti mati kayu dengan kuburan panggung dan patung memorial yang tinggi.


Suku Ot Danum mendiami sekitar sungai di utara Ngaju dan di selatan pegunungan Schwaner dan Muller. Suku Ot Danum tinggal di rumah kuno dengan pilar setinggi 2-5 meter di atas tanah. Satu rumah memiliki sekitar 50 kamar. Rumah adat ini secara lokal disebut sebagai betang.Suku Ot Danum dikenal memiliki keterampilan menganyam rotan, daun palm dan bambu. Mereka masih hidup dengan mengikuti cara-cara nenek moyang mereka.


Suku di desa Ma'anyan masih mempercayai roh, ritual pertanian dan upacara kematian yang komplek. Dan mereka masih mengadalkan kemampuan dukun kapanpun mereka membutuhkan penyembuhan. Kuburan di desa ini menunjukkan tingkatan sosial. Pemakaman orang yang kastanya lebih tinggi terletak di hulu Sungai, diikuti dengan kuburan tentara, kuburan masyarakat biasa di hilir, dan pemakaman bagi budak terletak di tepi hilir.

3. Kampung Bena

Sebuah kampung tradisional bernama Bena telah menjadi salah satu tujuan wajib saat Anda menyambangi Pulau Flores. Di sini waktu seakan terhenti dimana kehidupan dari masa zaman batu masih dapat Anda nikmati dan resapi bersama keramahan penduduknya yang mengesankan dengan senyum di mulut dan gigi yang berwarna merah karena mengunyah sirih pinang. Nikmatilah kemewahan dan kemegahan salah satu warisan budaya Nusantara yang mengagumkan di Bena.


Bertengger dengan berporoskan pada Gunung Inerie (2245 m dpl), Kampung Bena di Bajawa adalah salah satu dari desa tradisional Flores yang masih tersisa meninggalkan jejak-jejak budaya megalit yang mengagumkan. Desa ini lokasinya hanya 18 km dari kota Bajawa di Pulau Flores.


Kehidupan di Kampung Bena dipertahankan bersama budaya zaman batu yang tidak banyak berubah sejak 1.200 tahun yang lalu. Di sini ada 9 suku yang menghuni 45 unit rumah, yaitu: suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Wahto, suku Deru Lalulewa, suku Deru Solamae, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago. Pembeda antara satu suku dengan suku lainnya adalah adanya tingkatan sebanyak 9 buah. Setiap satu suku berada dalam satu tingkat ketinggian. Rumah suku Bena sendiri berada di tengah-tengah. Karena suku Bena dianggap suku yang paling tua dan pendiri kampung maka karena itu pula dinamai dengan nama Bena.

4. Desa Tradisional Compang Ruteng

Compang Ruteng terletak di pusat desa Pu'u Ruteng di Kecamatan Golo Dukal, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Batu compang dan lahan di sekitarnya itu posisinya lebih tinggi dari rumah penduduk lokal. Sebuah pohon Beringin (Ficus Benjamina) yang secara lokal dikenal sebagai Ruteng, dahulu tumbuh di tengah compang tersebut. Akan tetapi, kini pohon itu sudah tidak ada lagi dan diganti dengan pohon dadap. Di sebelah timur, terdapat dua rumah tradisional yang menjulang tinggi dengan atap melengkung tajam.



Anda dapat masuk ke dalam rumah adat yang disebut Rumah Gendang, untuk melihat struktur, interior kayu, dan peralatan seperti gong, drum kecil dan perisai yang digunakan untuk tarian tradisional. Saat pertama kali memasuki rumah Anda akan disambut sebagai tamu resmi dan akan ada serangkaian upacara ritual yang harus Anda ikuti. Penduduk lokal hanya bisa berbicara dalam bahasa Manggarai dan Bahasa Indonesia.

5. Desa Wisata Ciburial

Di Desa Wisata Ciburial Anda akan menemukan seni budaya Sunda dan peternakan lebah madu. Lokasinya berada di Kampung Cikurutug, Desa Ciburial. Desa wisata Ciburial merupakan kawasan pedesaan dimana penduduknya masih memiliki tradisi dan budaya yang relatif masih asli. 



Wilayah Desa Ciburial berada di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda (Dago Pakar) yang merupakan hutan konservasi dan memiliki tempat wisata alam yang menarik. Beberapa tempat yang dapat Anda kunjungi sekitaran Desa Wisata Ciburial adalah air terjun Curug Omas, Curug Lalay, Curug Dago, Patahan Lembang, Gua Jepang, Gua Belanda, dan beberapa prasasti bersejarah. Di tempat ini terdapat sarana bermain dan belajar untuk anak-anak, serta pelatihan khusus cara pembudidayaan lebah madu. 

Bersebelahan dengan Taman Hutan Raya Djuanda, terdapat tempat yang cukup terkenal sejak zaman Belanda yaitu Maribaya. Anda perlu waktu hingga dua jam berjalan kaki dari pintu yang ada di Lembang sampai menuju pintu yang ada di Dago, maupun sebaliknya. Tantangan ini cocok untuk Anda yang menyukai alam dan senang untuk berolahraga.

6. Desa Arborek


Desa Arborek sebagai pelopor di antara 18 desa yang indah di Papua Barat yang telah memulai pengembangan konservasi lokal kekayaan laut berbasis masyarakat, Desa Arborek telah mendapatkan reputasi yang luar biasa diantara otoritas lokal dan masyarakat internasional. Dengan bantuan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pusat penelitian, dan organisasi non-pemerintah, masyarakat lokal di desa ini telah berhasil merumuskan peraturan daerah, penamaan kawasan konservasi mereka yaitu, Mambarayup dan Indip.


Untuk menemukan keindahan bawah laut tidak begitu sulit di sini. Sepanjang dermaga Arborek, para penyelam bisa langsung terjun ke air dan dengan mudah menemukan Gorgonia yang berkilauan tepat di bawah permukaan air. Orang-orang di Arborek yang ramah dan sangat rajin, menyalurkan kepekaan seni mereka dalam membuat kerajinan dari daun pandan laut yang luar biasa menarik. Arborek merupakan tempat yang menarik baik di bawah air maupun di daratannya sendiri.


Tas bertali-tali yang disebut Noken telah terkenal di seluruh dunia. Keunikannya adalah daya tarik yang sebenarnya orang cari. Dalam perspektif lokal, noken ini tidak hanya tas. Ini adalah simbol kehidupan yang baik, perdamaian, dan kesuburan. Hanya perempuan saja yang bisa membuat noken. Laki-laki tidak diperbolehkan untuk membuat noken, karena tas ini melambangkan rahim wanita.

7. Desa Kanekes


Lupakan ponsel atau alat elektronik lainnya saat Anda mengunjungi Desa Kanekes atau yang lebih popular disebut Desa Baduy di Banten. Selain tidak ada listrik untuk men-charge hp Anda, bahkan sinyal pun sulit didapat. Lebih baik Anda menatap alam sekitar dan mendengarkan suara-suara alam. Di sinilah Anda akan dapati kehidupan masa lalu sebelum memasuki sebuah zaman dari akibat revolusi industri yang menguasai dunia.


Desa Baduy, terletak di perbukitan Gunung Kendeng, sekitar 75 kilometer arah selatan Rangkasbitung, Banten. Ini merupakan tempat yang tepat untuk Anda yang ingin merasakan ketenangan yang jarang ditemukan di kota besar. Bagi mereka yang memiliki naluri berpetualang mungkin akan merasakan trekking di desa Baduy sangat memukau. Kehidupan keseharian masyarakat Baduy yang memegang teguh adat istiadat merupakan daya tarik tersendiri bagi Anda yang berminat menelusuri budaya unik kearifan lokal yang luar biasa ini.

Kawasan Baduy tepatnya berada di desa Kanekes, kecamatan Leuwidamar, kabupaten Lebak. Diperkirakan akhir abad ke-18 wilayah Baduy ini terbentang mulai dari kecamatan Leuwidamar sekarang sampai ke Pantai Selatan. Sekarang luas wilayah Baduy ini sekitar 5102 hektar. Batas wilayah sekarang ini dibuat pada permulaan abad ke-20 bersamaan dengan pembukaan perkebunan karet di desa Leuwidamar dan sekitarnya.


Suku Baduy sering disebut urang Kanekes. Baduy sebetulnya bukanlah nama dari komunitas yang ada di desa ini. Nama tersebut menjadi melekat karena diberikan oleh peneliti Belanda yang menyamakan mereka dengan Badawi atau Bedoin Arab yang merupakan masyarakat nomaden atau berpindah-pindah. Dari Badawi atau Bedoin, kemudian nama itu pun bergeser menjadi Baduy. Orang Baduy, karena bermukim di Desa Kanekes, sebenarnya lebih tepat disebut sebagai Orang Kanekes. Namun karena istilah “Baduy” terlanjur lebih dulu dikenal, maka nama “Baduy” lebih populer ketimbang “Orang Kanekes”.

Mereka tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Desa ini berada sekitar 38 km dari ibu kota Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, atau sekitar 120 km dari Jakarta. Desa Kanekes memiliki 56 kampung Baduy. Orang Baduy Dalam tinggal di Kampung Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo. Sedangkan orang Baduy Luar tinggal di 53 kampung lainnya. Kampung Baduy Luar sering disebut kampung panamping atau pendamping, yang berfungsi menjaga Baduy Dalam.

Keseharian kaum lelaki Baduy menggunakan ikat kepala putih. Kecuali puun atau pemimpin adat, para lelaki menggunakan baju hitam dan sarung selutut berwarna biru tua bercorak kotak-kotak. Kaum perempuan menggunakan sarung batik biru, kemben biru, baju luar putih berlengan panjang. Gadis-gadis menggunakan gelang dan kalung dari manik.

8. Desa Madobak, Ugai dan Matotonan


Desa Madobak, Ugai dan Matotonan sebenarnya tidak didesain untuk destinasi wisata, tapi budaya tradisional dan hidup mereka sangat lestari dan unik, membuat desa ini menarik perhatian wisatawan. Terletak di hulu sungai Siberut Selatan. Untuk mencapai desa ini Anda mulai dari Muara Siberut, Anda harus mengambil rute Purou-Muntei-Rokdok-Madobak-Ugai-Butui-Matotonan. Setiap desa memiliki keunikan budaya masing-masing.


Madobak, contohnya sangat terkenal dengan air terjun Kulu Kubuk yang dingin. Air terjun ini memiliki dua tingkatan dengan tinggi 70 meter. Setiap desa juga terkenal dengan rumah tradisionalnya, secara lokal dikenal dengan Uma, dan upacara tradisionalnya yang dipentaskan oleh Sikerei atau Shaman.


Upacara tradisional ini biasanya dipentaskan selama pesta pernikahan dan memasuki rumah baru, tujuanya untuk mengusir roh-roh jahat. Shaman di ketiga desa ini masih setia mengenakan celana dalam dan ikat kepala (Luat) yang terbuat dari manik-manik berwarna-warni. Beberapa penduduk lokal masih memiliki tato tradisional Mentawai yang terbuat dari tebu dan pewarna arang kelapa. Tato ini dibuat dengan menggunakan paku dan jarum dan dua buah kayu sebagai bantalan dan palu. Menurut penduduk lokal, proses membuat tato ini sangat menyakitkan.

Anda tidak boleh melewatkan budaya tradisional mentawai yang unik ini!


Mengunjungi ketiga desa ini merupakan pengalaman yang luar biasa. Kehidupan alami mereka dapat terlihat dari rumah kayu Uma, sagu yang diproses menjadi makanan pokok mereka, kapal motor di pinggir sungai dan budaya lokal mereka yang beraneka ragam.
Di pedesaan ini, penduduk menggunakan kayu untuk memasak. Melihat penduduk mengambil sagu dengan ember mereka merupakan kegiatan menarik untuk disaksikan.

9. Desa Jangga


Datang dan rasakan kehidupan suku Batak tradisional di sebuah desa yang sebagian besar wilayahnya belum tersentuh oleh dunia modern. Terletak di lereng bukit yang indah, pengunjung yang datang ke desa Jangga ingin bertemu dengan orang Batak asli dan melihat bagaimana budaya mereka yang unik terus berkembang hingga saat ini.


Jangga terkenal dengan kain ulos yang indah yang ditenun oleh kaum wanitanya. Melihat kaum wanita desa ini menenun kain ulos yang rumit di depan rumah mereka. Ulos memainkan peranan penting dalam masyarakat tradisional Batak dan digunakan tidak hanya sebagai pakaian tetapi juga digunakan pada acara-acara adat seperti kelahiran, kematian dan pernikahan.


Di desa Jangga Anda akan menemukan deretan rumah-rumah tradisional, atraksi budaya dan sejarah, seperti sisa-sisa peninggalan raja-raja Batak berabad-abad yang lalu termasuk Raja Tambun dan monumen raja Manurung.

Desa Jangga terletak di tepi Gunung Simanuk-Manuk, Lumban Julu, kabupeten Toba Samosir, Sumatra Utara, sekitar 24 km dari Danau Toba. Desa ini adalah salah satu dari sejumlah desa Batak asli di wilayah Lumban Nabolon, Tonga-Tonga Sirait Uruk, Janji Matogu, hubak Sihubak, Siregar, Sigaol, Silalahi Toruan Muara dan Tomok Sihotang.

Sumber : http://www.indonesia.travel/id