SEJARAH MONUMEN GERBONG MAUT


bondowosoTanggal 23 Nopember 1947 sejarah mencatat dengan tinta emas tentang perjuangan heroik rakyat Bondowoso melawan penjajah Belanda. 100 orang pejuang ditangkap dan diangkut dengan Gerbong No. GR. 10152 berisi 30 orang. Gerbong No. GR. 446 berisi 32 orang dan No. GR. 5769 berisi 38 orang dari Stasiun Kereta Api Bondowoso pada pukul 03.00 dini hari menuju Penjara Kali Sosok Surabaya, para pejuang/tahanan diangkut dengan gerbong tua  yang rapuh/keropos dalam keadaan tertutup yang mengakibatkan 46 orang dari 100 orang pejuang/tahanan gugur sebagai Kusuma Bangsa.

Kejadian tersebut dikenal dengan peristiwa Gerbong Maut, untuk mengenang pejuang yang gugur sebagai Kusuma Bangsa pemerintah daerah mengabadikan dengan membangun “MONUMEN GERBONG MAUT” yang terletak di jantung kota Bondowoso tepatnya di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Arsitektur bangunan monumen merupakan gundukan berbentuk trapesium berukuran panjang 9,5 m lebar 5,25 m dan tinggi 2,5 m. Pada bagian kanan dan kiri dinding terdapat relief yang menggambarkan pertempuran antara tentara republik melawan Belanda. Di atas gundukan trapesium terdapat patung-patung tentara Indonesia yang berjumlah 13 dan menggambarkan sikap menyerbu musuh. Diantara patung-patung tersebut ada yang membawa senjata panah, senapan, bambu runcing, pedang, dan keris. 

Pada komposisi letak patung para pejuang tersebut seolah-olah menggambarkan bersatunya rakyat dengan tentara republik. Selain patung-patung terdapat replika gerbong maut berwarna hitam, tanpa jendela sedikit pun. Monumen Gerbong Maut tersebut berukuran panjang 3,5 m, lebar 2,5 m, dan tinggi 3 m, untuk mengenang jasa para pejuang maka setiap tahun diadakan Napak Tilas yang dilaksanakan tiap-tiap tahun pada Hari Pahlawan.